FKIP News—Tahun ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang kembali menapakkan langkah di tanah Negeri Gajah Putih. Lima mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris resmi diberangkatkan untuk menjalankan program Kuliah Kerja Nyata dan Praktik Lapangan (KKNDik) Internasional di Thailand, Senin, 13 Mei 2025. Perjalanan ini bukan sekadar mobilitas mahasiswa, melainkan kelanjutan dari sebuah misi bersejarah: Bangsaku Kawanmu.

Menurut Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, MM., benih kerja sama ini tumbuh dari kunjungan persahabatan Ketua PP Muhammadiyah kepada Raja Thailand pada 2013, sepuluh tahun lalu. Dalam kunjungan tersebut, Raja memberikan rekomendasi kepada Muhammadiyah untuk berkontribusi dalam penguatan pendidikan Islam di wilayah selatan Thailand. Sambutan hangat datang dari komunitas sekolah Islam yang kemudian tergabung dalam organisasi Muslims Education Development Association Thailand (MEDAT).

Dari sinilah jalinan kerjasama antara FKIP UMM dan MEDAT dimulai. Pada 2015, program perintis PLP-2 Internasional digelar. Sebanyak 55 mahasiswa dari lima program studi menjadi angkatan pertama yang dikirim. Wilayah penempatan meliputi berbagai provinsi, mulai dari Krabi, Songkhla, hingga Pattani. Namun, keberangkatan kala itu bukan tanpa tantangan. Situasi politik di Thailand Selatan yang belum stabil membuat tim pengelola harus menjalin komunikasi erat dengan Konsulat Jenderal RI di Songkhla untuk memastikan keamanan mahasiswa.

“Program ini semula murni PLP-2, lalu sejak 2018 kami integrasikan dengan KKN, sehingga mahasiswa mendapat dua manfaat sekaligus—sertifikat PLP-2 dan KKN,” tutur Prof. Dr. Sugiarti, M.Si., Wakil Dekan I FKIP UMM. Dukungan penuh dari sekolah mitra sangat terasa: mulai dari akomodasi, konsumsi, hingga insentif dana.

Hingga 2019, program ini telah melibatkan 155 mahasiswa dan menghasilkan dua buku kisah monumental: Bangsaku Kawanmu dan Merekatkan Kebersamaan dan Persahabatan. Namun, pandemi COVID-19 membuat roda program ini terpaksa berhenti sejenak.

Baru pada 2023, semangat itu kembali menyala. Berawal dari kunjungan institusi pendidikan Thailand ke FKIP UMM, seperti Attarkia Islamic Institute, Rajabaht Yala University, dan Komisi Pendidikan Thailand, kerjasama ini mulai dirintis kembali. “Kami menyusun pola baru, sesuai kebijakan Merdeka Belajar dan konversi SKS,” jelas Wakil Dekan bidang 2, Prof. Dr. Abdulkadir, M.Si.

Namun, ada perubahan penting di tubuh organisasi mitra. MEDAT secara resmi membubarkan diri, sehingga model kemitraan pun berubah. “Kami menjalin hubungan langsung ke sekolah-sekolah yang dulu menjadi anggota MEDAT,” ujar Bayu Hendro Wicaksono, Ph.D., Wakil Dekan III FKIP UMM. Sekolah-sekolah seperti Attarkia di Narathiwa, Lukmanul Hakim di Yala, hingga Islamic Wittaya di Bangkok menjadi rekanan baru.

Menariknya, sejumlah sekolah kini tergabung dalam organisasi baru, Muhammadiyah Association Thailand (MAT), dipimpin Dr. Abdulhafiz Hille, mantan Presiden MEDAT. Organisasi ini menyatakan kesiapan membuka kembali kerjasama dengan FKIP UMM.

Program tahun 2025 ini menjadi realisasi dari MoU yang ditandatangani pada September 2023 dan 2024. Kelima mahasiswa terpilih akan berkegiatan selama dua bulan di sekolah-sekolah mitra. Persiapan intens dilakukan, mulai dari permintaan izin, konsolidasi internal, hingga penguatan mental kultural.

“Ini bukan sekadar program internasional. Ini adalah wajah pendidikan Muhammadiyah, wajah FKIP UMM, di kancah global. Dan lebih dari itu, ini tentang persahabatan yang terus dirajut lintas bangsa,” pungkas Dr. Nurwidodo, M.Kes. selaku pengelola program.

Sepuluh tahun setelah langkah awal diambil, Bangsaku Kawanmu kembali menemukan jalannya. Bukan hanya ke Thailand, tapi menuju masa depan di mana pendidikan adalah jembatan antarbudaya dan antarbangsa. (*nrw/ed:fd)