
FKIP News–Idul Fitri di negeri orang selalu menyimpan cerita tersendiri. Bagi Diani Fatmawati, S.Pd., M.Pd., dosen Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM yang kini tengah menempuh studi doktoral di Department of Genetic Engineering, Graduate School of Biotechnology, Kyung Hee University dengan beasiswa HEAT Scholarship, perayaan hari kemenangan kali ini terasa hangat meski jauh dari keluarga dan kampung halaman.
Di Korea Selatan, umat Islam merupakan minoritas. Namun, hal itu tak mengurangi semarak dan makna dari Hari Raya Idul Fitri. Tahun ini, suasana lebaran terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan datangnya musim semi. Udara mulai menghangat, dan bunga-bunga sakura bermekaran di berbagai sudut kota. Pemandangan yang menyejukkan mata ini seolah menjadi pelengkap indah dalam menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa.
Melaksanakan salat Idul Fitri di Kota Suwon menjadi pengalaman yang tidak akan dilupakan oleh Diani. Ia menyaksikan bagaimana momen salat Ied mempersatukan umat Islam dari berbagai negara. “Muslim Indonesia berkumpul bersama dengan saudara seiman dari Pakistan, Sudan, Mesir, dan juga warga lokal Korea. Suasananya khidmat, hangat, dan penuh rasa persaudaraan,” tuturnya. Meski tak semegah di Indonesia, semangat kebersamaan dalam ibadah tetap terasa kuat dan menyentuh.

Namun, momen paling berkesan justru datang dari sebuah tradisi kecil yang hanya mungkin terjadi dalam lingkaran diaspora. Usai salat Ied, para pelajar Indonesia di Suwon, baik yang muslim maupun non-muslim, biasanya berkumpul untuk memasak dan makan bersama. Masing-masing membawa bahan makanan atau masakan khas dari daerah asalnya, lalu mereka bergotong royong menyiapkan hidangan khas lebaran.
“Kita tidak sekadar memasak, tapi juga bercerita, tertawa, dan bernostalgia. Ada yang membuat opor ayam, rendang, sambal goreng kentang, dan bahkan kue-kue khas lebaran. Rasanya seperti sedang berada di rumah,” ujar Diani dengan senyum mengenang. Dalam suasana itu, sekat-sekat perbedaan agama, daerah, dan latar belakang luluh dalam satu meja makan. Yang tersisa hanya kehangatan, kebersamaan, dan rasa syukur bisa merayakan hari yang fitri meski jauh dari tanah air.
Perayaan lebaran semacam ini bukan hanya menjadi pengobat rindu, tapi juga menjadi ruang refleksi. Bagi Diani, Idul Fitri di tanah rantau mengajarkannya untuk lebih menghargai arti persaudaraan, toleransi, dan pentingnya menjaga silaturahmi, terutama ketika berada dalam lingkungan multikultural.
“Lebaran di sini mengajarkan saya banyak hal, terutama tentang persaudaraan, toleransi, dan betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama, meskipun kita berasal dari latar belakang budaya yang berbeda,” ucap Diani.
Dalam kesederhanaan, momen lebaran itu menjadi perayaan makna yang mendalam. Di negeri yang jauh, dalam udara yang mulai hangat dan bunga sakura yang bermekaran, Diani menemukan cara baru untuk bersyukur, merayakan, dan merasa pulang meski tidak sedang berada di rumah. (*fd)