Implementasikan Program MBKM, Prodi Matematika UMM Luncurkan Program ASIK Plus

Kamis, 04 Februari 2021 20:51 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan foto : istimewa Malang-Prodi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) luncurkan Program ASIK Plus sebagai implementasi Merdeka Belajar–Kampus Merdeka MBKM, Kamis (4/2/2021). Acara digelar secara daring dan diikuti oleh mahasiswa, alumni, serta sekolah mitra. Adi Slamet Kusuma, Sekertaris Prodi Pendidikan Matematika mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memaparkan beberapa program yang akan diusung Prodi Matematika dalam menerapkan kebijakan merdeka belajar. “Selain itu, ini juga merupakan wadah silaturahmi dengan sekolah mitra yang bekerjasama dengan Prodi dalam mengimplementasikan program tersebut,” katanya. Program Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM) adalah program yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang bertujuan mendorong mahasiswa untu menguasai berbagai keilmuan untuk bekal memasuki dunia kerja. Dalam program yang termuat dalam Permendikbud Nomor 3 tahun 2020 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi ini, mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengambil mata kuliah di luar program studi pada perguruan tinggi yang sama; mengambil mata kuliah pada program studi yang sama di perguruan tinggi yang berbeda; mengambil mata kuliah pada program studi yang berbeda di perguruan tinggi yang berbeda; dan/atau pembelajaran di luar perguruan tinggi. Mahfud Effendi selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika menjelaskan bahwa ASIK Plus merupakan singkatan dari Asistensi Magang Skripsi dan KKN. Adapun plus yang dimaksud adalah program insidental atau program yang setara dengan kegiatan MBKM. Pada praktiknya, Prodi pendidikan Matematika mengambil empat bentuk kegiatan sebagai paket program yaitu asistensi mengajar di satuan pendidikan, magang, skripsi atau riset, dan KKN. “Keempat kegiatan tersebut dapat dipilih mahasiswa dan dilakukan terutama di satuan pendidikan yang sudah memiliki MoU dengan Prodi Pendidikan Matematika UMM,” terang Mahfud. Sementara itu, ada empat mata kuliah yang dikonversi untuk mendukung program ASIK ini. Pertama, asistensi ada mata kuliah Kapita selekta matematika SLP, Bahasa pemrograman, Kapita selekta SLA, desain grafis, desain web, dan komputasi matematika. Kedua, magang ada mata kuliah PLP 1 dan PLP 2. Ketiga, riset ada mata kuliah proposal penelitian, seminar matematika, dan skripsi. Keempat, KKN yang dapat dilakukan sesuai dengan pilihan mahasiswa. Melalui Program ini, Mahfud berharap kemerdekaan belajar mahasiswa dapat terfasilitasi. Tak hanya itu, mahasiswa pun bisa lulus lebih cepat. “Banyak program untuk mempercepat kelulusan mahasiswa, semoga program-program yang ditawarkan dapat memfasilitasi kemerdekaan belajar mahasiswa sesuai dengan konsep belajar yang diusung oleh Menteri Pendidikan yang disosialisasikan pada akhir tahun 2020 tahun lalu,” harapan Ketua Prodi Pendidikan Matematika pada akhir penyampaiannya. Tak hanya menjelaskan tentang ASIK Plus, dalam kesempatan ini, Prodi Matematika juga memaparkan beberapa program unggulannya, seperti Program setara D1 komputer, Olimpiade matematika, Beasiswa alumni dan bantuan dosen untuk mahasiswa, Jurnal milik prodi yaitu MEJ, Klinik dan bantuan belajar dan program ASIK Plus. (*nis/fid) Shared:

Seminar Daring, PGSD UMM Bahas Pendidik Profesional Era Society 5.0

Kamis, 04 Februari 2021 15:55 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan foto: istimewa Malang-Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang gelar Seminar Nasional daring, Rabu (3/2). Hadir sebagai pemateri, Pelaksana Kurikulum Pendidikan Direktorat Sekolah Daswar, Wali Kota Batu, Dekan FKIP UMM, dan Kaprodi PGSD. Kali ini, tema yang diangkat adalah tema futuristik “Menyiapkan Pendidik Profesional di Era Society 5.0”. Dalam sambutannya, Dr. Fauzan, M.Pd., Rektor UMM, mengapresiasi langkah responsif Prodi PGSD terharap isu mutakhir dunia pendidikan. Menurutnya, investasi pendidikan adalah investasi yang sangat berguna bagi bangsa dan negara. Ia pun berharap, kegiatan ini dapat dapat berkontribusi untuk dunia pendidikan pada umumnya dan para pendidik pada khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan baru dalam dunia pendidikan dewasa ini. “Saya berharap dengan adanya seminar ini dapat menjadi rujukan bagi pelaksanaan merdeka belajar dan membantu para pendidik dalam menghadapi berbagai tantangan baru di dunia pendidikan,” pungkas Fauzan. Setelah revolusi industri 4.0, era society 5.0 memang menjadi topik yang hangat diperbincangkan dalam berbagai diskursus. Society 5.0 memiliki visi mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik untuk menciptakan masyarakat yang cerdas dan dewasa dalam menggunakan teknologi. Terkait hal ini, Analis Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Direktorat Sekolah Dasar, Dwi Nurani, mengatakan profesi guru harus berorientasi pada pembelajaran abad 21 yang mengintegrasikan pembelajaran dan teknologi. “Pendidik harus memiliki keterampilan di bidang digital dan berpikir kritis. Perlu literasi data, manusia, teknoilogi, dan pembelajar sepanjang masa,” tuturnya. Namun begitu, disadari bahwa ini memang tidak mudah untuk diterapkan. Apalagi saat ini kita berada dalam situasi pandemi Covid-19. “Ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh para pendidik dalam menghadapi Society 5.0 dan pandemi Covid-19. Pertama adalah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Kedua adalah kendala sinyal yang tidak merata. Ketiga perubahan kebiasaan dari luring ke daring,” terang Dwi. Dalam hal ini, Dekan FKIP UMM mengatakan, merdeka belajar bisa menjadi terobosan dalam beradaptasi dengan kemajuan zaman. “Merdeka belajar dapat menjadi sebuah terobosan dalam Pendidikan untuk beradaptasi dengan kemajuan zaman. Pendidik diberikan keleluasaan mengeksplorasi kreativitasnya dalam pembelajaran, terlebih pada masa pandemi seperti saat ini,” terang Dr. Poncojari Wahyono. Di sisi lain, tentang pandemi Covid-19, Walikota Batu menjelaskan tentang Kebijakan Pendidikan pada masa pandemi covid-19 di Kota Batu. Dalam keterangannya, Dewanti Rumpoko mengatakan Kota Batu belum menerapkan pembelajaran tatap muka meski sempat berada di zona kuning. Berdasarkan survey yang dilakukan kepada siswa SMP di Kota Batu, 80% responden menginginkan pembelajaran tatap muka. Namun, tentu keinginan itu belum bisa dilaksanakan karena kesehatan harus diutamakan. “Tapi masalah kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan harus lebih diutamakan,” ungkapnya. Namun, Kota Batu terus menyiapkan infrastruktur di sekolah untuk memenuhi protokol kesehatan, seperti tempat cuci tangan, hand sanitizer, dan sebagainya. (*fid)