Rakornas Asosiasi LPTK PTMA Se-Indonesia di FKIP UMM, Bahas Strategi Pengembangan LPTK

Malang—Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) ke-XV. Agenda yang berlangsung 13-15 September 2023 ini bekerjasama dengan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Total ada 250 peserta dari 55 LPTK PTMA se-Indonesia hadir dalam acara yang digelar di Rayz Hotel UMM ini. Tujuan penyelenggaraan Rakornas ini adalah untuk sharing best practice dan sekaligus merumuskan strategi pengelolaan kelembagaan LPTK di PTMA. Karena itu, kegiatan rakornas menghadirkan tiga rektor visioner PTMA, yakni Dr. Rustamadji, M.Si. (Rektor UNIMUDA Sorong), Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si (Rektor UMS), dan Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. (Rektor UMM). Dalam paparannya, Dr. Rustamadji menekankan pentingnya positive mindset serta bekerja dengan cepat dalam merespon berbagai potensi kerja sama dalam rangka menghasilkan “pemilih fanatik” UNIMUDA Sorong. Sejalan dengan itu, Prof Anif mengatakan keberanian dan kejelasan visi misi pimpinan menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengembangan PT. “Saya menyadari bahwa SDM menjadi kunci pengembangan UMS. Jadi, setelah saya dilantik saya meminta izin pada PP untuk menambah 1 wakil rektor untuk khusus mengurus SDM dan memberangkatkan sekitar 500 dosen untuk studi S3,” terangnya. Keberanian berinovasi dan tidak terbelenggu dalam aturan-aturan juga menjadi pokok materi Prof. Fauzan. Di depan para hadirin, Fauzan menjelaskan bagaimana UMM berhasil membentuk 40 Center of Exellence sebagai program unggulan Prodi. Salah satunya adalah CoE Kelas Unggulan Anggrek dan CoE Entrepreneur Perbukuan di FKIP. “CoE ini adalah wujud bagaimana UMM berupaya menghasilkan lulusan yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan industri lewat kolaborasi pengajaran, magang, bahkan rekrutmen dengan mitra DUDI. Dengan begitu, UMM dapat memberikan kepastian kepada para orang tua/wali mahasiswa. Bahwa, dengan jargon UMM PASTI putra-putri mereka pasti lulus tepat waktu, pasti bekerja, dan pasti mandiri,” kata Fauzan. Selain itu, Rakornas ini juga menghadirkan Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Temu Ismail, S.Pd., M.Si. untuk mengupas topik Arah dan Kebijakan Pengembangan GTK Kemendikbudristek, serta Deputi VI Kemenko PMK, Prof. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D. untuk memaparkan tentang Penguatan dan Pengembangan LPTK di Era VUCA. Sesi pematerian kemudian dilanjutkan dengan sesi paralel yang terbagi dalam tiga ruang focus group discussion (FGD). Ruang FGD pertama membahas tentang Strategi Akreditasi Kependidikan Unggul (LAMDIK dan Internasional), ruang FGD kedua membahas tentang PPG PTMA, sementara ruang FGD ketiga membahas forum asosiasi program studi (APS) PTMA. Kegiatan rakornas ditutup dengan perumusan Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari ketiga divisi. Khusus untuk akreditasi, Ketua Asosiasi LPTK PTMA, Prof. Harun Joko Prayitno mengimbau, LPTK PTMA untuk berkolaborasi dalam menghasilkan publikasi Scopus dan meningkatkan sitasi dengan mengimplementasikan materi workshop pada hari sebelumnya. “Dengan begitu, standar 9 dari dokumen borang akreditas LAMDIK akan maksimal hasilnya,” tutur dosen UMS itu. Dr. Trisakti Handayani, M.M, Dekan FKIP UMM dalam sambutan penutupan megucapkan selamat jalan kepada para peserta Rakornas. Ia pun berharap, Rakornas yang diselenggarakan selama tiga hari ini akan menjadi perekat kerjasama sekaligus membangun komitmen dan kepentingan bersama dalam rangka mensukseskan keunggulan lembaga. “Atas nama pimpinan saya merasa senang atas dipilihnya FKIP UMM sebagai tuan rumah. Semoga ilmu dan inspirasi yang diperoleh dapat diimplementasikan di institusi Bapak/Ibu, dan kolaborasi antar LPTK PTMA semakin kuat. Selamat jalan, semoga selamat kembali ke rumah dan sampai bertemu kembali dalam rakornas LPTK PTMA 2024,” tutupnya. (*fd)
FKIP UMM Jadi Tuan Rumah Seminar Internasional ProfunEdu Ke-8

Malang—Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM jadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-15 Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (LPTK PTMA). Acara berlangsung selama tiga hari, 14-16 September 2023, di Rayz Hotel UMM ini dihadiri oleh rektor, dekan, kaprodi, sekprodi, dan dosen di lingkungan LPTK PTMA se-Indonesia. Sebelum dimulai Rakernas, diselenggarakan seminar internasional ProfunEdu (Progressive and Fun Education) dengan jumlah peserta tak kurang dari 250 peserta hadir secara daring dan luring. Wakil Ketua Panitia Rakernas, Naufal Ishartono menyebutkan ada 4 pembicara internasional yang dihadirkan, yakni Assoc.Prof. Dr. Siti Hadjar Binti Halili dari University of Malaya, Malaysia; Prof. Dr. Chan Yuen Fook dari HELP University, Malaysia; Dr. habil. K. Nagy Emese, University of Miskolc, Hungary; dan Prof. Dr. Rully Charitas Indra Prahmana, Universitas Ahmad Dahlan, Indonesia. Dalam ProfunEdu ke-8 ini, tema yang diusung adalah Coping VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity) Era Through Advanced Learning. Sejak awal diadakan, kata Naufal, ProfunEdu memang sudah mengusung konsep internasionalisasi. “Output dari ProfunEdu ini berupa artikel penelitian yang akan dipublikasikan di Jurnal terindeks Scopus,” kata Naufal. Lebih lanjut, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Pd. selaku Ketua ALPTK PTMA mengatakan, ProfunEdu diharapkan dapat menjadi media inobasi pengembangan tata kelola LPTK, wahana diseminasj inovasj dan invensi pengembangan pendidikan, sekaligus sarana utama meningkatkan karya dan kinerja akademik berkeluaran publikasi bereputasi. “Kita akan terus mendorong dan menumbuhkan sinergi kolaborasi publikasi bereputasi untuk seluruh LPTK PTMA,” ungkapnya. Sementara itu, Dekan FKIP UMM, Dr. Trisakti Handayani, M.M. menyebutkan seminar FrofunEdu juga bertujuan untuk membangun kolaborasi antar institusi maupun antar dosen. Kolaborasi ini secara formal dituangkan dalam MoU. “Dengan begitu, indikator kinerja utama dan kriteria-kriteria yang ada pada akreditasi mandiri dapat terpenuhi,” terangnya. Pada tataran selanjutnya diharapkan, MoU tidak hanya memuat aspek kolaborasi publikasi, tetapi juga kegiatan kolaboratif yang lebih luas. Salah satunya, kegiatan internasionalisasi Kuliah Kerja Nyata Kolaborasi Internasional (KKN KI).