Di SMA Muhammadiyah 1 Malang, Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia Kenalkan Sastra Profetik Hingga Hasilkan Antologi Cerpen

FKIP News—Perkembangan dunia sastra yang begitu pesat seiring dengan perkembangan teknologi belum diimbangi dengan lahirnya karya sastra yang bermuatan positif dan relevan dengan dunia pendidikan. Padahal, muatan yang ditawarkan di dalam karya sastra bisa berpengaruh pada pemikiran dan sikap pembacanya karena fungsi sastra tidak hanya menghibur (dulce) tetapi juga mendidik (utile). Kondisi inilah yang melatari dosen Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diketuai Dr. Hari Sunaryo, M.Si dan beranggotakan Candra Rama Wijaya Putra, S.S. S.Pd., M.A. dan Purwati Anggraini, M.Pd. mengenalkan sastra profetik kepada siswa SMA Muhammadiyah 1 Malang. Satra profetik adalah karya sastra yang tujuannya ingin menjadikan manusia itu menjadi manusia yang sebenarnya dan menjadikan manusia itu dekat dengan Tuhannya. Dalam kegiatan pelatihan yang dilaksanakan dalam empat kali pertemuan ini, secara khusus sastra profetik difokuskan pada sastra profetik berbasis nilai agama. Nilai-nilai agama ini adalah nilai agama yang pernah siswa dapatkan di bangku sekolah. “Dengan begitu, siswa lebih mudah menggali ide dari kehidupan sehari-hari atau yang ada di sekitar mereka, baik di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal,” pungkas Hari. Pertemuan pertama difokuskan pada penjelasan tentang sastra profetik dan industri sastra dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan tentang pengelolaan peristiwa kehidupan menjadi ide scerita. Pertemuan kedua difokuskan pada penyusunan kerangka cerita pendek berdasarkan kisah kehidupan sehari-hari siswa. Pertemuan ketiga difokuskan pada pengembangana kerangka cerita menjadi cerita pendek utuh. Adapun pertemuan keempat merupakan kegiatan finalisasi cerita pendek dengan penguatan amanat, penentuan judul, dan editing naskah. Lebih lanjut, Hari mengatakan, pada setiap pertemuan dan tahapan, tim menggunakan metode kooperatif-kritis. Mengapa? Karena dengan adanya kegiatan berpikir kritis, siswa secara tidak langsung dapat meningkatkan keaktifan dirinya sebagai peserta didik. “Caranya yaitu setiap siswa saling berposisi sebagai penulis sekaligus pembaca dan kemudian memberikan catatan masukan untuk setiap karya yang telah ditulis oleh teman sejawat,” katanya. Hasilnya, 36 cerpen karya siswa kelas X dan XI tergabung dalam buku antologi cerpen yang saat ini sedang dalam proses cetak. “Cerpen-cerpen karya siswa ini memiliki muatan nilai agama. Siswa mengalami internalisasi nilai agama melalui pelajaran agama Islam di sekolah. Hasil internalisasi tersebut kemudian menjadi bahan eksternalisasi siswa, pikiran dan perasaan dalam bentuk karya kreatif sastra,” terang Candra saat ditemui. Kepala SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang, Iswati, S.Pd., mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini. “Alhamdulillah. Kami bersyukur dapat berkolaborasi dalam kegiatan ini. Kegiatan ini tidak hanya bermanfaat bagi siswa yang dibekali pengetahuan tentang konten materi, skill berpikir kritis, dan pengalaman menghasilkan karya antologi cerpen, tetapi juga bagi guru-guru kami. Saya yakin guru-guru juga mendapatkan inspirasi tentang bagaimana mengajar sastra yang produktif dan menyenangkan,” pungkasnya. (*fd)
Benarkah Tulisan ChatGPT Mengalahkan Kualitas Tulisan Manusia? Ini Kata Ahli Bahasa FKIP UMM

FKIP News—Sejak dirilis pada 30 November 2022, Chat.GPT menjadi salah satu aplikasi paling digemari, baik di dunia akademik maupun nonakademik. Pasalnya, aplikasi Artificial Intelligence (AI) ini dapat menghasilkan tulisan sesuai dengan entri yang diberikan pengguna, bahkan memberikan informasi kepada pengguna dengan bahasa yang sangat natural seperti sedang berkomunikasi dengan seseorang. Lalu, muncul pertanyaan dan sekaligus kekhawatiran, apakah tulisan yang dihasilkan ChatGPT dan manusia tidak dapat dibedakan, bahkan kualitas tulisan yang dihasilkan ChatGPT lebih baik daripada yang dihasilkan manusia. Menanggapi isu ini, dosen Pendidikan Bahasa Inggris, Adityo, M.A. mengatakan meski kualitas tulisan ChatGPT dapat menyamai kualitas tulisan manusia, tetap terdapat perbedaan pada aspek tertentu. Persamaan tulisan yang dihasilkan ChatGPT dan manusia terletak pada kejarangan dan keragaman leksikal. Kejarangan leksikal, yang menunjukkan penggunaan kata-kata yang tidak umum dipakai, sering kali dikaitkan dengan kefasihan manusia. Namun, ChatGPT menunjukkan keterampilan yang sama dalam menggunakan kosakata langka ke dalam teks yang dihasilkan. “Demikian juga, baik tulisan ChatGPT maupun tulisan manusia menunjukkan keragaman leksikal. Artinya kosakatanya luas dan distribusinya beragam,” ungkapnya. Di sisi lain, baik ChatGPT maupun manusia memiliki perbedaan kualitas dan kualifikasi dalam menghasilkan tulisan. Tulisan manusia kaya dengan nuansa budaya dan pengalaman pribadi. “Selain itu, tulisan manusia memiliki kejelasan kontekstual, termasuk menggunakan humor dan empati. Tulisan manusia juga sarat akan nuansa budaya, emosi, dan sentuhan personal yang tidak bisa dicapai oleh ChatGPT,” tambahnya. Sebaliknya, tulisan yang dihasilkana ChatGPT memiliki kelangkaan kosakata yang jauh lebih tinggi ketika dibandingkan dengan tulisan manusia. Hal ini dikarenakan ChatGPT dibekali kemampuan untuk memanfaatkan dataset yang luas dan algoritma yang rumit. “Secara kuantitatif, ChatGPT punya lexical rarity lebih tinggi dan konten yang lebih mendalam karena mereka punya database superbesar di internet, sedangkan manusia hanya punya perbendaharaan kata dan informasi sebesar otak dan wawasan mereka saja. Dalam aspek ini, bisa dikatakan ChatGPT lebih unggul daripada manusia,” tambahnya. Di akhir, Adit menegaskan bahwa pada dasarnya kualitas tulisan AI atau manusia sangat bergantung pada kemampuan memenuhi tujuan tulisan dan keragaman pembaca. “ChatGPT unggul dalam tugas-tugas yang menuntut efisiensi, pembuatan konten yang cepat, dan integrasi informasi faktual yang luas. Sebaliknya, manusia dengan kecerdasan emosional dan kedalaman budaya, unggul dalam ranah literatur, narasi, dan konten yang membutuhkan sentuhan personal,” tutupnya. (*fd)