FKIP UMM Mentransforasi PLP-2 ke Dalam Asistensi Mengajar

FKIP UMM News – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP UMM) menegaskan komitmennya dalam mengimplementasikan Standar Nasional Pendidikan Guru (SNPG), baik pada jalur akademik sarjana (S-1) maupun jalur pendidikan profesi (PPG). Salah satu bentuk konkret komitmen tersebut adalah pelaksanaan mata kuliah wajib nasional yang mencakup PLP-1, Microteaching, dan PLP-2. PLP atau Pengenalan Lapangan Persekolahan merupakan program wajib yang harus dijalankan mahasiswa di luar kampus, khususnya di sekolah mitra. Program ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat mengenali secara langsung lingkungan kerja yang kelak akan mereka hadapi sebagai guru profesional. Sebagai bagian dari implementasi tersebut, FKIP UMM secara resmi melepas 140 mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Pendidikan Matematika untuk menjalani program PLP-2 pada Jumat, 30 Mei 2025. Kegiatan ini akan berlangsung selama satu bulan hingga 30 Juni 2025, dengan rangkaian aktivitas mencakup orientasi, observasi berbasis inquiry, asistensi mengajar, serta mengajar terbimbing. “Program ini merupakan wujud nyata integrasi antara jalur akademik dan jalur profesi dalam menyiapkan guru yang siap terjun di dunia nyata,” ujar Prof. Dr. Trisakti Handayani, MM, Dekan FKIP UMM. Ia menambahkan bahwa FKIP UMM melakukan transformasi PLP-2 ke dalam bentuk Asistensi Mengajar sebagai upaya meningkatkan kualitas lulusan setara dengan jalur profesi. “Kami ingin memastikan lulusan kami tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh secara praktik lapangan,” tegasnya. Pembekalan mahasiswa dan sosialisasi program kepada sekolah mitra turut diselenggarakan bersamaan dengan pelepasan. Dalam kesempatan itu, Wakil Dekan I, Prof. Dr. Sugiarti, M.Si., menyampaikan pentingnya pengalaman lapangan dalam membentuk jati diri guru yang sejati. Mahasiswa diajak untuk memahami bahwa tugas guru bukan sekadar mengajar, melainkan juga mendidik dan membimbing dengan sepenuh hati. Wakil Dekan II, Prof. Dr. Abdulkadir, M.Si., menekankan bahwa sinergi dengan sekolah mitra memungkinkan mahasiswa untuk mengkonfirmasi teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan praktik nyata yang berlangsung di kelas. Sementara itu, Wakil Dekan III, Bayu H. Wicaksono, Ph.D., menyebut bahwa Asistensi Mengajar yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun ini memperkuat relasi kelembagaan antara FKIP dan sekolah mitra, termasuk dalam kegiatan pengabdian dan penelitian. Pengelola program, Dr. Nurwidodo, M.Kes., menegaskan bahwa program Asistensi Mengajar merupakan bentuk kolaborasi strategis antara kampus dan sekolah dalam menyiapkan calon guru profesional yang relevan dengan tuntutan abad ke-21. “Kemitraan ini tidak hanya memperkaya pengalaman mahasiswa, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi antusiasme tinggi dari sekolah mitra yang terlibat. Banyak di antaranya menunjukkan dedikasi penuh untuk membimbing mahasiswa dan mendukung implementasi program secara maksimal. Hal serupa tercermin dari kesiapan para mahasiswa peserta program. Mereka menjalani pembekalan dengan serius dan telah mempersiapkan diri untuk menjalankan peran sebagai asisten guru dengan penuh tanggung jawab. Pada akhirnya, kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam membentuk jati diri pendidik yang adaptif, reflektif, dan berdedikasi tinggi. (*nrw/fd)