Cerdas Ber-AI: Memaksimalkan AI dalam Pendidikan tanpa Kehilangan Nilai Kemanusiaan

Oleh: Ahmad Fauzi  Dosen Pendidikan Biologi, FKIP UMM Sekretaris Laboratorium Pusat Sumber Belajar berbasis Digital FKIP UMM Youtuber (Ensiklopedia Ahmad Fauzi, subscriber di atas 70ribu) Pemateri, narasumber, trainer berbagai workshop, webinar, seminar, bootcamp daring maupun luring seputar pemanfaatan AI. Mengisi lebih dari 80 kali kegiatan online (diundang berbagai lembaga pelatihan maupun kampus), lebih dari 20 kali kegiatan luring di berbagai kota dalam satu tahun terakhir (dari Padang, Tarakan, Bandung, Surakarta, hingga Toraja).   Di era saat ini, kehidupan kita sudah sulit dipisahkan dengan AI. Di kehidupan sehari-hari, disadari atau tidak, dua platform digital yang paling sering kita gunakan, Google dan WhatsApp, juga memiliki fitur AI. Sebelumnya, ketika kita mencari informasi di Google, kita harus membuka satu per satu hasil pencarian Google untuk menemukan jawaban terbaik dari sesuatu yang kita tanyakan. Sekarang, kehadiran AI Overview langsung mampu memberikan jawaban dari pertanyaan atau informasi yang kita cari melalui platform ini. WhatsApp, platform yang biasa kita gunakan untuk berkomunikasi dengan sesama teman atau keluarga, juga memiliki fitur MetaAI yang bisa kita poisiskan sebagai teman virtual untuk mengobrol tentang berbagai topik. Selain itu, banyak dari kita yang sudah tidak asing dengan ChatGTP. Kita bisa membicarakan dan menanyakan berbagai hal pada platform tersebut. Di kehidupan perguruan tinggi, kita pun mau tidak mau harus menyadari kehadiran dan kemajuan teknologi AI. Disadari atau tidak, banyak mahasiswa dan dosen sudah menggunakan AI untuk membantu kerja akademis hingga aktivitas ilmiah mereka. Pemanfaatan AI dapat membantu dosen dan mahasiswa di berbagai hal, dari yang sederhana seperti menanyakan konsep tertentu, hingga yang kompleks seperti membantu merancangkan artikel jurnal berkualitas. Sejalan dengan banyaknya civitas akademika memanfaatkan AI, berbagai konten dan workshop seputar pemanfaatan AI untuk membantu kerja mahasiswa dan dosen semakin sering diselenggarakan. Banyak sekali topik yang dibahas, dari bahasan terkait etika penggunaan AI, pemanfaatan AI untuk membantu menyiapkan perangkat pembelajaran, penggunaan AI dalam penelitian ilmiah, hingga pemanfataan AI untuk membantu menyiapkan draft artikel jurnal bereputasi. Peminatnya pun sangat besar. Saya beberapa kali menjadi narasumber yang yang sekali kegiatan bisa melibatkan 300 hingga 1000 peserta. Beberapa konten Youtube saya yang membahas seputar AI juga ada yang viewernya mencapai puluhan ribu (bahkan ada yang diatas 100ribu viewer). Data sederhana ini bisa menjadi indikasi tingginya minat para akademisi untuk mempelajari pemanfaatan AI untuk membantu tugas akademis mereka. Bila ditanya tentang plus minusnya, ada berbagai manfaat yang dapat kita rasakan ketika kita memanfaatkan AI. Kehadiran dan pemanfaatan AI dapat membantu mempercepat kerja kita. Kerjaan yang biasanya membutuhkan waktu sekian pekan hingga sekian bulan dapat kita selesaikan dalam sekian hari ataupun bahkan sekian jam dengan bantuan AI. Selain itu, dengan memposisikan AI sebagai teman diskusi kita, kita dapat mengeksplorasi berbagai ide penelitian maupun ide desain pembelajaran yang selama ini belum terungkap dalam pikiran kita. Berbagai desain penelitian yang awalnya tidak kita pikirkan, saat ini bisa kita temukan dan kita rancang untuk penelitian kita. AI juga dapat memperkuat ide-ide penelitian yang telah kita miliki serta mengoptimalkan karya yang sedang kita susun. Masih banyak lagi manfaat yang dapat kita rasakan dari kehadiran AI, misalnya memudahkan kita mencari berbagai referensi ilmiah berkualitas yang sejalan dengan penelitian kita hingga membantu kita mengidentifikasi research gap di bidang penelitian kita. Berbagai kelebihan tersebut sering juga saya bahas di berbagai workshop, webinar, hingga bootcamp yang saya isi. Namun, meski AI mendatangkan berbagai manfaat yang luar biasa, kita juga harus menyadari aspek negatif yang bisa muncul bila kita menggunakan AI secara tidak bijak. Penggunaan AI di berbagai aktivitas sehari-haru dapat saja menyebabkan ketergantungan pada diri kita. Kita menjadi sulit memikirkan ide, memulai menulis karya, atau menyelesaikan kerja kita tanpa bantuan AI. Pemanfaatan AI yang berlebihan juga menyebabkan pola pikir dan keterampilan berpikir kita semakin tumpul. Selain itu, dengan langsung menyalin hasil kerja AI, pengetahuan kita juga tidak semakin berkembang. Selain itu, kita juga harus memahami bahwa AI juga bisa saja memberikan informasi yang tidak akurat sehingga dapat memunculkan misinformasi hingga miskonsepsi. Misalkan saja ketika kita memanfaatkan AI secara berlebihan untuk menulis artikel penelitian. Kita bisa saja meminta AI membuatkan artikel jurnal yang 100% langsung kita salin ke dalam manuskrip ilmiah yang kita kirim ke jurnal target. Dalam kondisi ini, kita tidak membaca sama sekali referensi seputar penelitian kita sehingga pengetahuan kita sama sekali tidak bertambah. Keterampilan berpikir kita juga tidak berkembang karena kita tidak memverifikasi, memvalidasi, dan menyempurnakan draft artikel yang telah dibuat oleh AI. Keterampilan menulis kita pada akhirnya juga semakin menurun karena kita tidak memparafrase dan memfinalisasi draft artikel tersebut. Pada akhirnya, selain artikel kita berpotensi mengandung informasi yang menyesatkan, berbagai kompetensi kita akan semakin menurun. Oleh karena itu, hampir di setiap kegiatan yang saya isi, saya selalu menekankan pentingnya memeriksa respon yang diberikan oleh AI, membatasi peranannya, memanfaatkannya dengan strategi yang etis dan bijak, dan memposisikannya sebagai asisten serta pemberi saran saja. Kita, sebagai akademisi sekaligus ilmuwan, tetap harus menjaga sikap ilmiah dan integritas akademi kita. Posisiskan AI hanya sebagai pemeran pembantu, sedangkan kita tetap menjadi pemeran utama dalam karya kita. Lalu, apakah penggunaan AI diperbolehkan dalam membantu kerja akademis maupun aktivitas penelitian dan publikasi ilmiah? Untuk menjawab pertanyaan semacam ini, saya sering merujuk pada berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan oleh berbagai publisher jurnal internasional  bereputasi maupun Committee on Publication Ethics (COPE). Berbagai publisher besar, seperti Elsevier dan Taylor & Francis secara jelas membolehkan kita menggunakan AI dalam proses penyusunan draft artikel jurnal. Namun, mereka juga secara tegas menyampaikan bahwa penggunaan AI harus transparan, dibatasi, dan kita para author harus memahami kekurangan dari teknologi AI. Kita tetap harus bertanggung jawab memastikan keakuratan dan kepatuhan etika dari karya yang kita susun. Hal senada juga disampaikan oleh COPE yang turut menekankan transparansi penggunaan AI dalam proses publikasi ilmiah yang kita lakukan. Lalu, bagaimana strategi meminimalisasi dampak negatif dari penggunaan AI serta pelanggaran etika akademik dalam pemanfaatan teknologi ini? Pendapat yang sering saya sampaikan di berbagai forum terkait pertanyaan ini adalah kita sebagai civitas akademika harus mengetahui, mempelajari, dan mematuhis kebijakan, etika, dan batasan penggunaan AI. Kita harus tahu dan sadar bahwa AI memiliki kelemahan. Kita sebagai dosen sulit melarang mahasiswa menggunakan AI di kehidupan sehari-hari mereka karena mereka dapat dengan mudah mengakses