
FKIP News – Ketimpangan gender dan terpinggirkannya nilai-nilai budaya dalam sistem pendidikan Indonesia menjadi sorotan tajam Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. Dalam orasi ilmiahnya saat pengukuhan sebagai Guru Besar Ilmu Kajian Budaya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu lalu (10/5), Dekan FKIP UMM itu menyuarakan pentingnya pendidikan yang peka terhadap konteks budaya dan kesetaraan gender.
Mengangkat tema Kajian Budaya dan Isu Gender dalam Pendidikan di Indonesia, Trisakti menyebut bahwa berbagai kebijakan pendidikan selama ini memang sudah diterapkan. Namun, di lapangan, praktiknya belum sepenuhnya menjawab persoalan ketimpangan. “Masih ada disparitas gender yang berdampak pada akses dan capaian pendidikan. Belum lagi tekanan globalisasi yang secara perlahan mengikis nilai-nilai budaya lokal dalam praktik pendidikan kita,” ungkapnya di hadapan civitas akademika dan undangan.
Dalam paparannya, Trisakti menekankan tiga aspek utama dalam kajiannya. Pertama, kajian teoretis yang membahas hubungan antara budaya dan gender dalam sistem pendidikan. Kedua, analisis empiris yang mengevaluasi bagaimana praktik pendidikan di Indonesia mencerminkan nilai budaya dan sensitivitas gender. Ketiga, ia menawarkan rekomendasi strategis untuk mengintegrasikan kedua hal itu dalam sistem pendidikan nasional.
“Tujuannya bukan sekadar mengkritik, tapi mencari celah di mana kita bisa menghadirkan sistem pendidikan yang lebih adil dan inklusif,” tegasnya.
Menurut Trisakti, pendidikan seharusnya tidak berjalan di ruang hampa. Ia harus menjadi ruang dialog yang hidup antara nilai-nilai lokal, kesetaraan hak, dan tantangan global. Sayangnya, banyak kurikulum yang belum menyentuh aspek ini secara konkret. Padahal, jika dirancang secara sensitif terhadap budaya dan gender, pendidikan bisa menjadi alat transformatif bagi masyarakat.
Trisakti pun menegaskan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam mengatasi kompleksitas persoalan ini. “Melalui pendekatan interdisipliner, pendekatan ini menawarkan perspektif yang holistik dalam memahami kompleksitas persoalan yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia,” tegas Dekan FKIP UMM itu.
Orasi itu bukan sekadar refleksi akademik, tetapi juga menjadi panggilan moral bagi para pengambil kebijakan, guru, dosen, dan semua pemangku kepentingan. Trisakti berharap karyanya bisa menjadi rujukan komprehensif bagi mereka yang bergerak di dunia pendidikan.
Ia pun menutup orasinya dengan harapan besar agar dunia pendidikan Indonesia bisa tumbuh sebagai ruang yang terbuka, adil, dan tetap berakar pada nilai-nilai budaya bangsa. “Semoga orasi ini dapat menginspirasi berbagai pihak untuk terus berkomitmen dalam mengembangkan praktik pendidikan yang sensitif budaya dan kesetaraan gender, sehingga cita-cita untuk mewujudkan pendidikan berkualitas yang dapat diakses oleh seluruh anak bangsa tanpa diskriminasi akan semakin dekat untuk diwujudkan,” pungkasnya. (*fd)
