FKIP UMM News—Sebagai bentuk komitmen dalam pengembangan pendidikan Bahasa Inggris yang adaptif terhadap era digital, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar International Seminar on Developing Students’ 5th Skill in English: Education Technology & In-Depth Learning in EFL pada Selasa, 6 Mei 2025. Seminar yang bertempat di Rayz UMM Hotel Malang ini menghadirkan para pakar pendidikan dari tiga negara yang membagikan gagasan dan praktik terbaik dalam pemanfaatan teknologi serta pendekatan pembelajaran mendalam untuk pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. yang mewakili Rektor Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak hanya terletak pada penguasaan materi, tetapi juga pada cara mendesain proses belajar yang mampu melatih daya pikir kritis, kreatif, dan reflektif siswa. “Seminar ini menjadi momentum penting bagi UMM, khususnya FKIP, untuk menyelaraskan arah pendidikan Bahasa Inggris dengan tuntutan zaman,” katanya.

Turut hadir dan memberikan pidato kunci, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., yang menyoroti pentingnya integrasi teknologi dalam pembelajaran. Ia menjelaskan bahwa teknologi harus digunakan untuk menciptakan proses pembelajaran yang mindfulmeaningful, dan joyful. Namun, ia juga mengingatkan bahwa literasi digital dan kemampuan membedakan informasi faktual dari hoaks menjadi hal yang krusial. “Bahasa memiliki kekuatan untuk mengekspresikan perasaan dan pemikiran manusia, dan oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Inggris harus dirancang tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai wahana pengembangan karakter dan logika berpikir,” tegasnya.

Empat pembicara utama dari Indonesia, Taiwan, dan Inggris memberikan kontribusi pemikiran sesuai bidang keahlian masing-masing. Prof. Siusana Kweldju membuka sesi plenari dengan membahas pentingnya pendekatan deep learning dalam pembelajaran bahasa. Ia menjelaskan bahwa proses belajar akan lebih efektif jika sejalan dengan cara kerja otak dalam menyerap dan mengekspresikan informasi dalam konteks real-world. “Teknologi, dalam hal ini, bisa menjadi alat bantu untuk mengoptimalkan proses belajar yang alami dan mendalam, namun tetap menghargai pelajar sebagai manusia yang aktif-kreatif, berbudaya, kolaboratif, serta berkesadaran diri,” terang Prof. Siusana.

Selanjutnya, Prof. Yinghuei Chen, Ph.D., dari Asia University Taiwan, menekankan pentingnya dimensi interkultural dalam pengajaran Bahasa Inggris. Ia menyampaikan bahwa guru Bahasa Inggris perlu memfasilitasi pembelajaran yang tidak hanya linguistik, tetapi juga memperluas wawasan budaya siswa. Menurutnya, teknologi membuka ruang kolaborasi dan pertukaran antarbudaya yang sangat bermanfaat dalam membentuk kesadaran global generasi muda.

Paparan ketiga disampaikan oleh Bayu Hendro Wicaksono, M.Ed., Ph.D., yang mengulas strategi penguatan literasi digital dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Wakil Dekan III FKIP UMM ini menekankan pentingnya membekali siswa dengan kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, dan menggunakan informasi digital secara kritis. Dengan menunjukkan beberapa aplikasi dan platform digital yang bisa digunakan di kelas, Bayu mendorong para pendidik untuk berani mengeksplorasi inovasi pembelajaran digital yang partisipatif.

Sesi terakhir diisi oleh Martin Moore, M.A., dari Clarity English, Inggris, yang menjelaskan bagaimana teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT dan DeepSeek dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Ia menegaskan bahwa teknologi tidak akan menggantikan peran guru, tetapi justru memperkuat kemampuan guru dalam membimbing siswa berpikir secara logis dan menyusun gagasan yang runtut. “Pembelajaran bahasa harus melatih siswa dalam berpikir koheren, membangun argumen, dan menyampaikan ide dengan struktur yang jelas. Kemampuan yang sangat relevan di dunia kerja dan akademik global saat ini,” terangnya

Selain sesi plenari, rangkaian acara seminar juga mencakup penandatanganan nota kesepahaman, penampilan Tari Kreasi Nusantara, sesi berbagi dari Clarity English, serta pemberian sertifikat bagi para pembicara dan peserta. Sepanjang acara, diskusi berjalan interaktif dan dinamis, menunjukkan antusiasme tinggi para peserta terhadap tema yang diangkat.

Dengan terlaksananya seminar ini, FKIP UMM memperkuat posisinya sebagai institusi yang terus mendorong transformasi pendidikan, khususnya dalam bidang pengajaran Bahasa Inggris yang terintegrasi dengan teknologi dan relevan secara global. (*br/ed: fd)