FKIP News-Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) Prodi PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang digawangi oleh Fadhilah Aulia bersama anggota tim Merlin Siti Kodijah, Dea Saputri, Putri Novita Sari, dan Khalimatus Zahri Assovia di bawah bimbingan dosen PGSD, Ima Wahyu Putri Utami, M.Pd., melaksanakan program pengabdian di SDN Sukun 2, Kota Malang. Kegiatan yang berlangsung sejak Juli hingga September 2025 ini menyasar murid kelas 4 dan 5 dengan kategori slow learner. Program ini dirancang untuk memberikan pendampingan belajar kreatif melalui media inovatif bernama Smart Box Explorer Map, sebuah kotak interaktif yang membantu siswa memahami materi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) secara lebih menyenangkan dan mudah dipahami.

Inovasi Smart Box Explorer Map lahir dari kegelisahan mahasiswa terhadap tantangan pendidikan inklusif. Di SDN Sukun 2, sejumlah siswa slow learner kerap mengalami kesulitan memahami konsep abstrak dalam mata pelajaran IPAS. Kondisi ini mendorong tim PKM merancang media pembelajaran yang tidak hanya ramah bagi siswa berkebutuhan khusus, tetapi juga mampu menjembatani guru dalam menyampaikan materi secara adaptif. “Media ini berbentuk kotak interaktif dengan peta dan simbol tiga dimensi yang dapat ditempelkan oleh siswa. Pendekatan visual dan praktik langsung membuat pembelajaran lebih bermakna dan mengurangi dominasi hafalan semata,” jelas Ketua Tim PKM, Fadhilah Aulia

Pelaksanaan program melibatkan sembilan siswa slow learner kelas 4 dan 5. Mereka diajak berpartisipasi aktif melalui aktivitas melukis peta, menempel simbol 3D, hingga bermain peran sederhana yang terintegrasi dengan materi IPS. Tidak hanya siswa, empat guru kelas serta kepala sekolah SDN Sukun 2 turut dilibatkan. Guru berperan memberi arahan sesuai kebutuhan kurikulum, sedangkan kepala sekolah bertindak sebagai penanggung jawab sekaligus pendukung penuh. Kolaborasi ini menciptakan sinergi antara mahasiswa dan pihak sekolah, yang pada akhirnya menghasilkan suasana belajar inklusif, kreatif, dan menyenangkan.

Sebelum media digunakan di kelas, tim mahasiswa melalui proses panjang. Mereka mengawali program dengan koordinasi via Zoom, menyusun presentasi, serta menyiapkan timeline kegiatan. Selanjutnya, dilakukan sosialisasi dan diskusi bersama guru untuk merancang konten Smart Box Explorer Map. Proses pembuatan media pun tak kalah menarik. Mahasiswa bersama guru melukis peta di papan, membuat simbol tiga dimensi dari bahan sederhana, hingga melibatkan siswa dalam menempelkan tutup botol sebagai penanda lokasi di peta. Aktivitas ini tidak hanya berfungsi sebagai latihan keterampilan motorik, tetapi juga menumbuhkan rasa kepemilikan siswa terhadap media belajar yang digunakan.

Hasilnya, Smart Box Explorer Map berhasil menjadi sarana pembelajaran yang interaktif dan mudah diakses oleh siswa slow learner. Melalui media ini, siswa lebih mudah memahami konsep peta dan dasar-dasar sosial, sekaligus termotivasi untuk belajar. Guru juga terbantu karena mendapatkan alternatif media ajar yang kreatif dan sesuai kebutuhan kelas inklusif. “Kami percaya bahwa inovasi ini bukan sekadar media pembelajaran, tetapi juga jembatan bagi siswa untuk merasakan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan bermakna. Harapan kami, Smart Box Explorer Map dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan media kreatif lainnya,” ujarnya.

Bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi laboratorium hidup yang mengasah kemampuan berpikir kreatif, problem solving, serta kerja sama tim. Mereka tidak hanya mengimplementasikan teori perkuliahan, tetapi juga belajar berinteraksi langsung dengan siswa berkebutuhan khusus dan guru di lapangan. “Karya ini lahir dari semangat mahasiswa untuk menghadirkan solusi nyata bagi dunia pendidikan. Smart Box Explorer Map diharapkan mampu membantu siswa slow learner agar lebih mudah memahami materi sekaligus meningkatkan motivasi belajar mereka,” tutur dosen pembimbing, Ima Wahyu Putri Utami, M.Pd.

Melalui PKM ini, mahasiswa ditantang untuk tidak sekadar berkompetisi, melainkan juga mengelola ide, melatih kepemimpinan, membangun empati, dan menghadirkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Pada akhirnya, program Smart Box Explorer Map di SDN Sukun 2 diharapkan menjadi pijakan awal lahirnya inovasi-inovasi baru yang lebih luas cakupannya. Ke depan, tim menargetkan pengembangan media serupa agar dapat diterapkan di sekolah lain, sehingga semakin banyak siswa slow learner yang mendapat kesempatan belajar setara dan optimal. (*fd)