Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMM Ajak Siswa SD Berani Bermimpi Lewat “Mading Mimpi” Bilingual
FKIP News–Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam Program Pengabdian Masyarakat (PMM) kembali menunjukkan kreativitasnya dengan mengadakan sebuah program unik di SD Negeri Losari. Kegiatan tersebut diberi tajuk “Mading Mimpi”, sebuah media ekspresi yang memungkinkan siswa sekolah dasar menuliskan sekaligus menampilkan cita-cita mereka, tidak hanya dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dalam bahasa Inggris. Program ini melibatkan siswa kelas 4 dan 6 yang diajak untuk memvisualisasikan impian masa depan mereka. Anak-anak dengan antusias menempelkan gambar atau menulis profesi idaman, mulai dari dokter, guru, pilot, polisi, hingga ilmuwan. Lebih menarik lagi, mereka juga mencoba menuangkan cita-cita tersebut ke dalam kalimat sederhana berbahasa Inggris. Misalnya, siswa yang bercita-cita menjadi dokter menuliskan, “I want to be a doctor,” sementara yang ingin menjadi guru menulis, “My dream is to be a teacher.” Inisiatif ini lahir dari ide lima mahasiswa UMM Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, yakni Sabrina Alia Rofyana Nuswantoro, Dewa Ayu Made Dinda Sabila, Jelita Asti Mahesa Ayu, Aulia Royani, dan Nuril Alfina. Mereka sepakat menjadikan kegiatan ini sebagai media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus sarana melatih keterampilan berbahasa asing sejak dini. Salah satu anggota tim, Nuril Alfina, menjelaskan bahwa program ini dirancang agar anak-anak berani bermimpi sekaligus percaya diri mengekspresikan mimpi tersebut. “Kami ingin anak-anak tidak hanya menyimpan cita-cita dalam hati, tetapi juga bisa menuliskannya dan menyuarakannya dengan bahasa yang lebih luas, yaitu bahasa Inggris. Dengan begitu, mereka berlatih kosakata baru sekaligus melatih keberanian berbicara,” tuturnya. Senada dengan itu, Jelita Asti Mahesa Ayu menambahkan bahwa Mading Mimpi mampu menghubungkan pembelajaran bahasa Inggris dengan sesuatu yang relevan bagi kehidupan anak. Menurutnya, pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa merasa dekat dengan materi. “Saat mereka menuliskan profesi yang memang mereka idamkan, otomatis ada keterikatan emosional. Itu membuat proses belajar lebih natural dan menyenangkan,” ujarnya. Suasana kelas ketika kegiatan berlangsung tampak hangat dan penuh tawa. Anak-anak dengan semangat tinggi mencari gambar yang sesuai, kemudian menghias papan mading dengan penuh kreativitas. Tidak hanya itu, mereka juga berani maju untuk memperlihatkan hasil karyanya di depan teman-teman. Kegembiraan itu menjadi bukti nyata bahwa belajar bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Ketua tim, Sabrina Alia Rofyana, menuturkan bahwa harapan utama dari kegiatan ini adalah memicu motivasi siswa untuk belajar sejak dini. “Kami percaya bahwa dengan menggabungkan seni visual dan bahasa, proses pembelajaran akan terasa lebih hidup. Anak-anak bukan hanya belajar kata-kata baru, tetapi juga melatih imajinasi dan kepercayaan diri,” jelasnya. Apresiasi juga datang dari pihak sekolah. Kepala SD Negeri Losari, Ana Andriani, S.Pd., menyambut baik kegiatan ini dan berharap kerjasama dengan mahasiswa UMM dapat terus berlanjut di masa mendatang. Menurutnya, kegiatan semacam ini mampu menghadirkan suasana belajar yang berbeda dan lebih kreatif. “Program ini tidak hanya mengasah keterampilan berbahasa anak, tetapi juga membantu menanamkan karakter berani bermimpi dan percaya diri,” ujarnya. Melalui Mading Mimpi Goes Bilingual, tim PMM UMM berhasil menciptakan ruang bagi siswa untuk berkreasi, menuliskan harapan, sekaligus belajar bahasa Inggris secara kontekstual. Dari sebuah papan mading sederhana, lahirlah imajinasi dan keyakinan besar tentang masa depan. Anak-anak tidak hanya belajar menulis kalimat, tetapi juga belajar bermimpi dengan penuh keberanian, seolah menegaskan bahwa cita-cita akan lebih bermakna jika diungkapkan dan diperjuangkan. (*dwa/mlv/fd)