
FKIP News–Hari raya Idul Fitri merupakan momen sakral yang dinantikan umat Muslim di seluruh dunia, termasuk mereka yang sedang berada jauh dari tanah air. Bagi Alimin Adi Waluyo, M.App.Ling., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), perayaan Idul Fitri tahun ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Saat ini, Alimin tengah menempuh studi doktoral di Language, Literacy, and Technology Program, Department of Teaching and Learning, Washington State University Pullman, Amerika Serikat, melalui skema beasiswa prestisius Fulbright Scholarship.
Perayaan Idul Fitri di Pullman, sebuah kota kecil di negara bagian Washington, menjadi pengalaman spiritual dan sosial yang unik. Kota ini memiliki komunitas Muslim dari berbagai latar belakang etnis dan kebangsaan yang cukup aktif, meskipun jumlahnya tidak sebesar di kota-kota besar seperti Seattle atau Los Angeles.
“Idul Fitri di kota Pullman memberikan pengalaman yang unik dan menarik. Jamaah sholat Ied berasal dari negara-negara Timur Tengah, Afrika, Asia Timur, Amerika Selatan, hingga warga lokal Amerika Serikat,” ujar Alimin. Ia melanjutkan bahwa suasana sholat Ied yang multikultural tersebut memperlihatkan kekayaan Islam sebagai agama yang merangkul keragaman.
Setelah pelaksanaan sholat Ied, warga Indonesia yang berada di Pullman yang jumlahnya sangat terbatas berkumpul dalam sebuah acara silaturahmi sederhana. Masing-masing membawa masakan khas dari kampung halaman, menciptakan sebuah perayaan yang penuh cita rasa nusantara. Ada opor ayam, rendang, sambal goreng kentang, lontong, hingga kue kering seperti nastar dan kastengel yang dibawa dari Indonesia atau dibuat sendiri dengan bahan seadanya.
“Hal itu sangat menyenangkan karena bisa mengobati kekangenan kita yang tidak bisa berjumpa dengan keluarga di kampung halaman. Kita juga bisa menikmati masakan lokal yang biasanya tidak mudah kita jumpai di kota ini,” kata Alimin dengan antusias.
Yang membuat lebaran tahun ini semakin berkesan adalah kondisi cuaca yang cukup ekstrem. Meskipun secara kalender sudah memasuki musim semi, suhu di Pullman saat itu masih berkisar antara minus 1 hingga 4 derajat Celsius.
“Cuacanya memang sedikit menantang karena meskipun sudah musim semi, tapi suhu masih cukup dingin. Namun, kebersamaan dengan rekan-rekan dari Indonesia cukup bisa menghangatkan suasana lebaran,” tambahnya.
Alimin menilai bahwa meskipun berada di perantauan, esensi dari Idul Fitri tetap dapat dirasakan melalui kebersamaan, rasa syukur, dan semangat saling berbagi. Perayaan Idul Fitri di luar negeri juga memberikan ruang untuk memperkenalkan budaya dan tradisi Indonesia kepada masyarakat internasional.
“Ini bukan hanya soal merayakan lebaran, tapi juga tentang membawa nilai-nilai persaudaraan dan budaya Indonesia ke tengah masyarakat global,” pungkasnya.

Pengalaman ini juga memberi refleksi mendalam bagi Alimin sebagai seorang pendidik dan pembelajar. Berada di lingkungan internasional yang penuh keberagaman memperkaya perspektifnya dalam melihat isu-isu kebahasaan, pendidikan, serta nilai-nilai kemanusiaan lintas budaya.
Melalui program Fulbright, Alimin berharap bisa terus menjadi jembatan antara Indonesia dan komunitas global, baik dalam bidang akademik maupun sosial budaya. “Saya ingin ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan di sini bisa kembali saya kontribusikan untuk pendidikan dan pengembangan literasi di Indonesia,” tutupnya. (*fd)