Lebaran di sini mengajarkan saya banyak hal, terutama tentang persaudaraan, toleransi, dan betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama, meskipun kita berasal dari latar belakang budaya yang berbeda (Mirza, 2025)
FKIP News–Tahun ini adalah kali pertama Mirza menjalani Idulfitri di luar negeri, tepatnya di benua biru yang penuh sejarah dan dinginnya musim semi. Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang itu kini tengah melanjutkan studi di Institute of Parasitology, Department of Biological Sciences, Veterinary Medicine University of Vienna dengan beasiswa prestisius Ernst Mach Grant dari Pemerintah Austria.

Jauh dari keluarga dan kampung halaman, tentu bukan hal mudah. Tapi siapa sangka, atmosfer lebaran justru menjelma menjadi ruang belajar baru tentang makna keberagaman dan kekuatan komunitas.
Vienna pagi itu, 30 Maret 2024, masih menyisakan udara dingin khas musim semi, suhu hanya berkisar lima derajat. Namun langkah kaki tetap ringan menuju tempat pelaksanaan salat Id. Komunitas Muslim dari berbagai negara—termasuk Indonesia, Turki, Pakistan, dan negara-negara Timur Tengah—berkumpul di satu ruang yang sama, menyatukan takbir dan doa dalam nuansa damai yang tak terlupakan.
Bagi Mirza, momen ini bukan sekadar ritual keagamaan. Ada hal yang menyentuh lebih dalam, yakni interaksi antarumat beragama. Sebuah kejutan hangat datang saat komunitas Katolik Austria menyerahkan kue kepada komunitas Muslim sebagai bentuk solidaritas dan ucapan selamat Idulfitri. “Rasanya adem banget,” ujar Mirza, “Kita merasa diterima, dihormati.”
Kebersamaan makin terasa saat bersalaman langsung dengan Duta Besar Indonesia untuk Austria dan para staf KBRI. Acara dilanjutkan dengan ramah tamah, di mana gorengan khas Indonesia menjadi primadona. “Laris banget! Mungkin karena kita semua kangen rasa Indonesia yang otentik,” katanya.
Tak berhenti di situ, Mirza yang juga menjabat sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Austria (PPIA) menginisiasi kegiatan kecil namun penuh makna, yaitu brunch halal bihalal di taman Türkenschanzpark. Mereka menyantap opor ayam, hidangan yang disiapkan dari acara KBRI, di bawah langit Vienna yang mendung namun bersahabat. Tawa dan obrolan ringan mengisi waktu, mengobati rindu pada keluarga di tanah air.
“Teman-teman di sini jadi keluarga baru. Meskipun hanya sedikit, tapi cukup untuk menghadirkan kehangatan di tengah dinginnya cuaca dan jarak dari rumah,” kata Mirza.
Di tengah perjalanan akademiknya yang padat, Idulfitri menjadi jeda yang bermakna, mengisi ulang semangat, mempererat solidaritas, dan memperkaya perspektifnya sebagai pendidik dan peneliti Indonesia yang sedang menimba ilmu di luar negeri. (*fd)