FKIP News – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar ajang akademik internasional bergengsi, The 4th International Conference on Education (ICEdu), pada Kamis (18/9/2025). Konferensi dua tahunan ini menghadirkan 210 peserta dari dalam dan luar negeri dengan 48 makalah terpilih yang dipresentasikan. Tahun ini, tema besar yang diusung adalah “Digital Transformation in Education: Integrating New Technologies for Future Learning”.
Wakil Dekan II FKIP UMM, Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., menegaskan bahwa transformasi digital dalam pendidikan bukan sekadar tren sesaat, melainkan perubahan mendasar yang akan menentukan arah dunia pendidikan ke depan.
“Kita hidup di era ketika teknologi digital tidak hanya mendukung, tetapi sudah menjadi bagian integral dari pembelajaran. Tantangan terbesar adalah memastikan transformasi ini tidak memperlebar kesenjangan, melainkan membuka akses, memperkuat kualitas, dan menegakkan prinsip keadilan,” ujarnya saat memberikan sambutan.
Ia menambahkan, ICEdu bukan hanya forum seremonial, melainkan ruang kolaboratif yang merefleksikan tekad bersama akademisi untuk menjawab percepatan digitalisasi pendidikan. “Konferensi ini adalah simbol tekad kolektif kita. Pendidikan perlu digambarkan ulang sebagai ekosistem dinamis tempat teknologi, pedagogi, dan nilai kemanusiaan beririsan,” tegasnya.
Peran Kemanusiaan dalam Pendidikan Era Digital
Salah satu pembicara utama, Prof. Yinghuei Chen, Ph.D., Professor Emeritus dari Asia University, Taiwan, menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara kecanggihan teknologi dan dimensi kemanusiaan dalam pembelajaran.
Dalam makalahnya berjudul “English Education (Humanities) in the Digital Ages”, ia memperkenalkan kerangka 3 AIs yang menempatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), kecerdasan autentik (Authentic Intelligence), dan etika akademik (AI Ethics) sebagai tiga pilar pendidikan abad ke-21.
“Artificial Intelligence memberi kita peluang untuk personalisasi pembelajaran, tetapi pendidikan tetap harus menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kepemimpinan yang berempati. Itulah yang saya sebut Authentic Intelligence. Lebih jauh lagi, tanpa etika akademik, transformasi digital berisiko menyingkirkan nilai kemanusiaan,” paparnya.
Prof. Chen menekankan bahwa pengajaran bahasa Inggris pada era digital perlu menghubungkan teks dengan konteks sosial yang lebih luas. “Kita tidak hanya mengajarkan teks, tetapi juga membuka jalan antara teks sastra, teks verbal, dan teks sosial di mana kita hidup. Inilah yang disebut textual power, yaitu kemampuan membaca, menafsirkan, dan mengkritisi teks dalam kerangka sosial,” ujarnya.
Transformasi Digital Pendidikan: Pedagogy-First, Technology-Facilitated
Pembicara utama lainnya, Dr. Jasper Hsieh dari School of Education, University of New South Wales, Australia, mengingatkan bahwa transformasi digital kerap menempatkan teknologi sebagai pusat, padahal yang utama tetaplah pedagogi.
Dalam paparannya “A Pedagogical Crisis in Digitally Transforming Education”, Hsieh menyoroti bahwa investasi pendidikan sering kali diarahkan pada kontrak teknologi, bukan pada kebutuhan pedagogis. Ia kemudian menawarkan Map-Mix-Tie Model sebagai kerangka praktis untuk mendesain pembelajaran yang inklusif dan berpusat pada mahasiswa.
“Teknologi tidak secara otomatis bersifat edukatif. Prinsipnya harus pedagogy-first, technology-facilitated. Dengan Map-Mix-Tie Model, kita bisa memastikan setiap mahasiswa merasa diterima dan terlibat aktif dalam proses belajar,” katanya.
Menurut Hsieh, pengajar juga perlu mengadopsi pendekatan interdisipliner seperti Universal Design for Learning dan translanguaging untuk merespons keberagaman kultural dan linguistik mahasiswa. “Inklusivitas adalah kunci. Transformasi digital harus memastikan semua mahasiswa, dengan latar belakang apapun, memiliki rasa kepemilikan dalam ruang belajar,” jelasnya.
Raih Best Paper
Sebagai bentuk apresiasi kepada para pemakalah, konferensi ini juga memberikan penghargaan kepada tiga makalah terbaik. Peringkat pertama diraih oleh Nikola Dobrić dan Malikhatul Lailiyah dari Universität Klagenfurt, Austria, dengan riset berjudul “Too Good to be True: Textual Features that Trigger Rater Suspicion in EFL Writing Assessment”. Juara kedua diraih kolaborasi lintas negara antara Universitas Muhammadiyah Malang dan United International University, Bangladesh, melalui penelitian tentang persepsi mahasiswa terhadap AI-powered digital writing assistants. Sementara posisi ketiga ditempati tim peneliti dari Telkom University Bandung dengan kajian tentang efektivitas project-based assessment dalam perkuliahan Microprocessor and IoT.
Dengan tema yang menyoroti digitalisasi dan tantangan global, The 4th ICEdu International Conference on Education kembali meneguhkan posisi FKIP UMM sebagai ruang temu akademisi internasional yang berkomitmen membentuk pendidikan masa depan berbasis teknologi, namun tetap berakar pada nilai kemanusiaan. (*fd)