
MALANG – Sastra bukan sekadar soal keindahan kata atau hiburan pengisi waktu senggang. Di tangan Prof. Dr. Sugiarti, M.Si., sastra ditarik lebih jauh: menjadi medium kritik sosial dan pembangun peradaban.
Pandangan itulah yang menjadi inti orasi ilmiah Guru Besar Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang dikukuhkan Sabtu lalu (10/5). Lewat pidato berjudul Perspektif Multidisipliner Sastra sebagai Pembangun Peradaban, Sugiarti menekankan bahwa sastra merupakan sarana refleksi sosial dan kritik terhadap realitas yang dihadapi masyarakat. Peran tersebut akan lebih optimal bila pendekatannya tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga lintas disiplin. “Sastra menyimpan kekuatan yang melampaui sekadar estetika. Ia merekam, menyuarakan, sekaligus mentransformasikan dimensi sosial, politik, psikologis, historis, hingga filosofis dari kehidupan manusia,” ujarnya.
Melalui pendekatan multidisipliner, sastra dapat dianalisis bukan hanya sebagai produk bahasa dan estetika, tetapi juga sebagai cermin kompleksitas sosial dan dinamika nilai yang hidup di dalam masyarakat. Pendekatan seperti sosiologi sastra, psikologi sastra, dan antropologi sastra memungkinkan pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap konteks budaya, termasuk isu-isu kesetaraan gender, identitas, dan ketimpangan sosial.
“Sastra menjadi simpul pengetahuan yang mempertemukan berbagai cabang ilmu. Ia membangun jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara warisan tradisi dan tantangan modernitas, antara nilai-nilai lokal dan arus globalisasi,” tambah Sugiarti.
Ia juga mencontohkan sejumlah karya sastra Indonesia yang memiliki fungsi reflektif dan transformatif, seperti Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Salah Asuhan oleh Abdoel Muis, hingga Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Menurutnya, karya-karya tersebut tidak hanya menggambarkan realitas sosial, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kritis pembacanya.
Lebih dari itu, sastra dinilai berperan penting dalam pembentukan karakter bangsa. Nilai-nilai moral, humanisme, spiritualitas, hingga religiositas dalam sastra akan lebih mudah terinternalisasi apabila pembaca juga terlibat dalam proses kreatif penciptaan. “Literasi sastra bukan sekadar membaca, melainkan juga mencipta. Dari situlah tumbuh kesadaran dan empati,” kata dia.
Dalam hal ini, peran komunitas sastra di tengah masyarakat juga tak luput dari perhatian. Sugiarti menyebut komunitas seperti Gubuk Buku, Malang Menulis, dan Ruang Baca Cerdas (RBC) sebagai aktor penting dalam menumbuhkan budaya literasi yang kritis, inklusif, dan berdaya transformasi.
Ia menegaskan, integrasi pendekatan lintas disiplin dalam studi sastra tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memperkuat sastra sebagai fondasi budaya yang penting dalam membentuk bangsa yang adil, beradab, dan visioner. “Sastra adalah instrumen strategis untuk membangun peradaban yang memanusiakan manusia,” pungkasnya.
Pengukuhan Prof. Dr. Sugiarti menjadi momentum penting bagi UMM dalam mempertegas komitmen kampus terhadap pengembangan ilmu humaniora yang berdampak langsung bagi masyarakat luas. (*fd)
