FKIP News— Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kunjungan dari Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Provinsi Jawa Tengah pada Selasa (18/2). Rombongan yang terdiri dari 17 orang ini dipimpin oleh Dr. Setyo Hartanto, S.Pd., M.Kom. Kunjungan tersebut bertujuan untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD) serta berbagi wawasan mengenai implementasi Kurikulum Deep Learning dalam dunia pendidikan.

FKIP UMM menyambut baik kedatangan rombongan BBGP sebagai bentuk sinergi dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang inovatif dan berorientasi pada kebutuhan masa depan. Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., membuka kegiatan dengan memaparkan materi berjudul Sekolah Ramah Anak sebagai Manifestasi Deep Learning. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa Deep Learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills atau HOTS) serta penerapannya dalam kehidupan nyata.

“Pembelajaran Deep Learning bukan hanya tentang menghafal materi, tetapi lebih kepada bagaimana peserta didik dapat memahami, menganalisis, dan menerapkan ilmu yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kita harus menciptakan sistem pembelajaran yang tidak hanya mindful (berkesadaran), tetapi juga meaningful (bermakna) dan joyful (menyenangkan),” ungkap Prof. Trisakti.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Deep Learning dalam pembelajaran berorientasi pada kompetensi lulusan dengan mengintegrasikan materi ajar, keterampilan abad ke-21 (4CCritical Thinking, Creativity, Communication, and Collaboration), serta HOTS. Selain itu, evaluasi pembelajaran harus menggunakan berbagai metode asesmen dan menerapkan pendekatan berbasis proyek (Project-Based Learning).

Salah satu aspek penting dalam penerapan Deep Learning adalah konsep Sekolah Ramah Anak, yang mengombinasikan sentuhan manusiawi (human touch) dengan pemanfaatan teknologi secara seimbang. Pendekatan ini bertujuan untuk memperkuat kompetensi akademik, karakter, dan kompetensi spiritual peserta didik. “Pembelajaran yang terintegrasi dalam seluruh aspek pendidikan—baik intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler—akan menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki moral dan etika yang kuat,” tambahnya.

Dr. Setyo Hartanto, S.Pd., M.Kom., selaku pimpinan rombongan BBGP Jawa Tengah, menyampaikan apresiasi atas penyambutan FKIP UMM dan berbagi wawasan yang diberikan. “Kami sangat mengapresiasi FKIP UMM yang telah membuka ruang diskusi ini. Konsep Deep Learning yang diterapkan di FKIP UMM memberikan banyak inspirasi bagi kami dalam pengembangan kurikulum pendidikan guru di Jawa Tengah,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa BBGP Jawa Tengah berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan guna meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah. “Kami berharap hasil dari diskusi ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan dan strategi pembelajaran yang lebih baik, sehingga guru-guru di Jawa Tengah bisa lebih siap menghadapi tantangan pendidikan di era digital,” tambahnya.

Kegiatan ini menjadi momen penting bagi FKIP UMM dan BBGP Jawa Tengah dalam bertukar gagasan mengenai inovasi pembelajaran. Dengan kolaborasi yang erat, diharapkan konsep Deep Learning dapat diterapkan secara lebih luas dalam sistem pendidikan, guna membentuk generasi yang berpikir kritis, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (*fd)