#ProfilFKIP —Di balik sosok akademisi yang produktif, ada kisah perjalanan panjang penuh ketekunan dan pengabdian. Itulah yang tergambar dari Dr. Husama, M.Pd., dosen Pendidikan Biologi yang baru-baru ini mencuri perhatian dengan catatan publikasinya yang melampaui 20 artikel hanya dalam kurun waktu kurang dari setahun pada tahun 2025. Namun, bagi Husama, pencapaian itu bukan sekadar angka, melainkan bentuk pengabdian intelektual yang ia maknai sebagai ibadah.
Lahir dan besar di Pagerungan Kecil, sebuah pulau di Kepulauan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura, Husama menapaki pendidikan dasarnya di pulau itu sebelum melanjutkan sekolah menengah di Banyuwangi. Jejak akademiknya kemudian berlanjut di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk jenjang S1, lalu ke Universitas Negeri Malang (UM) untuk S2 dan S3, semuanya di bidang Pendidikan Biologi. Yang istimewa, seluruh jenjang ditempuh dengan waktu tepat: S1 dalam empat tahun, S2 dua tahun, dan S3 diselesaikan hanya dalam tujuh semester dengan IPK 4.0, menjadikannya lulusan terbaik FMIPA UM.
“Semua itu bukan soal kecerdasan,” tuturnya merendah. “Tapi soal ketekunan, kesabaran, kekuatan doa, dukungan keluarga, dan komitmen pada ilmu.”
Pilihan menekuni Pendidikan Biologi lahir dari pengalaman masa kecilnya. Kehidupan di pesisir dengan kekayaan hayati menimbulkan ketertarikannya pada biologi. Namun, ia tidak berhenti pada minat ilmiah belaka. “Saya tidak ingin hanya menjadi peneliti laboratorium. Saya ingin mendidik, menginspirasi, dan menanamkan kesadaran keinginan pada generasi muda,” ujarnya.
Bagi Husama, publikasi ilmiah adalah wujud nyata tanggung jawab seorang sejarawan. Tahun 2025 menjadi momentum puncak setelah penelitian yang ia rintis bertahun-tahun akhirnya matang. Dukungan tim yang produktif, kolaborasi institusi, serta pemanfaatan teknologi akademik juga mempercepat proses. Namun, ia menekankan bahwa rahasia terbesar ada pada konsistensi dan manajemen waktu. “Menulis dan publikasi bukan sekedar kewajiban, melainkan anugerah Ilahi. Al-Qur’an banyak menganjurkan kita untuk berpikir. Berpikir itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Ilmu harus diedarkan, bukan disimpan,” katanya.
Tidak heran jika dua tema besar yang sering ia angkat dalam publikasinya adalah literasi lingkungan dan pengembangan profesi guru. Menurutnya, keduanya adalah investasi jangka panjang bangsa. “Tanpa guru yang tangguh dan literat lingkungan, kita hanya melahirkan generasi cerdas kognitif tetapi miskin kesadaran ekologis. Saya ingin pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menyelamatkan bumi,” jelasnya. Pandangannya berpijak pada nilai transendental: bahwa setiap penelitian dan publikasi adalah bentuk ibadah dan penghambaan kepada Sang Pencipta.
Ditanya tentang rahasia produktivitasnya, Husama menyebut tiga kunci: niat, sistem, dan disiplin. Niat yang lurus menjadi fondasi, sistem kerja yang tertata menjamin efektivitas, sementara disiplin menjaga konsistensi. “Tidak menunggu mood, tapi bekerja karena komitmen. Tiada hari tanpa publikasi. Jangan tunggu sempurna. Tulis, revisi, lalu perbaiki sambil berjalan. Kesempurnaan lahir dari keinginan karya,” ungkapnya penuh semangat.
Kepada sesama dosen dan peneliti di Indonesia, ia menitipkan pesan mendalam. “Kita tidak sedang berlomba angka atau ranking. Kita berlomba dengan waktu untuk memberi kebermanfaatan bagi masyarakat dan menyelamatkan generasi. Jadilah ilmuwan yang berintegritas, dosen berempati, dan peneliti yang punya arah. Jangan takut berbagi, jangan malas menulis. Jejak pemikiran kita hari ini adalah pijakan perubahan di masa depan,” ungkapnya.
Profil Husama cermin menjadi bahwa keberhasilan akademik bukan sekedar prestasi individu, melainkan juga ikhtiar panjang yang ditopang doa, disiplin, dan niat tulus untuk kemaslahatan. Dari kepulauan kecil di ujung Madura, ia menapaki jalan panjang menuju panggung akademik nasional dan internasional, mendedikasikan hidupnya untuk ilmu, pendidikan, dan keinginan bumi. (*fd)