
FKIP News—Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menunjukkan komitmennya dalam pelestarian lingkungan melalui program revitalisasi konservasi penyu berbasis wisata pendidikan. Program ini telah berlangsung sejak Agustus 2024 hingga Februari 2025 di Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
Ketua Tim Pengabdian Blockgrant FKIP UMM, Prof. Dr. Elly Purwanti, MP, menyatakan bahwa program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi penyu sekaligus menciptakan sumber pendanaan berkelanjutan melalui wisata edukasi. “Kami berharap program ini menjadi model konservasi yang terintegrasi dengan sektor pariwisata pendidikan,” ujarnya, Sabtu (18/1/2025).
Upaya konservasi penyu di Desa Hadiwarno telah dirintis sejak 2012 oleh Kelompok Masyarakat Konservasi Penyu untuk Wisata (KMKPW). Dengan dukungan program Ipteks bagi Wilayah (IbW) dari UMM, populasi penyu bertelur mengalami peningkatan signifikan, dari belasan ekor pada 2013 menjadi 60 ekor pada 2024.
Meskipun mengalami kemajuan, tantangan masih dihadapi, seperti minimnya partisipasi generasi muda, kurangnya fasilitas wisata, serta keterbatasan sumber pendanaan operasional. Namun, program ini telah menunjukkan hasil positif dengan peningkatan partisipasi anggota hingga 85%, keaktifan kegiatan sebesar 82,5%, serta tingkat kepuasan pengunjung yang mencapai 77,5%.
Tim evaluasi mencatat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan, termasuk keterampilan pemandu dalam memberikan edukasi interaktif, penyediaan alat peraga pendidikan, serta pengembangan fasilitas wisata. “Kami optimis bahwa melalui pelatihan lanjutan dan evaluasi berkala, program ini bisa menjadi model konservasi yang berkelanjutan,” kata Prof. Elly.
Ia juga menambahkan bahwa Desa Hadiwarno diharapkan tidak hanya dikenal sebagai pusat konservasi penyu, tetapi juga sebagai destinasi wisata edukatif yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Dengan menggabungkan pelestarian keanekaragaman hayati dan pengembangan wisata pendidikan, program ini berkontribusi pada upaya konservasi lingkungan di tingkat global.
Untuk mengatasi berbagai kendala, program ini mengimplementasikan langkah-langkah strategis seperti pembentukan tim khusus yang bertugas mengelola wisata pendidikan berbasis konservasi penyu. “Selain itu, kami juga menyusun program kerja yang terstruktur guna memastikan keberlanjutan kegiatan, memberikan pelatihan intensif bagi anggota dan masyarakat, serta membangun wahana edukasi seperti pusat informasi dan museum mini untuk menarik lebih banyak pengunjung,” ungkap Drs. Wahyu Prihanta, M.Kes, selaku anggota tim.
Ketua Tim Wisata Pendidikan Konservasi Penyu Pacitan, Susanto, turut merasakan dampak positif dari program ini. “Dengan adanya program ini, kami semakin percaya diri dalam mengelola konservasi dan wisata. Partisipasi masyarakat, terutama generasi muda, meningkat drastis,” katanya.
Revitalisasi konservasi penyu ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat. Dengan dukungan berbagai pihak, Desa Hadiwarno berpotensi menjadi contoh sukses dalam mengembangkan konservasi berbasis wisata pendidikan yang berkelanjutan. (*THs/ed: fd)