FKIP News — Tim peneliti Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melaksanakan riset internasional bertajuk “Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sungai: Studi Komparasi Jawa Timur dan Thailand”. Penelitian yang berlangsung pada 22–30 Agustus 2025 ini menyoroti keterkaitan budaya masyarakat dengan konservasi sungai sekaligus pemanfaatan metode biomonitoring.
Tiga dosen senior memimpin penelitian, yakni Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., serta Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Riset tersebut mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Penelitian Fundamental–BIMA tahun 2025.
Belajar dari Chao Phraya dan Integrasi Biomonitoring
Prof. Abdulkadir menjelaskan, Sungai Chao Phraya di Thailand dipilih sebagai salah satu lokasi penelitian karena memegang peran vital bagi kehidupan masyarakat. Tidak hanya menopang aspek ekonomi dan ekologi, sungai tersebut juga menjadi pusat budaya yang dijaga melalui tradisi turun-temurun. “Sungai Chao Phraya adalah urat nadi Thailand. Masyarakat setempat memiliki cara unik dalam menjaga kebersihan dan keberlanjutannya. Di situlah kami ingin belajar dan mengkomparasikan dengan kondisi di Jawa Timur,” ujarnya.
Penelitian tidak sebatas pada kualitas air, tetapi juga pada praktik budaya masyarakat Thailand. Tim mencatat tradisi seperti Loi Khratong, ritual penghormatan air dengan menghanyutkan perahu kecil atau lampion, serta Songkran, perayaan tahun baru yang menggunakan air sebagai simbol penyucian diri. Tradisi tersebut memperlihatkan penghormatan mendalam terhadap sungai.
Selain pendekatan budaya, riset ini juga menerapkan metode ilmiah melalui biomonitoring. Menurut Dr. Husamah, pendekatan tersebut penting untuk menilai kesehatan ekosistem sungai dengan memanfaatkan organisme indikator. “Kami ingin mengintegrasikan budaya lokal dengan sains. Biomonitoring memungkinkan masyarakat memahami hubungan langsung antara keberadaan organisme tertentu dengan kualitas air,” jelasnya.
Ia menambahkan, biomonitoring juga memiliki fungsi edukatif. Masyarakat dapat belajar bahwa kehadiran serangga air, ikan, atau tumbuhan tertentu mencerminkan kondisi sungai yang sehat. Kombinasi antara pengetahuan tradisional dan metode ilmiah dinilai dapat memperkuat kesadaran ekologis.
Relevansi untuk Jawa Timur dan Dampak Penelitian
Menurut Prof. Atok Miftachul Hudha, penelitian ini tidak sekadar menjadi studi banding, melainkan upaya menemukan pola pengelolaan sungai yang relevan bagi Jawa Timur. Ia menyebutkan, masyarakat Jawa Timur pun memiliki tradisi yang berkaitan dengan sungai, seperti larung sesaji atau selamatan desa di tepi sungai. “Budaya itu menegaskan bahwa masyarakat kita memiliki rasa hormat terhadap sungai. Tantangannya adalah bagaimana menjadikannya bagian dari upaya konservasi modern,” ungkapnya.
Para peneliti berharap hasil riset ini tidak berhenti pada ranah akademik, tetapi juga melahirkan rekomendasi praktis. Prof. Abdulkadir menekankan pentingnya integrasi kearifan lokal ke dalam kebijakan daerah mengenai konservasi sungai. Sementara Dr. Husamah melihat riset ini sebagai jalan memperkuat jejaring akademik dengan universitas di Thailand.
Bagi dunia pendidikan, Prof. Atok menekankan, penelitian semacam ini harus hadir di ruang kelas. Mahasiswa, khususnya calon guru biologi, diharapkan tidak hanya belajar teori ekologi, tetapi juga melihat praktik nyata di masyarakat. Dengan demikian, mereka dapat menanamkan kepedulian lingkungan kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, tim peneliti sepakat bahwa sungai bukan sekadar aliran air, melainkan pusat kehidupan. “Jika kita menjaga sungai, maka sungai akan menjaga kita. Pesan itulah yang kami temukan di Chao Phraya dan ingin kami bawa pulang ke Jawa Timur,” tutur Prof. Abdulkadir.
Dengan semangat lintas budaya, tim peneliti Pendidikan Biologi UMM berkomitmen melanjutkan riset-riset kolaboratif. Mereka percaya, perpaduan kearifan lokal dan ilmu pengetahuan modern adalah kunci bagi keberlanjutan lingkungan. (*tut/ed:fd)