FKIP News—Teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin berkembang dan telah merambah berbagai bidang, termasuk dunia akademik. AI kini menjadi alat yang membantu para dosen dalam merancang penelitian dan menulis artikel ilmiah. Menyikapi perkembangan ini, Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta mengadakan workshop bertajuk “Penulisan Artikel Ilmiah dan Strategi Publikasi di Jurnal Terindeks Scopus Berbantuan AI”.

Workshop yang berlangsung pada Selasa, 18 Februari 2025, di Kampus 1B UAD ini menghadirkan Ahmad Fauzi, dosen Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (PBIO UMM), sebagai narasumber. Acara ini diikuti oleh 43 dosen dari program S1, S2, dan S3 Psikologi UAD yang antusias dalam memahami pemanfaatan AI untuk penelitian dan publikasi ilmiah.

Dalam pemaparannya, Ahmad Fauzi menjelaskan dua poin utama, yaitu bagaimana AI dapat digunakan untuk merancang ide penelitian sesuai standar jurnal bereputasi serta strategi penulisan artikel ilmiah dengan bantuan teknologi AI. Ia juga memberikan demonstrasi langsung mengenai penggunaan beberapa platform AI yang dapat membantu dalam proses penelitian dan publikasi.

Menurut Ahmad Fauzi, AI dapat menjadi alat yang sangat berguna dalam dunia akademik, tetapi penggunaannya harus tetap memperhatikan integritas ilmiah. Ia menegaskan bahwa AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti peran utama penulis dalam menyusun artikel ilmiah.

“AI memiliki kemampuan untuk menganalisis data, menyusun kerangka tulisan, dan memberikan rekomendasi, tetapi tetap diperlukan keterlibatan manusia agar karya ilmiah tetap memiliki nilai orisinalitas dan integritas akademik,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya peran dosen dalam memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang batasan dan etika penggunaan AI. Mengingat kemudahan akses teknologi ini melalui perangkat seluler, Ahmad Fauzi menyarankan agar dosen tidak hanya membatasi penggunaan AI, tetapi juga mengajak mahasiswa untuk mendiskusikan pemanfaatannya secara etis.

“Dibandingkan dengan melarang, lebih baik kita mengedukasi mahasiswa agar memahami bagaimana AI dapat digunakan secara bertanggung jawab,” ujarnya.

Workshop ini memberikan wawasan baru bagi para peserta, terutama dalam memahami cara mengoptimalkan teknologi AI dalam riset akademik. Dengan perkembangan AI yang semakin pesat, pemanfaatannya secara bijak dan sesuai dengan etika akademik menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh para akademisi di masa depan. (*THs/ed:fd)