Cerita Idul Fitri Lintas Negeri #3, Lebaran di Brisbane yang Sederhana, Hangat, dan Penuh Rasa Indonesia

FKIP News–Meskipun tanpa hari libur nasional dan jauh dari kampung halaman, suasana Idul Fitri di Brisbane, Australia tetap mampu menghadirkan nuansa kebersamaan dan kehangatan. Hal ini disampaikan oleh Adi Slamet Kusumawardana, S.Si., M.Si., dosen Prodi Pendidikan Matematika FKIP UMM yang tengah menempuh studi doktoral pada School of Mathematics and Physics, The University of Queensland dengan beasiswa BPI-LN. “Tidak ada libur Idul Fitri di sini. Yang spesial hanya salat Ied di pagi hari. Tapi justru dalam kesederhanaan itu, terasa betul makna kebersamaan,” tuturnya. Di Negara Bagian Queensland, salat Idul Fitri diselenggarakan di sekitar 35 lokasi berbeda. Waktunya pun bervariasi, mulai dari pukul 06.00 hingga 07.30 AEST. Salah satu lokasi yang menjadi pusat kegiatan umat muslim Indonesia adalah masjid Indonesian Muslim Centre of Queensland (IMCQ) yang berada di Kota Logan, bagian selatan Brisbane. Meskipun didirikan oleh komunitas muslim Indonesia, IMCQ menjadi rumah spiritual bagi banyak warga muslim dari berbagai latar belakang, termasuk dari Timur Tengah, Afrika, Asia Selatan, hingga warga lokal Australia. Adi Slamet menunaikan salat Ied di masjid Indonesian Muslim Centre of Queensland (IMCQ) yang dimulai pada pukul 07.30 AEST dan dipimpin oleh ustaz asal Indonesia. Sejak tiba di area masjid, para jamaah sudah disambut hangat oleh panitia dengan pembagian snack sebelum salat dimulai. Kehangatan sambutan itu menjadi pembuka yang manis bagi suasana lebaran di perantauan. Setelah salat selesai, suasana makin meriah dengan agenda makan bersama yang sudah disiapkan oleh panitia masjid. Menu masakan khas nusantara seperti gule daging, opor ayam, dan sup dihidangkan dan dinikmati bersama-sama oleh jamaah dari berbagai latar belakang. Kehadiran makanan Indonesia itu menjadi pengobat rindu yang begitu ampuh bagi para perantau, sekaligus menghadirkan nuansa lebaran yang tak jauh berbeda dari di tanah air. “Rasanya seperti pulang sebentar ke Indonesia. Meski hanya beberapa jam, tapi cukup untuk mengobati rindu pada suasana lebaran di tanah air,” ujarnya dengan penuh syukur. Acara kemudian dilanjutkan dengan foto bersama, salam-salaman, dan ramah tamah yang berlangsung hingga pukul 10.00 pagi. Meski cuaca tidak sehangat Indonesia dan tidak ada gema takbir sepanjang malam sebelumnya, suasana kekeluargaan terasa begitu kental. “Di tengah kesibukan akademik dan jauhnya jarak dari keluarga, momen seperti ini benar-benar jadi pengingat betapa pentingnya silaturahmi dan menjaga nilai-nilai keislaman di mana pun kita berada,” tutupnya. (*fd)

Cerita Idul Fitri Lintas Negeri #2, Hangatnya Lebaran Pertama di Vienna

Lebaran di sini mengajarkan saya banyak hal, terutama tentang persaudaraan, toleransi, dan betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama, meskipun kita berasal dari latar belakang budaya yang berbeda (Mirza, 2025)  FKIP News–Tahun ini adalah kali pertama Mirza menjalani Idulfitri di luar negeri, tepatnya di benua biru yang penuh sejarah dan dinginnya musim semi. Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang itu kini tengah melanjutkan studi di Institute of Parasitology, Department of Biological Sciences, Veterinary Medicine University of Vienna dengan beasiswa prestisius Ernst Mach Grant dari Pemerintah Austria. Jauh dari keluarga dan kampung halaman, tentu bukan hal mudah. Tapi siapa sangka, atmosfer lebaran justru menjelma menjadi ruang belajar baru tentang makna keberagaman dan kekuatan komunitas. Vienna pagi itu, 30 Maret 2024, masih menyisakan udara dingin khas musim semi, suhu hanya berkisar lima derajat. Namun langkah kaki tetap ringan menuju tempat pelaksanaan salat Id. Komunitas Muslim dari berbagai negara—termasuk Indonesia, Turki, Pakistan, dan negara-negara Timur Tengah—berkumpul di satu ruang yang sama, menyatukan takbir dan doa dalam nuansa damai yang tak terlupakan. Bagi Mirza, momen ini bukan sekadar ritual keagamaan. Ada hal yang menyentuh lebih dalam, yakni interaksi antarumat beragama. Sebuah kejutan hangat datang saat komunitas Katolik Austria menyerahkan kue kepada komunitas Muslim sebagai bentuk solidaritas dan ucapan selamat Idulfitri. “Rasanya adem banget,” ujar Mirza, “Kita merasa diterima, dihormati.” Kebersamaan makin terasa saat bersalaman langsung dengan Duta Besar Indonesia untuk Austria dan para staf KBRI. Acara dilanjutkan dengan ramah tamah, di mana gorengan khas Indonesia menjadi primadona. “Laris banget! Mungkin karena kita semua kangen rasa Indonesia yang otentik,” katanya. Tak berhenti di situ, Mirza yang juga menjabat sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Austria (PPIA) menginisiasi kegiatan kecil namun penuh makna, yaitu brunch halal bihalal di taman Türkenschanzpark. Mereka menyantap opor ayam, hidangan yang disiapkan dari acara KBRI, di bawah langit Vienna yang mendung namun bersahabat. Tawa dan obrolan ringan mengisi waktu, mengobati rindu pada keluarga di tanah air. “Teman-teman di sini jadi keluarga baru. Meskipun hanya sedikit, tapi cukup untuk menghadirkan kehangatan di tengah dinginnya cuaca dan jarak dari rumah,” kata Mirza. Di tengah perjalanan akademiknya yang padat, Idulfitri menjadi jeda yang bermakna, mengisi ulang semangat, mempererat solidaritas, dan memperkaya perspektifnya sebagai pendidik dan peneliti Indonesia yang sedang menimba ilmu di luar negeri. (*fd)

Cerita Idul Fitri Lintas Negeri #1, Lebaran Multikultural di Negeri Paman Sam

FKIP News–Hari raya Idul Fitri merupakan momen sakral yang dinantikan umat Muslim di seluruh dunia, termasuk mereka yang sedang berada jauh dari tanah air. Bagi Alimin Adi Waluyo, M.App.Ling., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), perayaan Idul Fitri tahun ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Saat ini, Alimin tengah menempuh studi doktoral di Language, Literacy, and Technology Program, Department of Teaching and Learning, Washington State University Pullman, Amerika Serikat, melalui skema beasiswa prestisius Fulbright Scholarship. Perayaan Idul Fitri di Pullman, sebuah kota kecil di negara bagian Washington, menjadi pengalaman spiritual dan sosial yang unik. Kota ini memiliki komunitas Muslim dari berbagai latar belakang etnis dan kebangsaan yang cukup aktif, meskipun jumlahnya tidak sebesar di kota-kota besar seperti Seattle atau Los Angeles. “Idul Fitri di kota Pullman memberikan pengalaman yang unik dan menarik. Jamaah sholat Ied berasal dari negara-negara Timur Tengah, Afrika, Asia Timur, Amerika Selatan, hingga warga lokal Amerika Serikat,” ujar Alimin. Ia melanjutkan bahwa suasana sholat Ied yang multikultural tersebut memperlihatkan kekayaan Islam sebagai agama yang merangkul keragaman. Setelah pelaksanaan sholat Ied, warga Indonesia yang berada di Pullman yang jumlahnya sangat terbatas berkumpul dalam sebuah acara silaturahmi sederhana. Masing-masing membawa masakan khas dari kampung halaman, menciptakan sebuah perayaan yang penuh cita rasa nusantara. Ada opor ayam, rendang, sambal goreng kentang, lontong, hingga kue kering seperti nastar dan kastengel yang dibawa dari Indonesia atau dibuat sendiri dengan bahan seadanya. “Hal itu sangat menyenangkan karena bisa mengobati kekangenan kita yang tidak bisa berjumpa dengan keluarga di kampung halaman. Kita juga bisa menikmati masakan lokal yang biasanya tidak mudah kita jumpai di kota ini,” kata Alimin dengan antusias. Yang membuat lebaran tahun ini semakin berkesan adalah kondisi cuaca yang cukup ekstrem. Meskipun secara kalender sudah memasuki musim semi, suhu di Pullman saat itu masih berkisar antara minus 1 hingga 4 derajat Celsius. “Cuacanya memang sedikit menantang karena meskipun sudah musim semi, tapi suhu masih cukup dingin. Namun, kebersamaan dengan rekan-rekan dari Indonesia cukup bisa menghangatkan suasana lebaran,” tambahnya. Alimin menilai bahwa meskipun berada di perantauan, esensi dari Idul Fitri tetap dapat dirasakan melalui kebersamaan, rasa syukur, dan semangat saling berbagi. Perayaan Idul Fitri di luar negeri juga memberikan ruang untuk memperkenalkan budaya dan tradisi Indonesia kepada masyarakat internasional. “Ini bukan hanya soal merayakan lebaran, tapi juga tentang membawa nilai-nilai persaudaraan dan budaya Indonesia ke tengah masyarakat global,” pungkasnya. Pengalaman ini juga memberi refleksi mendalam bagi Alimin sebagai seorang pendidik dan pembelajar. Berada di lingkungan internasional yang penuh keberagaman memperkaya perspektifnya dalam melihat isu-isu kebahasaan, pendidikan, serta nilai-nilai kemanusiaan lintas budaya. Melalui program Fulbright, Alimin berharap bisa terus menjadi jembatan antara Indonesia dan komunitas global, baik dalam bidang akademik maupun sosial budaya. “Saya ingin ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan di sini bisa kembali saya kontribusikan untuk pendidikan dan pengembangan literasi di Indonesia,” tutupnya. (*fd)