Kuliah Umum PPG FKIP UMM, Dirjen Paud Dikdasmen Dorong Pendidik Mandiri dan Merdeka

Selasa, 15 November 2022 23:33 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang – Prodi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang menggelar agenda kuliah umum, (Rabu, 9/11/2022). Mengusung tema “Kebijakan Pendidikan Nasional Menuju Indonesia Emas”, hadir sebagai pembicara Dr. Iwan Syahril, Ph.D., Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Dirjen Paud Dikdasmen). Acara turut dihadiri oleh Rektor, Wakil Rektor I, Dekanat FKIP UMM, Kaprodi PPG, dan mahasiswa PPG FKIP UMM. Dalam paparannya, Dr. Iwan Syahril menegaskan Kembali filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantoro. Terlebih, kondisi Pendidikan Indonesia saat ini lemah dalam hal karsa atau kemauan. Menurutnya, dewasa ini pendidikan bangsa terlena untuk menajamkan pikiran peserta didik saja, namun lupa kemauan dan keinginan para siswa di sekolah. Dengan kata lain, aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik ini sayangnya tidak diimbangi dengan kemauan yang diinginkan peserta didik. “Pendidikan yang hanya menajamkan pikiran tetapi mengesampingkan kemauan anak didik adalah pendidikan yang hampa. Justru, pendidikan yang memperhatikan kemauan akan selalu berkembang sekalipun dalam kondisi sulit,” terangnya pada acara yang berlokasi di Dome Theater Universitas Muhammadiyah Malang. Karena itu, para peserta diajak untuk mengembalikan arah pendidikan pada filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Dalam filosofi Ki Hajar Dewantara terkandung amanah terhadap profesi guru ini. Ing Ngarso Sung Tuladha mengamanatkan seorang guru menjadi seorang pemimpin yang dapat diteladani di kelasnya. Ing Madya Mangun Karso mengamanatkan seorang pendidik untuk senantiasa menguatkan keyakinan dan membangkitakan semangat mencerdaskan bangsa. Adapun Tut Wuri Handayani mengamatkan pendidik agar dapat melejitkan potensi dan proses tumbuh kembang anak didik sehingga kemandirian bisa terbentuk dalam dirinya. Pendidikan holistik yang dicanangkan oleh Ki Hajar Dewantara terbagi menjadi empat aspek yaitu oleh cipta, olah rasa, olah karsa, dan olahraga. Cipta secara makna yakni menajamkan pikiran, rasa memiliki dan menghaluskan perasaan. Karsa untuk menguatkan kemauan dan keinginan dan olahraga bertujuan agar menyehatkan jasmani atau fisik. Adapun pada poin cipta, rasa, dan karsa menjadi poin dalam Budi, sedangkan raga masuk dalam poin Pekerti. “Jadi, filosofi Ki Hajar Dewantara ini berupaya menghasilkan lulusan pendidikan yang mandiri dan merdeka,” tandasnya. Selaras dengan itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menuturkan jika guru memiliki tanggung jawab moral untuk menyiapkan generasi bangsa ketika berhadapan dengan bonus demografi. Oleh karena itu, guru harus memiliki kualifikasi yang baik atau professional. Sehingga, guru dapat mendidik dan mengembangkan kualitas anak bangsa. Guru punya tanggung jawab moral. Salah satunya dengan membekali anak didik dengan skill dan kualitas pendidikan yang baik. “Guru harus bisa memahami potensi tiap muridnya. Dari situlah nanti akan muncul bibit-bibit potensi yang mampu memajukan bangsa dan mewujudkan Indonesia emas 2045,” tutup Rektor UMM. Karena itu, UMM juga turut berkontribusi menyiapkan SDM mumpuni yang siap menghadapi kompetisi global melalui Center of Excellence (CoE). Saat ini, ada lebih dari 40 sekolah unggulan CoE yang tersebar di berbagai fakultas. Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ada lima sekolah unggulan yang sudah dilaksanakan yakni CoE konsultan pendidikan, media dan animasi pendidikan digital, english for hospitality, entrepreneur perbukuan dan sekolah wisata sejarah digital.
FKIP UMM Kukuhkan Dua Guru Besar Baru dan Launching Lima CoE

Rabu, 02 November 2022 22:58 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa berkomitmen dalam memberikan kontribusi keilmuan untuk bangsa. Salah satunya melalui pengukuhan dua guru besar baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada Selasa (11/10). Keduanya ialah Prof. Dr. Dwi Priyo Utomo, M.Pd. pada bidang pendidikan matematika dan Prof. Dr. Rr Eko Susetyarini, M.Si. pada bidang biologi reproduksi. Menariknya, nuansa akademik dalam acara itu semakin kental dengan adanya peluncuran lima Center of Excellence (CoE) FKIP UMM. Mulai dari CoE Konsultan Pendidikan dari Prodi PGSD, CoE Media dan Animasi Pendidikan Digital dari Prodi Pendidikan Matematika dan English for Hospitality dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Pun dengan CoE Entrepreneur Perbukuan dari Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, dan CoE Sekolah Wisata Sejarah Digital dari Prodi PPKn. (Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. bersama Prof. Dr. Dwi Priyo Utomo, M.Pd dan Prof. Dr. Rr Eko Susetyarini, M.Si. (Foto: Wildan UMM) Dalam kesempatan itu, Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. menilai bahwa keduanya guru besar itu merupakan pribadi yang memiliki etos tinggi serta kerja keras yang tak kenal lelah. Maka ia mengapresiasi atas capaian tertinggi dalam bidang akademik yang sudah diraih. “Ini membuktikan bahwa keduanya sangat berdedikasi terkait keilmuan yang digeluti,” ungkapnya. Baca juga: Lecturer Series UMM: Multikulturalisme dan Perkembangan Asia Fauzan, sapaan akrabnya juga berharap dengan bertambahnya profesor yang dimiliki UMM, kontribusi yang diberikan juga makin tinggi. Baik di level nasional, tapi juga pada tingkat global. Pun dengan korelasinya terhadap pengembangan UMM yang tengah berakselerasi dalam program internasionlisasi. Dalam pengukuhan tersebut, masing-masing memaparkan orasi ilmiahnya. Susetyarini menyampaikan orasi mengenai “Beluntas dan Antifertilitas Serta Implementasinya dalam Pembelajaran”. Ia menilai bahwa Indonesia merupakan megadiversitas dengan keanekaragaman tumbuhan yang berbentuk pohon, perdu, dan semak. Salah satu tanaman bentuk perdu yaitu beluntas, bermanfaat sebagai sumber makanan dan obat. Dalam hal ini, obat yang ia kembangkan merupakan antifertilitas yakni suatu zat atau bahan yang menyebabkan tidak terjadinya fertilisasi antara spermatozoa dengan ovum. Di masyarakat, antifertilitas digunakan sebagai program kontrasepsi dengan harapan menjarangkan kelahiran Penelitiannya tentang beluntas sebagai antifertilitas bermula dari fakta bahwa selama ini antiferlititas pada pria belum banyak diterapkan. Adapun saat ini, antifertilitas pria yang tersedia hanya sterilisasi atau suntikan testosterone. Namun menurutnya, perlu adanya pengembangan obat tradisional antifertilitas pria secara oral atau diminum. Baca juga: Bedah Buku Titik Nadir Penantian Karya Warga Lapas di NBS UMM “Penelitian ini telah melalui uji prekinis ke hewan coba tikus putih jantan yang menunjukan bahwa pemberian bubuk daun beluntas berkhasiat sebagai antifertilitas. Hal tersebut juga ditunjukkan dari hasil screening DNA mitokondria spermatozoa,” tambahnya. Di sisi lain, Priyo menyampaikan orasi terkait “Mengembangkan Pemahaman Relasional Siswa: Mengutamakan Pengetahuan Konseptual atau Prosedural?”. Menurutnya, pemahaman relasional membantu siswa membangun skema untuk menghubungkan ilmu yang sudah mereka ketahui dengan pengetahuan yang baru. Pengembangan ide-ide dalam memecahkan soal matematika juga berangkat dari sana. Pemahaman relasional, lanjutnya, berkaitan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan konseptual. Namun, di lapangan, terjadi perdebatan tentang mana yang harus diutamakan antara kedua pengetahuan tersebut. “Padahal, hakikatnya, hubungan antara pengetahuan konseptual dan prosedural bersifat bilateral,” tegasnya. Karena itu, pembelajaran yang menitikberatkan pada pengembangan pengetahuan konseptual dan prosedural harus disempurnakan sehingga menjadi lebih jelas. Penjelasan yang lebih rinci dapat mengubah pembelajaran tradisional yang umumnya bersifat prosedural menjadi pembelajaran yang juga mengutamakan pengetahuan konseptual. Dalam kesempatan itu, turut memberikan selamat ketua BPH UMM sekaligus Menko PMK RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Ia mendorong dosen-dosen lain untuk segera mengikuti jejak keduanya. Apalagi guru besar merupakan pangkat tertinggi bagi para dosen. “Saya juga ingin agar para profesor UMM dapat mempublikasikan ide-idenya, tidak hanya lewat publikasi ilmiah jurnal, tapi juga publikasi di ruang publik. Maka, upaya itu bisa dilakukan para guru besar dengan masif agar memberikan dampak positif,” tambahnya. Tidak jauh berbeda, Kepala LLDIKTI Wilayah VII Prof. Dr. Dyah Sawitri, SE.,MM. Menurutnya, pengembangan perguruan tinggi merupakan tanggung jawab bersama. Salah satunya bagaimana sivitas akademika terus meningkatkan jabatan fungsional dosen. “Apalagi kini ada sederet kemudahan yang bisa dilakukan oleh para dosen. Maka tak ada alasan lagi untuk terus berupaya menignkatkan jabatan fungsional ini sekaligus meningkatkan reputasi perguruan tinggi,” tuturnya mengakhiri. (wil)
SMUTU Sumenep Gandeng UMM Perkuat Literasi Ilmiah Guru

Jum’at, 07 Oktober 2022 02:43 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan SMA Muhammadiyah 1 Sumenep (SMUTU) merupakan salah satu sekolah terkemuka di Sumenep. Kiprahnya dalam mencetak generasi terdidik telah lama terbukti. Untuk menguatkan peran tersebut maka SMA Muhammadiyah 1 Sumenep menguatkan kompetensi guru-guru dalam penulisan karya Ilmiah, dalam bentuk Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah pada tanggal 5 Oktober 2022. Ibu Damayanti S.Si selaku kepala SMA Muhammadiyah 1 Sumenep menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen sekolah untuk menjamin peningkatan kualitas guru. “Guru harus mampu menulis karya ilmiah, karena mereka harus menjadi teladan, dan menularkan ilmunya kepada para siswa”, ujar Bu Damayanti. Pelatihan ini bekerjasama dengan Tim Pengabdian Blockgrant FKIP UMM yang diketuai oleh M. Mirza Nuryady M.Sc. Dalam penjelasannya, dosen yang juga Alumni SMA Muhammadiyah 1 Sumenep itu menuturkan bahwa ini adalah tanggung jawab dan rasa memilikinya sebagai alumni. “Kita akan terus mendorong agar sekolah ini berprestasi. Berprestasi gurunya, muridnya, dan alumninya” tukas pria kelahiran Sumenep tersebut. Pelatihan ini juga menghadirkan seseorang pemateri, yaitu Husamah, S.Pd., M.Pd. Dalam penuturannya Husamah menjelaskan bahwa sekolah swasta harus menjadi sekolah unggulan. Kearifan yang ada di sekolah swasta, khususnya sekolah Muhammadiyah, menjadi bukti bagaimana Muhammadiyah berkontribusi dalam memajukan pendidikan bangsa. “Saya berharap bahwa 40 orang yang hadir hari ini, harus mampu menghasilkan karya tulis sehingga menjadi inspirasi bagi orang lain” tegas dosen Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM tersebut.
Matching Fund PBIO UMM Kembangkan Kapasitas Jamu Sumenep

Kamis, 06 Oktober 2022 02:51 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM mendapatkan hibah Matching Fund Pengembangan Ramuan Herbal (Jamu) Terstandar di Sumenep. Hibah ini didanai oleh Kedaireka Kemdikbudristek tahun 2022. “Kegiatan ini bertujuan mengadopsi IPTEK dan kepakaran perguruan tinggi oleh Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Bentuk kegiatan adalah pelatihan, pembinaan, dan jasa/produk” ujar Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si selaku anggota Matching Fund sekaligus Kaprodi Pendidikan Biologi FKIP UMM. Kegiatan dilaksanakan selama 6 bulan di Sumenep. Acara penyuluhan dilaksanakan tanggal 4 Oktober 2022 di ruang pertemuan hotel Muzdalifah Sumenep. Acara ini melibatkan 30an anggota Kelompok Swadaya Masyarakat Sumber Makmur yang berada dibawah koordinasi Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Acara juga diikuti kurang lebih 20 tim dosen dari Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM. Banyak hal dibahas, misalnya bagaimana adopsi teknologi jamu agar terstandar, bagaimana membangun kelembagaan produsen jamu, dan merancang rencana aksi produksi jamu. Selain itu diperlukan pola pembuatan jamu yang aman dan layak konsumsi sebagaimana standarisasi BPOM. Kyai M. Khotibul Umam selaku perwakilan dari Badan Pengabdian Masyarakat PP Annuqoyah merasa senang dan berterima kasih dengan adanya kegiatan yang diinisiasi oleh Tim Maching Fund Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM ini. “Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dapat mengangkat gengsi dan kelas jamu tradisional khas Madura khususnya Sumenep. Dengan demikian kegiatan ini juga akan berimbas pada kualitas jamu yang dihasilkan dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat khususnya penggiat jamu.” ujar kyai Umam. Ibu Dr. Elly Purwanti, MP selaku ketua tim Matching Fund Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM berharap bahwa kegiatan ini akan memberikan dampak dalam mengangkat nama Jamu khas Sumenep. “Tujuan jangka panjangnya adalah kegiatan ini mampu menggerakkan ekonomi di Wilayah Sumenep. Jamu ini kebanyakan diproduksinya rumahan, maka melalui kegiatan ini akan ada standarisasi dan peningkatan kualitas.” ujar pakar jamu tradisional dari UMM tersebut.
FKIP-FAI UMM Gelar Konferensi Internasional, Bahas Pengembangan Profesi dan Spiritualitas Pasca Pandemi

Jum’at, 30 September 2022 02:46 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang—Merespon isu pendidikan dan spiritualitas di masa pandemi dan pascapandemi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang gelar The International Conference on Education (ICEdu), Rabu (28/09/22). Kegiatan yang digelar secara daring inibertujuan untuk menyediakan platform bagi para peneliti, pakar, dan praktisi dari akademisi, pemerintah, LSM, lembaga penelitian, dan industri untuk bertemu dan berbagi kemajuan mutakhir di bidang pendidikan, spiritual, dan kehidupan profesional. Karenanya, tema yang diangkat yakni “Strengthening professional and Spiritual Education through 21st Century Skill Empowerment in Pandemic and Post-Pandemic Era”. Dalam sambutannya, Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya sekadar transfer pengetahuan. Mengutip pandangan filsuf Melayu-Muslim terkemuka, Syed Muhammad Naquib al-Attas, konsep tarbiyah tidak mencakupi kegiatan pendidikan yang sederhana yang disebut ta’lim, tetapi mencakup kegiatan pendidikan yang lebih mendalam yakni ta’dib yang mengedepankan pengembangan karakter. Konsep ini terkendala untuk dicapai dalam pendidikan di masa pandemi. “Sekarang, situasi sudah berubah. Siswa sudah bisa pergi ke sekolah dan menikmati pengalaman langsung di dalam kelas mereka. Jadi, kita harus berjuang untuk menghidupkan Kembali dan merevitalusasi Pendidikan yang menekankan pada pentingnya pengembangan karakter yang baik untuk anak-anak didik kita,” ujar Syamsul. Untuk mendukung tema yang diangkat, FKIP UMM menghadirkan tiga pembicara utama yaitu Prof. Te-Sheng Chang dari National Dong Hwa University Taiwan, Assoc. Prof. Dennis Alonzo, Ph.D dari University of New South Wales Australia, dan Prof. Muhammad Ali dari University of California Riverside. Tak hanya itu, ada pula pembicara undangan yaitu Prof. Dr. Tobroni, M.Si, Prof. Dr. Dwi Priyo Utomo, M.Pd., dan Prof. Dr. Ribut Wahyu Eriyanti, M.Si., M. Pd dari Universitas Muhammadiyah Malang. Mengawali paparannya, Prof. Te-Sheng Chang mengatakan bahwa pengembangan profesionalisme dosen telah lama menjadi komponen penting dalam Pendidikan tinggi. Selama 4 dekade terakhir, pada rentang tahun 50-an hingga 90-an, pengembangan profesionalisme dosen telah mengalami lima fase. Tahun 50-an dan 60-an adalah era para sarjana yang berfokus pada keterampilan penelitian dan produktivitas. Tahun 70-an adalah era pengajar yang berfokus pada pengembangan keterampilan pengajar. Tahun 80-an adalah era pengembang, yang berfokus pada pengajaran dan penelitian yang bersifat fakultas sentris. Tahun 90-an adalah era pelajar, yang berfokuas pada perubahan apradigma dari mengajar menjadi belajar. “Saat ini kita berada di era kerja sama dan jejaring yang berfokus pada kolaborasi antarfakultas untuk mendorong kajian interdisipliner,” terang Profesor National Dong Hwa University, Taiwan ini. Oleh karena itu, masih menurut Te-Sheng Chang, pembelajaran berbasis masalah yang berorientasi pada proyek penting untuk diterapkan. Pasalnya, desain pembelajaran ini tidak hanya memacu kreativitas mahasiswa, tetapi juga meningkatkan profesionalisme pengajar di universitas. “Untuk itu, kurikulum perlu dikembangkan dengan menggabungkan tiga konsep kunci, yakni desain partisipatif, pemikiran yang visioner, dan komunikasi visual,” terangnya. Selanjutnya, Dennis Alonzo, Ph.D. mempresentasikan pemikiran yang menarik tentang arah pengembangan profesionalisme, yakni dari guru ke siswa, terutama dalam konteks pembelajaran di masa pandemi. Menurut Denis, ada ketidaksesuaian antara konten pengembangan profesionalisme guru dan kebutuhan di sekolah. Pasalnya, hasil observasi menunjukkan bahwa 50% capaian belajar siswa berasal dari diri siswa sendiri. “Artinya, siswa adalah kontributor utama dalam pembelajarannya. Siswa yang bisa terlibat dalam pembelajaran memiliki peluang sukses yang lebih tinggi,” ungkapnya. Oleh karena itu, guru harus menyiapkan pembelajaran saat ini agar siswa bisa siap untuk tetap belajar mandiri pada masa pasca pandemi ini. “Tiga hal yang perlu disiapkan untuk mengalihkan focus pengembangan profesionalisme dari guru ke siswa ini yaitu waktu; model implementasi, dalam arti perlu pelatihan khusus atau cukup tertanam dalam proses belajar-mengajar; dan desain implementasi jika dirasa perlu dilatihkan kepada siswa secara eskplisit,” tambah dosen senior dari University of New South Wales, Australia ini. Setelah paparan pemateri kunci, para peserta dibagi dalam enam ruang virtual untuk menyimak paparan para pembicara undangan dan juga para pemakalah. Prof. Dwi Priyo Utomo selaku pembicara undangan memaparkan ihwal pentingnya kompetisi dibandingkan kolaborasi dalam makalah bertajuk “Praktik Pendidikan Kita: Mengutamakan Kompetisi daripada Kolaborasi”. Profesor dari Prodi Matematika ini mengkritisi adanya pengelompokan siswa pada kelas paralel justru berdampak buruk pada siswa. Misal, adanya kelas unggulan, kelas semi-unggul, dan kelas regular; atau adanya kelas olimpiade, kelas akselerasi, dan kelas regular. “Pengelompokan ini dapat melejitkan kompetensi siswa secara akademik, namun agaknya untuk keterampilan sosial justru kebalikannya,” pungkasnya. Prof. Dr. Ribut Wahyu Eriyanti kali ini mengambil angle yang berbeda dalam mengupas tema konferensi. Ia menyoroti bagaimana peran Lembaga Pendidikan Tenaga Kemendidikan dalam menyiapkan pendidik professional abad 21. Menurutnya, ada tiga pilar penting dalam revitalisasi peran LPTK ini. Pertama, pendidikan berbasis kompetensi menjadi salah satu misi utama perguruan tinggi (LPTK). Sebagai pendidik, kompetensi yang harus dimiliki meliputi keompetensi pedagogi, professional, kepribadian, dan sosial. Kedua, membekali peserta didik penguasaan teknologi informasi dan komunikasi, misalnya pemanfaatan Internet of things (IoT) pada dunia Pendidikan, pemanfaatan virtual/augmented reality, pemanfaatan Artifical Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan. “Terakhir, LPTK berperan untuk membekali guru dalam mengintegrasikan pemanfaatan teknologi, pedagogi, dan pengetahuan substantif keilmuan dalam pembelajaran (TPACK),” tegasnya. Senada dengan Prof. Ribut, Prof. Tobroni menyoroti bagaimana model Pendidikan di Muhammadiyah, NU, dan Salafi dalam kerangka Karakter Islam dan Indonesia dalam Gerakan Islam Mainstream. Merujuk pada hasil penelitian yang dilakukannya tahun 2018, semakin kuat sebuah ormas memperjuangkan moralitas, semakin kuat pula karakter akhlak mulia para anggotanya. Secara khusus, ada tiga varian hubungan dialektis antara keindonesiaan dan keislaman. Muhammadiyah muaranya adalah membangun masyarakat Islami dengan istilah “masyarakat utama”, NU muaranya adalah Islam keindonesiaan atau pribumisasi Islam, sementara salafi muaranya adalah menjadikan Indonesia sebagai umat terbaik sebagaimana zaman nabi dan ulama salaf. Para peserta sangat antusias mengikuti gelaran ini. Terbukti, sebanyak 68 judul kajian dari para pemakalah dengan topik professional teacher development (Early Education – University), STEM Education, Collaborative Learning, Computational Thinking, Lesson Study for Learning Community(LSLC), Local Potential-Based Learning, Innovative Learning Media and Resources, Virtual Learning Innovations, School-Based Management, Remote/Virtual Internship, thematic Learning, Freedom to Learn Arabic Education, Modernization of Islamic Education and Thought, Moderate Practices of Islamic Education in Islamic Boarding Schools and Madrasah telah dipresentasikan di hadapan para peserta. Antusiasme para pemakalah ini salah satunya adalah karena paper para pemakalah ini nantinya akan dipublikasikan di prosiding yang diterbitkan oleh CRC Press yang merupakan bagian dari Routledge Taylor & Francis Group. Untuk memastikan bahwa seluruh makalah memenuhi standar CRC Press, ICEdu FKIP UMM akan menggelar workshop setara 64 JP
Seminar Internasional, PBIO-UMM Tegaskan Peluang Bisnis Anggrek Global

Senin, 26 September 2022 00:15 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Divisi Center of Excellence (CoE) Kelas Unggulan Anggrek Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang mengadakan International Seminar and Business Network, dengan teman “The Contribution of Orchids Agribusiness to National Development”, pada tanggal 26 September 2022. Kegiatan dilaksana dengan konsep outdoor meeting di Taman Rekreasi Sengkaling UMM, salah satu tempat wisata legendaris milik UMM. Kegiatan ini diikuti 100an orang pelaku bisnis anggrek, peneliti, dosen, dan mahasiswa. Menurut Tutut Indria Permana selaku ketua pelaksana kegiatan, kegiatan ini bertujuan menegaskan peran bisnis anggrek sebagai salah satu penggerak ekonomi Indonesia bahkan dunia. Hal tersebut telah disadari oleh Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang dengan mendirikan Center of Excellence (CoE) Kelas Unggulan Anggrek. “Kegiatan ini diinisiasi oleh Divisi Center of Excellence Kelas Unggulan Anggrek Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM bekerja sama dengan DPW Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Jawa Timur” tukas dosen ahli botani tersebut. Acara ini menghadirkan tiga pemateri yang merupakan pelaku bisnis dan peneliti anggrek skala internasional. Mereka adalah Mr Kesavan Gopalan selaku The President of Orchids Society of South East Asia (OSSEA); Prof. Dr. Manohar Mariappan, profesor di Department of Recreation and Eco-Tourism Universiti Putra Malaysia, dan Ir. Joko As’ad selaku Sales Manager PT Ekakarya Graha Flora. Mr Kesavan Gopalan, pegiat anggrek Asia Tenggara memberikan inspirasi bagaimana menyemarakkan bisnis anggrek di Singapura. “Anggrek kini menjadi Puspa eksotis yang menjadi ciri khas Singapura” ujar pelaku anggrek terkemuka asal Singapura ini. Sementara itu, Prof. Dr. Manohar Mariappan menjelaskan bagaimana konservasi anggrek liar di Malaysia. “Dibutuhkan kesadaran semua pihak untuk mencintai anggrek, agar bunga yang indah ini tidak punah” ujar dosen di UPM Malaysia ini. Di sisi lain, Joko As’ad menyajikan tips dan trik bisnis anggrek bagi pemula, aspek pengembangan dan memperluas jaringan. “Bisnis anggrek terbuka luas, tidak pernah sepi, berkelas, dan merupakan hal yang menarik. Tren ini perlu disambut baik dan dibaca sebagai peluang bisnis unggulan oleh masyarakat Indonesia, khususnya mahasiswa” ujar pria yang puluhan tahun berbisnis anggrek di PT Ekakarya Graha Flora ini. Ibu Retno, selaku peserta acara dan juga pengurus PAI Jawa Timur sangat berkesan dengan adanya kegiatan seminar dan temu bisnis ini. Acara ini semakin menegaskan peran Indonesia sebagai negara yang ikut berperan dalam konservasi dan bisnis anggrek. Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM mampu menjadi bagian strategis dan berperan aktif secara kelembagaan dan keilmuwan. Pendidikan Biologi FKIP UMM mampu menangkap tren kekinian dan peluang global berupa pertumbuhan bisnis anggrek, sebuah flora eksotis, minimal dalam skala Asia Tenggara. Rektor UMM Associate Profesor Dr. Fauzan, M.Pd. berharap bahwa acara ini menjadi penegasan kepada khalayak bahwa UMM adalah kampus terkemuka yang mampu membaca selera pasar dan membuka peluang bisnis yang sangat menarik, yaitu anggrek. UMM sebagai kampus unggulan di level dunia terus terlibat dalam kerja-kerja intelektual, mencipta entrepreneur muda di bidang anggrek, dan menjadi titik lahirnya pebisnis/entrepreneur dan periset anggrek skala dunia.
Pesmaba FKIP Hari Ke-1, Mahasiswa Deklarasikan Menjadi Intelektual Muda Pendidikan Berkemajuan

Minggu, 11 September 2022 20:12 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang—Memulai tahun ajaran baru 2022/2023, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang menggelar Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (PESMABA) Tahun 2022. Kali ini ada yang berbeda dari pelaksanaan Pesmaba ini. Jika dua tahun terakhir pesmaba digelar secara daring, pesmaba kali ini digelar secara daring penuh. Sebanyak 377 mahasiswa baru FKIP UMM yang mengikuti hari pertama pesmaba, yang dihelat di aula GKB III Lantai 6 UMM. Acara diawali dengan tampilan tari kreasi Mari Kangen dari UKM Sansekerta. Pesmaba hari pertama, dihadiri oleh jajaran dekanat serta Kaprodi, Sekprodi, dan Kepala Labolatorium di lingkungan FKIP UMM. Pada kesempatan kali ini, wakil dekan I, Dr. Sugiarti, membuka kegiatan pesmaba dan memberikan motivasi kepada mahasiswa baru untuk bisa bangga menjadi guru. “Saudara sudah berada di jalan pilihan yang benar. Keputusan Saudara untuk menjadi guru adalah keputusan yang tepat karena guru adalah profesi yang tidak akan pernah mati, profesi yang insyaAllah mengantarkan kita semua ke surganya Allah,” tegas Sugiarti disambut tepuk tangan meriah para mahasiswa baru. Selanjutnya, ia menegaskan bahwa mahasiswa FKIP UMM harus memiliki idealisme. Idealisme itu diwujudkan dengan memanfaatkan potensinya secara maksimal untuk masa depannnya. Di samping itu, juga memanfaatkan waktu dengan baik agar bisa menjalankan peran sebagai agent of change. Agent of change ditandai dengan tiga hal yaitu ilmu, teknologi, dan peradapan. Dalam arti, para mahasiswa baru yang menuntut ilmu di FKIP UMM dengan mengikuti perkembangan teknologi agar dapat membangun peradapan. “Peradapan yang dimaksud di sini tentu adalah peradapan akhlakul karimah. Ini penting karena Saudara adalah ujung tombak dalam bonus demografis Indonesia 2045,” tegasnya. Sambutan dilanjutkan dengan seremonial pembukaan secara resmi. Wakil Dekan 1 dan 2 membuka penutup kain di depan miniature kelas yang berupa standing foto sosok guru dan papan bertuliskan 2026. Ini merupakan simbolisasi “Program UMM Pasti!”, bahwa mahasiwa FKIP Angkatan 2022 akan lulus tetap waktu pada tahun 2026. Kemudian, para perwakilan mahasiswa menandatangani deklarasi komitmen UMM Pasti. Deklarasi ini berbunyi: “Kami intelektual muda FKIP UMM berkomitmen menjadi mahasiswa kritis, kreatif, dan solutif terhadap berbagai isu terkini dengan berlandaskan pada nilai-nilai Islam untuk menjadi pendidik muda professional yang berkontribusi terhadap Pendidikan berkemajuan pada tahun 2026.” Diterangkan Ketua BEM FKIP, Mohammad Nurudin Wicaksono, deklarasi ini sejalan dengan tema Pesmaba 2022 yakni “Menjadi Intelektual Muda Berkarakter Unggul untuk Pendidikan Berkemajuan”. “Saat ini kita tengah berada dalam VUCA. VUCA adalah akronim dari volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity yang merujuk pada situasi yang bergejolak, tidak pasti, kompleks, dan ambigu. Oleh sebab itu, komitmen untuk menjadi intelektual muda yang berkarakter unggul menjadi kunci untuk dapat menciptakan Pendidikan berkemajuan di masa mendatang,” terang mahasiswa Prodi PGSD itu. Kegiatan pesmaba hari pertama ini diakhiri dengan paparan materi Penjabaran Visi dan Misi Fakultas dan Pengenalan Pejabat Struktural yang disampaikan oleh Wakil Dekan I. (*fid)
Dubes RI untuk Malaysia Sambut Mahasiswa KKN-DIK Internasional FKIP UMM

Sabtu, 03 September 2022 05:08 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang—Sebagai upaya mewujudkan daya saing dan peran aktif di tingkat internasional, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Malang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-DIK) Kemitraan Internasional di Malaysia. Kegiatan ini merupakan sinergi antara 4 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) yakni Universitas Muhammadiyah Lamongan, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Universitas Muhammadiyah Jember, dan Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Kedatangan rombongan yang di antaranya adalah 12 mahasiswa dan 3 dosen pembimbing lapang FKIP UMM disambut hangat dubes RI di Kantor Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, Jumat (26/08/22). Dubes RI Kuala Lumpur, Hermono, memberikan apresiasi terhadap berlangsungnya KKN yang akan digelar selama satu bulan hingga 23 September 2022 mendatang. Menurutnya, kegiatan ini akan memperkaya wawasan dan memotivasi anak-anak yang ada di sanggar bimbingan Kuala Lumpur. “Saya sangat berterimakasih dengan adanya program ini, karena membantu dan memicu motivasi belajar anak-anak yang berada di sini. Mereka mempunyai potensi yang baik. Semoga dengan adanya program ini, transfer ilmu yang diberikan akan semakin menambah ilmu yang dimiliki anak-anak yang berada di sini,” ungkapnya. Tercatat, ada 12 mahasiwa FKIP UMM dari Prodi Pend Kewarganegaraan (2 orang), Pend. Bahasa Inggris (2 orang), Pend. Biologi (4 orang), Pend. Matematika (1 orang), dan PGSD (3 orang) yang mengabdi di 8 sanggar belajar (SB) Kuala Lumpur. “Ada delapan sanggar belajar yang akan menjadi tempat mereka mengabdi, yakni SB Kampung Baru, SB Kepong, SB Gombak, SB Hulu Klang, SB Sentul, SB Subang Mewah, SB Kg Lindungan, dan SB PPWNI Klang,” tutur Inanny Mukhlishina, koordinator KKN-DIK FKIP UMM. Kegiatan ini terwujud atas kerja sama antara Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dengan Kedubes RI Malaysia, Atdikbud RI Malaysia di Kuala Lumpur, Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Kuala Lumpur, dan sejumlah Sanggar Bimbingan di Kuala Lumpur. Oleh karenanya, kesempatan ini dimanfaatkan pula untuk penandatanganan perjanjian kerja sama (MoU) antara FKIP UMM dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Kuala Lumpur. Tak hanya dalam aspek pendidikan dan pengabdian, harapannya, sinergi ini juga berkembang ke arah riset. “Kami sangat terbuka dengan kerjasama-kerjasama yang berorientasi kepada kemajuan-kemajuan. Ini selaras betul dengan semangat Muhammadiyah yang mencerahkan dan berkemajuan,” tegas Ketua PCIM Kuala Lumpur, Prof. Sonny Zulhuda. Ditemui secara terpisah, (Jumat, 2/09/22), Wakil Dekan III FKIP UMM, selaku penanggung jawab program mengatakan KKN-DIK ini berorientasi komitmen secara internal dan eksternal. Orientasi secara internal yakni komitmen FKIP UMM untuk membekali mahasiswanya dengan pengalaman internasional yang membuat mahasiswa berkegiatan akademik dengan budaya yang berbeda. Dengan begitu, mereka akan memiliki kompetensi dan rasa percaya diri tinggi dalam mengambil bagian sebagai global citizenship. “Kegiatan ini, selain untuk mahasiswa FKP UMM memiliki plus point, juga penting bagi pemerolehan akreditasi Prodi,” pungkas Bayu Hendro Wicaksono, M.Pd., Ph.D. Orientasi secara eksternal yakni komitmen FKIP UMM sebagai bagian dari persyarikatan Muhammadiyah untuk melakukan syiar. Khususnya, ke daerah-daerah yang belum mendapatkan perhatian dari PCIM Kuala Lumpur. Lebih lanjut, Bayu berharap kegiatan ini dapat terus berjalan secara continue. Bahkan, gelombang pemberangkatan dalam satu tahun dapat ditambah. “Semoga bisa ditambah, sehingga ada lebih banyak mahasiswa dan juga sangar belajar yang memperoleh manfaat dari kegiatan ini. Dalam waktu dekat, untuk memperluas jangkauan kebermanfaatan program, kita juga akan menjajaki KKN-DIK di Davao, Filipina,” terang dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris ini. (*fid/in)
Yudisium Periode III Tahun 2022 FKIP UMM: Transformasi Mahasiswa Menuju Generasi Unggul Berkeadaban

Senin, 29 Agustus 2022 08:10 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan MALANG—Mengusung tema besar “Transformasi Mahasiswa Menuju Generasi Unggul Berkeadaban”, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar Yudisium Periode III secara luring, Senin (29/08). Digelar secara luring di Ballroom Rayz Hotel UMM, prosesi yudisium diikuti oleh 278 peserta. Tidak hanya itu, prosesi yudisium juga dilaksanakan secara daring dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube FKIP UMM Official. Acara juga dihadiri oleh jajaran dekanat beserta pimpinan prodi di lingkungan FKIP UMM. Dr. Trisakti Handayani, M.M., selaku Dekan FKIP dalam sambutanya menekankan pada para peserta yudisium agar bisa menjadi teladan bagi generasi muda lainnya dengan berlandaskan pada karakter keislaman dan kemuhammadiyahan dengan penuh percaya diri namun berbudi pekerti yang halus. “Kami percaya bahwa kalian sudah mendapatkan bekal yang sangat kuat untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Buktikan bahwa kalian adalah generasi jas merah kampus putih yang andal dan pantang menyerah. Buktikan pada kami, orang tua, dan kepada bangsa bahwa alumni UMM mampu menakhlukkan kehidupan abad-21 yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian, ” lanjutnya di hadapan para calon wisudawan/wisudawati. Lebih lanjut, Trisakti juga menjelaskan program yang bisa diambil oleh para wisudawan/wisudawati untuk mengembangkan keprofesiannya adalah Program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Program tersebut bisa menjadi kesempatan bagi lulusan untuk mendapatkan sertifikasi profesi menjadi seorang guru profesional. “Saat ini telah dibuka kembali pendaftaran PPG Prajabatan Tahun 2022, dan diperuntukkan bagi mahasiswa-mahasiswa yang telah lulus serta bebas biaya pendidikan selama dua semester. Saya harap kesempatan ini bisa diambil, agar bisa mendapatkan peluang menjadi mahasiswa PPG Prajabatan tahun 2022, ” kata Trisakti. Guna membekali para calon wisudawan/wisudaawati, yudisium kali ini menghadirkan Moh. Anas Arifuddin, S.Pd. CH,C.Ht,CT.CM.CT.OSB. Dalam orasinya, Anas menyebut bahwa ada tiga tipe guru, salah satunya adalah guru sadar. Guru sadar merupakan guru yang mampu mengenali potensi anak didiknya, mengenali kondisi atau kemampuannya, dan guru yang tahu bagaimana cara mengajar yang baik dan meyenangkan. “Saya menyimpulkan ada tiga tipe guru, yakni guru nyasar, guru bayar, dan guru sadar. Guru nyasar adalah tipe guru yang tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Guru bayar adalah guru yang semangatnya hanya ketika mendekati gajian atau mau bekerja jika ada uangnya saja. Terakhir guru sadar adalah guru yang mampu mengenali potensi yang dimiliki oleh anak didiknya, guru yang mengerti akan kemampuan anak didiknya, dan guru yang tahu cara mengajar yang baik dan menyenangkan, ” jelas direktur Action Training Indonesia ini. Di samping itu, Sebagai bentuk tanggung jawab akademik, FKIP UMM juga berkomitmen untuk terus melakukan pembinaan berkelanjutan melalui ikatan alumni Saka Widya. Pada periode ini, Regia Mayangratih dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar terpilih sebagai ketua. Kemudian, dalam prosesi yudisium ini juga mengukuhkan lulusan terbaik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yakni Tara Narendra Kirana dari Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dengan IPK sempurna 4.00. Ia juga memberikan kesan dan pesan sebagai lulusan terbaik. “Universitas Muhammadiyah Malang merupakan salah satu universitas terbaik di Jawa Timur. Berkuliah di sini adalah suatu kebanggaan bagi saya. Saya berniat menimba ilmu dengan merantau dari Banyuwangi ke Malang. Saya merasa terwadahi atas segala macam potensi yang saya miliki salah satunya tari. Saya mendapatkan juara 1 dan 2 tari nasional. Pesan saya untuk seluruh teman-teman tetaplah semangat dalam mengejar cita-cita, karena ini bukan akhir melainkan awal yang baru, ” tutupnya. (*fif/fid)
Selenggarakan Seleksi PPG Bukti Komitmen FKIP UMM Wujudkan Generasi Emas 2045

Rabu, 27 Juli 2022 22:46 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang–Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) komitmen lahirkan pendidik yang profesional. Salah satunya diwujudkan melalui penyelenggaraan tes substantif bagi para calon mahasiswa PPG seluruh Indonesia. Ribuan calon mahasiswa bersaing untuk bisa meraih tempat dalam pendidikan profesi pada Senin (25/7) lalu di puluhan ruangan Kampus Putih. Koordinator PPG UMM Dr. Trisakti Handayani, MM. menjelaskan bahwa tes ini diperuntukkan bagi calon mahasiswa prajabatan tahun 2022. Pelaksanaannya dilakukan serentak bersamaan dengan 45 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) di seluruh Indonesia, salah satunya UMM. Sementara pengaturan dan ketentuan penerimaan dipegang langsung oleh pusat, dalam hal ini Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud-ristek. “Jadi kebijakannya dari pusat, tapi penyelenggaranya adalah 45 LPTK seluruh Indonesia. Dalam proses pembelajarannya nanti juga dilaksanakan oleh LPTK masing-masing, termasuk UMM. Total, ada 1650 peserta yang mengikuti tes di Kampus Putih UMM dan menjadi salah satu yang terbanyak,” tambahnya. Trisakti, sapaan akrabnya melanjutkan bahwa ada tiga tes yang harus diikuti oleh calon mahasiswa. Diawali dengan tes administratif yang sudah dilakukan beberapa waktu lalu, kemudian mengikuti tes substantif. Jika berhasil lolos, mereka akan menginjak tes terakhir, yakni proses wawancara. Sampai saat ini, Kampus Putih UMM menjadi perguruan tinggi swasta (PTS) nomor satu yang menerima kuota PPG dari GTK Kemendikbud-ristek. Kampus ini juga masuk dalam tujuh besar perguruan tinggi dengan kuota mahasiswa PPG terbanyak. Pun dengan persentase kelulusan yang cukup tinggi yakni selalu di atas 82%. (*wil) Baca Juga: UMM Siap Wujudkan Generasi Emas 2045 Melalui Seleksi Guru (umm.ac.id) PPG UMM Siap Wujudkan Generasi Emas 2045 Melalui Seleksi Guru (Republika) PPG UMM Siap Wujudkan Generasi Emas 2045 Melalui Seleksi Guru (wartapakwan.co.id) PPG UMM Siap Wujudkan Generasi Emas 2045 Melalui Seleksi Guru (Harian Aceh Indonesia)