Daffa, Lulusan Terbaik UMM yang Kuasai 10 Bahasa

Selasa, 25 Januari 2022 12:11 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan MALANG-Menjalani hal sesuai dengan passion selalu membuahkan hasil yang cemerlang. Itulah yang dialami Daffa Indra Arya Wardhana. Kecintaan terhadap bahasa asing menjadi semangat pantang menyerah dalam menempuh studi Pendidikan Bahasa Inggris hingga mengantarkannya meraih predikat lulusan terbaik jenjang sarjana pada wisuda periode IV Tahun 2021 Universitas Muhammadiyah Malang, (Selasa, 25/01/2021). Menariknya, ia tak hanya menguasai bahasa Inggris, tetapi juga lima bahasa asing lainnya, yakni bahasa Jepang, Bahasa Korea, bahasa Mandarin, bahasa Perancis, dan bahasa Jerman. “Untuk bahasa Perancis dan bahasa Jerman, saat ini sedang proses belajar,” tutur mahasiswa asal Blitar itu. Tak hanya bahasa asing, Daffa juga mempelajari bahasa daerah. Ia fasih menggunakan bahasa Jawa, bahasa Banjar, dan bahasa Sunda. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, Daffa, sapaan akrabnya, memang sudah tertarik belajar bahasa. Pasalnya, ia sangat gemar ngobrol, khususnya mendengarkan cerita orang. “Saya memang senang mendengar orang bercerita. Saya suka menyimak aksen orang yang berbeda-beda, di samping cerita-cerita yang mereka sampaikan. Dari cerita-cerita itu, saya bisa lebih memahami orang lain dan juga memaknai hidup,” ujar putra pertama pasangan almarhum Yayan Indrayana dan Marthina Yusiana itu. Karena itu, hobinya saat masih kuliah adalah naik transportasi umum. “Zaman awal kuliah, saya suka naik bis untuk pulang ke rumah. Di sana yang jadi kenal berbagai macam orang, dari yang dosen, pegawai, dan juga orang yang punya bisnis besar. Itu sangat menginspirasi saya,” tuturnya. Ketertarikannya pada aksen juga mendorong Daffa untuk meneliti tentang sikap dan persepsi guru terhadap aksen Australia dan Inggris yang membuatnya berhasil mengantongi IPK 3,99. Tentang teknik dalam menguasai bahasa, ia mengatakan kuncinya adalah membiasakan diri dengan bahasa sasaran. “Dalam belajar bahasa, saya hanya membiasakan diri. Saya menonton film dan tv-series. Saya juga suka menyanyi dalam berbagai bahasa itu. Dengan begitu, saya menjadi terbiasa dan bisa berkomunikasi menggunakan bahasa itu. Itu kuncinya,” pungkasnya. Faktanya, belajar bahasa asing bukannya tanpa tantangan. Tantangan terbesarnya, bagi Daffa, adalah penulisan bahasa yang tidak menggunakan sistem alphabet seperti bahasa Jepang, bahasa Korea, dan bahasa Mandarin. Namun, hal itu tak mematahkan semangatnya. Pasalnya, ia tahu bahwa penguasaan bahasa asing bisa menjadi batu loncatan bagi tekadnya untuk studi S2 di luar negeri. “Mempunyai penguasaan bahasa asing sebetulnya bisa membuat kita punya privilege untuk bisa mendapat beasiswa luar negeri. Itu juga yang memacu semangat saya untuk terus belajar,” pungkasnya. Meski fokus pada bidang akademik, Daffa tidak menafikkan bahwa keikutsertaan dalam organisasi adalah hal yang sangat penting. Jadi, ia pun bergabung di Lembaga Semi Otonom (LSO) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas. Tahun 2020 silam, ia juga menjadi awardee Program Kampus Mengajar Perintis dan bertugas menjadi asisten pengajar di SDN Tegalgondo 02 Kabupaten Malang. (*fid)
Webinar, Prodi PPKn UMM Bahas Pancasila di Era Digital Citizenship

Sabtu, 15 Januari 2022 10:10 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang–Dunia digital yang berkembangan begitu cepat melahirkan satu isu yang sedang hangat-hangatnya dikaji dalam berbagai diskursus, yakni digital citizenship. Salah satunya, webinar yang digelar Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang bekerja sama dengan Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KnI), Sabtu (15/01/2021). Mengangkat tema “Pancasila di Era Digital Citizenship: Tantangan, Peluang, dan Prospeknya demi Indonesia tangguh dan tumbuh”, webinar yang digelar secara daring ini diikuti tak kurang dari 320 peserta dari berbagai perguruan tinggi. Dalam sambutannya, Drs. Moh. Mansur Ibrahim, M.H., menjabarkan urgensi pembahasan topik ini. “Dunia digital berkembangan begitu cepat dan merambah ke berbagai sektor kehidupan manusia. Dalam dunia ekonomi misalnya, saat ini semakin sedikit transaksi yang menggunakan uang fisik karena sudah bergeser ke uang digital. Kita menggunakan media sosial setiap hari. Hal ini menuntut kita untuk terlibat, untuk lebih mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan digital, termasuk tata cara penggunaan digital, bagaimana etika penggunaan digital,” ungkap Ketua Prodi PPKn tersebut. Pasalnya, masih menurut Mansur selama ini ditengarai masih banyak persoalan yang terjadi dimana pengguna digital menyinggung atau memang dengan sengaja menggunaan media digital sebagai instrumen untuk menyakiti hati orang lain. “Berangkat dari situ, Prodi PPKN UMM merasa turut bertanggung jawab tentang bagaimana dunia digital menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan,” tambah Mansur. Webinar yang merupakan luaran Mata Kuliah Seminar PPKn ini menghadirkan tiga pembicara, yakni Prof. Dr. Kokom Kumalasari, M.Pd., Dr. NurulZuriah, M.Si., dan Sugeng Winarno, M.Sc. Mengawali pembahasan, Prof. Dr. Kokom Kumalasari, M.Pd., menjelaskan konsep kewarganegaraan digital. Menurutnya, kewarganegaraan digital merujuk pada kualitas perilaku individu dalam berinteraksi di dunia maya, khususnya dalam jejaring sosial dengan menunjukkan perilaku yang bertanggung jawab sesuai dengan norma dan etika yang berlaku. Dalam kewarganegaraan digital ada prinsip yang harus dibangun, yaitu menghormati diri kita dan menghormati orang lain, mendidik diri dan mendidik oraang lain, dan melindungi diri dan melindungi orang lain. “Jadi, di sini ada kesalingterhubungan antara kita dengan orang lain. Dan Untuk bisa mencapai itu, ada sembilan elemen kewarganegaraan digital, yaitu digital access, digital commerce, digital communication, digital literacy, digital law, digital right & responsibilities, digital health & wellness, digital securiy, dan digital etiquette,” pungkas dosen PPKn Universitas Pendidikan Indonesia dengan kepakaran pada Pembelajaran PPKn itu. Masih menurut Kokom, membangun generasi menjadi warga negara digital yang baik harus dimulai dari budaya sekolah. Juga, diintegrasikan dalam pembelajaran PPKn. “Guru harus menerapkan kerangka Technological Pedagogical Kontent Knowledge (TPACK) dalam pembelajaran PPKn dengan strategi pembelajaran yang berfokus pada Contextual Teaching and Learning & Scientific Learning, Self Regulated Learning, value-based education, dan blended learning,” pungkasnya. Sejalan dengan itu, Dr. Nurul Zuriah, M.Si., menggarisbawahi bahwa konsep kewarganegaraan digital tidak bisa dipisahkan dari konsep pelajar Pancasila. “Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Ketika Profil Pelajar Pancasila ini sudah tertanam, maka secara otomatis mereka akan menjadi a good digital citizenship,” terang dosen senior Prodi PPKn Universitas Muhammadiyah Malang ini. Pada praktiknya, pengguna media sosial diharapkan selalu memegang etika bermedia sosial yang baik dan benar dengan selalu memperhatikan konsep THINK. Artinya, sebelum berkomunikasi di dunia digital, pengguna harus mempertanyakan apakah itu benar? (True), apakah itu menyakitkan? (Hurtful), apakah itu ilegal? (Illegal), apakah itu penting? (Necessary), dan apakah itu santun? (Kind). Ada berbagai tantangan dalam penguatan profil pelajar Pancasila di era digital citizenship ini. Beberapa di antaranya yaitu sikap individualis, kosmopolit, sikap ahistoris, dominasi media sosial, dan tuntutan serba kongkret dan instan. “Belum lagi permasalahan keamanan data, etika berkomunikasi, kenyamanan, ancaman/bulliying, hoax-hate speech, serta jaminan dan kepastian hukum. Itu adalah hal-hal yang harus kita pecahkan bersama,” tandas Nurul. Di sisi lain, pembahasan tentang bagaimana warganet yang beradap dikupas oleh pemateri ketiga, Sugeng Winarno, M.Sc. Dalam pembahasan awalnya, Sugeng menyodorkan data digital civility index yang dirilis Microsoft Februari tahun lalu yang menyatakan bahwa netizen Indonesia paling tidak punya adap di internet. Oleh sebab itu, menurutnya, yang paling krusial adalah etika bermedia sosial. “Urgensi dari etika bermedia sosial bahkan mendorong PP Muhammadiyah mengeluarkan panduan bagaimana warga Muhammadiyah menggunakan media sosial. Prinsipnya, wargaNet Muhammadiyah diharapkan menjadikan media sosial sebagai wahana silaturahmi, bermuamalah tukar informasi,dan berdakwah amar ma’ruf nahi munkar,” terang dosen Ilmu Komunikasi yang juga menjabat sebagai kepala Humas Universitas Muhammadiyah Malang itu. Lebih lanjut, ia membagikan tips bermedsos yang beradap, yaitu menggunakan nama asli, batasi informasi pribadi yang ada, tidak sembarangan menerima undangan pertemanan, tidak mudah percaya dengan teman, cek kebenaran informasi pemilik akun, tidak berkata kasar, tidak memposting foto “pribadi”, menghindari “nyampah” di timeline. Ia juga menegaskan bahwa pemahaman akan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) tak kalah krusial dalam menciptakan warga digital yang beradap. “Interaksi di media sosial tidak lepas dari Undang-undang ITE. Orang Indonesia belum memahami hal itu sehingga banyak terjerah hukum. Jadi, melek hukum digital juga sangat penting,” tegasnya. (*fid)
Yudisium Periode IV FKIP: Guru Harus Adaptif Ber-mindset Transformatif!

Kamis, 13 Januari 2022 09:49 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan calon wisudawati menerima SKL Malang–Sebanyak 149 peserta mengikuti gelaran Yudisium Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang Yudisium Periode IV Tahun 2021, Rabu (12/01/22). Tak seperti sebelumnya yang dilaksanakan secara daring, yudisium kali ini digelar secara luring di Auditorium Dome UMM dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Acara dihadiri oleh jajaran dekanat beserta pimpinan Prodi di lingkungan FKIP UMM. Dalam kesempatan ini, tema yang diangkat yaitu “Pendidik Adaptif dan Profesional: Kesiapan Sumber Daya Unggul Menghadapi Tantangan Pendidikan New Normal”. Tak dapat dipungkiri, keterampilan beradaptasi menjadi hal krusial yang mutlak harus dimiliki seorang guru selain profesionalisme itu sendiri. Karena itu, yudisium kali ini menghadirkan Alamsyah, S.Pd., M.Pd., C.NLP., C. MNLP., C.NLC. Alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia ini membawakan orasi ilmiah “Mindset Transformation for Adaptive and Professional Teachers”. Alamsyah, S.Pd., M.Pd., C.NLP., C. MNLP., C.NLC menyajikan Orasi Ilmiah bagi para calon wisudawan/wisudawati Alamsyah menyebut setiap situasi dalam pembelajaran yang guru alami sebenarnya bersifat netral. Pikiran gurulah yang memberikan makna untuk kejadian itu. “Makna ini bisa direspon positif maupun negatif oleh guru tersebut. Apabila guru merespon positif, maka akan membentuk belief positive dan akan mengeluarkan emosi positif. Sebaliknya, ketika guru merespon negatif, maka akan membentuk belief negative dan akan mengeluarkan emosi negatif,” ungkap Alam. Pikiran guru ini terdiri dari 10% pikiran sadar dan 90% pikiran bawah sadar. Pikiran sadar mempunyai fungsi khusus dalam mengidentifikasi, membandingkan, dan menganalisa data atau informasu yang masuk, serta memutuskan apakah data atau informasi tersebut diproses lebih lanjut atau tidak. Pikiran bawah sadar ini berupa kebiasaan, emosi, memori jangka panjang, kepribadian, intuisi, serta believe dan value. Pikiran guru banyak dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar atau unconsious mind-nya. Ia pun memotivasi para calon wisudawan untuk melakukan transformasi cara berpikir untuk bisa menghasilkan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Dengan begitu, guru benar-benar dapat menjalankan perannya dalam mengantarkan generasi bangsa menguasai keterampilan hidup dan menjadi pribadi yang unggul. Terakhir, ia berpesan agar para calon wisudawan terus belajar dan mengembangkan diri. “Belajar tidak hanya di ruang-ruang kelas yang dibatasi dinding-dinding, tetapi juga di ruang-ruang masyarakat yang dibatasi norma-norma,” tambah Alam, yang saat ini juga menjabat sebagai kepala sekolah di MA Al-Irtiqo’ IIBS Kota Malang itu. Tak hanya meluluskan 149 calon wisudawan/wisudawati, yudisium periode ini juga mengukuhkan Daffa Indra Arya Wardhana sebagai wisudawan terbaik tingkat fakultas atas perolehan IPK nyaris sempurna, yakni 3,99, dengan masa studi 4 tahun 2 bulan. Atas raihan prestasi ini, Daffa mengaku sangat bersyukur. Dalam pidatonya, ia pun mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang menemani perjuangannya dalam meraih gelar sarjana. “Terima kasih kepada Ibu saya Marthina Yusiana, yang sudah membantu saya dan mensupport saya setiap saat, dan kepada almarhum ayah saya yang saya harap bangga akan prestasi saya ini,” ungkapnya berkaca-kaca. Lulusan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris ini juga mengaku sangat bangga menjadi alumni FKIP UMM. “Menjadi bagian dari jas merah kampus putih di FKIP UMM adalah tonggak besar dalam perjalanan hidup saya. Ilmu, pengalaman, dan pelajaran hidup ini akan terus saya genggam sebagai bekal menjalani kehidupan. Kami bangga dan sekaligus terus berusaha membanggakan almamater tercinta,” pungkas calon wisudawan asal Blitar tersebut. Di samping itu, yudisium kali ini juga mengukuhkan sepuluh mahasiswa berprestasi nonakademik atas prestasi dalam berbagai bidang, seperti olahraga, public speaking, PKM, debat, fotografi, duta, dan sebagainya. Sebagai bentuk tanggung jawab akademik, FKIP UMM juga berkomitmen untuk terus melakukan pembinaan berkelanjutan melalui ikatan alumni Saka Widya. Pada periode ini, Tutut Ayu Dwijayanti dari Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia terpilih sebagai ketua. Dekan FKIP UMM, Dr. Trisakti Handayani, M.M. memberikan Sambutan Dekan FKIP, Dr. Trisakti Handayani, M.M., dalam sambutannya, dengan tegas menyatakan bahwa para calon wisudawan/wisudawati ini sudah siap terjun ke masyarakat dan menghadapi tantangan global. “Tantangan ke depan adalah tantangan yang tidak mudah, tapi kami yakin Anda sekalian sudah siap. Anda sekalian sudah ditempa di kawah candradimuka, di Program Studi, yang tidak hanya memberi hardskill, tetapi juga softskill sehingga siap menghadapi tantangan global saat ini,” terang Trisakti. Trisakti juga mengucapkan selamat serta rasa bangga pada para calon wisudawan/wisudawati. “Kalian adalah generasi-generasi penerus jas merah kampus putih. Jas merah kampus putih telah membawa kalian menjadi pribadi yang percaya diri, bekerja keras, mandiri, inovatif, dan membawa perubahan dalam dunia global saat ini. Kami melepas adik-adik dengan bangga dan segudang harapan,” pungkasnya. (*/fid)
Kolaborasi Dosen, Alumni, dan Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM Bawa The Tale of Wendit pada International Collaboration dengan Dajeong Primary School Korea

Sabtu, 27 November 2021 20:47 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Wajah-wajah cerah terlihat jelas dari para guru dan siswa SD Aisyiyah Kota Malang dan Dajeong Primary School Korea setelah Virtual Drama Performance ditampilkan dalam pertemuan dalam jaringan (daring) hari ini (Senin, 22/11/2021), menandai genap satu tahun kolaborasi dua sekolah. Ada yang sedikit berbeda dari pertemuan dua sekolah sebelumnya, kali ini para dosen dan tim pengabdian masyarakat dari program studi (prodi) pendidikan Bahasa inggris Universitas Muhammadiyah malang (UMM) turut hadir. Mereka adalah tim yang telah bermitra dengan sekolah dalam mewujudkan pementasan yang apik tanpa harus abai pada protokol kesehatan saat pandemic COVID-19. Diketuai oleh Rina Wahyu Setyaningrum, pertunjukan virtual The Tale of Wendit merupakan pertunjukan yang lain dari yang lain karena dalam pertunjukan ini sebagian pemain berada di rumah masing-masing. “Pertunjukan ini hampir saja batal karena PPKM yang tidak mengizinkan siswa belajar di sekolah dan berkumpul melaksanakan latihan. Namum akhirnya dengan mengadaptasi pertunjukan secara langung di panggung, para pemain dikondisikan tetap menjalankan perannya dan mementaskannya dalam panggung pertemuan Zoom. Peran tim kami adalah mewujudkan pementasan virtual tersebut, merekamnya dan menampilkannya pasa saat pertemuan dengan siswa dan guru Dajeong primary school,” jelas Rina yang juga salah satu pegiat dan peneliti pembelajaran bahasa Inggris usia dini ini. Pementasan virtual ini terlaksana sebagai bagian dari International collaboration yang diinisiasi oleh Urifah, salah satu alumni prodi Pendidikan Bahasa inggris yang bertindak sebagai international independent collaborator bagi kedua sekolah dan memantik kemitraan antara SD Aisyiyah Kota Malang dengan dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM. Selanjutnya tim dari prodi bertindak sebagai pendamping dalam menyiapkan pementasan drama The Tale of Wendit. Sedangkan pihak sekolah menyiapkan siswa dan melatihnya. “Kami sangat bersyukur bahwa dalam masa pandemi kami masih dapat belajar dan berkarya, serta memberikan kesempatan belajar siswa secara luas. Alhamdulillah, guru pendamping dan siswa tetap bersemangat dengan pendampingan dari UMM, siswa terus belajar menghafal dialog, memahami isinya dan menguatkan karakter dari peran masing-masing sampai pementasan mereka direkam,” jelas Reni Nur Faridah, Kepala Sekolah SD Aisyiyah Kota Malang. Baginya ini adalah tantangan, tapi ia tidak tinggal diam dengan menerima tantangan tersebut dengan cara berkolaborasi dengan perguruan tinggi. Hasilnya, pertunjukan dapat berlangsung dengan baik dan siswa di Korea memperhatikan setiap detik jalan ceritanya dengan antusias. Tidak mau kalah, mereka juga menampilkan penampilan mereka yang secara langsung dilaksanakan di kelas dengan judul The Rabbit and The Turtle, salah satu cerita tradisional dari Korea. Setelah kedua sekolah mementaskan drama masing-masing, rona kebahagiaan terpancar dari wajah masing-masing. Rasa lelah setelah berhari hari berlatih demi penampilan prima di depan teman-teman antar negara itu seolah terbayarkan dengan tepuk tangan seusai penampilan masing masing dan apresiasi yang tinggi dari pejabat Department of International Relations and Cooperation dari Sejong City Office of Education South Korea yang turut hadir menyaksikan. Pada hari itu, kabar gembira juga disampaikan dari karya kolaborasi ini dengan lolosnya karya video The Tale of Wendit untuk dipamerkan oleh Rochmatika Nur Anisa, salah satu alumni prodi yang berlaku sebagai sutradara pementasan ini untuk tampil pada Temu Pendidik Nusantara (TPN) VIII yang tanggal 20 November 2021 dihelat di Jakarta dan dihadiri oleh pendidik dari 13 negara dan seluruh provinsi di Indonesia. Anisa, yang saat ini banyak berkecimpung dalam berbagai kegiatan sukarela dalam pelatihan dan inovasi pendidikan bagi guru-guru di Indonesia telah mengantarkan karya ini ke ajang tersebut sehingga SD Aisyiyah Kota Malang dinobatkan menjadi sekolah percontohan melalui hasil karya inovasi selama pandemi. Apresiasi akan hasil kolaborasi ini juga disampaikan oleh Bayu Hendro Wicaksono, Ph.D, ketua prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM, “Kami bangga akan kolaborasi dosen, alumni, dan mahasiswa ini. Ke depan kegiatan semacam ini harus dilaksanakan untuk menunjukkan bahwa prodi Pendidikan Bahasa Inggris berkomitmen untuk memberikan manfaat bagi pendidikan dan komunikasi yang erat antara antara prodi dengan alumni harus tetap kita jaga, salah satunya untuk saling memperkuat seperti ini,” tandas pria yang baru saja mendapatkan amanah baru sebagai Wakil Dekan III bidang pengabdian, kerjasama, alumni dan mahasiswa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini. (rin/ed_raf)
Gandeng IDUKA dan Sekolah, FKIP UMM Tingkatkan SDM Malang Raya

Jum’at, 19 November 2021 07:29 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang–Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperluas kerja samanya. Kali ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Kampus Putih menggandeng Industri dan Dunia Kerja (IDUKA) dan sekolah-sekolah SD-SMA Sederajat Malang Raya dalam rangka mengembangkan sumber daya manusia. Selain itu juga mengadakan sharing session terkait pembelajaran STEAM. Dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Suwarjana, SE., M.M. dan Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. gelaran ini dilaksanakan pada Kamis (18/11) lalu di Hotel Klub Bunga Butik Resort. Pada kesempatan itu, Suwarjana menyambut baik Langkah kerja sama yang dibangun oleh UMM. Apalagi pengembangannya tidak hanya dalam aspek keilmuan saja, tapi juga dari aspek praktek dengan menggandeng IDUKA. Menurutnya, para siswa bukan hanya harus memahami ilmu semata, namun perlu pemahaman tentang hal-hal kontekstual. Ia juga mengungkapkan bahwa FKIP tidak hanya menggandeng tapi juga menjembatani sekolah dan IDUKA. Apalagi mengingat ada beberapa sekolah-sekolah Adiwiyata yang perlu memiliki sinergisitas yang baik. “Jadi ini adalah praktek pengembangan jejaring yang luar biasa. Semoga bisa memberikan hasil dan dampak yang positif,” tegasnya. Terakhir, ia juga menekankan bahwa pihaknya sangat mendukung adanya upaya dalam pengembangan sumber daya manusia. “Kami membutuhkan usaha-usaha semacam ini. Malang Raya juga merasa diuntungkan karena adanya banyak perguruan tinggi ini. Kesempatan untuk mengembangkan SDM jadi sangat besar,” tuturnya. Sementara itu, Fauzan mengatakan bahwa UMM terus mendorong semua program studi untuk membangun Centre of Excellence (CoE) berbasis keunggulan masing-masing. Dari situ, munculah beragam kelas professional seperti sekolah unggas, sekolah udang, sekolah anggrek dan kelas khusus lainnya. Maka menurutnya, prodi tidak bisa bergerak sendiri. Perlu adanya kerja sama yang masif dengan para pelaku industri. “Ada dua visi yang ingin kami sematkan kepada para mahasiswa. Berhasil dalam aspek akademik sekaligus mampu menjadi pribadi yang mandiri. Kemandirian bisa diwujudkan melalui berbagai pintu. Mulai dari peningkatan skill individu agar terserap di dunia kerja hingga pengembangan wirausaha,” ungkapnya. Fauzan juga menuturkan bahwa Dinas, perguruan tinggi, sekolah dan IDUKA harus berpikir secara komprehensif. Terutama dalam upaya mengantarkan generasi muda calon pemimpin bangsa. Semakin baik persiapannya, maka akan semakin baik pula masa depan yang akan disongsong. “Kini, bapak-ibu bukan lagi menjadi stakeholder saja, tapi juga bagian dari pengembangan sumber daya manusia yang digalakkan olek FKIP UMM,” terang Fauzan. Masih dalam rangka meingkatkan kualitas pembelajaran, FKIP UMM melakukan upgrade pengetahuan bersama para kepala sekolah dengan mengangkat topik tentang Pembelajaran STEAM. Dalam kesempatan ini, hadir sebagai pemateri, pakar STEAM dari Universitas Pendidikan Indonesia, Arif Hidayat, Ph.D. Terkait dengan STEAM, Dekan FKIP UMM Dr. Trisakti Handayani, M.M. mengungkapkan bahwa pembelajaran harus diorientasikan pada teknologi dalam rangka menyiapkan generasi abad 21. Menurutnya, pembelajaran STEAM merupakan pendekatan interdisipliner yang inovatif. Hal tersebut tidak lepas dari integrasi IPA, teknologi, teknik, seni dan matematika yang berfokus pada proses pemecahan masalah. Utamanya yang dihadapi di kehidupan nyata. “Sistem ini dapat mengasah tingkat literasi para peserta didik. Selain itu, STEAM akan berguna dalam perkembangan kehidupannya serta menunjang kinerja yang kompetitif serta kolaboratif,” tuturnya mengakhiri. (*)
Concern Akan Regenerasi Pecinta Matematika, Prodi Pendidikan Matematika UMM Gelar Olimpiade dan Lomba Esai Matematika

Minggu, 14 November 2021 08:08 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang-Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Malang sukses menggelar Matriks Mathematics Olympiad (MMO) dan Lomba Esai Matematika Nasional (LEMNAS), Sabtu (13/11). Matriks Mathematics Olympiad ditujukan untuk siswa SMP/Sederajat dan SMA/Sederajat. Adapun Lomba Esai Matematika Nasional ditujukan untuk mahasiswa. Ketua Program Studi Pendidikan Matematika, Dr. Moh. Mahfud Effendy, M.Pd., mengatakan, kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka menumbuhkan kecintaan pada Matematika. “Kita melihat ada tren penurunan minat pada Matematika. Itu terjadi secara nasional. Jadi, muncul kekhawatiran akan regenerasi pecinta Matematika,” tuturnya saat ditemui di sela acara. Berangkat dari sana, Olimpiade Matematika ini juga memuat edukasi Matematika. Para peserta diberi gambaran tentang Pendidikan Matematika yang berbeda dengan stigma yang ada di masyarakat, bahwa Matematika kaku dan tidak fleksibel. “Harapannya, ada silaturahmi dan edukasi, sehingga para peserta ini dapat menyebarkan virus cinta Matematika pada teman-temannya. Jadi prinsipnya, ini adalah bentuk komitmen kami dalam upaya melahirkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul di bidang Matematika,” ungkapnya. Ditemui secara terpisah, Laisanti Ayu Febriani selaku ketua pelaksana mengatakan, animo para peserta sangat tinggi. Tercatat, ada 77 peserta tingkat SMP/Sederajat dan 81 peserta tingkat SMA/Sederajat. “Alhamdulillah para peserta sangat antusias. Total ada 158 peserta untuk Matriks Mathematics Olympiad,” pungkas mahasiswi semester 5 ini. Olimpiade ini, lanjutnya, terbagi dalam tiga babak, yakni babak penyisihan, babak semifinal, dan babak final. Babak penyisihan dilaksanakan 10 Oktober 2021, sementara babak semifinal dan babak final dilaksanakan 13 November 2021. Sementara itu, lomba esai terbagi dalam dua tahap, yakni tahap seleksi dan tahap final yang juga digelar pada 13 November 2021. “Ya, jadi hari ada dua kegiatan berjalan pada hari ini. Semifinal dan final untuk MMO dan final untuk LEMNAS. Di tahap final ini, finalis LEMNAS mempresentasikan esai yang telah dikirimkan,” terang mahasiswi yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Keilmuan HMJ Prodi Pendidikan Matematika itu. Dari tahapan-tahapan itu, diperoleh juara MMO tingkat SMP yakni M. Arkananta Putra dari SMPN 2 Jember untuk juara 1, Ahmad haizun Tafdhila dari SMP Lukman al Hakim untuk juara 2, dan Daffa Atha Arkana dari MTSN 1 Kota Malang untuk juara 3. Adapun juara MMO tingkat SMA yakni Aldyto Rafif Abhinaya dari MAN 2 Kota Malang untuk juara 1, Leontina Maydeline Davinson dari SMA PJ Global School untuk juara 2, dan Enrique Alexis Joskamilanto dari SMA Santo Pertus Pontianak untuk juara 3. Adapun juara 1 LEMNAS adalah tim dari Universitas Airlangga, juara 2 tim dari Universitas Muhammadiyah Kudus, dan juara 3 dari Universitas Nusantara PGRI Kediri. Menariknya, Prodi Pendidikan Matematika tak hanya menyajikan hadiah berupa sertifikat dan uang pembinaan, tetapi juga free pass Prodi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang. “Kita harus mengapresiasi dan mewadahi talenta mereka. Jangan sampai mereka tidak melanjutkan karena kendala-kendala teknis. Apalagi, Prodi Pendidikan Matematika FKIP UMM ini memiliki program-program unggulan seperti Karya Ilmiah Setara Skripsi (KISS), Asistensi Magang Skripsi dan KKN (ASIK Plus), Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang memfasilitasi mahasiswa untuk studi tepat waktu dengan pengalaman dan keterampilan yang luas sesuai tuntutan sumber daya manusia abad 21,” pungkas Mahfud. (*fid)
Membanggakan, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia UMM ini Sabet Juara Komedi Tunggal

Senin, 08 November 2021 17:56 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang-Mohammed Ali Fouly, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM berhasil meraih penghargaan kategori B dalam lomba Berberkomedi tunggal di Festival Handai Indonesia tahun 2021. Kompetisi ini diadakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dalam rangkaian perayaan Bulan Bahasa Tahun 2021. Penyelenggaraan Festival Handai indonesia ditujukan kepada warga negara asing yang mampu berbahasa Indonesia serta memahami peradaban, masyarakat, dan kebudayaan Indonesia. Festival handai Indonesia menyajikan berbagai macam mata lomba yang bisa diikuti oleh orang asing. Fouly mahasiswa UMM yang berasal dari Mesir awalnya tertarik mengikuti lomba pidato. Namun karena hanya beberapa hari persiapannya dan menurut ia padato membutuhkan waktu untuk berlatih, maka ia memilih mengikuti lomba berkomedi tunggal. “Awalnya saya mau ikut lomba pidato, tapi karena waktunya tidak cukup akhirnya saya ikut lomba berkomedi tunggal karena menurut saya lebih mudah dan persiapannya lebih gampang. Selain itu, karena saya juga punya channel youtube, saya pernah bahas hal-hal yang berbau komedi dengan konten perbedaan Indonesia dan Mesir,” ujar Fouly. Sebagai mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di Indonesia, menjadikan Fouly tidak hanya fokus di bangku kelas perkuliahan. Ia juga banyak mempelajari dan menyesuaikan kehidupan bermasyarakat serta berbagai macam kebudayaan di Indonesia. Fouly yang juga menjadi content creator youtube, membagikan pengalamannya selama hidup di dua negara yaitu Indonesia dan Mesir di dalam konten youtubenya. Tak tanggung-tanggung, saat ini jumlah subscribernya sudah mencapai 310 ribu. Hal itulah yang menjadi bekal Fouly dalam mengikuti lomba berkomedi tunggal. Beberapa perbedaan budaya yang ia alami di Indonesia dan Mesir, telah berhasil dituangkan ke dalam video lomba berkomedi tunggal. “Persiapannya saya menonton ulang konten youtube saya, setelah itu saya mengumpulkan bagian-bagian yang bisa dijadikan bahan untuk lomba berkomedi tunggal. Saya mencari bagian-bagaian tentang perpindahan budaya dan culture shock . saya juga menambahkan beberapa bagaian dari pengalaman sendiri lalu saya jadikan script, merekam video, mengedit dan submit videonya ke pihak festival Handai Indonesia.” Jelasnya. Ketertarikannya terhadap lomba berkomedi tunggal juga mendapatkan pengaruh dari konten youtubenya. Fouly melihat bahwa penonton lebih banyak menikmati kontennya, jika ia mengisi dengan hal-hal yang lucu atau berbau komedi. Dari situ Fouly merasa bahwa ide dan pikirannya lebih mudah diterima oleh penonton jika ia mengemasnya dengan unsur komedi. Fouly akan meneruskan untuk membuat konten youtube dengan unsur komedi. Menurutnya lebih mudah menyampaikan pesan dan ide serius tetapi dengan cara yang lucu dan menarik. sama halnya dengan berceramah, jika pengisi ceramah menyampaikan pesan dengan komedi maka jamaah lebih suka mendengarkan ceramahnya. Fouly juga menyampaikan pesan kepada teman-teman BIPA agar bisa meraih prestasi sebanyak mungkin. “Bersungguh-sungguh belajar bahasa Indonesia, sering ngomong sama teman-teman Indonesia biar bahasa mereka bisa lancar dan juga tidak takut ikut lomba2 seperti ini. Tidak perlu takut salah, biar bisa belajar dari kesalahan” ungkap Fouly. (*Rf/fid)
Jalankan Kerja Sama Program Kejar Mutu Sekolah Dasar, Prodi PGSD UMM Gelar Workshop Penyusunan Modul Implementatif Berbasis Kearifan Lokal

Senin, 08 November 2021 09:37 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang-Masa Pandemi covid-19 mengakibatkan pola pendidikan berubah. Proses belajar-mengajar yang semula dilakukan dengan tatap muka, saat ini menjadi daring atau tatap maya. Hal ini membuat tantangan pendidikan semakin bertambah, salah satunya yaitu learning lost. Pembelajaran tidak hanya mengalami kemunduran hasil belajar, tetapi juga mengalami kondisi kesulitan belajar. Sebagai upaya peningkatan layanan pendidikan bagi satuan pendidikan sekolah dasar di masa pandemi Covid-19 inilah, Program Studi Pendidikan Dasar, Fakultas Keguran dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang bekerja sama dengan Direktorat Sekolah Dasar, Kemendikbud melakukan Program Kejar Mutu Sekolah Dasar melalui kegiatan pendampingan psikososial peserta didik di masa pandemi Tahun 2021. Dalam rangka menyiapkan implementasi program tersebut, Prodi PGSD menggelar Workshop Penyusunan Modul Implementatif Berbasis Kearifan Lokal, Jumat (5/11/2021). Dihadiri oleh seluruh dosen Prodi PGSD, kegiatan yang digelar di Rooftop Rayz Hotel ini dibuka oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. H. Fauzan, M.Pd. Prof. Dr. Yus Mochamad Cholily, M.Si. selaku koordinator program mengatakan, program pendampingan ini bertujuan untuk meningkatkan layanan pendidikan bagi satuan pendidikan sekolah dasar di masa pandemi, terutama untuk daerah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T). “Sasaran kegiatan ini adalah di daerah 3T. Jadi, nantinya, kegiatan akan kita laksanakan secara kontinu di daerah Sorong, Papua dan Nunukan, serta Kalimantan Utara,” jelas profesor yang juga menjabat sebagai direktur Direktorat Penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM ini. Meskipun fokus utamanya pada ranah psikososial yang meliputi identifikasi psikososial dan pendampingan psikososial, lanjutnya, kegiatan ini juga akan menyentuh berbagai aspek lainnya. Salah satunya adalah literasi numerasi yang sampai saat ini masih menjadi PR bagi Indonesia. “Ruang lingkup kegiatan ini tidak hanya identifikasi psikososial dan pendampingan psikososial tentunya. Kita juga akan menggarap literasi numerasi, pendampingan cacht up learning, persiapan pembelajaran tatap muka, dan pemetaan partisipation lost,” pungkasnya. (*ed: fid)
Prodi Pendidikan Biologi UMM Jawab Tantangan Pembelajaran Pasca Pandemi Lewat Seminar Nasional Pendidikan Biologi

Sabtu, 06 November 2021 07:40 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang-Tantangan pembelajaran modern Pasca Pandemi Covid-19 berupaya dijawab Prodi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang melalui Seminar Nasional Pendidikan Biologi “SEMBIO VI”, Sabtu (06/11/2021). Dr. Moch. Agus Krisno Budiyanto, M.Kes., ketua pelaksana, mengatakan, permasalahan utama pendidikan di masa Pandemi Covid-19 adalah learning lost. Hal ini mengakibatkan pebelajar tidak hanya mengalami kemunduran hasil belajar akan tetapi juga mengalami kondisi kesulitan belajar. Pandangan-pandangan ilmiah dalam merespon hal tersebut yang mencoba untuk diakomodasi dalam kegiatan ini. “Kami ingin memberikan kesempatan kepada seluruh praktisi bidang pendidikan dan biologi untuk berperan dalam mengembangkan karya-karya inofatif pasca Pandemi Covid-19,” tuturnya. Harapannya, kegiatan yang diikuti oleh hampir 700 peneliti, praktisi pendidikan, dosen, mahasiswa, dan guru dari seluruh wilayah Indonesia ini, akan menjadi poros penting dalam memberikan gambaran peningkatan kualitas pendidikan di pasca Pandemi covid-19. Sementara Itu, Ketua Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM, Dr. Iin Hindun, M.Kes meyatakan, Kegiatan forum Ilmiah Ini diharapkan tidak hanya sebagai even semata, tetapi kebermanfaatannya yang lebih penting. “Sudah saatnya…, berbagai luaran kegiatan Tridarma Perguruan tinggi yang dihasilkan oleh dosen, harus didesiminasikan karena ada nilai-nilai potensi hasil penelitian yang sudah teruji dan dapat dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan kehidupan, khususnya untuk menyongsong aktifitas pasca Pademi Covid-19,” tutur dosen Bidang Pendidikan dan genetika ini Sementara itu, Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin, M.Si menyatakan bangga bahwa Seminar Nasional ke VI kali ini terasa lebih spesial, karena berasa internasional. Pasalnya banyak civitas akademika yang menyambut baik gelaran forum ilmiah ini. Turut hadirnya pemateri internasional dari Department Biology Middle Tennessee State Univerity – USA (Prof Siti Nur Hidayati, PhD), Attarkiah Islamiyah Institute of Narathiwat – Thailand (Jendral Phaisan Toryib) dan dari UMM (Assoc Prof Dr Eko Susetyarini, M.Si) sebagai pembicara kunci. Sementara itu pemakalah undangan dan peserta berasal dari Universitas dalam negeri semisal; Universitas Indonesia (UI), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Jenderal Soederman (UNSOED), serta Universitas Ahmad Dahlan (UAD) semakin menambh kualitas kadar ilmiah acara ini. Gelaran ilmiah ini juga memberikan keuntungan bagi para peserta yang mengikutinya, Karena konsep acara di tahun 2021 ini menawarkan fasilitas yang menarik yaitu, pengalaman langsung melalui “Workshop” bagi peneliti pemula dalam meningkatkan skill kemapuan penulis artikel ilmiah melalui desain penelitian sederhana, namun luaran berstandar reviewer internasional dan berpeluang lolos ke jurnal bereputasi internasioan. Workshop menghadirkan Prof Dr Siti Zubaedah dari UM, dan juga Ahmad Fauzi dari UMM. Lebih jauh, kegiatan Ini berpeluang besar dalam sumbangsih karya menumental pendidikan sebagai aksi positif di masa pandemi dan optimistis menyongsong pasca Pandemi Covid-19. Kesempatan ini pula menjadi pembuktian adanya berbagai upaya institusi pendidikan dalam berkolaborasi untuk memecahkan persoalan kemanusiaan dan kemajuan bangsa melalui ilmu pengetahuan. Dalam pemaparannya, para pembicara kunci menuturkan perlunya pemanfaatan teknologi dan cara-cara baru yang perlu dilakukan di masa mendatang menjadi fokus perhatiannya. Kegiatan Forum ilmiah ini merupakan salah satu instrumen penting dalam memfasilitasi perkembangan hasil pemikiran dan penelitian ter-update. Disamping itu Prodi Pendidikan Biologi FKIP-UMM juga berpesan kepada seluruh masyarakat agar selalu menginspirasi dengan segala daya dan upaya yang kita miliki. (ed: fid)
Gagal tembus PIMNAS, Malah Sabet Medali Emas Internasional

Selasa, 02 November 2021 21:52 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Tim Ragung Malang-Tak terpilih sebagai tim yang masuk ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) tidak menyurutkan langkah lima mahasiswa FKIP UMM untuk terus berjuang. Dibawah bimbingan Moh. Mirza Nuryady, M.Sc, karya inovatif pemanfaatan Rambut Jagung diusung ke International Science And Invention Fair (ISIF) 2021 dan berhasil mendapatkan Gold Medal. Karya inovatif ini berawal dari keprihatinan kondisi sosial ekonomi petani jagung yang ada di kota Batu, Jawa Timur. Selama pandemi Covid-19, harga jagung di pasaran terus menurun dan beberapa bagian dari tumbuhan jagung hanya akan berakhir sebagai limbah. Oleh karena itu, tim Rambut Jagung (Ragung) UMM ini berinovasi membuat pemberdayaan masyarakat dengan mengolah limbah rambut jagung menjadi minuman berkhasiat. “Berawal dari keprihatinan kita dengan kondisi petani jagung, kita tergerak untuk berinovasi dan berhasil didanai Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), meskipun belum berhasil masuk ke PIMNAS,” ungkap Aggy salah satu anggota tim RaGung UMM. Namun, bukan mahasiswa UMM namanya jika patah semangat dan tidak melanjutkan inovasi yang ada. Para mahasiswa tim RaGung ini terus mengembangkan produknya yang dituliskan sebagai gagasan konkret untuk ajang bergengsi tingkat internasional, yaitu International Science And Invention Fair (ISIF) 2021. Gelaran kegiatan internasional yang dilaksanakan oleh Indonesia International Institute for Life Science (I3L), berkolaborasi dengan Indonesia Young Scientist Association (IYSA), dan International Music, Science, Energy, and Engineering Fair (BUCA IMSEF, Turki) ini berlangsung selama tujuh hari dan ditutup dengan pengumuman pemenang pada Senin (1/11/2021). Dalam gelaran ini, tim Ragung dinobatkan menjadi peraih gold medal. Unsur yang dinilai dalam ajang ini meliputi penilaian abstrak, poster, full paper, serta kegiatan presentasi. Inovasi yang diusung oleh tim UMM adalah menekankan kebermanfaatan inovasi minuman RaGung dalam upaya pemberdayaan masyarakat petani jagung di Batu. Keberhasilan ini tidak terlepas dari perjuangan dan perbedaan latar belakang disiplin keilmuan yang membuat mereka lebih holistic dalam mendesain inovasinya. Tim ini terdiri atas Siti Mariyatul Qibtiyah (sebagai ketua) dan Aggy pramesti Wary dari Pendidikan Biologi, Olivia Margareta dari Pendidikan Bahasa Inggris, Siti Rofiatul Sazjiyah dari Sosiologi, dan Eginuari Ilhani dari Ilmu Hukum. “Gold Medal yang diraih oleh tim RaGung UMM ini merupakan bonus atas kerja keras yang kami lakukan. Namun bukan sebagai akhir dari program pengabdian kami, bahkan sebaliknya ini adalah titik awal usaha kami untuk lebih meningkatkan eksposure terhadap produk minuman RaGung agar produksi minuman ini terus meningkat untuk kesejahteraan para petani jagung di Batu,” ungkap Ria selaku ketua tim RaGung UMM. Dalam kesempatan lain, dosen pembimbing, Moh. Mirza Nuryady, M.Sc juga menyatakan bahwa kunci keberhasilan tim ini adalah semangat yang luar biasa. “Semangat mahasiswa tim Ragung UMM ini perlu diapresiasi. Pasalnya dalam setiap penyampaian laporan mereka selalu menunjukkan outcome yang bagus, serta daya juang untuk tidak cepat putus asa juga sangat saya acungi jempol,” pungkasnya. (*fid)