Dulu Berhutang demi Workshop Penulisan Ilmiah, Kini Hasto Duduki Kursi Direktur PERIISAI

Jum’at, 05 Maret 2021 01:50 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dalam rangka meningkatkan reputasi penelitian Indonesia, dosen saat ini seolah dikejar-kejar target untuk menerbitkan artikelnya di jurnal internasional terindeks Scopus. Sayangnya, tidak semua dosen memiliki kapabilitas meneliti dan menulis artikel jurnal internasional. Belum lagi, sudah menjadi rahasia umum bahwa publikasi di Scopus berujung sekian nominal yang harus dikocek dari kantong. Hal itu membuat Hastowohadi gusar. Bersama ketiga koleganya, ia pun kemudian mendirikan Komunitas Meneliti Banyuwangi yang kemudian bertransformasi menjadi organisasi Perkumpulan Peneliti dan Penulis Ilmu Sosial Indonesia (PERIISAI) yang mendapuk dirinya sebagai direktur. Dari Guru ke Dosen Hastowohadi, M.Pd. merupakan alumni Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMM. Pria asli Desa Cluring, Kabupaten Banyuwangi ini besar di keluarga pendidik. Ibunya mengawali karier menjadi guru TK, sementara ayahnya mengawali karier sebagai PNS guru SD dan SMP kemudian menjadi pengawas. Keluarga besar, terutama dari ayah, pun banyak yang berprofesi di dunia pendidikan. Ibarat buah jatuh tak jauh dari pohonnya, lambat laun Hasto mulai berkeinginan menekuni profesi yang sama dengan kedua orang tuanya, yakni menjadi guru. Akhirnya, selepas SMA ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang lantaran ia sudah menyukai lagu Bahasa Inggris sejak kanak-kanak. Usai lulus S1, Hasto mengajar di dua SMK swasta di Banyuwangi. Hal itu berjalan selama tiga tahun. Sampai akhirnya, ia bertekad untuk tidak larut di zona nyaman dan memutuskan untuk mengambil studi S2 meski dengan biaya pribadi. Namun, keputusan itu justru mengantarkannya pada takdir baru. Ia mendapatkan tawaran menjadi dosen bahkan sebelum menjadapatkan ijazah S2. Sebagai konsekuensinya, ia harus bolak-balik Malang-Banyuwangi setiap akhir pekan. Berhutang Demi Mengikuti Workshop Publikasi Ilmiah Semasa menjalani profesi sebagai dosen, Hasto menyadari betul bahwa ia masih awam dalam dunia riset dan publikasi. Padahal, dua hal itu adalah nyawa dari profesinya. Hal itu dikarenakan cukup banyak perkuliahan S2 yang ditinggalkannya karena mengajar di dua kampus berbeda. Di salah satu kampus itu, ia bahkan  menjabat sebagai kaprodi. Alhasil, update keilmuan terbengkalai. Apalagi, tahun 2016 kondisi perekonomiannya jatuh karena ada masalah pekerjaan dan juga menderita sakit lambung yang cukup parah. Terpaksa, keinginan untuk belajar menulis tertunda karena harus fokus ke ekonomi dan kesehatan dulu. Setelah kesehatannya agak pulih, ia menyempatkan ikut konferensi sana-sini untuk menimba ilmu. Waktu itu ia masih dalam kondisi yang pas-pasan, sehingga kadang ia terpaksa harus hutang sana sini. “Pernah, saya nekat tetap berangkat dengan sepeda motor sendirian ke Solo untuk ikut konferensi, padahal saya belum bayar. Alhamdulillah di detik akhir ada teman yang minjami,” pungkasnya.

Hesti Miranda, Alumni Prodi Bahasa Inggris Dengan Segudang Pengalaman Beasiswa Luar Negeri

Selasa, 02 Maret 2021 11:09 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Hesti Ketika Pertukaran Pelajar di Spanyol Berawal dari menonton banyak film asing saat kecil, Hesti Miranda mulai bermimpi untuk pergi ke luar negeri. Sayangnya, cita-cita itu terhalang banyak kendala. Berbagai penolakan dari program pertukaran pelajar dialami Alumni Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sejak Sekolah Menengah Atas (SMA). Meski dihadapkan pada kegagalan, mimpi Hesti untuk ke luar negeri tidak pernah padam. Bahkan keinginanya semakin kuat ketika mengetahui UMM memiliki banyak program beasiswa internasional. Ia pun aktif di berbagai organisasi yang menunjang salah satunya International Language Forum. “Di tahun 2016 ketika saya mengikuti beberapa program ILF, saya mendapat kesempatan untuk menjajal pertukaran pelajar ke China selama empat bulan. Di tahun yang sama, saya juga berkesempatan untuk mengikuti magang internasional di Thailand,” lanjut Hesti, Kamis (25/02). Keberungan tersebut membuat anak tengah dari tiga bersaudara ini semakin ketagihan. Semangatnya menjadi lebih besar untuk mencoba berbagai program inernasional laninnya. Berpengalaman dua kali mengikuti program di luar negeri, jalan mulus tak lantas hadir di depan mata Hesti. Ia masih harus berjuang setelah menerima kenyataan ditolak tujuh kali pada program beasiswa Erasmus Mundus. Tak surut langkah, hal ini justru menjadikannya semakin giat mencari peluang studi di luar negeri.   “Karena saya berasal dari desa, saya mempunyai prinsip bahwa saya harus terus berkembang.Pergi ke luar negeri merupakan salah satu cara bagi saya untuk mempelajari hal baru dan mengembangkan diri.Jadi setiap ditolak, saya selalu berusaha memperbaiki curriculum vitae (CV) dan motivation letter. Bahkan sebelum sidang skripsi pun saya masih menyempatkan diri untuk mendaftar beasiswa Erasmus mundus ke Spayol,” katanya. Awalnya Hesti tidak menyangka akan lolos Erasmus Mundus. Selain karena sudah banyak menerima penolakan, di tahun 2018 tersebut  dirinya juga akan segera wisuda. Beasiswa Erasmus mundus tidak akan berlaku ketika pendaftar telah dikukuhkan oleh pihak kampus sebagai wisudawan. Siapa sangka, keberuntungan kali ini memihak padanya. Waktu wisuda Hesti diundur. Orang tuanya tidak dapat datang sesuai jadwal awal yang telah ditentukan. Hal ini bertepatan dengan pengumuman penerimaan Erasmus Mundus dan ia pun dapat mengikuti program beasiswa ke Spayol mulai Agustus 2018-Februari 2019. Hesti mengaku sangat bersyukur telah memilih UMM dan mengikuti berbagai program beasiswa luar negeri yang telah disediakan oleh kampus. Meneruskan mimpinya,  saat ini Hesti sedang melanjutkan studi S2 di National Dong Hwa University (NDHU) Taiwan.   “Berbagai pengalaman beasiswa dan magang yang saya dapatkan ketika berkuliah di UMM sangat membantu studi S2 di Taiwan. Jika masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan studi S3, saya berharap bisa pergi belajar ke tempat yang lebih jauh lagi,” pungkasnya. (syi/sil)

Yudisium, Dekan FKIP UMM Dorong Calon Wisudawan Bersiap Menjadi Pendidik Era Society 5.0

Kamis, 25 Februari 2021 11:57 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang-Dunia pendidikan harus selalu sigap beradaptasi dan memenuhi tuntutan zaman yang terus berubah. Untuk saat ini, perubahan itu salah satunya adalah dari era industri 4.0 menuju Era Society 5.0. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang mengatakan, cepat atau lambat hal itulah yang akan dihadapi lulusan FKIP UMM, sehingga mau tidak mau mereka harus dengan segera mempersiapkan diri. “Untuk saat ini memang belum, tapi itulah yang akan Saudara hadapi. Dan sebagai Sarjana Pendidikan, Saudara memiliki tanggung jawab yang besar dalam mempersiapkan masa depan bangsa Indonesia,” ungkap Dr. Poncojari Wahyono dalam gelaran Yudisium Periode I Tahun 2021, Kamis (25/02/2021). Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa Era Society 5.0 pada dasarnya akan melengkapi era industri 4.0. Era revolusi industri 4.0 menuntut penguasaan teknologi dalam berbagai lini kehidupan. “Salah satu produknya di dunia pendidikan adalah apa yang telah kita terapkan beberapa tahun terakhir ini, yakni blended learning,” ungkapnya. Sejalan dengan itu, keterampilan 4C yang mencakup creative thinking, critical thinking and problem solving, communication, dan collaboration menjadi hal esensial yang dikembangkan dalam pendidikan di era revolusi industri 4.0. Namun, kelemahannya adalah bahwa dominasi teknologi itu membuat nilai-nilai tidak secara optimal dapat ditransfer kepada peserta didik. “Era revolusi industri 4.0 memang berdampak signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi untuk pengembangan hardskill dan softskill terutama nilai-nilai pada anak didik kita masih mengalami kelemahan. Itulah mengapa 5.0 ini melengkapi kekurangan tersebut karena mengetengahkan peran manusia di dalamnya,” pungkasnya. Oleh karena itu, ia berpesan agar para calon wisudawan/wisudawati terus mengembangkan kompetensi yang telah diperolehnya selama menempuh pendisikan sarjana, baik melalui pendidikan profesi maupun kursus lainnya. Sehingga, mereka benar-benar siap dan mampu menjadi pendidik profesional di Era Society 5.0. Yudisium kali ini meluluskan 148 calon wisudawan/wisudawati dari enam Prodi di lingkungan FKIP UMM. “Lulusan Pendidikan Matematika 12 orang, Pendidikan Biologi 27 orang, Pendidikan Bahasa Indonesia 31 orang, PPKN 13 orang, Pendidikan Bahasa Inggris 25 orang, dan PGSD 40 orang,” ungkap Dr Sudiran, M.Hum, wakil Dekan I FKIP UMM. Selain itu, yudisium yang dilangsungkan secara daring ini mengukuhkan Putri Ayu Irodah sebagai lulusan terbaik FKIP. Mahasiswa dari Prodi Pendidikan Biologi itu lulus dengan IPK nyaris sempurna, yakni 3,98, dengan masa studi 7 semester. Dalam kesempatan ini pula, hadir sebagai pemateri alumni Prodi PGSD dan sekaligus alumni Program PPG Prajabatan Bersubsidi, Reza Ika Savitri, S.Pd., Gr. Reza berbagi pengalaman semasa menempuh studi di FKIP UMM, khususnya bagaimana FKIP UMM mengantarkannya pada cita-citanya sebagai seorang guru di tengah minimnya dukungan dari keluarga dan stereotipe terhadap perempuan karier. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kompetensi sosial dan kepribadian tak kalah penting dibanding kompetensi pedagogi dan profesional. Ia pun berbagi tips bagaimana menjalani profesi sebagi guru di sekolah. “Kita harus menjadi pendengar yang baik, berpikir kritis, tanggap atau responsif terhadap permasalahan yang dihadapi sekolah, dan santun kepada siapa saja, baik kepada atasan, sesama guru, murid, maupun wali murid,” pungkasnya. (*/fid)

Implementasikan MBKM, Mahasiswa Biologi UMM Jalani Kuliah Lintas Kampus

Senin, 15 Februari 2021 12:13 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sosialisasi Program MBKM Prodi Biologi Malang – Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digulirkan beberapa waktu silam direspon dengan cepat oleh semua pihak, termasuk Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui skema pertukaran pelajar pada Program MBKM NUNI 2021, enam mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi akan menempuh perkuliahan lintas kampus. “Program MBKM NUNI 2021 terselenggara atas kerja sama antara UMM dengan beberapa Universitas terkemuka di Indonesia yang tergabung dalam Nationwide University Network in Indonesia atau NUNI. Alhamdulillah enam mahasiswa Biologi lolos seleksi dan akan mengikuti perkuliahan di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Padjajaran, dan BINUS University Jakarta semester depan,” ungkap Dr. Iin Hindun, Ketua Prodi Pendidikan Biologi. Enam mahasiswa itu adalah Alvin Dewa Yanuar pada mata kuliah Dasar-Dasar Bioteknologi Prodi Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Khilma Vita Nurmayasari dan Siti Mariyatul Qibtiyah pada mata kuliah Dasar-Dasar Bioteknologi dan Etnobotani Prodi Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Nur Hadi Hidayat pada mata kuliah Dasar-Dasar Bioteknologi Prodi Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan mata kuliah Technopreneurship Prodi Teknologi Pangan Universitas Padjajaran, Egar Aldiyaksa Akbar pada mata kuliah dasar-dasar bioteknologi Prodi Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan mata kuliah etnopsikologiprogram Prodi Antropologi Universitas Padjadjaran, serta Ken Salma Afanto pada mata kuliah Dasar-Dasar Bioteknologi Prodi Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, mata kuliah Pengemasan Dan Penyimpanan Makanan Prodi Teknologi Pangan Universitas Padjajaran, dan mata kuliah Advanced Topics in E-Bussiness Prodi Manajemen BINUS University Jakarta. Sebelum dinyatakan lolos, mereka harus melewati proses seleksi yang ketat. Pasalnya, mereka harus bersaing dengan mahasiswa dari berbagai kampus untuk memperebutkan 5 sampai 10 slot mahasiswa pada setiap mata kuliah dalam satu universitas. “Selain syarat administratif pada umumnya, kami diwajibkan membuat esai tentang motivasi dan rencana belajar ke depannya,” ungkap Egar, salah satu mahasiswa MBKM NUNI 2021. Kesuksesan pengimplementasian Program MBKM Prodi Pendidikan Biologi tak lepas dari kesigapan dalam merespon kebijakan MBKM. Secara khusus, Prodi Pendidikan Biologi membentuk Tim Satgas MBKM Prodi yang selanjutnya melakukan sosialisasi kepada seluruh civitas akademika. Sosialisasi dilakukan secara massive melalui berbagai platform online seperti live Instagram dalam program Best Talks, Google Meet, Zoom, dan Youtube. Selain itu, Tim Satgas MBKM juga melayani konsultasi secara luring maupun daring. Ketua Prodi Pendidikan Biologi berharap, Program MBKM benar-benar dapat membekali mahasiswa menghadapi persaingan global. “Dengan adanya program MBKM ini mahasiswa dapat menyerap ilmu yang tidak terbatas yang nantinya akan menjadikan mahasiswa yang siap untuk mengahadapi persaingan dunia kerja Global,” ungkapnya. (*Mirz/fid)

Implementasikan Program MBKM, Prodi Matematika UMM Luncurkan Program ASIK Plus

Kamis, 04 Februari 2021 20:51 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan foto : istimewa Malang-Prodi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) luncurkan Program ASIK Plus sebagai implementasi Merdeka Belajar–Kampus Merdeka MBKM, Kamis (4/2/2021). Acara digelar secara daring dan diikuti oleh mahasiswa, alumni, serta sekolah mitra. Adi Slamet Kusuma, Sekertaris Prodi Pendidikan Matematika mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memaparkan beberapa program yang akan diusung Prodi Matematika dalam menerapkan kebijakan merdeka belajar. “Selain itu, ini juga merupakan wadah silaturahmi dengan sekolah mitra yang bekerjasama dengan Prodi dalam mengimplementasikan program tersebut,” katanya. Program Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM) adalah program yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang bertujuan mendorong mahasiswa untu menguasai berbagai keilmuan untuk bekal memasuki dunia kerja. Dalam program yang termuat dalam Permendikbud Nomor 3 tahun 2020 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi ini, mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengambil mata kuliah di luar program studi pada perguruan tinggi yang sama; mengambil mata kuliah pada program studi yang sama di perguruan tinggi yang berbeda; mengambil mata kuliah pada program studi yang berbeda di perguruan tinggi yang berbeda; dan/atau pembelajaran di luar perguruan tinggi. Mahfud Effendi selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika menjelaskan bahwa ASIK Plus merupakan singkatan dari Asistensi Magang Skripsi dan KKN. Adapun plus yang dimaksud adalah program insidental atau program yang setara dengan kegiatan MBKM. Pada praktiknya, Prodi pendidikan Matematika mengambil empat bentuk kegiatan sebagai paket program yaitu asistensi mengajar di satuan pendidikan, magang, skripsi atau riset, dan KKN. “Keempat kegiatan tersebut dapat dipilih mahasiswa dan dilakukan terutama di satuan pendidikan yang sudah memiliki MoU dengan Prodi Pendidikan Matematika UMM,” terang Mahfud. Sementara itu, ada empat mata kuliah yang dikonversi untuk mendukung program ASIK ini. Pertama, asistensi ada mata kuliah Kapita selekta matematika SLP, Bahasa pemrograman, Kapita selekta SLA, desain grafis, desain web, dan komputasi matematika. Kedua, magang ada mata kuliah PLP 1 dan PLP 2. Ketiga, riset ada mata kuliah proposal penelitian, seminar matematika, dan skripsi. Keempat, KKN yang dapat dilakukan sesuai dengan pilihan mahasiswa. Melalui Program ini, Mahfud berharap kemerdekaan belajar mahasiswa dapat terfasilitasi. Tak hanya itu, mahasiswa pun bisa lulus lebih cepat. “Banyak program untuk mempercepat kelulusan mahasiswa, semoga program-program yang ditawarkan dapat memfasilitasi kemerdekaan belajar mahasiswa sesuai dengan konsep belajar yang diusung oleh Menteri Pendidikan yang disosialisasikan pada akhir tahun 2020 tahun lalu,” harapan Ketua Prodi Pendidikan Matematika pada akhir penyampaiannya. Tak hanya menjelaskan tentang ASIK Plus, dalam kesempatan ini, Prodi Matematika juga memaparkan beberapa program unggulannya, seperti Program setara D1 komputer, Olimpiade matematika, Beasiswa alumni dan bantuan dosen untuk mahasiswa, Jurnal milik prodi yaitu MEJ, Klinik dan bantuan belajar dan program ASIK Plus. (*nis/fid) Shared:

Seminar Daring, PGSD UMM Bahas Pendidik Profesional Era Society 5.0

Kamis, 04 Februari 2021 15:55 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan foto: istimewa Malang-Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang gelar Seminar Nasional daring, Rabu (3/2). Hadir sebagai pemateri, Pelaksana Kurikulum Pendidikan Direktorat Sekolah Daswar, Wali Kota Batu, Dekan FKIP UMM, dan Kaprodi PGSD. Kali ini, tema yang diangkat adalah tema futuristik “Menyiapkan Pendidik Profesional di Era Society 5.0”. Dalam sambutannya, Dr. Fauzan, M.Pd., Rektor UMM, mengapresiasi langkah responsif Prodi PGSD terharap isu mutakhir dunia pendidikan. Menurutnya, investasi pendidikan adalah investasi yang sangat berguna bagi bangsa dan negara. Ia pun berharap, kegiatan ini dapat dapat berkontribusi untuk dunia pendidikan pada umumnya dan para pendidik pada khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan baru dalam dunia pendidikan dewasa ini. “Saya berharap dengan adanya seminar ini dapat menjadi rujukan bagi pelaksanaan merdeka belajar dan membantu para pendidik dalam menghadapi berbagai tantangan baru di dunia pendidikan,” pungkas Fauzan. Setelah revolusi industri 4.0, era society 5.0 memang menjadi topik yang hangat diperbincangkan dalam berbagai diskursus. Society 5.0 memiliki visi mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik untuk menciptakan masyarakat yang cerdas dan dewasa dalam menggunakan teknologi. Terkait hal ini, Analis Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Direktorat Sekolah Dasar, Dwi Nurani, mengatakan profesi guru harus berorientasi pada pembelajaran abad 21 yang mengintegrasikan pembelajaran dan teknologi. “Pendidik harus memiliki keterampilan di bidang digital dan berpikir kritis. Perlu literasi data, manusia, teknoilogi, dan pembelajar sepanjang masa,” tuturnya. Namun begitu, disadari bahwa ini memang tidak mudah untuk diterapkan. Apalagi saat ini kita berada dalam situasi pandemi Covid-19. “Ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh para pendidik dalam menghadapi Society 5.0 dan pandemi Covid-19. Pertama adalah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Kedua adalah kendala sinyal yang tidak merata. Ketiga perubahan kebiasaan dari luring ke daring,” terang Dwi. Dalam hal ini, Dekan FKIP UMM mengatakan, merdeka belajar bisa menjadi terobosan dalam beradaptasi dengan kemajuan zaman. “Merdeka belajar dapat menjadi sebuah terobosan dalam Pendidikan untuk beradaptasi dengan kemajuan zaman. Pendidik diberikan keleluasaan mengeksplorasi kreativitasnya dalam pembelajaran, terlebih pada masa pandemi seperti saat ini,” terang Dr. Poncojari Wahyono. Di sisi lain, tentang pandemi Covid-19, Walikota Batu menjelaskan tentang Kebijakan Pendidikan pada masa pandemi covid-19 di Kota Batu. Dalam keterangannya, Dewanti Rumpoko mengatakan Kota Batu belum menerapkan pembelajaran tatap muka meski sempat berada di zona kuning. Berdasarkan survey yang dilakukan kepada siswa SMP di Kota Batu, 80% responden menginginkan pembelajaran tatap muka. Namun, tentu keinginan itu belum bisa dilaksanakan karena kesehatan harus diutamakan. “Tapi masalah kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan harus lebih diutamakan,” ungkapnya. Namun, Kota Batu terus menyiapkan infrastruktur di sekolah untuk memenuhi protokol kesehatan, seperti tempat cuci tangan, hand sanitizer, dan sebagainya. (*fid)

PGSD UMM Asah Kreativitas Siswa SMA Lewat Lomba Puisi Virtual

 Senin, 01 Februari 2021 12:02 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan foto: istimewa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu  Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar lomba baca puisi secara virtual. Kali ini lomba baca puisinya ditujukan untuk siswa/i  tingkat SMA/SMK. Tujuan dari acara ini, menurut Arina Restian, M.Pd selaku Kepala Prodi PGSD FKIP UMM “Untuk memberikan ruang kreativitas buat para pelajar dalam rangkaian peringatan hari Ibu pada 22 Desember 2020 lalu,  “Makanya puisi yang dilombakan semuanya mengambil tema tentang Ibu,” ungkap Arina. Harapannya, dengan  lomba virtual ini, siswa/i yang ikut ajang ini dapat  mengapresiasi karya puisi di tengah pandemi Covid-19. Menurut Arina, puisi merupakan alat pengungkapan rasa dan gagasan yang harus kita jaga dan wariskan ke generasi berikutnya. “Sekarang ini anak-anak kita menghadapi tantangan situasi dan kondisi yang berbeda. Karena itu olah rasa dan jiwa harus tetap hidup, di mana pun dan kapan pun,” kata Arina. Dalam acara ini, setiap peserta mengirimkan video pembacaan puisinya ke panitia melalui sistem online. Peserta mengiriman puisi sampai 24 Januari 2021. Seluruh naskah dan video pembacaan puisi dilakukan seleksi oleh Juri. Dari hasil penilaian lomba akan dipilih 3 puisi terbaik dan diumumkan pada tanggal 30 Januari 2021. Tercatat ada 13 peserta yang berasal dari perwakilan siswa/i SMA/SMK di Indonesia mengikuti lomba ini untuk mendapatkan hadiah jutaan rupiah. Puisi yang berjudul di tepian trotoar karya  Arina Makrifatul perwakilan dari SMA Nuris Jember mendapat juara I dari kompetisi ini. “Saya merasa dengan ikhtiar maksimal dan bersyukur mampu membuahkan hasil yang patut disyukuri. Mulai dari belajar, latihan, dan berdoa” tutur Arina. (*Naw/fid)

Siap Terapkan MBKM, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Hadirkan Pakar Kurikulum Nasional

 Sabtu, 16 Januari 2021 08:58 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Berhasil mendapatkan hibah Program Merdeka Belajar Kampus Medeka (MBKM) dari Kemendikbud Republik Indonesia, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris menghadirkan Dr. Sri Suning Kusumawardani, M.T Tim Pakar Kurikulum Pendidikan Tinggl dan MBKM dalam acara webinar. Webinar ini diikuti oleh perwakilan Prodi Bahasa Inggris yang tergabung dalam asosiasi PBI di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia, Kaprodi di lingkunag FKIP UMM, dan dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (13/1). Dalam penerapan MBKM, dosen akan menjadi dosen penggerak. Dalam pengertiannya, salah satu fungsi dosen penggerak adalah menjadi dosen yang selalu mencari ilmu dan pengalaman baru yang mendukung tugas profesinya dan implementasi program MBKM. Selain itu, dalam penerapan MBKM, dosen juga terlibat dalam reorientasi kurikulum. MBKM merupakan terjemahan dari kurikulum yang sudah ada yaitu pengombinasian antara KKNI dan SN-DIKTI. Dalam implementasinya, mahasiswa akan diberikan ruang lebih fleksibel dalam memilih belajarnya. Secara konkret, mahasiswa akan diberi dua skema proses belajar, pertama, mahasiswa mengikuti 100 persen pembelajaran di Prodinya. Kedua, memilih 20 SKS belajar di Prodi berbeda di dalam PT yang sama (1 semester) atau melakukan perkuliahan di Prodi yang sama atau berbeda di luar PT dengan maksimal 40 SKS (2 semester). Sehingga 60 SKS adalah alokasi merdeka belajar yang dapat diikuti oleh mahasiswa. Dengan demikian, 70% SKS dapat dimaksimalkan untuk alokasi mata kuliah Prodi. “Untuk menyukseskan program ini, dalam penyelenggaraan Kurikulum MBKM tentunya diperlukan model-model kerjasama dengan mitra, program dilakukan di bawah bimbingan dosen, dan juga diperlukan model-model konversi nilai dan penyesuaian bobot SKS,” tandas Dr.Sri Suning Kusumawardani, M.T yang merupakan dosen di Universitas Gadjah Mada itu. Merespon hal ini, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM telah melakukan rekonstuksi kurikulum dengan tujuan menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Pertukaran mahasiswa, penelitian, magang, dan kewirausahaan. Dari keempat program tersebut ada beberapa model yang akan diselenggarakan. Kerjasama dalam pelaksanaan program telah dilakukan dengan mitra di luar negeri dan dalam negeri. Mitra di luar negeri di antaranya China, Thailand, dan Malaysia. “Hal ini dilakukan dalam rangka menyesuaikan diri dan melakukan inovasi pembelajaran guna menciptakan lulusan unggul dan siap pakai,” jelas Bayu Hendro Wicaksono, Ph.D Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM. (*raf/fid)

Lolos Program Kampus Mengajar Perintis, 12 Mahasiswa FKIP Tiga Bulan Dampingi Guru Laksanakan Pembelajaran di Masa Pandemi

Minggu, 20 Desember 2020 09:44 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dua belas mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang tuntas menjalani Program Kampus Mengajar Perintis (KMP). KMP merupakan bagian dari Kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) yang digulirkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayan dengan tujuan mengajak para mahasiwa untuk berpartisipasi sekaligus memberikan solusi bagi sekolah-sekolah yang terdampak pandemi Covid-19. Kedua belas mahasiswa itu adalah Dinik Sukma Berlianisyah, Annisa Dyah Febrianti, Aldina Ramadhani, dan Rohmawati Mufida dari Prodi PGSD; Pripta Fajri Ramadhanti dan Putri Diah Ayu Pitaloka dari Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia; Egar Aldiyaksa Akbar dan Alvin Dewa Yanuar dari Prodi Pendidikan Biologi; Neng Wiwin Indrawati dan Cahyo Aulia Andi Putra dari Prodi PPKn; serta Daffa Indra Arya Wardhana dan Lovie Kartika Sari dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Bersama 2.500 mahasiswa lainnya dari seluruh Indonesia, mereka mengabdi di sekolah di sekitar domisilinya selama tiga bulan. Dalam tiga bulan ini, ada berbagai program yang disusun para mahasiswa. Program-program ini berbeda satu dengan lainnya bergantung pada permasalahan yang terjadi di sekolah berdasarkan observasi pada minggu-minggu awal pelaksanaan KMP. Rohmawati Mufida, misalnya, melaksanakan program tular teknologi pada guru di SDN 52 Parupuk Tabing, Kota Padang, tempatnya mengabdi, karena sebagian besar guru masih gagap teknologi. Tak hanya pada guru, ia pun lakukan program yang sama pada siswa dan wali siswa. Pasalnya, pembelajaran dilaksanakan secara daring sehingga baik guru maupun siswa dan wali siswa harus sama-sama melek teknologi. “Program tular tekhnologi tidak hanya saya berikan kepada guru tetapi kepada siswa dan wali siswa juga, karena masih banyak yang masih gagap teknologi padahal pembelajaran dilaksanakan secara daring,” terang Rohma, sapaan akrabnya. Dalam program tular teknologi ini, Rohma mendampingi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran daring melalui Zoom Meeting, membuat quiz atau penilaian harian (PH) dari Google Form, dan pembuatan video pembelajaran. Sementara untuk siswa dan wali siswa, Rohma mendampingi pengoperasian masing-masing platform tersebut dari sudut siswa. Di lain sisi, hasil asesmen literasi dan numerasi siswa melalui  aplikasi Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) yang menunjukkan hasil di bawah rata-rata mendorong Pripta Fajri Ramadhanti berfokus pada kegiatan literasi. “Kemampuan literasi anak-anak kebanyakan di bawah angka 60. Bahkan, ada anak kelas 4 SD yang ternyata belum bisa membaca. Jadi, selain mengimplementasikan Modul Literasi Numerasi dari Kemendikbud, saya membuat beberapa kegiatan literasi seperti membuat poster menarik dan mading timbul sederhana,” jelas mahasiswa tingkat akhir Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia yang jalani pengabdian di SDN Mangunreja, Kab. Serang, Provinsi Banten ini. Bahkan, sebagian besar mahasiswa membantu guru melaksanakan kegiatan guru kunjung atau home visit lantaran tidak semua siswa memiliki gawai atau memiliki jaringan yang memadai. Wakil Dekan I FKIP UMM, Dr. Sudiran, M.Hum, bersyukur bahwa kedua belas delegasi FKIP UMM lolos pada program yang didanai LPDP itu. Keterlibatan FKIP dalam KMP, menurutnya, bukan hanya untuk mendukung kebijakan pemerintah, tetapi juga karena ada banyak manfaat yang akan diperoleh mahasiswa. Salah satunya adalah semakin terasahnya softskill dan hardskill mahasiswa. “Kita mendaftarkan 12 mahasiswa dan Alhamdulillah semua lolos. Kita tentu mendukung program pemerintah. Apalagi ada banyak manfaat untuk mahasiswa kita. Seperti, dengan terjun ke sekolah, mereka akan paham apa masalah di sekolah dalam melaksanakan pembelajaran di masa pandemi. Mereka akan mendampingi guru dan menghadapi murid yang beragam. Tentu, softskill dan hardskill mereka semakin terasah,” terang Sudiran. Lebih lanjut, ia berharap lewat KMP ini, para mahasiswa bisa berperan secara optimal dalam mengembangkan karir dan profesi. “Kita berharap pengalaman-pengalaman yang mereka dapatkan selama mengikuti KMP ini bisa mereka internalisasikan untuk mengembangkan karir dan profesi ke depan,” tambahnya. (*fid) Shared:

Bentuk Karakter Wirausaha Anak Panti Asuhan Lewat Pelatihan Batik Celup

 Minggu, 22 November 2020 18:25 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan foto : istimewa Mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM beri pelatihan membuat batik celup anak panti asuhan untuk membentuk karakter kewirausahaan. Dibawah bimbingan Tutut Indria Permana, M.Pd., Siti Mariyatul Qibtiyah sebagai ketua, serta Ladysyah Fitri Rohmah, Nur Hadi Hidayat, dan  Yeni Setyaningsih sebagai anggota melatih 10 anak Panti Asuhan Putri Aisyiyah Dinoyo, Malang, selama hampir satu bulan, yakni 22 Agustus 2020 hingga 15 September 2020. Ide kegiatan ini bermula dari fakta bahwa masyarakat Indonesia lebih condong menjadi job seeker sehingga jumlah wirausahawan di Indonesia baru mencapai 2%. Padahal, idealnya, agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, jumlah wirausahawan suatu negara setidaknya harus mencapai 4%. Karena itu, jiwa kewirausahaan harus ditanamkan sejak dini, terutama bagi anak-anak panti asuhan. “Dengan keterampilan wirausaha, mereka akan lebih mandiri. Ini penting karena mereka tidak bisa bergantung pada orang tua. Selain itu, ini juga bisa menjadi solusi bagi permasalahan donasi panti asuhan yang tidak tetap pada setiap bulannya,” tutur Siti Mariyatul Qibtiyah saat diminta keterangan lewat WA, Sabtu (20/11/2020). Lataran dilaksanakan di masa pandemi, tim memanfaatkan platform Google Meeting untuk kegiatan pelatihan dan aplikasi WA untuk kegiatan pendampingan. Kegiatan pelatihan meliputi pemberian materi kewirausahaan, pembuatan batik celup, pemasaran, dan pengemasan produk. Menariknya, materi pembuatan batik celup disajikan dalam bentuk video tutorial yang diunggah di youtube. “Tujuannya agar lebih mudah dipahami dan bisa diakses tanpa batas. Kami membuat video tutorial itu dengan aplikasi Kinemaster karena ada banyak pilihan efek animasi yang sesuai dengan kebutuhan kami,” tambah Siti. Selain itu, tim juga membuat Buku Pedoman Pelaksanaan Program dengan menggunakan bantuan software Power Point. “Terima kasih kepada tim yang telah memberikan pelatihan membuat batik celup secara daring. Kegiatan ini akan kami lanjutkan, kami optimalkan lagi. Kami akan membuat lagi kreasi-kreasi produk batik celup dan menjualnya kepada masyarakat luas,” terang Farida.Adanya kegiatan ini terbukti menambah pemahaman dan keterampilan anak panti asuhan dalam hal membuat batik celup maupun berwirausaha. Ini terlihat dari peningkatan hasil pretest dan posttest yang melonjak hingga 90%. Alhasil, mitra memberikan apresiasi yang tinggi atas pelaksanaan kegiatan ini. Bahkan, Farida Basori, pengelola Panti Asuhan Putri Aisyiyah Dinoyo pun berniat untuk melanjutkan kegiatan. Kegiatan ini merupakan aplikasi dari Kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa pada skim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M). PKM-M ini tidak hanya memperoleh pendanaan dari Belmawa Dikti, tetapi juga mewakili UMM pada gelaran PIMNAS 33 yang akan dihelat secara daring sepekan ke depan. Lewat keberhasilan program dan luaran tambahan artikel yang telah dipublikasikan di International Journal of Community Service Learning (IJCSL) Universitas Pendidikan Ganesha, diharapkan tim bisa mengharumkan nama Kampus Putih dengan menyabet gelar sebagai Jawara PKM-M Tahun 2020. (*fid)