Tetap Belajar Mengaji Meski Pandemi dengan E-Nasyid Berbasis Articulate Storyline

Selasa, 17 November 2020 20:16 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pandemi tidak hanya menghambat pelaksanaan pendidikan formal, tetapi juga pendidikan nonformal seperti di Taman Pendidikan Quran (TPQ),  Anak-anak tak bisa lagi belajar di TPQ dan memperdalam agama, seperti belajar tajwid. Padahal, mempelajari dan mengimplementasikan tajwid akan menambah kesempurnaan dalam sholat dan membaca Al-Quran. Berangkat dari kondisi ini, Safira Rahmadita Ismara menggandeng Devi Mellysafitri, Muhammad Natsir Hentihu, dan L. Yasril Ilham membuat sebuah inovasi yang menggabungkan metode mengaji dan teknologi bertajuk “Metode Nasyid Berbasis Articulate Storyline” dan menerapkannya di TPQ Shirotol Mustaqim. “TPQ Shirotol Mustaqim ini berlokasi di Desa Baamang Tengah, Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah. Peserta didik di sana rata-rata remaja usia 14 – 17 tahun. Mereka mengeluh karena tidak ada lagi kegiatan mengaji di TPQ padahal pembelajaran tajwid penting itu untuk dipelajari. Jadi, kami tergerak untuk mencoba mengatasi masalah itu dengan pendampingan implementasi metode nasyid berbasis articulate storyline ini,” ungkap Safira, sapaan akrabnya, Senin (16/11/2020). Pemilihan metode nasyid ini diasumsikan memudahkan anak-anak dalam belajar. Pasalnya, gaya belajar anak-anak lebih condong ke hal-hal yang sifatnya audio-visual dan interaktif. Sehingga, melalui musik dan lirik yang mudah dihapal peserta didik akan bisa memahami tajwid dengan baik. Program ini dimulai dengan identifikasi masalah mitra melalui pretest online untuk melihat kemampuan awal dari aspek makhorijul huruf, kelancaran, dan ketepatan membaca tajwid. Kemudian, tim merevisi media sehingga hukum tajwid yang diselesaikan terlebih dahulu sesuai dengan hukum tajwid yang dialami oleh peserta didik. “Setelah pretest dan revisi, kami melaksanakan program pendampingan secara daring menggunakan Zoom Meeting. Peserta didik melihat tayangan media e-Nasyid kemudian bersama-sama tim menirukannya. Kemudian di setiap akhir pertemuan, peserta diminta membaca beberapa ayat Al-Quran sesuai hukum tajwid yang muncul,” terang mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Malang itu. Setelah semua materi hukum tajwid disampaikan, tim dan ustadz melakukan posttest. Tujuannya, untuk melihat apakah ada peningkatan pemahaman peserta setelah program berakhir. Kepuasan mitra juga dilihat melalui penyebaran angket. “Alhamdulillah, hasilnya memperlihatkan kalau peserta di TPQ mitra mengalami peningkatan kemampuan pemahaman materi hukum tajwid setelah program ini dilaksanakan. Respon mitra terhadap keseluruhan program juga sangat baik,” tuturnya bersemangat. Tak berhenti di situ, sebagai tindak lanjut, Safira dan tim melakukan kaderisasi kepada pengelola TPQ dan mengajak masyarakat di luar TPQ Shirotol Mustaqim untuk bergabung secara online. Tim mempublikasikan program melalui Instagram yaitu @e.nasyid20 dan akun Youtube Studi Tajwid E-Nasyid kemudian merekrut peserta didik dengan rentang usia 12 – 17 tahun serta usia anak melalui pendampingan orang tua melalui pengisian Google Form. Dimintai keterangan atas keberhasilan tim ini, Siti Khoiruli Ummah, dosen pembimbing, mengaku bersyukur dan bangga. Apalagi, kegiatan ini punya luaran lain yakni HKI dan publikasi ilmiah. Ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa. “Bersyukur dan bangga ya… Alhamdulillah program berjalan dengan lancar. Kelompok ini akhirnya juga bisa mendapatkan HKI untuk buku pedoman pelaksanaan program dan publikasi artikel ilmiah di Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Madani. Ini tentu sangat bermanfaat bagi mahasiswa. Tidak hanya pengalaman, tetapi juga produk nyata yang berkontribusi untuk portofolio mereka,” papar Ulli. Kelompok ini hakikatnya adalah tim PKM UMM pada skim PKMM yang telah lolos PKP 2. Mereka akan berlaga pada PIMNAS 33 yang digelar secara online, 24-29 November 2020. (*fid)

Dinda dan Nafysah Menangi Lomba Poster Mahasiswa Nasional BAPOMI Jawa Timur

 Selasa, 10 November 2020 08:52 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mengawali bulan November, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang kembali torehkan prestasi. Adalah Dinda Erlinda dan Durrotun Nafysah, mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, yang berhasil menyabet juara III lomba poster mahasiswa nasional yang digelar oleh Badan Pembina Olah raga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) Jawa Timur. Kemenangan ini disampaikan lewat Surat Keputusan Hasil Lomba KTI dan Poster Mahasiswa Nasional Tahun 2020 BAPOMI Jawa Timur,  Rabu (4/11/2020). Ya, lewat poster berjudul “Pentingnya Pembinaan Bola Basket”, Dinda dan Nafysah berhasil menyingkirkan 239 poster lainnya. Setidaknya, ada tiga muatan informasi yang disampaikan Dinda dan Nafysah dalam poster tersebut, yakni hakikat pembinaan olah raga, pentingnya pembinan olah raga bola basket, dan peran pemerintah dalam pembinaan olahraga bola basket. “Pembinaan olahraga bola basket menurut kami sangat penting. Olahraga ini sebenarnya adalah olahraga yang sudah umum atau populer, tetapi nyatanya belum semua daerah memahami dan melakukan pembinaan terhadap cabang olahraga ini, terutama di daerah yang notabenenya daerah pelosok. Kegiatan ini dapat memotivasi para pelajar, meningkatkan daya tarik, mengembangkan potensi para pelajar, dan meningkatkan prestasi olahraga dalam mengikuti kompetisi Prokab, Proprov, hingga PON,” tambah Dinda saat diwawancarai via WhatsApp, Senin (9/11/2020). Ditanya ihwal kemenangannya, Dinda mengaku tidak menyangka bisa menjadi pemenang. Pasalnya, poster ini hakikatnya adalah produk mata kuliah Kajian Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Sekolah Dasar yang diampu oleh Frendy Aru Fantiro, M.Pd. “Jujur, saya tidak pernah menyangka bisa menang karena awalnya cuma memenuhi tugas dan ikut berpartisipasi saja. Tapi, saya mulai optimis untuk menang setalah pengumuman lolos seleksi 20 besar. Dari situ saya dan teman saya menyiapkan materi yang akan dipresentasikan dengan sungguh-sungguh dan akhirnya berhasil mendapat juara tiga,” tutur Dinda. Atas pencapaian ini, Arina Restian, ketua Prodi PGSD mengaku bangga dan berharap kedua mahasiswa ini dapat terus mengasah potensi agar bisa bersaing pada jenjang yang lebih tinggi. “Alhamdulillah sangat bangga memiliki mahasiswa berprestasi. Saya ucapakan Selamat dan sukses atas kemenangan lomba poster Bapomi Jatim kepada Dinda Erlinda Durrotun Nafysah. Semoga bisa terus mengasah potensi dan kemampuan untuk bersaing secara nasional maupun International,” ungkap Arina. Capaian ini membuktikan formula SAL Experience yang merupakan akronim dari Student Active Learning Experience Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP UMM berhasil menyajikan perkuliahan yang inovatif, kreatif, bermakna dan menyenangkan bagi mahasiswa. Hal inilah yang mendorong mahasiswa untuk terus mengukir prestasi. (fid)

Webinar dan Launching Bunga Rampai, Cara Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM Rayakan Bulan Bahasa

Rabu, 28 Oktober 2020 14:21 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Foto: Dr. Sugiarti, M.Si saat Launching Bunga Rampai Malang-Dalam rangka merayakan Bulan Bahasa tahun 2020, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM luncurkan bunga rampai “Kesatuan dalam Keberagaman: Paradigma Mutakhir Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya”, Selasa (28/20/2020). Buku ini berisi sepuluh 10 pemikiran dosen dalam merespon isu terkini yang sedang berkembang. “Tema yang ditulis beragam, mulai dari permasalahan pembelajaran dalam situasi pandemi, strategi kebijakan internasionalisasi bahasa Indonesia, hingga perkembangan paradigma mutakhir dalam kajian bahasa dan sastra. Semua itu adalah wujud kontribusi yang ingin kami berikan terhadap pembangunan nasional, terutama dalam hal pembangunan ‘manusia’ Indonesia,” tutur Dr. Sugiarti, M.Si., Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia. Wakil Rektor I UMM memberikan apresiasi yang tinggi atas peluncuran bunga rampai ini. Begitu juga Dekan FKIP. Menurut Dekan FKIP, bunga rampai ini adalah bukti komitmen akademik Prodi Bahasa Indonesia dalam memberikan sumbangan pemikiran terhadap kondisi terkini. “Kehadiran bunga rampai ini menunjukkan komitemen akademik tim dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dalam memberikan sumbangan pemikiran terhadap peran bahasa, sastra, dan pembelajaran sesuai dengan kondisi yang ada. Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas dedikasi dan komitmen yang diberikan demi terselesaikannya buku ini,” terang Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes. Seremonial peluncuran bunga rampai dilangsungkan dalam acara seminar tahunan Prodi, yakni Seminar Nasional Bahasa dan Sastra 4 (SENASBASA 4). Acara diikuti oleh 48 pemakalah dan 174 peserta. Mengangkat tema “Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya di Masa Pandemi”, seminar ini menghadirkan tiga pemateri utama yakni Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra (Universitas Udayana), Prof. Dr. Suwardi endraswara, M.Hum (Universitas Negeri Yogyakarta), dan Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si (Universitas Muhammadiyah Malang). Ketiga pemateri utama tersebut membedah tema utama dengan perspektif yang beragam. Pemateri pertama, Prof. Darma Putra, membahas wacana pandemi di media masa dalam perspektif analisis wacana kritis. Teks memiliki dimensi yang sangat kompleks. Menurutnya, makna tidak bersifat tunggal karena terdapat dimensi kesadaran dan ketaksadaran dalam teks. Karenanya sering ditemukan penafsiran-penafsiran yang beragam. Bahkan, seringkali kuasa dapat menentukan makna sebuah teks. Di sisi lain, pemateri Kedua, Prof. Endraswara, menyoroti kajian posthumanisme sastra di masa pandemi. Dalam paparannya, ia menggarisbawahi pentingnya perspektif posthumanisme untuk membedah karya sastra untuk menghasilkan ketepatan interpretasi. Berbeda dengan dua pembicara sebelumnya, Prof. Syamsul membahas kemanusiaan, keberagaman, dan pendidikan di masa pandemi dalam kerangka esai-esai populer yang telah ditulisnya. “Pendidikan adalah proses humanisasi. Pada situasi ini kita sudah mulai berdamai dengan situasi yang terjadi, tetapi kita kehilangan sentuhan manusia. Interaksi hilang. Meskipun ekosistem bagus, tetapi ada bagian-bagian fundamental dalam kehiduan manusia yang tidak bisa dilayani teknologi secanggih apa pun. Di sini, mutlak tatap muka fisik tetap diperlukan,” terang Prof. Syamsul yang juga menjabat sebagai wakil Rektor I UMM ini. (*/FP)

APERTELA: Solusi Pembelajaran Teks Laporan hasil Observasi untuk Siswa SMA

 Selasa, 22 September 2020 16:28 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan foto : istimewa Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP UMM ciptakan aplikasi APERTELA, aplikasi pembelajaran teks laporan hasil observasi. Adalah Annisauf Fadlilah Khoiri, Mohammad Nuryasin, dan Hafida Isnaini yang menggagas aplikasi berbasis multimodal games based learning tersebut. Ide pembuatan aplikasi ini bermula dari fakta masih dirasa sulitnya mata pelajaran bahasa Indonesia, utamanya pada materi teks laporan hasil observasi. Ya, salah satu pembelajaran yang sulit bagi siswa kelas X SMA adalah teks laporan hasil observasi. Pasalnya, struktur teks dan aspek kebahasaannya cukup kompleks. Tak hanya itu, teks laporan hasil observasi menuntut siswa untuk mampu membaca dan menulis berdasarkan informasi, data, dan fakta dari kegiatan observasi atau pengamatan. Dari segi media pembelajaran, sejauh ini media pembelajaran yang ada dan digunakan guru cenderung masih media pembelajaran konvensional. “Materinya sulit. Media pembelajaran juga masih konvensional,” tutur Annisa. APERTELA merupakan aplikasi yang menyajikan materi dan contoh teks laporan hasil observasi. Untuk menambah ketertarikan siswa dalam belajar, tersedia pula permainan tentang teks laporan hasil observasi. “Tujuan dibuatnya aplikasi APERTELA ini untuk memudahkan guru dan siswa dalam pembelajaran teks laporan hasil observasi. Di dalamnya, terdapat fitur materi, kuis, dan permainan yang dapat menarik minat, motivasi, kemandirian siswa dalam belajar serta materi disajikan secara lengkap dan disertai contoh-contoh,” terang Annisa saat dimintai keterangan. Materi mencakup konsep dasar, ciri-ciri, struktur, serta aspek kebahasaan teks laporan hasil observasi. Kuis berisi soal-soal tentang aspek kebahasaan teks lapaoran hasil observasi, serta aktivitas membaca dan menulis teks laporan hasil observasi. Pertanyaan dalam kuis berubah dan bervariasi pada setiap levelnya, disusun berdasarkan tingkat kesulitannya. Semakin tinggi levelnya semakin sulit kuisnya sehingga pengguna lebih tertantang dan percaya diri dalam menyelesaikan kuisnya. Keunikan aplikasi ini juga tampak pada level-level permainannya. Ada 5 level dengan 2 setting pada setiap levelnya. Jika pemain berhasil menjawab semua kuis pada setiap level, ada bonus tambahan dalam bentuk pengayaan materi. “Setting mencakup latar tempat, mulai dari yang terdekat dengan siswa hingga setting yang mengandung nilai edukasi, budaya, sosial, dan lingkungan, seperti setting di museum, alam, dan lingkungan sosial,” imbuh Annisa. Aplikasi ini merupakan salah satu karya kreatif mahasiswa yang mendapatkan pendanaan pada Program Kreativitas Mahasiswaa (PKM) dari Dikti. Ke depan, diharapkan aplikasi APERTELA ini dapat diimplementasikan secara langsung di sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia. (*fp)

Suci Puspita Sari, Wisudawan Terbaik FKIP yang Hobi Menulis

Rabu, 16 September 2020 11:11 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dok : istimewa Lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP UMM, Suci Puspita Sari patut berbangga hati. Pasalnya, ia ditetapkan sebagai wisudawan terbaik FKIP pada wisuda periode II Tahun 2020 Universitas Muhammadiyah Malang, Selasa (15/09/2020). Suci, sapaan akrabnya, lulus dengan raihan IPK 3,95 dan masa studi 3 tahun 9 bulan. Wanita kelahiran Payolebar 30 Januari 1997 itu mengaku tidak menyangka bisa menjadi lulusan terbaik. “Sejujurnya, saya tidak menyangka bisa menjadi lulusan terbaik FKIP. Selama ini, saya hanya berusaha melakukan semaksimal yang saya bisa supaya saya bisa lulus tepat waktu,” ungkapnya. Sejak menjadi maba, Suci sudah aktif dalam dunia tulis-menulis. Ini tak lepas dari luaran perkuliahan yang berbasis produk dan motivasi serta fasilitasi dosen. Alhasil, beberapa karyanya dipublikasikan di media massa, di antaranya resensi buku “Pedoman dalam Pendidikan” (2016), Opini “Keluargaku, Cerminan Karakterku” (2017), resensi buku “Degradasi Etika Sosial dalam Potret Masyarakat Jawa” (2018), dan Opini “Membangun Sikap Kritis Melalui Keterampilan Membaca” (2019). Selain itu, artikelnya yang berjudul “Makna dan Relevansi Simbolik Mantra Siraman Gong Kyai Pradah Lodaya dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Lodaya, Blitar” di Jurnal Aditya, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Muhammadiyah Purworejo. Baginya, menulis bukan hanya sekadar hobi, melainkan kebutuhan. Dengan menulis, ia bisa mengingat kembali pengetahuan yang diperoleh sebelumnya dan sekaligus meng-upgrade pengetahuan melalui aktivitas penelusuran pustaka. “Ketika menulis, pasti kita mengingat kembali pengetahuan yang sebelumnya didapat. Kita juga pasti melakukan aktivitas membaca untuk memperkuat dan memperdalam gagasan atau argumentasi kita. Jadi, menulis bagi saya bukan hanya hobi, tapi kebutuhan. Kebutuhan untuk selalu meng-upgrade pengetahuan dalam rangka pengembangan diri,” tuturnya bersemangat. Keseriusannya dalam bidang menulis ini kemudian mengantarkannya menjadi editor lepas penerbit ternama sejak semester 3. Pada semester 3, Suci menjadi editor soal Ujian Nasional (UN) dan kunci jawaban penerbit Erlangga. Lalu, pada semester 4, ia menjadi editor lepas buku teks pelajaran SMP dan SMA Penerbit Grasindo. Di samping melakoni perkuliahan dan mendalami hobi menulis, Suci juga aktif dalam organisasi HMJ. Baginya, organisasi penting untuk mengasah jiwa sosial, kepemimpinan, dan pemecahan masalah. “Intinya saya tidak ingin melewatkan semua kesempatan yang membuat kualitas diri saya menjadi lebih baik. Kuliah jalan, hobi jalan, organisasi juga jalan. Tapi, prioritas pasti akademik karena itu amanah utama dari orang tua,” imbuhnya. Rencananya, Suci akan melanjutkan studi ke jenjang pendidikan selanjutnya (S2). Keinginan itu sempat terbentur izin kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai petani yang terdampak pandemi. Namun, melihat kegigihan dan prestasi Suci, mereka akhirnya luluh dan memberi restu. “Alhamdulillah, setelah melihat Suci dapat IPK tertinggi saat yudisium beberapa bulan lalu, orang tua mengizinkan, dengan catatan, tetap di Malang dan tetap di UMM. Saya pun inginnya juga sama, tetap di UMM karena sudah nyaman dengan kampus dan dosen-dosennya. Apalagi di UMM menyediakan beasiswa untuk alumni,” tutupnya.

Inovatif! Mahasiswa FKIP UMM Rancang Aplikasi Penguatan Karakter Berbasis Keluarga

Minggu, 13 September 2020 10:20 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Foto: Asmaul Farida Azizi bersama Aplikasi Child In Angka kekerasan anak di Indonesia masih terus mengalami peningkatan. Grafik  keterlibatan anak dalam ranah hukum pun masih tinggi. Itu artinya, ada hak anak yang belum terpenuhi sehingga timbul penyimpangan pada anak dan/atau penyimpangan oleh anak. Permasalahan ini sebenarnya bisa diatasi dengan mengoptimalkan peran keluarga dalam hal penguatan karakter anak. “Keluarga merupakan institusi sosial dengan sifat universal multifungsional, yaitu fungsi pengawasan, sosial, pendidikan, keagamaan, perlindungan, dan rekreasi. Fungsi tersebut dapat dimaksimalkan untuk meningkatkat kualitas karakter anak,” ungkap  Asmaul Farida Azizi, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang. Berangkat dari kegelisahan itu, Asmaul Farida Azizi bersama Alfi Khoiru An Nisa dan M. Bagas Prayoga, di bawah bimbingan Fida Pangesti, S.Pd., M.A., menggagas aplikasi penanaman karakter anak berbasis keluarga bernama Child In. Aplikasi Child In  berfokus pada tiga dari lima klaster yang ditentukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, yaitu lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya, dan perlindungan khusus. Aplikasi Child In ini memiliki enam fitur, yakni konsultasi, pengaduan, karakter literasi, info parenting, jadwal anak, serta wisata dan event budaya. Fitur konsultasi menyediakan layanan konsultasi untuk orang tua, fitur pengaduan menyediakan layanan pengaduan terhadap pelanggaran hak anak di sekitar pengguna aplikasi, fitur karakter literasi menyediakan bahan bacaan karakter yang disesuaikan dengan usia anak, fitur parenting menyediakan informasi-informasi pola asuh anak,  fitur jadwal anak menyediakan ruang bagi orang tua untuk membuat jadwal aktivitas anak, sedangkan fitur wisata dan event budaya menyediakan informasi objek wisata budaya dan kegiatan budaya di sekitar pengguna aplikasi. Menariknya, fitur-fitur yang ada langsung terhubung dengan pihak-pihak terkait sehingga layanan dan informasi yang diberikan benar-benar tepat. “Fitur konsultasi tersambung dengan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga). Jadi, para orang tua akan mendapatkan masukan-masukan atau bimbingan yang tepat tentang pola asuh anak. Fitur pengaduan terhubung dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sehingga semua pengaduan pelanggaran hak anak akan teratasi dengan cepat dan tepat. Kemudian, fitur wisata budaya terhubung dengan dinas pariwisata,” sambung mahasiswa berprestasi yang tengah menempuh perkuliahan semester tujuh ini. Karya kreatif ini adalah salah satu karya Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) jenis Karsa Cipta yang didanai oleh Dikti pada tahun 2020 ini. Melalui karya kreatif ini, diharapkan para orang tua mendapatkan medium yang andal dalam mengasuh putera-puterinya untuk menjadi generasi Indonesia yang berkarakter unggul. (*fid)

Gandeng Lafinus UGM, Prodi PPKn Gelar Pelatihan Inonvasi Pembelajaran Pancasila

Minggu, 09 Agustus 2020 11:14 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Malang bekerjasama dengan Lafinus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada menggelar webinar bertajuk “Pelatihan Inovasi Pembelajaran Pancasila Yang Menyenangkan Dan Bermakna”, Kamis (6/08/2020), via zoom meeting. Acara yang berlangsung pada pukul 09.00 sampai dengan pukul 15.00 dan diikuti 100 peserta yang merupakan guru mata pelajaran PPKn tingkjat SMP dan SMA dibuka secara langsung oleh dekan FKIP UMM, Dr. Poncijari Wahyono, M.Kes. Dimoderator oleh Moh. Wahyu Kurniawan, S.Pd., M.Pd, acara terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama merupakan sesi materi oleh Prof. Dr. Kaelan, M.S dan Dr. Trisakti Handayani, M.M. Prof. Dr. Kaelan, M.S secara khusus mengkaji tentang substansi atau keilmuan Pancasila. Disebutkan dalam paparannya, Pancasila merupakan dasar negara atau philosofische grondslag yang bersumber dari nilai, adat istiadat, kebudayaan, dan agama. Selain sebagai dasar negara atau philosofische grondslag, Pancasila juga mempunyai kedudukan dan fungsi sebagai pandangan hidup bangsa atau way of life. Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hokum. Oleh karenanya, merupakan hal yang fatal jika Pancasila dimasukkan dalam undang-undang. “Pancasila sebagai ideologi negara letaknya pada puncak tertinggi. Jadi tidak boleh jika dimasukkan dalam Undang-Undang,” terang Kaelan. Berbeda dengan Prof. Kaelan, Dr. Trisakti Handayani, M.M mengupas praktik pembelajaran Pancasila. Melalui makalah berjudul “Pembelajaran Pendidikan Pancasila Berorientasi Abad 21”, Trisakti membagikan strategi pengembangan pembelajaran Pancasila pada abad 21. Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah merubah paradigma tentang pembelajaran Pancasila yang membosankan menjadi pembelajaran Pancasila yang menyengkan. Cara yang harus dilakukan adalah meningkatkan kompetensi guru mulai dari kompetensi pedagogi, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Selain itu, dalam pembelajaran guru juga harus menerapkan pendekatan TPACK, pembelajaran berbasis HOTS, dan menggunakan media-media pembelajaran yang berorientasi pada abad 21. “Guru saat ini juga harus menerapkan pendekatan TPACK, pembelajaran berbasis HOTS, dan menggunakan media-media pembelajaran yang berorientasi pada abad 21. Dengan begitu, guru Pendidikan Pancasila akan bisa memberikan pembelajran yang menyenangkan dan bermakna ke dalam kelas. Jadilah guru yang memesona, guru yang dirindukan!” ujar dosen senior Prodi Pancasila dan Kewarganegaraan FKIP UMM itu bersemangat. Pada sesi kedua, Dr. Heri Santoso, M.Hum dan Surono, M.A mengisi webinar memberikan pelatihan pembelajaran Pancasila. Kedua pemateri memberikan tips dan trik bagaimana agar pembelajaran Pancasila tidak terkesan “garing”. Para peserta pun mengikuti kegiatan hingga akhir dengan antusias. (*fid/ros/rif)

72 Dosen FKIP dan 54 Guru Pamong Ikuti Penyegaran PPG Dalam Jabatan 2020

Senin, 20 Juli 2020 23:30 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang—Prodi Pendidikan Profesi Guru FKIP UMM gelar seremonial pembukaan Penyegaran Bagi Calon Dosen dan Guru Pamong Angkatan 1 PPG dalam Jabatan Tahun 2020, Senin (20/07/20). Acara digelar melalui video conference dan disiarkan secara langsung di youtube channel FKIP UMM OFFICIAL. Dr. Trisakti Handayani, M.M., Ketua Prodi PPG, dalam laporannya mengatakan, kegiatan ini merupakan tahap persiapan dalam melaksanakan PPG Dalam Jabatan Angkatan I Tahun 2020 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Agenda inidilaksanakan berdasarkan Surat Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Inonesia Nomor: 2166/B2/GT/2020 sebagai bentuk persiapan pelaksanaan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang bertujuan untuk pembekalan dalam melaksanakan PPG Dalam Jabatan Angkatan I yang akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2020,” ungkap Trisakti. Lebih lanjut, Trisakti mengungkapkan, ada 72 dosen dan 54 guru pamong dari sekolah mitra FKIP pada bidang studi Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan PGSD yang menjadi peserta di kegiatan ini. Para peserta akan mengikuti program intensif selama 5 hari, 20—24 Juli 2020, secara daring. “Kegiatan dilaksanakan selama 5 hari pada Seninsampai denganJumat, 20 sampai dengan 24 Juli 2020, secara daring melalui aplikasi video conference dan LMS,”tambah Trisakti. Dalam menjalani 5 hari dengan materi yang padat itu, dekan FKIP, Dr.Poncojari Wahyono, M.Kes. berpesan agar para peserta mengikuti kegiatan dengan serius tetapi santai sehingga semua peserta lulus dan secara resmi dinyatakan menjadi dosen dan guru pamong PPG. (*Sin)

Pakar Pendidikan Kewarganegaraan: Nurul Zuriah “PKn Berkemajuan Membentuk Indonesia Paripurna”

Selasa, 30 Juni 2020 20:00 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan   Kita Satu Kita Pancasila, Program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FKIP UMM telah menjadi investasi yang sangat tepat bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan wawasan kebangsaan dan cinta tanah air. ”PPKn itu mata pelajaran yang diajarkan mulai dari jenjang pendidkkan dasar hingga Sekolah Menengah Atas, bahkan di Perguruan Tinggi mata kuliah ini masih diajarkan. Pentingnya Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di masa pandemi seperti ini akan membentuk smart and good citizen dengan membentuk sikap peduli sosial”, ujar Ibu Dr. Nurul Zuriah, M.Si dalam acara #PDKTFKIP Episode 3, (Senin, 29/06/2020). Program unggulan yang disandang oleh Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yakni twinning program. Bagi mahasiswa yang ingin memperoleh dua gelar sekaligus yaitu S.Pd dan S.H dapat mengikuti program tersebut. Sedangkan Jargon PKn berkemajuan dikembangkan dari tag line UMM yaitu Dari Muhammadiyah Untuk Bangsa. Konsep berkemajuan sebenarnya berasal dari muktamar ke 46 di Yogyakarta yaitu Gerakan Islam Berkemajuan. Jadi PKn berkemajuan adalah pengajaran PKn yang diinternalisasikan dengan nilai-nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan atau AIK. Di akhir acara Nurul mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia yang berkemajuan untuk bergabung di Prodi PPKn guna mengkaji secara bersama-sama tentang PKn berkemajuan menjadi sebuah paradigma baru untuk Indonesia yang berkemajuan. Indonesia yang berkemajuan adalah Indonesia yang paripurna. “Salam sehat dan bermartabat, PPKn UMM siap berjihat demi kemajuan umat. Mari bergabung bersama-sama!” tutupnya. (*Sin)

Tutup Ramadhan, Prodi Pendidikan Matematika Maraton 5 Webinar

Sabtu, 23 Mei 2020 13:04 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang—Prodi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang menyelenggarakan serangkaian webinar, Selasa (19/05/20) hingga Jumat (22/05/20). Acara ini digelar dalam rangka merespon kondisi pembelajaran Matematika di masa pandemi dan sekaligus menutup ramadhan 1441 H. Meski dilakukan dalam 4 hari nonstop, para peserta tetap bersemangat. Terbukti, tak kurang dari 130 peserta terlibat secara aktif dalam setiap sesinya. “Sosiograph: Jalur Persahabatan dalam Kelas Matematika” menjadi pilihan tema pada hari pertama, Selasa (19/05/20). Di hadapan 220 peserta, Dr. Sri Adi Widodo, M.Pd. memaparkan ihwal Sosiograph dan bagaimana penerapannya dalam pembelajaran Matematika. “Sosiograph awalnya merupakan research untuk melihat jejaring di dunia IT, yaitu jaringan persahabatan pada dunia virtual. Ini kemudian saya terapkan dalam konteks pembelajaran Matematika. Dengan melihat jalur persahabatan pada kelas Matematika, sosiograph ini dapat digunakan oleh guru sebagai referensi dalam menentukan pembagian kelompok siswa/mahasiswa dan memilih metode pembelajaran yang tepat,” terang dosen Pendidikan Matematika Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta itu. Mengangkat tema “Islamisasi Pendidikan Matematika dan Pembelajaran Matematika Daring yang Menarik”, Webinar hari kedua, Rabu (20/05/20), menghadirkan Muhammad Ammar Naufal, S.Pd, M.Ed. Dalam paparan awalnya, Ammar menegaskan, Matematika dan Islam adalah dua hal yang terikat satu sama lain. Hal itu kemudian dibuktikan dengan contoh-contoh yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadist. “Sebagai contoh hadis Bukhari dan Muslim, Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman ‘Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan. Barang siapa meminta kepada-Ku niscaya akan aku penuhi, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku niscaya aku ampuni’. Bagi seseorang yang tidak memahami matematika yaitu pecahan, dia tidak akan tahu kapankah sepertiga malam itu. Begitulah salah satu contoh bahwa matematika dan Islam itu berkaitan”, jelas kandidat PhD jurusan School of Education University Teknologi Malaysia itu bersemangat. Tak kalah menarik, webinar hari ketiga, Kamis (21/05/20), bertajuk “Kuliah Daring: Antara Tantangan dan Harapan”. Tema ini dibedah oleh Rahmatya Nurmeidina, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. Sejalan dengan tema yang diangkat, Rahmatya mengurai pembelajaran daring pada masa pandemi covid-19 saat ini, mulai dari hasil penelitian tentang pembelajaran daring, tantangan pembelajaran daring, serta tips-tips pembelajaran daring yang kreatif dan menyenangkan. Para peserta pun menunjukkan antusiasme yang tinggi. Pasalnya, materi yang disajikan sesuai dengan pengalaman para peserta. “Ibu Tya mewakili perasaan kami sebagai mahasiswa bahwa pembelajaran daring ini menjadi tantangan tersendiri dan berharap dosen menggunakan video tentang materi pada pembelajaran sehingga membuat kami paham” tutur salah satu audience mahasiswa. Hari terakhir webinar, Jumat (22/05/20), seakan menjadi benang merah dari rangkaian Webinar ini. Pasalnya, tema yang diangkat dan pemateri yang dihadirkan tak main-main. Sesi pagi bertema “Meraih Fadhilah Sepuluh Hari Terakhir di Bulan Ramadhan” oleh Fajar Islami Human, S.Ag., dari majelis keilmuan PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah) Pakistan. Dalam kesempatan itu, Fajar menjelaskan amalan-amalan yang harus diperbanyak pada jelang tutup ramadhan kepada 150 peserta yang hadir secara virtual melalui Google Meet. Menurut Fajar, yang harus diperbanyak adalah istigfar dan taubat dengan sebenar-benarnya taubat. Dan, yang paling utama adalah istiwamah dalam menjalankan amalan ramadhan pasca ramadhan. “Yang paling penting dari semua hal itu justru ketika ramadhan berlalu. Apakah kita bisa mempertahankan hal-hal baik selama ramadhan ini atau tidak? Tentu, harapannya kita bisa istiqamah”, tandasnya. Sementara itu, sesi sore mengangkat tema “Islam dan Matematika” oleh Fathu Rabbani, Lc., Sekretaris Majlis Tarjih Tajdid PCIM Mesir. Tema ini semakin menguatkan apa yang disampaikan Muhammad Ammar Naufal, S.Pd, M.Ed pada hari kedua Webinar. Fathu memberi beragam contoh teori Matematika yang termuat dalam ayat-ayat Al-Quran. Contoh-contoh tersebut beserta penjabarannya semakin menguatkan pemahaman peserta. Tak hanya pemahaman, rasa cinta pada Matematika pun semakin menguat. “Momen ramadhan ini kami pikir menjadi momen yang baik untuk memberi highlight bahwa Matematika dan Islam tidak bersifat dikotomis. Keduanya saling berkaitan dan kemudian dari Matematika inilah keimanan dan ketaqwaan kita semakin kokoh. Di samping itu, situasi pandemic covid-19 yang memberi tantangan luar biasa, baik bagi guru maupun siswa dalam konteks pembelajaran  Matematika ini juga harus direspon. Itulah alasan mengapa Islam dan Pembelajaran Matematika  menjadi dua ruh utama dalam Webinar ini. Dan kami bersyukur apa yang kami selenggarakan ini mendapat respon positif dari para peserta. Melalui diskusi-diskusi ini, saya berharap ada berbagai hal baik yang bisa mereka ambil,” pungkas Siti Khoiruli Ummah, M.Pd, ketua pelaksana webinar, di sela acara. (*FP)