Mahasiswa PGSD FKIP UMM Teliti Nilai Luhur Budaya Mberot untuk Bentengi Generasi Alpha

Pertunjukan Mberot (Ringkasan Radar Malang) Berita FKIP —Fenomena kesenian mberot di Malang Raya tengah menjadi sorotan. Popularitasnya semakin meluas, tercatat ada sekitar 1.336 kelompok bantengan yang menaungi kesenian tersebut: 980 kelompok berada di Kabupaten Malang, 243 di Kota Malang, dan 85 di Kota Batu. Kesenian rakyat ini tidak hanya digemari masyarakat umum, tetapi juga diikuti oleh anak-anak usia sekolah dasar, atau yang kini dikenal sebagai generasi alpha. Namun, di balik maraknya pertunjukan, budaya mberot sering dikaitkan dengan stigma negatif. Beberapa pentas justru berujung ricuh, bahkan pernah memunculkan aksi saling serang antarkelompok dengan senjata tajam. Situasi semacam itu diperparah oleh praktik konsumsi minuman keras dan tindakan gaduh yang melingkupi pertunjukan. Kekhawatiran pun muncul, terutama karena generasi alpha yang terlibat masih berada pada tahap perkembangan psikososial yang rentan meniru perilaku di sekitarnya. Kondisi inilah yang menggerakkan sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menginisiasi penelitian dalam skema Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH). Penelitian yang diketuai oleh Meilisa Tri Adinda Putri dengan anggota Febina Serlina Efendi, Fitria Maharani, Anaa Maulida Azura, dan Wiga Septiyan Vindiani ini bertajuk “Gayenge Malang: Kajian Pambudi Luhur Budaya Mberot Menggunakan Metode Gioia untuk Mitigasi Pergeseran Karakter Generasi Alpha di Wilayah Malang.” “Selama ini berot lebih sering dilihat dari sisi negatif, padahal di dalamnya tersimpan nilai-nilai luhur yang justru bisa membentuk karakter anak-anak,” ujar Meilisa saat ditemui di kampus UMM. Menurutnya, melalui pendekatan penelitian yang tepat, kesenian ini berpotensi menjadi media pendidikan karakter yang kontekstual sekaligus melestarikan budaya lokal. Dalam penelitian tersebut, tim menggunakan metode Gioia, sebuah teknik analisis kualitatif yang memungkinkan peneliti menggali data secara mendalam. Observasi lapangan dilakukan di Kabupaten Malang, antara lain Desa Tajinan dan Kecamatan Turen, serta di Kota Malang dan Batu. Para peneliti mewawancarai pelaku mberot usia sekolah dasar, pemilik sanggar, guru, kepala sekolah, hingga penonton pertunjukan. Dokumentasi kegiatan juga dikumpulkan untuk memperkaya data. Hasil penelitian mengungkap bahwa nilai-nilai pambudi luhur yang terkandung dalam budaya mberot mencakup tiga aspek utama: nilai moral etika, kearifan lokal, serta nilai religius spiritual. Dari ketiganya, aspek etika moral dan kearifan lokal tampak lebih dominan. Temuan ini menjadi bukti bahwa berot sesungguhnya tidak semata-mata soal pemandangan fisik, melainkan ruang internalisasi nilai yang relevan bagi generasi muda. Dyah Worowirastri Ekowati, S.Pd., M.Pd., dosen pembimbing penelitian, menekankan pentingnya reposisi makna mberot . “Jika kita hanya menonjolkan perilaku-perilaku negatif saat pertunjukan, maka memberot akan terus dicap negatif. Padahal, ada filosofi pambudi luhur yang bisa kita gali. Mahasiswa perlu hadir untuk mengembalikan esensi budaya ini sebagai sarana karakter pendidikan,” ungkapnya. Melalui penelitian ini, tim berharap dapat menawarkan strategi mitigasi untuk mengurangi potensi penyimpangan nilai dalam praktik memberot . Salah satunya dengan menyusun panduan berbasis nilai pambudi luhur yang dapat diterapkan di sanggar maupun sekolah dasar. Strategi ini diharapkan mampu mengarahkan generasi alpha agar menjadikan memberot sebagai wadah pembelajaran moral, sosial, dan spiritual, alih-alih hanya tontonan hiburan yang rawan disalahgunakan. “Harapan kami, hasil penelitian ini bisa menjadi kontribusi nyata dalam dua hal. Pertama, melestarikan budaya lokal dengan cara yang lebih bijak. Kedua, memberikan alternatif pendidikan karakter yang dekat dengan keseharian anak-anak di Malang Raya,” tutur Meilisa. Dengan penelitian ini, mahasiswa UMM berusaha menunjukkan bahwa budaya lokal tidak seharusnya dipandang sebelah mata. Alih-alih dibiarkan tergerus stigma negatif, berot dapat dikembalikan ke akarnya: sebagai sarana pembentukan karakter yang membumi, penuh nilai, dan relevan bagi generasi penerus. (*fd)

Mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP UMM Belajar Sirkular Ekonomi dari TPA BLE Banyumas

FKIP News–Pengelolaan sampah kini tidak lagi dipandang sebatas persoalan lingkungan, melainkan juga sebagai sumber pembelajaran kontekstual yang bermakna. Hal itu tercermin dalam kegiatan Studi Lapang Terintegrasi (SLT) 2025 bertema “Biodiversitas: Edukasi Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan” yang digelar Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada Rabu (23/7/2025) lalu, rombongan mahasiswa mengunjungi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Berbasis Lingkungan dan Edukasi (BLE) di Banyumas, Jawa Tengah. Kepala UPT TPA BLE, Edi Nugroho, menyambut baik kehadiran mahasiswa Pendidikan Biologi UMM. Ia menegaskan bahwa keberhasilan Banyumas dalam mengelola sampah tidak terlepas dari kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan aktif masyarakat. “Baik secara individu maupun melalui Kelompok Sadar Masyarakat (KSM), masyarakat ikut berperan dalam memilah dan mengolah sampah. Hasilnya, tidak semua sampah berakhir di TPA. Sebagian besar sudah diproses secara mandiri di tingkat rumah tangga,” ujarnya. Menurut Edi, sistem yang terstruktur dari hulu hingga hilir menjadikan Kabupaten Banyumas sebagai rujukan nasional dalam pengelolaan sampah berkelanjutan. Di TPA BLE, pendekatan sirkular ekonomi diterapkan secara nyata, mulai dari pemanfaatan sampah organik menjadi pakan maggot dan pupuk kasgot, hingga pengolahan sampah anorganik menjadi bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF). Dosen pendamping Prodi Pendidikan Biologi, Fuad Jaya Miharja, M.Pd., menilai kunjungan ini memberi pengalaman belajar yang kaya. “Ini bukan sekadar observasi lapangan. Mahasiswa belajar bagaimana mengubah cara pandang terhadap sampah—dari limbah menjadi sumber daya ekonomi dan media edukasi,” katanya. Ia menambahkan, praktik di TPA BLE sejalan dengan arah pembelajaran Prodi Biologi UMM yang tidak berhenti pada teori, tetapi mendorong mahasiswa membumikan konsep dalam kehidupan sehari-hari. Fuad mencontohkan, salah satu mahasiswanya bahkan sudah mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis proyek untuk mengolah limbah plastik menjadi paving block, terinspirasi dari praktik di TPA BLE. Sementara itu, Citra Lesmana, mahasiswa peserta SLT, mengaku terkesan dengan sistem di TPA BLE. “Saya terkejut, tidak seperti TPA pada umumnya yang bau menyengat. Di sini, bau hampir tidak terasa,” ungkapnya. Ia mengaku belajar banyak tentang konsep sirkular ekonomi dan bagaimana hasil olahan sampah dapat kembali memberi manfaat, mulai dari bahan bakar, pakan unggas, hingga pupuk. (*Tut/fd)

Prodi PPKn FKIP UMM Gelar Seminar Internasional, Bahas Pendidikan Multikultural di Era AI

FKIP News–Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sukses menggelar seminar internasional bertajuk “Transformasi Pendidikan Multikultural melalui Kecerdasan Buatan: Membangun Masyarakat Inklusif di Era Digital.” Forum yang digelar pada 31 Juli lalu ini mempertemukan pakar pendidikan dari berbagai negara untuk membedah peluang dan tantangan penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan multikultural yang inklusif. Hadir sebagai pembicara utama, Prof. Dr. Chun-Yen Chang, Ketua Profesor dari National Taiwan Normal University. Dalam paparannya berjudul “Reimagining Learning for All: Inclusive Education in the Digital Era with AISI,” ia menguraikan hasil riset mendalam tentang penggunaan alat bantu AI, termasuk ChatGPT, dalam proses menulis esai. Menurutnya, meski AI mampu meningkatkan efisiensi, penggunaan berlebihan berisiko menimbulkan utang kognitif—yakni berkurangnya aktivasi berpikir kritis dan kemampuan reflektif siswa. Sebagai solusi, Prof. Chang memperkenalkan platform AISI (AI Scaffolding for Inclusive Learning). Aplikasi ini dikembangkan untuk memberikan dukungan metakognitif dalam pembelajaran sains. Ia menekankan pentingnya integrasi AI yang bijaksana agar benar-benar mendorong keterlibatan, refleksi, serta argumentasi bermakna, terutama saat membahas isu-isu sosial-saintifik seperti perubahan iklim. Dari FKIP UMM sendiri, Prof. Dr. Trisakti Handayani, MM, memaparkan makalah berjudul “Transformasi Pendidikan Multikultural di Era AI: Menuju Masyarakat Digital yang Inklusif.” Ia menilai kecerdasan buatan dapat menjadi instrumen revolusioner dalam pendidikan multikultural. Misalnya, lewat personalisasi pembelajaran lintas budaya, penerjemahan multibahasa kontekstual, hingga desain kurikulum yang responsif terhadap keragaman. Namun, Prof. Trisakti juga mengingatkan tantangan yang tidak bisa diabaikan. Di antaranya, bias algoritmik, ketimpangan akses digital, hingga resistensi budaya terhadap teknologi baru. “Kolaborasi lintas disiplin antara pendidik, pengembang teknologi, dan komunitas budaya sangat dibutuhkan agar sistem AI tidak sekadar canggih, tetapi juga adil, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan semua peserta didik,” pungkasnya. Sesi paralel juga menghadirkan Prof. Dr. Theodorus Pangalila, S.Fils., SH, M.Pd., dari Universitas Negeri Manado. Ia membawakan materi bertajuk “Pendidikan Kewarganegaraan Multikultural dalam Masyarakat yang Terfragmentasi.” Prof. Theo menegaskan pentingnya pendidikan kewarganegaraan yang mampu menumbuhkan empati, solidaritas sosial, dan keterampilan berdialog di tengah keberagaman. “Pendidikan kewarganegaraan harus menjawab fragmentasi sosial dan membangun kepercayaan publik melalui pendekatan multikultural yang reflektif,” ujarnya. Melalui forum ini, Prodi PPKn FKIP UMM menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem pendidikan yang progresif sekaligus relevan dengan perkembangan zaman. (*rfl/fd)

Perkuat Wawasan Pembelajaran Berbasis Proyek, Mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi Studi Lapang Terintegrasi Ke SMP Bukit Aksara

FKIP News–Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kunjungan akademik ke SMP Bukit Aksara, Semarang, Jawa Tengah, melalui kegiatan Studi Lapang Terintegrasi (SLT). Kegiatan ini dirancang untuk memberi pengalaman langsung bagi mahasiswa mengenai praktik pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning/PjBL) yang sudah berjalan konsisten di sekolah tersebut. SMP Bukit Aksara, yang berada di bawah Yayasan Sanggar Aksara, dikenal sebagai sekolah dengan pendekatan progresif. Sekolah ini mengusung prinsip pembelajaran abad ke-21, yang tidak hanya menekankan capaian akademik, tetapi juga mengintegrasikan penguatan karakter dan kecakapan hidup siswa. Kunjungan mahasiswa UMM ini dipandu oleh dosen pendamping SLT, Fuad Jaya Miharja, M.Pd. Fuad Jaya Miharja, menegaskan pentingnya pengalaman lapangan ini bagi mahasiswa. Menurutnya, kegiatan SLT memberikan pelengkap yang nyata bagi pembelajaran di kampus. “Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga melihat langsung bagaimana konsep-konsep itu diterapkan dalam praktik pembelajaran sehari-hari di sekolah,” ujarnya. Rombongan mahasiswa Pendidikan Biologi disambut langsung Kepala SMP Bukit Aksara, Giovani Widyanti Asriningtyas, atau akrab disapa Asri. Dalam sambutannya, Asri mengungkapkan kegembiraannya menerima kunjungan tersebut. Ia menjelaskan bahwa sekolahnya menerapkan model spiral, yakni pengajaran konsep yang diulang dengan tingkat kompleksitas meningkat. Cara ini diyakini mendorong pemahaman yang lebih mendalam dan bertahan lama bagi siswa. Lebih lanjut, Asri memperkenalkan Connected Curriculum (Kurikulum KoKu) sebagai fondasi utama pembelajaran di sekolahnya. Kurikulum ini dibangun di atas tiga pilar: pemahaman konsep (concept understanding), penerapan konsep (ways of working), dan keterampilan komunikasi hasil belajar (communicator). Melalui penerapan ketiga pilar ini, siswa diharapkan tidak sekadar memahami teori, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan pengalaman nyata sekaligus mengomunikasikan hasil belajar mereka secara efektif. Salah satu mahasiswa peserta, Andika Wahyu Sanjaya, mengaku terkesan dengan suasana belajar di SMP Bukit Aksara. “Saya kagum dengan desain ruang kelas yang tidak konvensional. Tidak ada barisan meja-kursi seperti biasanya, melainkan ruang belajar yang dirancang untuk memicu rasa ingin tahu dan antusiasme siswa,” tuturnya. Sebagai penutup kunjungan, Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM menyerahkan cinderamata berupa Modul Ajar IPA terbitan UMM Press, hasil karya mahasiswa semester IV dalam mata kuliah Desain Pembelajaran Inovatif. Sebagai balasan, pihak sekolah memberikan buku antologi puisi karya siswa, produk dari proyek lintas mata pelajaran yang menjadi ciri khas pendekatan sekolah tersebut. (*Tut/fd)

Dorong Peningkatan Kurikulum SMK, Pendidikan Matematika FKIP UMM Gelar Workshop dan FGD

FKIP News–Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar Workshop dan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Pengembangan Kurikulum SMK Berbasis Taksonomi Bloom, Sabtu (9/08/2025) di Ruang 617 Gedung Kuliah Bersama I (GKB I) UMM. Kegiatan ini mempertemukan para guru SMK dari berbagai sekolah dengan akademisi UMM untuk bersama-sama merumuskan strategi kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman. Bukan hanya soal dokumen kurikulum, namun juga bagaimana pembelajaran di kelas dapat mengasah keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan adaptif. Ketua Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UMM, Dr. Alfiani Athma Putri Rosyadi, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa pengembangan kurikulum sejatinya tidak bisa dilakukan secara sepihak. “Kurikulum yang benar-benar hidup lahir dari diskusi bersama. Melalui workshop ini kami berharap para guru bisa menuangkan ide-ide segar sehingga pembelajaran di SMK tidak hanya relevan dengan dunia kerja, tetapi juga membentuk karakter dan kecakapan abad 21,” jelasnya. Menurutnya, manfaat kegiatan ini tidak hanya berhenti pada produk kurikulum. Lebih jauh, guru diharapkan dapat membawa pulang semangat baru dalam mengajar. Dengan rancangan pembelajaran berbasis Taksonomi Bloom, siswa bisa dilatih lebih mandiri, berani mengemukakan ide, dan siap bersaing baik untuk melanjutkan studi maupun memasuki dunia kerja. “Era industri 4.0 menuntut lulusan yang kreatif, inovatif, sekaligus kompeten. Melalui penerapan kurikulum berbasis Taksonomi Bloom, kami yakin siswa SMK akan lebih siap menghadapi realitas global,” ujar Dr. Alfiani menutup sesi pembukaan. Workshop ini menghadirkan tiga narasumber dengan rekam jejak panjang di bidang pendidikan, yakni Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM, Prof. Aksanul In’am, Ph.D., serta Siti Khoiruli Ummah, M.Pd. Ketiganya membedah penerapan Taksonomi Bloom mulai dari perumusan tujuan pembelajaran, desain metode kreatif, hingga strategi penilaian yang sesuai dengan kompetensi siswa SMK. Taksonomi Bloom, dengan enam level kognitifnya, dipandang mampu membantu guru menyusun pembelajaran secara lebih terstruktur, mulai dari memahami konsep dasar hingga mendorong kemampuan analisis, evaluasi, dan kreasi siswa. Dengan demikian, pembelajaran tidak lagi berhenti pada hafalan semata, tetapi mendorong siswa mencapai higher order thinking skills (HOTS). Usai pemaparan, peserta diajak masuk dalam kelompok diskusi untuk membicarakan tantangan nyata yang dihadapi SMK saat ini. Dari kesulitan menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri, hingga cara mengembangkan strategi evaluasi yang lebih adil dan komprehensif. Hasil diskusi itu nantinya dirangkum menjadi rekomendasi praktis yang bisa diterapkan sekolah dalam waktu dekat. Dengan atmosfer diskusi yang produktif dan penuh semangat kolaborasi, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah dapat menciptakan inovasi pendidikan. (*rn/fd)

Pendidikan Matematika FKIP UMM Asah Dosen Kuasai Python, Bekal Hadapi Era Digital

FKIP News–Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kapasitas tenaga pendidik. Kali ini, Program Studi Pendidikan Matematika menggelar pelatihan bertajuk Peningkatan Kompetensi Teknologi dengan Python, Rabu (6/08/2025), di Ruang 617 Gedung Kuliah Bersama (GKB) I. Kegiatan tersebut diikuti para dosen dengan fokus utama memperdalam keterampilan analisis, pemrograman, serta kemampuan memecahkan masalah berbasis digital. Python dipilih sebagai materi inti pelatihan karena bahasa pemrograman ini dikenal fleksibel, populer, dan mudah diaplikasikan di berbagai bidang, mulai dari pendidikan hingga riset akademik. Selama sesi, peserta dibimbing langsung oleh instruktur berpengalaman dalam bidang pemrograman dan analisis data. Materi disusun bertahap, dimulai dari pengenalan sintaks dasar Python, pengolahan data sederhana, hingga penerapan program kecil yang bisa menunjang proses pembelajaran. Untuk mengasah keterampilan praktis, dosen juga diajak mengerjakan studi kasus nyata yang erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Ketua Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UMM, Dr. Alfiani Athma Putri Rosyadi, M.Pd., menegaskan pentingnya penguasaan keterampilan digital bagi tenaga pendidik. “Python bukan sekadar bahasa pemrograman, tapi juga sarana untuk berpikir sistematis dan analitis. Melalui pelatihan ini, kami ingin dosen terbiasa menggunakan teknologi untuk memperkaya strategi pembelajaran, menguatkan riset, dan membuka peluang inovasi,” ujarnya. Lebih lanjut, Dr. Alfiani menekankan bahwa dunia pendidikan saat ini berada dalam pusaran transformasi digital yang begitu cepat. Guru maupun dosen tidak lagi cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi dituntut mampu memanfaatkan teknologi untuk menjadikan proses belajar lebih kontekstual. “Tantangan generasi sekarang berbeda. Mahasiswa kita lahir dan tumbuh di era digital, sehingga pendidik juga harus selangkah lebih siap. Dengan kemampuan Python, dosen bisa menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif sekaligus relevan dengan kebutuhan zaman,” tambahnya. Selain untuk memperkaya metode pengajaran, Python juga membuka peluang riset interdisipliner. Melalui pemrograman, dosen dapat menganalisis data pendidikan, mengeksplorasi pola belajar siswa, hingga mengembangkan model pembelajaran berbasis teknologi. Potensi inilah yang ingin terus digali oleh UMM agar para dosennya tidak hanya adaptif, tetapi juga berperan sebagai pionir dalam inovasi pendidikan digital. Pelatihan Python ini sekaligus menjadi bagian dari upaya berkelanjutan FKIP UMM dalam membangun kultur akademik yang progresif. Dengan menguasai teknologi terkini, dosen diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan global, kompetitif, serta memiliki kemampuan problem solving yang kuat. (*rn/fd)

Pendidikan Matematika FKIP UMM Asah Dosen Jadi Pendidik Global

FKIP News–Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen meningkatkan kualitas dosen agar mampu menjawab dinamika pendidikan di era global. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Upgrading Skills for a Global Future yang digelar di Ruang 617 Gedung Kuliah Bersama (GKB) I UMM, Sabtu (2/08/2025). Kegiatan ini menghadirkan seluruh dosen Pendidikan Matematika yang diajak memperkuat keterampilan abad 21, mulai dari komunikasi efektif, kolaborasi lintas disiplin, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran. Kegiatan ini bertujuan agar tenaga pendidik tidak hanya andal dalam menyampaikan materi, tetapi juga mampu membangun interaksi yang inspiratif dan menjangkau kebutuhan peserta didik di tengah arus globalisasi. Melalui berbagai sesi pelatihan, para dosen diberi ruang untuk mengasah cara menyampaikan ide dengan lebih jelas, membangun jejaring kolaborasi yang melintasi batas geografis, serta menumbuhkan kepekaan terhadap perubahan dunia pendidikan. Pendekatan semacam ini dianggap penting agar kelas tidak sekadar menjadi ruang transfer ilmu, melainkan juga arena pengembangan karakter, kreativitas, dan daya saing. Aspek lain yang menjadi sorotan adalah pemanfaatan teknologi pembelajaran. Para dosen diperkenalkan dengan ragam media digital yang mampu menghadirkan pembelajaran interaktif sekaligus mengakomodasi gaya belajar siswa yang beragam. Tidak lagi terpaku pada metode konvensional, tenaga pendidik dituntut berani mengeksplorasi perangkat digital, mulai dari aplikasi presentasi, platform pembelajaran daring, hingga teknologi berbasis kecerdasan buatan. Dengan begitu, materi ajar dapat dikemas lebih kreatif dan mudah diterima oleh peserta didik. Kaprodi Pendidikan Matematika FKIP UMM, Dr. Alfiani Athma Putri Rosyadi, M.Pd., menegaskan bahwa pengembangan kapasitas dosen secara berkelanjutan merupakan kunci untuk menjaga kualitas lulusan. “Kami ingin membekali dosen dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Dosen tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga harus mampu menjadi fasilitator, motivator, sekaligus inovator di kelas,” tegasnya. Menurutnya, dunia pendidikan saat ini tengah menghadapi tantangan kompleks, mulai dari perkembangan teknologi, tuntutan keterampilan abad 21, hingga perubahan karakteristik generasi pelajar. “Jika dosen tidak beradaptasi, maka pembelajaran akan tertinggal. Karena itu, kami ingin setiap dosen memiliki semangat lifelong learning, selalu memperbarui diri, dan terus siap dengan berbagai inovasi,” lanjutnya. Lebih jauh, Dr. Alfiani juga menekankan bahwa investasi pada kualitas dosen akan berimbas langsung pada mahasiswa. Dengan tenaga pendidik yang profesional, adaptif, dan berwawasan global, lulusan Pendidikan Matematika UMM diyakini mampu bersaing tidak hanya di level nasional, tetapi juga internasional. “Target kami jelas, menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keunggulan kompetitif dan integritas moral yang kuat,” pungkasnya. Dengan semangat tersebut, Program Studi Pendidikan Matematika UMM optimistis dapat mencetak generasi pendidik masa depan yang siap menjadi agen perubahan. (*rn/fd)

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMM Ajak Siswa SD Berani Bermimpi Lewat “Mading Mimpi” Bilingual

FKIP News–Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam Program Pengabdian Masyarakat (PMM) kembali menunjukkan kreativitasnya dengan mengadakan sebuah program unik di SD Negeri Losari. Kegiatan tersebut diberi tajuk “Mading Mimpi”, sebuah media ekspresi yang memungkinkan siswa sekolah dasar menuliskan sekaligus menampilkan cita-cita mereka, tidak hanya dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dalam bahasa Inggris. Program ini melibatkan siswa kelas 4 dan 6 yang diajak untuk memvisualisasikan impian masa depan mereka. Anak-anak dengan antusias menempelkan gambar atau menulis profesi idaman, mulai dari dokter, guru, pilot, polisi, hingga ilmuwan. Lebih menarik lagi, mereka juga mencoba menuangkan cita-cita tersebut ke dalam kalimat sederhana berbahasa Inggris. Misalnya, siswa yang bercita-cita menjadi dokter menuliskan, “I want to be a doctor,” sementara yang ingin menjadi guru menulis, “My dream is to be a teacher.” Inisiatif ini lahir dari ide lima mahasiswa UMM Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, yakni Sabrina Alia Rofyana Nuswantoro, Dewa Ayu Made Dinda Sabila, Jelita Asti Mahesa Ayu, Aulia Royani, dan Nuril Alfina. Mereka sepakat menjadikan kegiatan ini sebagai media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus sarana melatih keterampilan berbahasa asing sejak dini. Salah satu anggota tim, Nuril Alfina, menjelaskan bahwa program ini dirancang agar anak-anak berani bermimpi sekaligus percaya diri mengekspresikan mimpi tersebut. “Kami ingin anak-anak tidak hanya menyimpan cita-cita dalam hati, tetapi juga bisa menuliskannya dan menyuarakannya dengan bahasa yang lebih luas, yaitu bahasa Inggris. Dengan begitu, mereka berlatih kosakata baru sekaligus melatih keberanian berbicara,” tuturnya. Senada dengan itu, Jelita Asti Mahesa Ayu menambahkan bahwa Mading Mimpi mampu menghubungkan pembelajaran bahasa Inggris dengan sesuatu yang relevan bagi kehidupan anak. Menurutnya, pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa merasa dekat dengan materi. “Saat mereka menuliskan profesi yang memang mereka idamkan, otomatis ada keterikatan emosional. Itu membuat proses belajar lebih natural dan menyenangkan,” ujarnya. Suasana kelas ketika kegiatan berlangsung tampak hangat dan penuh tawa. Anak-anak dengan semangat tinggi mencari gambar yang sesuai, kemudian menghias papan mading dengan penuh kreativitas. Tidak hanya itu, mereka juga berani maju untuk memperlihatkan hasil karyanya di depan teman-teman. Kegembiraan itu menjadi bukti nyata bahwa belajar bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Ketua tim, Sabrina Alia Rofyana, menuturkan bahwa harapan utama dari kegiatan ini adalah memicu motivasi siswa untuk belajar sejak dini. “Kami percaya bahwa dengan menggabungkan seni visual dan bahasa, proses pembelajaran akan terasa lebih hidup. Anak-anak bukan hanya belajar kata-kata baru, tetapi juga melatih imajinasi dan kepercayaan diri,” jelasnya. Apresiasi juga datang dari pihak sekolah. Kepala SD Negeri Losari, Ana Andriani, S.Pd., menyambut baik kegiatan ini dan berharap kerjasama dengan mahasiswa UMM dapat terus berlanjut di masa mendatang. Menurutnya, kegiatan semacam ini mampu menghadirkan suasana belajar yang berbeda dan lebih kreatif. “Program ini tidak hanya mengasah keterampilan berbahasa anak, tetapi juga membantu menanamkan karakter berani bermimpi dan percaya diri,” ujarnya. Melalui Mading Mimpi Goes Bilingual, tim PMM UMM berhasil menciptakan ruang bagi siswa untuk berkreasi, menuliskan harapan, sekaligus belajar bahasa Inggris secara kontekstual. Dari sebuah papan mading sederhana, lahirlah imajinasi dan keyakinan besar tentang masa depan. Anak-anak tidak hanya belajar menulis kalimat, tetapi juga belajar bermimpi dengan penuh keberanian, seolah menegaskan bahwa cita-cita akan lebih bermakna jika diungkapkan dan diperjuangkan. (*dwa/mlv/fd)

CALL FOR PAPERS ICEdu 2025

  🎓 CALL FOR PAPERS ICEdu 2025 The Faculty of Teacher Training and Education, Universitas Muhammadiyah Malang proudly presents the 4th International Conference on Education (ICEdu), to be held on 17–18 September 2025. With the theme “Digital Transformation in Education: Integrating New Technologies for Future Learning”, the conference serves as a platform for educators, researchers, and practitioners to share insights, innovations, and challenges in the evolving landscape of education. 📅 Important Dates: 1. Full Paper Submission Deadline: 15 August 2025 2. Notification of Acceptance: 20 August 2025 3. Payment Deadline: 20–30 August 2025 4. Conference Dates: 17–18 September 2025 🎯 Conference Topics include: a. Digital education b. Digital literacy c. STEM education d. Artificial intelligence in education e. Virtual Reality, augmented Reality, and mixed reality in education f. Digital pedagogy and online learning g. Education Technology for Inclusive and accessible educational learning h. Computational thinking ethics and policies in educational technology 🎤 Keynote Speakers: Dr. Jasper Hsieh – University of New South Wales, Australia Prof. Yinghuei Chen, Ph.D – Asia University, Taiwan 📚 Publication Opportunity: All accepted papers will be published in Scopus-indexed conference proceedings. 🔗 Submit your paper via: https://edas.info/N33634 🌐 More info: https://icedu.umm.ac.id 📲 Contact Persons: Fida Pangesti ‪‪(+62857-5797-8257‬‬) or _Tutut Indria Permana ‪‪(+62838-3417-6543‬‬) _ Be part of a global academic dialogue to shape the future of education through digital transformation! #ICEdu2025 #CallForPapers #DigitalEducation #FutureLearning #UMM