🔎 Sulit menyusun Systematic Literature Review (SLR)?

Kini ada cara lebih mudah dengan bantuan Artificial Intelligence (AI)! 🚀 ✨ WORKSHOP #3 PUSAT SUMBER BELAJAR ✨📚 Menyusun Systematic Literature Review (SLR) Berbantuan Artificial Intelligence (AI) Apakah Anda sering kesulitan menyusun Systematic Literature Review (SLR)?Kini ada solusinya! Ikuti workshop eksklusif ini untuk mempelajari cara menyusun SLR dengan bantuan Artificial Intelligence (AI) yang akan membuat proses penelitian lebih cepat, terstruktur, dan efisien. 🚀 👨‍🏫 PemateriAhmad Fauzi, M.Pd. (Sekretaris PSB FKIP UMM) 👩‍💼 ModeratorDr. Erna Yayuk, M.Pd. (Kepala PSB FKIP UMM) 📅 Hari/Tanggal: Jumat, 17 Oktober 2025🕐 Waktu: 13.00 – 15.00 WIB🌐 Media: Zoom Meeting👥 Kuota: Maksimal 300 Peserta 💰 Biaya Pendaftaran:🔖 Diskon 25% Spesial Hari Kemerdekaan! Rp 75.000 (11 – 31 Agustus 2025) Rp 99.000 (1 September – 17 Oktober 2025) ✅ Fasilitas: e-Sertifikat JP Materi Workshop 💳 Pembayaran:BNI 1939702881 a.n. Ahmad Fauzi 📝 Pendaftaran:👉 https://bit.ly/PendaftaranWorkshop3SLR 📩 Info & Kontak: Instagram: @psbfkipummofficial Email: [email protected] WhatsApp: tersedia pada link pendaftaran Jangan lewatkan kesempatan ini!Tingkatkan kualitas riset Anda dengan teknik SLR berbasis AI yang lebih praktis dan profesional. 🌟

🚀 Siap Jadi Guru dan Tendik yang KOMPETEN DIGITAL?

Ikuti Pelatihan #2 PSB FKIP UMM: ✨ “Koding Edukatif: Membangun Kompetensi Digital untuk Guru dan Tenaga Kependidikan” Dalam era pendidikan digital, guru dan tenaga kependidikan dituntut tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu mengintegrasikan teknologi dalam proses belajar mengajar. Untuk itu, Pusat Sumber Belajar FKIP UMM kembali menghadirkan pelatihan yang dirancang khusus guna meningkatkan kompetensi digital melalui koding edukatif. 📌 Pemateri👨‍🏫 Yufis Azhar, S.Kom., M.Kom.Dosen Teknik Informatika UMM 📌 Moderator🎤 Ahmad Fauzi, M.Pd.Sekretaris PSB FKIP UMM 📅 Jumat, 19 September 2025🕐 13.00 – 15.00 WIB Via Zoom Meeting👥 Kuota terbatas hanya untuk 100 peserta 💳 Investasi: Rp 100.000,-Pembayaran melalui:BNI 1939702881 a.n. Ahmad Fauzi 🔗 Pendaftaran:👉 bit.ly/PendaftaranPelatihanKodingEdukatif 📞 Informasi lebih lanjut:Instagram: @psbfkipummofficialEmail: [email protected]

CALL FOR PAPERS ICEdu 2025

  🎓 CALL FOR PAPERS ICEdu 2025 The Faculty of Teacher Training and Education, Universitas Muhammadiyah Malang proudly presents the 4th International Conference on Education (ICEdu), to be held on 17–18 September 2025. With the theme “Digital Transformation in Education: Integrating New Technologies for Future Learning”, the conference serves as a platform for educators, researchers, and practitioners to share insights, innovations, and challenges in the evolving landscape of education. 📅 Important Dates: 1. Full Paper Submission Deadline: 15 August 2025 2. Notification of Acceptance: 20 August 2025 3. Payment Deadline: 20–30 August 2025 4. Conference Dates: 17–18 September 2025 🎯 Conference Topics include: a. Digital education b. Digital literacy c. STEM education d. Artificial intelligence in education e. Virtual Reality, augmented Reality, and mixed reality in education f. Digital pedagogy and online learning g. Education Technology for Inclusive and accessible educational learning h. Computational thinking ethics and policies in educational technology 🎤 Keynote Speakers: Dr. Jasper Hsieh – University of New South Wales, Australia Prof. Yinghuei Chen, Ph.D – Asia University, Taiwan 📚 Publication Opportunity: All accepted papers will be published in Scopus-indexed conference proceedings. 🔗 Submit your paper via: https://edas.info/N33634 🌐 More info: https://icedu.umm.ac.id 📲 Contact Persons: Fida Pangesti ‪‪(+62857-5797-8257‬‬) or _Tutut Indria Permana ‪‪(+62838-3417-6543‬‬) _ Be part of a global academic dialogue to shape the future of education through digital transformation! #ICEdu2025 #CallForPapers #DigitalEducation #FutureLearning #UMM

Jangan Lewatkan! Pemanggilan PPG Guru Tertentu Tahap 2 Tahun 2025 telah dimulai!

🔔 Jangan Lewatkan! PEMANGGILAN PPG GURU TERTENTUTahap 2 Tahun 2025 📣 Telah Dimulai!🗓 Pemanggilan dilaksanakan pada:5 Juli – 12 Juli 2025 🔎 Silakan cek akun SIMPKB masing-masing!✅ Pastikan data Bapak/Ibu valid dan sesuai Disampaikan oleh:📌 Direktorat Pendidikan Profesi Guru📌 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah 📱 Info lebih lanjut:🌐 ppg.dikdasmen.go.id📸 Instagram: @ppgkemendikdasmen💬 Facebook: PPG Kemendikdasmen      

Gelar Karya PPG 2025: Calon Guru FKIP UMM Tampilkan Inovasi, Kukuhkan Wawasan Kebangsaan

FKIP UMM News–Menutup rangkaian kegiatan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Tahun 2025, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kegiatan Gelar Karya dan Seminar Wawasan Kebangsaan. Acara yang berlangsung pada Kamis, 22 Mei 2025 di Aula BAU UMM ini mengusung tema “Peran Guru Baru yang Berwawasan ke-Indonesia-an dalam Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa PPG Prajabatan Gelombang 2 Tahun Akademik 2024/2025, dosen pembimbing, serta jajaran pimpinan fakultas. Acara dibuka dengan laporan dari Ketua Program Studi PPG FKIP UMM, Dr. Iin Hindun, M.Kes., yang menyampaikan tujuan utama kegiatan ini sebagai wadah apresiasi dan refleksi atas perjalanan akademik mahasiswa PPG. Dalam sambutan selanjutnya, Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., menegaskan pentingnya posisi guru sebagai ujung tombak pembangunan bangsa. Ia menyampaikan bahwa arah pendidikan Indonesia ke depan harus semakin adaptif dan kontekstual, selaras dengan kebutuhan peserta didik. “Melalui Gelar Karya ini, para mahasiswa menampilkan produk inovatif yang dirancang berdasarkan pengalaman praktik mengajar mereka di sekolah mitra. Sementara itu, Seminar Wawasan Kebangsaan menjadi momen reflektif untuk meneguhkan komitmen sebagai guru yang mampu menjaga nilai-nilai ke-Indonesia-an,” ujarnya. Dalam Gelar Karya, para peserta memamerkan berbagai hasil proyek pembelajaran, mulai dari media ajar berbasis digital, modul pembelajaran inovatif, video pembelajaran, artikel Penelitian Tindakan Kelas (PTK), hingga produk kreatif dari mata kuliah Proyek Kepemimpinan. Setiap karya mencerminkan upaya mahasiswa dalam mengintegrasikan teori, praktik, dan karakter ke dalam proses pembelajaran. Aspek orisinalitas dan kontekstualitas menjadi poin penting dalam penilaian karya yang ditampilkan. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., turut hadir memberikan pengarahan. Ia menekankan pentingnya wawasan kebangsaan sebagai fondasi pendidikan nasional. Menurutnya, pendidikan adalah alat yang dapat mewujudkan potensi bangsa, dan pembudayaan nilai-nilai luhur menjadi dasar kekuatan pembangunan. “Gelar Karya dan Seminar Wawasan Kebangsaan ini adalah dua sisi yang saling menguatkan. Satu sisi menampilkan inovasi, sisi lainnya meneguhkan visi kebangsaan dalam diri calon guru,” ujarnya. Seminar Wawasan Kebangsaan sendiri menghadirkan narasumber utama Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., Guru Besar Sosiologi Islam UMM. Dalam paparannya, ia mengajak para calon guru untuk mengembangkan kapasitas sebagai pendidik yang merdeka dan mampu memerdekakan peserta didiknya. Ia menekankan pentingnya peran guru sebagai agen perubahan yang adaptif dan inspiratif. Dalam diskusi yang berlangsung interaktif, para peserta menunjukkan antusiasme melalui pertanyaan-pertanyaan kritis dan refleksi atas pengalaman belajar mereka selama menjalani PPG. Kegiatan ini ditutup dengan seremoni penghargaan bagi karya-karya terbaik. Penyerahan penghargaan menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi dan prestasi mahasiswa dalam menghasilkan karya inovatif. Dalam kategori lomba penulisan artikel PTK, Muhammad Adityo Wisnu dari Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia berhasil meraih Juara 1. Juara 2 diraih oleh Abdul Aziz dari PGSD 4, dan Juara 3 diraih oleh Aurila Putri Marhaeni dari PGSD 5. Selain itu, juga diberikan penghargaan untuk kategori video pembelajaran berbahasa Inggris terbaik, sebagai upaya mendorong kemampuan literasi digital dan global para calon guru. Dengan terselenggaranya Gelar Karya dan Seminar Wawasan Kebangsaan ini, FKIP UMM kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak guru profesional yang tidak hanya kompeten dalam penguasaan materi dan pedagogi, tetapi juga memiliki jiwa nasionalisme, karakter kuat, dan kemampuan beradaptasi di tengah dinamika dunia pendidikan. (*fhd/ed: fd)

Dikukuhkan Guru Besar, Prof. Dr. Sugiarti Tegaskan Peran Sastra sebagai Pembangun Peradaban

MALANG – Sastra bukan sekadar soal keindahan kata atau hiburan pengisi waktu senggang. Di tangan Prof. Dr. Sugiarti, M.Si., sastra ditarik lebih jauh: menjadi medium kritik sosial dan pembangun peradaban. Pandangan itulah yang menjadi inti orasi ilmiah Guru Besar Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang dikukuhkan Sabtu lalu (10/5). Lewat pidato berjudul Perspektif Multidisipliner Sastra sebagai Pembangun Peradaban, Sugiarti menekankan bahwa sastra merupakan sarana refleksi sosial dan kritik terhadap realitas yang dihadapi masyarakat. Peran tersebut akan lebih optimal bila pendekatannya tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga lintas disiplin. “Sastra menyimpan kekuatan yang melampaui sekadar estetika. Ia merekam, menyuarakan, sekaligus mentransformasikan dimensi sosial, politik, psikologis, historis, hingga filosofis dari kehidupan manusia,” ujarnya. Melalui pendekatan multidisipliner, sastra dapat dianalisis bukan hanya sebagai produk bahasa dan estetika, tetapi juga sebagai cermin kompleksitas sosial dan dinamika nilai yang hidup di dalam masyarakat. Pendekatan seperti sosiologi sastra, psikologi sastra, dan antropologi sastra memungkinkan pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap konteks budaya, termasuk isu-isu kesetaraan gender, identitas, dan ketimpangan sosial. “Sastra menjadi simpul pengetahuan yang mempertemukan berbagai cabang ilmu. Ia membangun jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara warisan tradisi dan tantangan modernitas, antara nilai-nilai lokal dan arus globalisasi,” tambah Sugiarti. Ia juga mencontohkan sejumlah karya sastra Indonesia yang memiliki fungsi reflektif dan transformatif, seperti Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Salah Asuhan oleh Abdoel Muis, hingga Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Menurutnya, karya-karya tersebut tidak hanya menggambarkan realitas sosial, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kritis pembacanya. Lebih dari itu, sastra dinilai berperan penting dalam pembentukan karakter bangsa. Nilai-nilai moral, humanisme, spiritualitas, hingga religiositas dalam sastra akan lebih mudah terinternalisasi apabila pembaca juga terlibat dalam proses kreatif penciptaan. “Literasi sastra bukan sekadar membaca, melainkan juga mencipta. Dari situlah tumbuh kesadaran dan empati,” kata dia. Dalam hal ini, peran komunitas sastra di tengah masyarakat juga tak luput dari perhatian. Sugiarti menyebut komunitas seperti Gubuk Buku, Malang Menulis, dan Ruang Baca Cerdas (RBC) sebagai aktor penting dalam menumbuhkan budaya literasi yang kritis, inklusif, dan berdaya transformasi. Ia menegaskan, integrasi pendekatan lintas disiplin dalam studi sastra tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memperkuat sastra sebagai fondasi budaya yang penting dalam membentuk bangsa yang adil, beradab, dan visioner. “Sastra adalah instrumen strategis untuk membangun peradaban yang memanusiakan manusia,” pungkasnya. Pengukuhan Prof. Dr. Sugiarti menjadi momentum penting bagi UMM dalam mempertegas komitmen kampus terhadap pengembangan ilmu humaniora yang berdampak langsung bagi masyarakat luas. (*fd)

Cerita idul Fitri Lintas Negeri #4, Hari Kemenangan di tengah Musim Semi Di Suwon

FKIP News–Idul Fitri di negeri orang selalu menyimpan cerita tersendiri. Bagi Diani Fatmawati, S.Pd., M.Pd., dosen Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM yang kini tengah menempuh studi doktoral di Department of Genetic Engineering, Graduate School of Biotechnology, Kyung Hee University dengan beasiswa HEAT Scholarship, perayaan hari kemenangan kali ini terasa hangat meski jauh dari keluarga dan kampung halaman. Di Korea Selatan, umat Islam merupakan minoritas. Namun, hal itu tak mengurangi semarak dan makna dari Hari Raya Idul Fitri. Tahun ini, suasana lebaran terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan datangnya musim semi. Udara mulai menghangat, dan bunga-bunga sakura bermekaran di berbagai sudut kota. Pemandangan yang menyejukkan mata ini seolah menjadi pelengkap indah dalam menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa. Melaksanakan salat Idul Fitri di Kota Suwon menjadi pengalaman yang tidak akan dilupakan oleh Diani. Ia menyaksikan bagaimana momen salat Ied mempersatukan umat Islam dari berbagai negara. “Muslim Indonesia berkumpul bersama dengan saudara seiman dari Pakistan, Sudan, Mesir, dan juga warga lokal Korea. Suasananya khidmat, hangat, dan penuh rasa persaudaraan,” tuturnya. Meski tak semegah di Indonesia, semangat kebersamaan dalam ibadah tetap terasa kuat dan menyentuh. Namun, momen paling berkesan justru datang dari sebuah tradisi kecil yang hanya mungkin terjadi dalam lingkaran diaspora. Usai salat Ied, para pelajar Indonesia di Suwon, baik yang muslim maupun non-muslim, biasanya berkumpul untuk memasak dan makan bersama. Masing-masing membawa bahan makanan atau masakan khas dari daerah asalnya, lalu mereka bergotong royong menyiapkan hidangan khas lebaran. “Kita tidak sekadar memasak, tapi juga bercerita, tertawa, dan bernostalgia. Ada yang membuat opor ayam, rendang, sambal goreng kentang, dan bahkan kue-kue khas lebaran. Rasanya seperti sedang berada di rumah,” ujar Diani dengan senyum mengenang. Dalam suasana itu, sekat-sekat perbedaan agama, daerah, dan latar belakang luluh dalam satu meja makan. Yang tersisa hanya kehangatan, kebersamaan, dan rasa syukur bisa merayakan hari yang fitri meski jauh dari tanah air. Perayaan lebaran semacam ini bukan hanya menjadi pengobat rindu, tapi juga menjadi ruang refleksi. Bagi Diani, Idul Fitri di tanah rantau mengajarkannya untuk lebih menghargai arti persaudaraan, toleransi, dan pentingnya menjaga silaturahmi, terutama ketika berada dalam lingkungan multikultural. “Lebaran di sini mengajarkan saya banyak hal, terutama tentang persaudaraan, toleransi, dan betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama, meskipun kita berasal dari latar belakang budaya yang berbeda,” ucap Diani. Dalam kesederhanaan, momen lebaran itu menjadi perayaan makna yang mendalam. Di negeri yang jauh, dalam udara yang mulai hangat dan bunga sakura yang bermekaran, Diani menemukan cara baru untuk bersyukur, merayakan, dan merasa pulang meski tidak sedang berada di rumah. (*fd)