Moh. Isnaini, Dosen PBI FKIP UMM yang Sukses Raih Gelar Doktor Usai Kaji Lanskap Linguistik Malang Raya

FKIP News—Moh. Isnaini, Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sukses meraih gelar Doktor pada Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Sidang Promosi Doktor dihelat pada Rabu, 19 Juni 2024, di Auditorium Lantai 4 Gedung T14. Krisna, sapaan akrabnya, berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Lanskap Linguistik di Malang Raya Kajian Sosiopragmasemantika”. Ketertarikannya dalam mengkaji topik ini bermula dari observasinya bahwa budaya berbahasa di Malang Raya memiliki karakteristik daibandingkan daerah lain. Karakteristik ini tampak dari aspek penyajian informasi di ruang public yang tidak hanya menunjukkan bilingualisme, tetapi juga multilingualisme. “Fenomena ini menarik karena di baliknya terepresentasi karakteristik sosiokultural dan sosio-simbolis penggunaan bahasa di ruang publik,” ungkapnya. Sejalan dengan itu, fokus penelitian Krisna yaitu menemukan bentuk, makna sign, dan fungsi lanskap linguistik di Malang Raya. Untuk membedah fokus penelitian tersebut, Krisna mengumpulkan data berupa reklame, kafe, papan pengumuman, baliho, petunjuk arah, spanduk, usaha jasa, warung, toko, rumah makan, dan nama jalan di Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu. Temuan yang dihasilkan dalam penelitian ini yaitu bentuk lanskap linguistik di Malang Raya menunjukkan adanya informasi monolingual, bilingual, dan multilingual. “Bentuk monolingual terlihat pada penggunaan bahasa Jawa pada nama warung, toko, reklame dan lainnya. Bentuk bilingual umumnya berupa campuran bahasa Indonesia dan Jawa dan digunakan pada rumah makan, kafe, dan jalan. Sementara multilingual bisa ditemui pada spanduk, baliho, dan pengumuman. Dari ketiga jenis ini, bilingual digunakan secara dominan,” terang dosen yang juga menjabat sebagai Kepala Humas UMM itu. Selanjutnya, makna sign dalam lanskap linguistic Malang Raya didominasi dengan onomastika atau penamaan. Makna sign terdiri atas makna konseptual, sosial, reflektif, kolokatif, afektif, tematik, dan konotatif yang tampak pada tempat bersejarah, tempat istimewam unsur geografis, dan nama apahlawan. “Namun, makna sign yang paling banyak muncul adalah pada tempat bersejarah. Hal ini tak lepas daari upaya pemerintah Malang Raya dalam melestarikan tempat-tempat bernuansa heritage,” pungkasnya. Adapun fungi lanskap linguistic meliputi fungsi informatis dan simboli, fungsi informatif dan direktif, dan fungsi simbolik-etis. Dari ketiganya, yang paling dominan muncul adalah fungsi informatif-direktif, khususnya pada papan reklame dan spanduk di Malang Raya. Istimewanya, secara teoretis, hasil penelitiannya ini telah menghasilkan disiplin baru dalam penelitian lanskap linguistik, yaitu sosiopragmasemantika yang merupakan integrasi dari sosiolinguistik, pragmatik, dan semantik. Ia pun brharap agar peneli-peneliti selanjutnya terus mengembangkan kajian ini agar dapat mempertajam kajian sosiopragmasemantika menjadi disiplin ilmu baru dalam penelitian bahasa dan sastra. Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, ia juga merekomendasikan pemerintah untuk memberikan panduan pemberian informasi di ruang publik. “Pemerintah sebaiknya dapat memberikan rambu-rambu aturan dalam penyusunan dan penulisana informasi di ruang public, sehingga tetap mengacu pada Undang-Undang tentang penggunaan bahasa di ruang public,” pungkasnya. (*fd)

Perkuat Kerja Sama, FKIP UMM Terima Benchmarking dan Teken MoU FKIP Univet

FKIP News—FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara lakukan benchmarking sekaligus teken Memorandum of Understanding (MoU) dengan FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis lalu (20/06/2024). MoU itu dalam rangka pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, pengembangan kelembagaan, dana penjaminan mutu internal. Melalui kerja sama ini, FKIP Univet dan FKIP UMM berkomitmen untuk bersinergi dalam melaksanakan pendidikan yang unggul. Sebelum teken MoU, Jajaran dekanat terlebih dahulu menjelaskan tentang FKIP UMM. Paparan diawali oleh Dekan FKIP UMM, Prof Dr Trisakti Handayani MM yang menjelaskan tentang profil dan keunggulan FKIP UMM. Trisakti menegaskan bahwa enam prodi di FKIP UMM telah terakreditasi unggul. Hal ini tidak lepas dari inovasi yang dikembangkan Prodi, seperti program ekuivalensi dan Center of Exellence. Prodi di lingkungan FKIP juga memiliki jurnal terakreditasi Sinta, termasuk Jurnal Inovasi Pembelajaran (JINop) FKIP yang telah terakreditasi Sinta 2. Integritas dan budaya kerja juga menjadi kunci keberhasilan. “Seluruh civitas akademika FKIP UMM menerapkan budaya organisasi yang sudah turun-temurun, yakni Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah. Kami sadar bahwa UMM telah memberi kami banyak hal dan ini menjadi semangat bagi kami untuk berbuat lebih banyak lagi untuk UMM, untuk Muhammadiyah,” tegasnya. Selanjutnya, Wakil Dekan II, Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si menambahkan, UMM besar dan dapat menghidupi diri tidak hanya dari mahasiswa, tetapi juga dari pengembangan income generate atau amal usaha. UMM telah memiliki 3 hotel rumah sakit, bengkel, tempat rekreasi, PLTMH, dan sebagainya. “Keberadaan amal usaha tidak hanya penting dalam hal income kampus, tetapi juga dalam rangka brand awareness. Bahwa, UMM ada di tengah-tengah masyarakat, berkontribusi untuk masyarakat. Ini penting untuk mengatasi tantangan PMB yang kita hadapi akhir-akhir ini,” pungkasnya. Pada bidang kemahasiswaan, Wadek III, Bayu Hendro Wicaksono, Ph.D. menjelaskan bahwa FKIP UMM punya komitmen tinggi dalam membangun kerja sama lokal, nasional, maupun internasional. Untuk skala internasional, tercatat tak kurang dari 33 kerja sama telah dikantongi dan memfasilitasi berbagai kegiatan internasional. “Tahun ini pada bulan Seeptember, FKIP UMM akan mengirim mahasiswa ke Thailand Utara, Thailan Selatan, Bangkok, dan Sanggar Belajar di Malaysia untuk kegiatan KKN-DIK internasional. Beberapa mahasiswa saat ini juga tengah menjalani Magang Internasional di Vietnam,” terangnya. Berbagai prestasi mahasiswaa telah dicapai dan diapresiasi. Alur informasi disalurkan memanfaatkan ikatan alumni Saka Widya dengan maksimal, di samping memanfaatkan website dan media sosial. Ke malaysia ke bebedapa sanggar belajar. Setiap tahun.   Menindaklanjuti paparan Dekana FKIP tentang Program CoE, untuk memperoleh Gambaran yang lebih mendalam, Arif Setiawan mempresentasikan dua CoE Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, yakni CoE Editor dan Perbukuan serta CoE Diplomasi Bahasa. CoE adalah program yang dikembangkan berdasarkan kekhususan atau keunggulan Prodi. Melalui skema 20 SKS teori dan 17 SKS praktik di industry, diharapkan para mahasiswa dapat memiliki kompetensi dan pengalaman yang sejalan dengan kebutuhan industri. Laporan magang mahasiswa juga disusun dalam produk Scriptpreneur sebagai pengganti skripsi. Ini merupakan bagian dari program UMM Pasti: Pasti Lulus Tepat Waktu, Pasti Bekerja, dan Mandiri. Mendengar paparan-paparan tersebut, peserta menyampaikan merasa diguyur inspirasi. Dalam sesi diskusi, para dosen Univet aktif bertanya terkait income generating, sistem penjaminan mutu, dan trik menjaga keberlanjutan program MBKM khususnya yang berhubungan dengan mitra industri. Acara kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan MoU. Diskusi benchmarking dan penandatanganan MoU ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kedua institusi. Ke depan, kedua institusi berkomitmen untuk memprioritaskan kerja sama publikasi dan MBKM. (*fd)

FKIP UMM Bagikan Best Practice Penguatan Literasi dalam Konferensi Nasional INOVASI

FKIP News—Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut berpartisipasi dalam Konferensi Nasional INOVASI bertajuk “Kolaborasi LPTK, Pemerintah dan Sekolah untuk Meningkatkan Hasil Belajar Semua Anak”, Rabu-Kamis (19-20 Juni 2024) di Hotel Lombok Raya, Mataram. Kegiatan ini (INOVASI Fase 3) merupakan program kelanjutan kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Australia yang bertujuan untuk meningkatkan capaian hasil belajar siswa di jenjang Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Program ini akan berlangsung pada tahun 2024 hingga 2027 dan diimplementasikan di 6 (enam) provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTB), Nusa Tenggara Barat (NTT), Kalimantan Utara, dan Maluku. INOVASI Fase 3 dibangun berdasarkan pembelajaran dari INOVASI fase sebelumnya dan bukti-bukti terbaru dalam mendukung pembelajaran inklusif untuk semua, dengan memprioritaskan isu-isu kebijakan saat ini terkait kesetaraan gender, inklusi bagi siswa penyandang disabilitas, dan pemahaman dini peserta didik pada isu perubahan iklim dan lingkungan hidup sekitarnya. Acara ini dibuka secara resmi oleh Direktur Program INOVASI, Mark Heyward, Ph.D., yang menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam membangun dan meningkatkan hasil belajar anak-anak di Indonesia. “Kita semua harus bersama-sama berkolaborasi membangun dan meningkatkan hasil belajar semua anak, baik laki-laki ataupun perempuan, baik yang kaya ataupun yang miskin, baik yang berkebutuhan khusus ataupun tidak,” ujar Heyward. Secara khusus, dalam kegiatan bergengsi ini, FKIP UMM yang diwakili oleh Wakil Dekan I, memaparkan tentang Penguatan Literasi di Perkuliahan  PPL-PLP serta PPG. Menurut Sugiarti, proses integrasi literasi kurikulum di FKIP UMM menerapkan konsep sustainable improvement melalui lima tahapan, yaitu analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Integrasi ini dilakukan dalam 6 mata kuliah di Prodi PGSD dan menghasilkan enam (6) modul adaptasi literasi dengan berperspektif GEDSI dan buku pendamping yang diterapkan dalam perkuliahan menggunakan Model Lesson Study. Hasilnya, mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar dunia nyata sesui profil dan kompetensi tambahan sesuai CPL Prodi. Selain itu, mahasiswa terlatih untuk mengkomunikasikan jawaban dengan memahami persoalan terlebih dahulu (berpikir kritis). Sehingga, jawaban yang disampaikan dapat dikaji dan dipertanggungjawabkan dengan disertai alasan yang jelas. “Yang tidak kalah penting, kemampuan mahasiswa sebagai calon guru dalam mengembangkan perangkat modul ajar juga meningkat. Dengan begitu, mahasiswa terjamin memiliki kompetensi dalam membangun literasi anak baik tingkat SD, SMP, maupun, SMA,” pungkasnya. Melihat banyaknya manfaat yang diperoleh, FKIP UMM melakukan pengimbahasan pada kegiatan PLP dan juga Prodi PPG. Pengimbahasan pada program PLP melibatkan sekolah mitra dan mahasiswa PGSD pada program asistensi mengajar. “Kemudian, pengimbasan literasi numerasi di Prodi PPG FKIP UMM dilakukan melalui workshop pengintegrasian literasi numerasi dalam pembelajaran PPG dan kebijakan penyusunan modul ajar kurikulum Merdeka dengan mengintegrasikan literasi numerasi,” tutupnya. Melalui keikutsertaan dalam kegiatan ini, diharapkan FKIP UMM dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam tingkat literasi di Indonesia. (*fd)

Lahirkan Model Pembelajaran BIPA, Faizin, Dosen PBI FKIP UMM Raih Gelar Doktor Bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra

FKIP News – Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Faizin, M.Pd. meraih gelar doktor pada Program Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) usai mempertahankan disertasinya di Auditorium Lantai 4 Gedung T14, pada Rabu, 19 Juni 2024. Dr. Faizin, M.Pd. melakukan penelitian disertasi dengan judul Model Konfigurasi Sistemis Berbasis Digital pada Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Hadir dalam kesempatan tersebut Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik SE MSi, Wakil Rektor II Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., CA., Wakil Rektor III Dr. Nur Subeki, ST., MT., Dekan FKIP UMM Prof Dr Trisakti Handayani MM beserta jajaran, para Kabiro, Kaprodi di lingkungan FKIP UMM, serta para tamu undangan. Menurut Faizin, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model pembelajaran konfigurasi sitemis berbasis digital pada Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) yang valid, praltis, dan efektif. Selain itu, pengembangan model ini juga disertai dengan pengemebangan produk seperti buku ajar BIPA Mentari Indonesia, lembar kerja mahasiswa, buku pedoman dosen, buku pedoman penilaian, RPS dan Silabus. Pengembangan model ini penting dilakukan karena akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran dan hasil belajar mahasiswa BIPA di berbagai jenjang. “Pengembangan model ini juga akan membuka ruang terhadap munculnya model pembelajaran BIPA yang memiliki adaptasi terhadap perkembangan teknologi,” tuturnya. Model pembelajaran yang dikembangkan ini, tambah Faizin, mengintegrasikan teori pembelajaran sibernetik dengan teori pemerolehan bahasa Four Strands Paul Nation. Selain itu, ia juga terinspirasi dari konsep Digital dalam Holistika Pendidikan Malik Fadjar, yang menekankan adaptasi teknologi digital dalam pembelajaran. Model yang terwujud dalam sintaks AMERTA yakni aktivitas tilikan, memaknai, eksplorasi input, rekonstruksi luaran, tindakan sintesis, dan aktivitas pengasahan ini memiliki beberapa keunggulan. Model dikembangkan dengan mempertimbangkan faktor karakteristik pemelajar dari berbagai negara serta Tingkat penguasaan bahasa Indonesia, sehingga efektif dalam meningkatkan empat aspek keterampilan berbahasa. “Model ini juga mengacu pada teori Sibernetik, cara berpikir sistemis, dan aktivitas dikategorikan dalam empat untaian Paul Nation, sehingga menghasilkan kegiatan pembelajaran yang terarah, fokus pada penguasaan dan peningkatan keterampilan berbahasa, serta dilaksanakan bertahap,” imbuhnya. Meskipun dikembangkan pada konteks pembelajaran BIPA, menurut Faizin, model ini juga dapat diterapkan dalam proses pemerolehan bahasa asing seperti bahasa Inggris di lingkungan sekolah jenhang SMP dan SMA. Tentu, dengan penyesuaian karakteristik siswa dan materi bahasa. Atas temuan dalam disertasi ini, Faizin merekomendasikan agar model pembelajaran ini dapat dijasikan pertimbangan bagi pemerintaha dalam meningkatkan dukungan terhadap program BIPA, sehingga tujuan internasionalisasi bahasa Indonesia dapat segera terwujud. “Lebih spesifik, dukungan pemerintah tersebut dapat berupa fasilitasi kebutuhan pengembangan program BIPA dan dukungan anggaran untuk menambah fasilitas pembelajaran,” tutupnya. Para dewan penguji pun memberikan apreasiasi yang tinggi atas penelitian Faizin. Secara khusus, Dekan FBS, Syaiful An’am PhD berpesan kepada Rektor UMM untuk memfasilitasi diseminasi karya Faizin. “Produk yang luar biasa ini sudah selayaknya diberi ruang di website UMM untuk dapat dikembangkan dan disebarluaskan kepada khalayak, sehingga kebermanfaatannya akan semakin tinggi,” tegasnya. (*fd)

Teater HARMONIA SASKARA, Suguhkan Empat Drama Dongeng Fantasi

FKIP News – Mahasiswa Prodi PGSD FKIP UMM yang tergabung dalam Teater HARMONIA SASKARA menggelar pertunjukana drama bertema Dongeng Fantasi. Acara yang menampilkan 4 cerita terkenal, yakni “Snow White”, “Hanzel and Gretel”, “Cinderella”, serta “Penggembala Domba dan Serigala” pada Rabu (12/06/2024) lalu ini berlangsung dengan sukses dan meriah. Ketua Teater HARMONIA SASKARA, Exzal Antolin Febriansyah, menjelaskan bahwa tujuan utama pagelaran ini adalah untuk menghidupkan kembali kisah-kisah dongeng yang sarat akan pesan moral dan hiburan. “Kami ingin membawa penonton ke dunia magis yang penuh dengan pelajaran hidup, serta menunjukkan bahwa dongeng-dongeng Fantasi ini masih relevan dengan kehidupan kita saat ini,” ujarnya. Drama “Snow White” di Universitas Muhamadiyah Malang disutradarai oleh Nabilah Aulia. Drama ini dipilih karena pesan moral dan nilai-nilai universalnya yang relevan dengan kehidupan saat ini, seperti kebaikan hati dan keberanian menghadapi kejahatan. Drama ini juga menampilkan elemen visual menarik seperti cermin ajaib dan tujuh kurcaci, dengan menonjolkan adaptasi segar dan sentuhan lokal. Desainer panggung, Rahayu Salamah Ningrum, yang menjanjikan visual spektakuler. Berkat kerja kerasnya, Tim “Snow White” meraih nominasi penghargaan lighting dan sound terbaik. Selanjutnya, drama “Hanzel and Gretel” yang dianggap relevan dan menarik untuk diangkat kembali ke panggung. Pasalnya, kisah “Hanzel and Gretel” yang berasal dari cerita rakyat Jerman memiliki pesan moral yang kuat dan relevan dengan berbagai situasi kehidupan masa kini. Cerita ini menggambarkan perjuangan dua anak yang berusaha untuk bertahan hidup di tengah kondisi sulit, mengajarkan nilai-nilai keberanian, kerja sama, dan pentingnya keluarga. Selain itu, tim kreatif di balik produksi ini melihat kesempatan untuk menampilkan inovasi dan kreativitas dalam pementasan. Sutradara Hartati Arining  dan Penulis Naskah Aisyah Fatikah Basyah, menjelaskan bahwa adaptasi ini akan menghadirkan elemen-elemen modern tanpa  menghilangkan esensi asli dari cerita tersebut. “Kami ingin membawa Hanzel dan Gretel ke dunia yang lebih dekat dengan penonton masa kini, dengan sentuhan teknologi dan setting yang lebih kontemporer,” ujarnya. Sutradara Hartati Arining meraih nominasi penghargaan Sutradara terbaik. Desainer panggung, Nola Feriska, yang menjanjikan visual spektakuler. Tim tata rias dan kostum, Intan Nur Rahmawati yang menjadikan penampilan para pemeran lebih menarik saat dilihat oleh banyak penonton serta meningkatkan apresiasi terhadap seni teater. Pagelaran ini diharapkan tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan inspirasi dan pesan moral yang mendalam. Tim “Hanzel and Gretel” meraih nominasi penghargaan tata rias dan kostum terbaik. Sealin itu, mereka juga memenangkan poster dan teaser terfavorit. Banyaknya penghargaan yang telah diraih oleh “Hanzel and Gretel”, membuat mereka berhasil meraih juara umum pada acara pagelaran drama ini. Pagelaran drama “Cinderella” yang dipentaskan oleh Teater Harmonia Saskara di Universitas Muhammadiyah Malang menjadi sorotan dengan tujuan menghidupkan kembali pesan moral dan keajaiban dari teater drama musikal tersebut. Sutradara drama, Memes Olga, menjelaskan bahwa pemilihan “Cinderella” bukan tanpa alasan, karena cerita ini memiliki nilai-nilai universal yang relevan dengan kehidupan modern serta elemen visual yang menarik. Dengan kostum mewah, setting panggung yang spektakuler, dan dukungan teknologi pencahayaan modern, drama ini diharapkan memberikan pengalaman teater yang tak terlupakan bagi penonton. Selain menjadi hiburan, drama “Cinderella” juga diharapkan mampu memberikan inspirasi dan pesan moral yang mendalam kepada penonton. Melibatkan mahasiswa/i prodi PGSD Universitas Muhammadiyah Malang Angkatan 2023, pagelaran ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi terhadap seni teater di tanah air. Dengan segala persiapan dan konsep yang matang, pertunjukan ini diprediksi akan menjadi salah satu yang paling dinantikan oleh kalangan mahasiswa/i PGSD Angkatan 2023, bahkan para dosen FKIP pun diundang untuk merasakan keajaiban dari cerita legendaris ini di atas panggung. Tim cinderella meraih penghargaan Naskah dan aktris terbaik. Pagelaran Drama ‘’Cinderellah” Terakhir yakni cerita klasik berjudul “Penggembala Domba dan Serigala” yang berasal dari cerita rakyat Malaysia memiliki pesan moral yang kuat dengan berbagai situasi kehidupan masa kini. Cerita ini menggambarkan tentang seorang penggembala yang ditugaskan menjaga para domba, cerita ini  mengajarkan kita arti nilai-nilai kejujuran. Selain itu, Sutradara, Wakiatul Ulfa menjelaskan bahwa adaptasi ini akan menghadirkan elemen-elemen modern tanpa menghilangkan esensi asli dari cerita tersebut. “Kami ingin membawa Penggembala Domba dan Serigala ke dunia yang lebih dekat dengan penonton masa kini, dengan sentuhan teknologi dan setting yang lebih kontemporer,” pungkasnya. (*) 

Magang CoE Diplomasi Bahasa, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM Ajarkan Bahasa Indonesia di Vietnam

FKIP News—Lima Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalani kegiatan magang di Open University, Vietnam. Magang ini merupakan langkah konkret dalam realisasi kerja sama yang telah terjalin sebelumnya dan menjadi bagian dari Center of Excellence (CoE) Diplomasi Bahasa yang merupakan program unggulan Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM. Kelima mahasiswa tersebut yakni Bella Mustika, Melani Nadira, Irmada Ikhsania, Rossa Julfiyatun, dan Selya Oktananda Sundari. Diampingi oleh Arif Setiawan, M.Pd., selaku Kaprodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Dr. Arif Budi Wurianto, selaku Kepala UPT BIPA UMM, kelima mahasiswa Angkatan 2021 ini diterima di Open University Ho Chi Minh City oleh Dr. Le Thai Thuong Quan, yang menjabat sebagai Head of Department of Cooperation and Scientific Management dan Nguyen Thi Thu Hang, M.Pd, selaku pengajar bahasa Indonesia di Open University Ho Chi Minh City. Dr. Le Thai Thuong Quan menyambut baik kedatangan PBI UMM. Menurutnya, kegiatan magang ini merupakan langkah penting bagi Open University Ho Chi Minh City dalam membekali mahasiswa keterampilan Bahasa Indonesia. Ia pun menyatakan dukungan penuh pada program CoE Diplomasi Bahasa PBI UMM. “Kerja sama ini adalah tonggak penting bagi kedua institusi. Kami sangat senang bisa bekerja sama dengan Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM, terutama dalam mendukung program unggulan Center of Excellence Diplomasi Bahasa,” ungkap Dr. Le Thai Thuong Quan. Sejalan dengan itu, dalam sambutan penyerahan mahasiswa, Arif Setiawan, M.Pd. mengatakan, kegiatan magang ini menandai kolaborasi pertama dalam bentuk konkret antara UMM dan Open University Ho Chi Minh City. Ia pun menyampaikan terima kasih atas sambutan baik dan dukungan yang diberikan. “Alhamdulillah, inisiasi kerja sama yang telah disepakati dan dituangkan dalam MoU akhirnya dapat terealisasi. Kami berterima kasih atas sambutan baik dari Open University Ho Chi Minh City dan kami berharap kegiatan ini akan terus berlanjut di masa depan,” ungkapnya. Selain itu, para mahasiswa juga mengunjungi Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Ho Chi Minh City, (14/06/2024). Rombongan disambut dengan hangat oleh Agustaviano Sofjan, Konsulat Jenderal Indonesia di Vietnam, serta Jovanka Tania, Kepala Bidang Konsultasi dan Imigrasi. Dalam diskusi itu, Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si. menyampaikan ucapan terima kasih karena selalu diberi mahasiswa dari Vietnam. Hal itu berdampak signifikan terhadap hubungan kerja sama UMM dan Vietnam. Juga, terhadap visi internasionalisasi bahasa Indonesia. “UMM sangat berterima kasih karena setiap tahunnya diberikan mahasiswa asing yang berasal dari Vietnam, sehingga hubungan antara indonesia khususnya UMM dan Vietanam sangat hangat dan erat. Kegiatan magang mahasiswa ini menjadi salah satunya,” katanya. Agustaviano Sofjan pun menyampaikan rasa bangganya terhadap perkembangan mahasiswa asing yang belajar di UMM. Pasalnya, para alumni UMM selalu membawa banyak hal dari UMM yang diterapkan di Vietnam dan berperan aktif dalam program BIPA di Vietnam. Selain itu, ia mengaku senang karena kegiatan magang BIPA ini sangat diperlukan untuk mendukung internasionalisasi bahasa Indonesia. “Kegiatan magang seperti ini sangat diperlukan untuk mendukung internasionalisasi bahasa Indonesia. Kami mendukung penuh kegiatan ini. Dan, kami mohon izin melibatkan adik-adik magang untuk mengajarkan bahasa, budaya, dan pengetahuan Indonesia di KJRI,” pungkas Agustaviano Sofjan. Kesempatan ini juga dimanfaatkan dosen PBI UMM untuk mengunjungi University of Social Sciences and Humanities (USSH) dan menyiapkan implementasi kerja sama dalam waktu dekat. Diskusi dilakukan dengan hangat bersama Dr. Thuan Nguyen Thanh, M.A, Dekan Fakultas Oriental Studies, serta Ho Ngoc Hieu, M.Pd, dan Thon Trang selaku dosen bahasa Indonesia. Dalam pertemuan itu, USSH menyatakana siap untuk mengaplikasikan dan merealisasikan kerja sama yang telah dibangun dengan UMM. “USSH sangat siap menerima mahasiswa magang dari UMM untuk mengajarkan bahasa Indonesia yang kami sajikan setiap semester. Kami juga menunggu kedatangan dosen dari UMM untuk mengajar bahasa Indonesia di USSH,” ujar Dr. Thuan Nguyen Thanh. Melalui kegiatan magang ini, diharapkan para mahasiswa dapat membawa pengalaman berharga yang dapat mendukung pengembangan kompetensi mereka di bidang pendidikan bahasa Indonesia. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat hubungan antara UMM dengan berbagai institusi di Vietnam, memperluas jaringan kerja sama internasional, serta mempromosikan bahasa dan budaya Indonesia di kancah internasional. Kegiatan magang ini menjadi bukti konkret dari komitmen PBI UMM dalam mengembangkan kerja sama internasional dan mendukung program internasionalisasi bahasa Indonesia. Diharapkan, ke depannya, PBI UMM dapat terus memperluas program magang internasional ini dengan melibatkan lebih banyak institusi pendidikan dan kebudayaan di berbagai negara. (*fd)

Raih Hibah Rekognisi Pembelajaran (RPL), FKIP UMM Siap Buka Jalur RPL untuk 6 Prodi

FKIP News – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan prestasinya dengan meraih hibah Rekognisi Pembelajaran (RPL) tipe A dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Melalui surat Nomor : 3853/E2/DT.00.05/2024 Tanggal 29 Mei 2024, FKIP UMM ditetapkan sebagai salah satu dari 60 perguruan tinggi penerima hibah RPL dan secara resmi akan mengimplementasiskan Program RPL pada semester ganjil 2024/2025 untuk 6 Prodi, yaitu Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, Pendidikan Biologi, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), serta Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Dalam rangka implementasi hibah, koordinator program sekaligus Wakil Dekan 1 FKIP UMM, Dr. Sugiarti, M.Si., dan Fida Pangesti, S.Pd., M.A., mengikuti bimbingan teknis (bimtek) bagi perguruan tinggi penerima bantuan pemerintah (Banpem) RPL. Bimtek ini dilaksanakan di Universitas Dian Nuswantoro, Semarang, pada 11—12 Juni 2024 kemarin. Kehadiran kedua perwakilan FKIP UMM ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang implementasi RPL di lingkungan pendidikan tinggi. Dr. Sugiarti menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas penerimaan hibah ini. “Kami sangat bersyukur menerima hibah RPL tipe A ini. Ini merupakan pengakuan atas kerja keras FKIP UMM dalam meningkatkan mutu pendidikan. Khususnya, dalam memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mengenyam pendidikan tinggi dan mendapatkan gelar S-1,” ujarnya. Rekognisi Pembelajaran (RPL) merupakan salah satu program penting dalam upaya meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan tinggi di Indonesia. Dengan adanya hibah RPL tipe A ini, FKIP UMM diharapkan dapat memberikan pengakuan terhadap pembelajaran yang telah ditempuh oleh mahasiswa melalui pengalaman akademik dan non-akademik. Ini termasuk pengakuan atas kursus, pelatihan, pekerjaan, atau kegiatan lain yang relevan dengan program studi mereka. Dengan demikian, calon mahasiswa dapat mengajukan pengakuan atas pembelajaran formal maupun informal yang telah mereka peroleh sebelumnya untuk mendapatkan kredit akademik. Hal ini memungkinkan mereka untuk mempercepat penyelesaian studi serta menghemat waktu dan biaya studi. Sugiarti pun menambahkan, bimtek ini merupakan kesempatan berharga bagi FKIP UMM untuk belajar dari perguruan tinggi lain yang juga menerima hibah RPL. “Bimtek ini merupakan kesempatan berharga bagi kami untuk mendapatkan wawasan dan pemahaman lebih mendalam tentang implementasi RPL. Kami juga mendapat inspirasi bagaimana mengoptimalkan program RPL, baik dari masukan reviewer maupun dari praktik baik perguruan tinggi lain pada sesi FGD,” jelasnya. Selain manfaat bagi calon mahasiswa dan mahasiswa, penerimaan hibah ini juga membuka peluang bagi FKIP UMM untuk mengembangkan kurikulum yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan zaman. Dengan demikian, lulusan dari FKIP UMM akan memiliki daya saing yang lebih tinggi di dunia kerja, baik di tingkat nasional maupun internasional. Kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi akan memberikan bekal yang lebih baik bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan di dunia kerja. Dengan semangat baru dan dukungan hibah ini, FKIP UMM optimis dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam mencetak generasi penerus bangsa yang unggul dan berdaya saing tinggi. (*fd)

Kuatkan Jiwa Bela Negara, Mahasiswa PPG Prajabatan FKIP UMM Ikuti Pendidikan Bela Negara di Lanal Malang

FKIP News – Sebanyak 515 mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalani pelatihan bela negara di Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Malang. Pelatihan ini berlangsung selama dua hari, dari Rabu (5/5) hingga Kamis (6/5), dengan tujuan untuk memperkuat karakter dan jiwa kebangsaan calon guru. Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani MM, menekankan pentingnya bela negara sebagai salah satu pilar utama dalam pembangunan bangsa. Menurutnya, seorang guru sebagai komponen penting dalam pendidikan, perlu memiliki pemahaman yang mendalam mengenai bela negara. “Mahasiswa PPG UMM adalah calon guru profesional yang akan melanjutkan pembangunan bangsa di masa depan,” ujarnya. Trisakti juga menyoroti tanggung jawab berat yang akan dihadapi oleh guru di masa depan, mengingat tantangan yang semakin kompleks bagi generasi muda. Menurutnya, bela negara bukan hanya tentang aspek militer, tetapi juga harus mencakup semua lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa. “Melalui diklat bela negara ini, diharapkan karakter calon guru dapat terbentuk dengan baik, sehingga mampu menciptakan generasi emas bangsa melalui pendidikan,” katanya. Selama pelatihan, para mahasiswa tinggal di Lanal dan mengikuti berbagai peraturan serta kebiasaan yang ada di sana. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa. Mereka mendapatkan sejumlah materi penguatan bela negara yang mencakup berbagai aspek penting. Komandan Lanal Malang, Kolonel Laut (KH/W) Rinanda Sintasari SSos MTr Ap, memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi para mahasiswa PPG UMM selama pelatihan berlangsung. “Pengalaman ini hendaknya dijadikan sebagai pelengkap dan modal untuk mendidik generasi bangsa,” ujarnya. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada PPG UMM atas kepercayaannya kepada Lanal Malang untuk menyelenggarakan kegiatan bela negara ini. Menurutnya, selama dua hari tersebut, para peserta diklat mampu mengikuti seluruh materi yang diberikan dengan baik dan menunjukkan keterampilan bela negara yang memadai. “Keterampilan bela negara para mahasiswa PPG sudah tak diragukan lagi,” tambahnya. Dengan pelatihan bela negara ini, diharapkan para mahasiswa PPG UMM mampu menghadapi tantangan masa depan dengan karakter yang kuat dan jiwa kebangsaan yang kokoh. Kegiatan ini tidak hanya membekali mereka dengan pengetahuan, tetapi juga semangat untuk terus berkontribusi dalam pembangunan bangsa melalui pendidikan. Pelatihan ini menjadi langkah awal yang penting bagi para calon guru untuk mengemban tugas besar dalam mencetak generasi penerus yang berkualitas dan berjiwa nasionalis. Dengan demikian, diharapkan mereka dapat memberikan sumbangsih yang signifikan dalam menciptakan Indonesia yang lebih tangguh dan berdaya saing di kancah global. (*)

Bahas Pengembangan BIPA Thailand Selatan, Konjen RI Songhkla Terima Kunjungan Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM

FKIP News—Upaya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk berkontribusi dalam visi internasionalisasi bahasa Indonesia terus dilakukan. Salah satunya dengan membuka dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak di luar negeri dalam pelaksanaan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Karena itu, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) FKIP UMM sekaligus Kepala UPT BIPA UMM Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si. beserta jajaran yakni Fida Pangesti, S.Pd., M.A. dan Sri Ayu Ramadhani, M.Psi melakukan kunjungan ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Songkhla, Thailand. Dalam kunjungan pada Jumat (31/05/2024) ini, rombongan UMM diterima secara langsung oleh Konsul RI, Suargana Pringganu, beserta dua staf Fungsi Sosial dan Budaya, Marsya Fadhia Akmal dan Gregorius Bangkit, yang memiliki latar ke-BIPA-an. Dalam pertemuan itu, tim UMM memaparkan sepak terjang BIPA UMM serta sejumlah program internasional unggulan. Pada berbagai program yang telah berjalan, mahasiswa BIPA banyak yang berasal dari Thailand, khususnya Thailand Selatan. Program itu di antaranya adalah Darmasiswa, Kemitraan Negara Berkembang (KNB), Asia-Africa Student Scholarship (AASS), dan Beasiswa PP Muhammadiyah. “Universitas Muhammadiyah Malang sudah sejak lama menjalankan program BIPA dan sejauh ini salah satu negara penyumbang terbanyak mahasiswa BIPA kami adalah Thailand, khususnya Thailand Selatan,” ungkap Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si. Hal itu, menurut Arif, merupakan modal yang kuat untuk menjalin kerja sama lebih jauh dengana berbagai instansi yang ada di Thailand Selatan. Oleh karena itu, kunjungan tim Prodi PBI FKIP UMM kali ini juga dalam rangka mengunjungi alumni yang saat ini bekerja sebagi penegajar BIPA di Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School. “Salah satu alumni kami menjadi pengajar BIPA di Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School. Dan kami secara proaktif kami berkunjung dan menjajaki kerja sama. Ini merupakan langkah penting untuk mewujudkan visi internasionalisasi bahasa Indonesia,” tegasnya. Ke depan, tambah Fida Pangesti, kerja sama ini diharapkan dapat menjadi medium bagi pengembangan kompetensi mahasiswa PBI FKIP UMM yang tergabung dalam Program Center of Exellence (CoE) Diplomasi Bahasa. CoE Diplomasi Bahasa dirancang untuk memenuhi kebutuhan akan instruktur BIPA yang semakin meningkat. Melalui desain mata kuliah yang tidak hanya secara teoritis membekali pengetahuan pengajaran BIPA tetapi juga secara praktis membekali pengalaman mengajar BIPA di dalam maupun luar negeri, diharapkan akan lahir pengajar-pengajar BIPA profesional yang mempercepat pencapaian visi peningkatan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. “Salah satu realisasi kerja sama yang kami jajaki utamanya adalah kegiatan magang mahasiswa CoE Diplomasi Bahasa di Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School,” ungkap Fida. Selanjutnya, ia juga menjelaskan berbagai program internasional UMM yang dapat untuk diakses mahasiswa Thailand. Salah satunya adalah beasiswa UMM Summit. “Beasiswa kampus UMM ini memiliki dua skema yaitu fully funded scholarship dan partial scholarship. Calon mahasiswa dapat mendaaftar untuk program S1, S2, maupun S3,” katanya. Konsulat Jenderal RI, Suargana Pringganu, mengaku senang mendengar paparan tim UMM. Pasalnya, tidak semua program BIPA yang dijalankan di Thailand Selatan terekam di KJRI. “Ini justru menjadi informasi baru untuk kami. Sejujurnya, kami kesulitan mendata titik-titik BIPA di Thailand Selatan ini,” katanya. Menurutnya, minat orang Thailand belajar bahasa Indonesia ke Indonesia memang luar biasa. Lulusan luar negeri orang Thailand kebanyakan belajar ke Indonesia dan Mesir. Pembelajaran BIPA di Thailand Selatan juga berkembang pesat meski saat ini mengalami penurunan akibat dihentikannya program pengiriman guru BIPA ke luar negeri. “Minatnya tinggi, namun terkendala biaya. Sehingga, ketika pemerintah Indonesia tidak lagi mengirim guru BIPA, banyak titik-titik BIPA yang tidak lagi berjalan,” ungkapnya. Karena itu, ia mengaku sangat senang bahwa Prodi PBI FKIP UMM memiliki program CoE Diplomasi Bahasa dan akan mengirimkan mahasiswa magang BIPA di Thailand Selatan. Hal itu akan membuka titik BIPA baru. Ia juga berharap Dosen PBI dapat memberikan pelatihan pengajaran BIPA kepada orang Indonesia yang ada di Thailand. Karena, selama ini banyak ditemui pengajar BIPA di Thailand Selatan yang tidak berasal dari bidang bahasa Indonesia dan belum memiliki latar pengetahuan ke-BIPA-an yang mumpuni. “Prinsipnya kami menyambut baik gagasan dan rencana UMM dalam menjalin kerja sama dengan Thailand Selatan. Kami akan mempromosikan program-program UMM dan membantu hal-hal yang dibutuhkan untuk merealisasikan hal itu,” tutupnya. (*fd)

Dukung Internasionalisasi Bahasa Indonesia, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Jajaki Kerja Sama dengan Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School, Thailand

FKIP News—Perkembangan pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Thailand, khususnya Thailand Selatan, menjadi perhatian Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).  Hal itu mendorong tim dosen PBI FKIP UMM untuk melakukan kunjungan untuk melihat praktik pembelajaran BIPA di salah satu Sekolah terkemuka di Thailand Selatan, yakni Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School. Dalam kunjungan pada Kamis (30/05/2024) itu, rombongan juga melakukan penjajakan kerja sama strategis pada bidang pengajaran, penelitian, dan pengabdian. Rombongan UMM disambut hangat oleh Direktur beserta jajaran dan perwakilan siswa SMP dan SMA Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School. Istimewanya, acara dibuka dengan presentasi pengenalan sekolah oleh perwakilan siswa SMP dengan menggunakan bahasa Indonesia. Dosen Prodi PBI sekaligus kepala UPT BIPA UMM, Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si., saat memberikan sambutannya mengatakan sangat senang dan bangga melihat kemampuan bahasa Indonesia siswa. “Kami bersyukur akhirnya dapat berkunjung ke Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School ini. Terlebih, melihat bagaimana kemampuan berbahasa Indonesia siswa yang luar biasa. Kami merasa terharu dan bangga,” ungkapnya. Ia pun menjelaskan, UMM merupakan perguruan tinggi terkemuka yang memiliki komitmen dalam mengembangkan pembelajaran BIPA di dalam dan luar negeri. UPT BIPA telah melahirkan ratusan alumni yang tersebar di berbagai negara. Alumni tersebut sebagian besar bekerja dalam bidang bahasa Indonesia. Salah satunya, Suhainee Saah yang saat ini menjadi pengajar BIPA di Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School. Kunjungan ini, tambahnya, juga merupakan wujud dari komitmen itu. Melalui Block Grant FKIP UMM, khususnya bidang penelitian, rombongan ingin melihat lebih dekat bagaimana peluang dan tantangan pembelajaran bahasa Indonesia di Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School. “Harapannya, kami dapat membantu menjawab tantangan yang dihadapi melalui berbagai kolaborasi di masa depan,” ungkap dosen yang juga pernah menjabat sebagai kepala Afiliasi Pengajar dan Pegiat BIPA Jawa Timur itu. Fida Pangesti, S.Pd., M.A. menambahkan, kerja sama ini dapat berupa kerja sama pengajaran, penelitian, maupun pengabdian. Hal ini sangat dimungkinkan. Terlebih, saat ini Prodi PBI memiliki program Center of Exellence (CoE) Diplomasi Bahasa. “CoE Diplomasi Bahasa merupakan program unggulan Prodi PBI FKIP UMM yang bertujuan untuk mencetak calon guru BIPA profesional. Selain mendapat teori pengajaran BIPA, mahasiswa dibekali pengalaman melalui program magang di dalam maupun luar negeri. Nantinya, kami berharap mahasiswa kami juga dapat melaksanakan program magang di sekolah ini,” katanya. Selain itu, Fida, sapaan akrabnya, juga menjelaskan berbagai peluang bagi lulusan Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School untuk dapat melanjutkan studi di Universitas Muhammadiyah Malang. “Selain Program beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) oleh Kemendikbudristek, ada pula beasiswa UMM Summit yang memberikan beasiswa penuh maupun beasiswa sebagian,” tambahnya. Menyimak informasi tersebut, Direktur Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School, Seri Ingkhong, terlihat antusias. Ia menjelaskan, Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School memiliki program bahasa asing tidak hanya untuk siswa SMA, tetapi juga siswa SMP. Dan sejauh ini, program bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa asing favorit siswa. Bahkan, mereka telah memenangkan berbagai kompetisi bahasa Indonesia tingkata nasional. “Siswa kami bisa memilih bahasa asing yanag mereka minati dan mempelajarinya dalam satu semester. Menariknya, banyak dari mereka yang mengambil program bahasa Indonesia,” pungkasnya. Oleh karena itu, menurutnya, kunjungan UMM dan penjelasan tentang program-program yang ditawarkan UMM dapat menjadi angin segar bagi Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School. Ia pun berjanji akan melakukan kunjungan balikan ke UMM untuk membahas lebih jauh poin-poin kerja sama yang dapat dikolaborasikan. “Kolaborasi ini sangat penting bagi kita dalam rangka memajukan pendidikan, khususnya pengajaran bahasa Indonesia di sekolah kami. Oleh karena itu, kami tidak sabar untuk berkunjung ke UMM dan mendiskusikan lebih spesifik kerja sama ini,” tutupnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan observasi pembelajaran bahasa Indonesia di SMP Hatyai Wittayalai Somboonkulkanya School. Para siswa tampak sangat bersemangat belajar materi tentang warna. Sebagai apresiasi, beberapa siswa yang aktif mendapatkan souvenir UMM. (*fd)