PMM Modul Nusantara, Dikti Apresiasi Pendampingan Dosen FKIP UMM yang Hasilkan 21 HKI dan 4 Buku

Minggu, 08 Januari 2023 20:25 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang—Universitas Muhammadiyah Malang melangsungkan Festival Budaya dan Pelepasan Pertukaran Mahassiwa Merdeka (PMM) 2 Inbound Modul Nusantara bertajuk “Merawat Kebhinekaan Abadi, Bersua Dalam Memori”, Sabtu (09/01/2022). Digelar di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang, acara dihadiri oleh jajaran Wakil Rektor I dan III, Kabiro Akademik, Kabiro Kemahasiswaan, Direktur Rusunawa, Kepala Pusdiklat, pengelola program, Dosen pengampu, LO kegiatan, dan 47 mahasiswa peserta PMM Modul Nusantara yang berasal 19 universitas dari luar Jawa. Dalam program ini, dua dosen FKIP UMM dari Prodi PGSD didapuk menjadi pengampu yang memfasilitasi seluruh program. Dua dosen itu adalah Dyah Worowirasti Ekowati, M.Pd. dan Beti Istanti Suwandayani, S.Pd., M.Pd. Di bawah bimbingannya, pelaksanaan PMM 2 Modul Nusantara telah melampaui target yang diberikan Dikti dengan luaran tambahan berupa 21 HKI dan 4 buku ber-ISBN. Ditemui di sela acara, Dyah mengatakan luaran ini merupakan representasi dari budaya kerja di UMM. “Kita di UMM selalu terbiasa dan dibiasakan bekerja melampaui standar. Jadi, meskipun sebetulnya luarannya hanya berupa laporan bulanan, kami berupaya mendorong mahasiswa untuk bekerja berbasis produk,” ungkap Dyah. Capaian ini mendapat apresiasi dari Dikti. Menurut Lindawati Sumpena, perwakilan PMM Modul Nusantara Dikti untuk UMM, ini merupakan praktik bagaiman bekerja untuk keabadian lewat tulisan seperti yang dikatakan Pramodya Ananta Toer. “Bahkan, saya dengar adik-adik juga menjadi content creator dengan 12 artikel publikasi media massa. Jadi, saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak/Ibu dosen Modul Nusantara yang sudah mengayomi dengan sepenuh hati, mendorong dan memfasilitasi adik-adik Modul Nusantara hingga bisa menghasilkan karya-karya positif untuk masyarakat,” ujar Lindawati Sumpena. Tak hanya itu, kegiatan misi kemanusiaan di Desa Lebakharjo, Kabupaten Malang juga mendapatkan apresiasi dari PMM 2 pusat. Dikatakan Muhammad Hanif selaku Kepala Suku PMM 2 UMM, kegiatan PMM misi kemanusiaan UMM masih menjadi unggulan dan selalu ditampilkan dalam kegiatan Kampur Merdeka Fair yang digelar Dikti. “Ini membuktikan bahwa mahasiswa PMM 2 Modul Nusantara telah mengemban Amanah dalam membawa nama baik UMM di tingkat nasional,” ungkap Hanif, sapaan akrabnya. mahasiswa Universitas Bosoa, Makasar, itu. Selain pendampingan dosen yang luar biasa, masih menurut Hanif, fasilitas dan iklim belajar di UMM juga menjadi kunci keberhasilan mereka. Para mahasiswa PMM tidak hanya diberi fasilitas fisik seperti rusunawa, alat transportasi, fasilitas olahraga dan sebagainya, tetapi juga akses-akses akademik seperti perkuliahan di berbagai Prodi, keikutsertaan dalam seminar, PIMNAS, dan berbagai kegiatan akademik yang dihelat UMM. “Terima kasih telah mengizinkan kami merasakan petualang pengetahuan dan memetik pengalaman berharga selama 6 bulan ini. Bagi kami, UMM bukan hanya rumah, tetapi labolatorium peradaban,” tutup mahasiswa Universitas Bosoa, Makasar ini dengan tegas. Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan AIK, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengatakan, multikulturalisme yang menjadi target dari acara PMM 2 Modul Nusantara terlah tercapai. Bahkan, melampaui apa yang seharusnya terutama dalam hal pengalaman. Pasalnya, UMM bukan hanya miniatur Indonesia, tetapi juga miniatur dunia karena yang belajar di UMM bukan hanya dari seluruh Indonesia, tetapi dari berbagai belahan dunia. Dan, para mahasiswa internasional juga terlibat dalam kegiatan ini. Ia pun mengucapkan selamat jalan dan berpesan agar hal baik di UMM dapat diterapkan di daerah masing-masing. “Semoga Selamat kembali ke kampung halaman. Selamat menerapkan benchmarking, hal-hal positif, yang didapatkan di UMM ini di daerah masing-masing. Utamanya, tentang kesatuan dan keberagaman, serta bagaimana kita berkontribusi nyata untuk masyarakat kita,” tandasnya. Hal yang menarik dari perhelatan ini adalah seluruh peserta menggunakan pakaian adat dari daerah masing-masing sebagai representasi dari keberagaman nusantara. Acara juga dimeriahkan dengan tari-tarian tradisional, seperti Tari Saman dan Tari Tor-tor. Tak hanya itu, ada pula Talkshow dengan pemateri dua dosen FKIP yakni Prof. Dr. Yus Mochammad Cholili dan Dr. Endang Poerwanti, M.Pd. Prof. Dalam talkshow itu, Prof. Yus menekankan pentingnya mahasiswa sebagai marketer atau reprsentatif dari daerah masing-masing, sementara Dr. Endang menekankan pentingnya pengembangan potensi diri dalam kerangka keberagaman untuk melahirkan Ki Hajar Dewantara-Ki Hajar Dewantara di masa depan. (*fid)

Terus Berkarya Lestarikan Budaya, PGSD Adakan Pagelaran Drama

Sabtu, 31 Desember 2022 22:26 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang—Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang menyelenggarakan pementasan drama dengan tema “Mega Baskara”. Acara tersebut bertempat di Aula GKB 3 Universitas Muhammadiyah Malang pada hari Kamis, 29 Desember 2022 yang dimulai pada pukul 08.00 WIB. Peserta pagelaran drama merupakan mahasiswa PGSD angkatan 2021, yang terdiri dari empat kelas. Pagelaran drama tersebut digelar setiap tahun sebagai bentuk realisasi dari proyek akhir mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia SD yang diamou oleh Innany Mukhlishina, M.Pd dan Delora Jantung Amelia, M.Pd. Kegiatan tahunan yang dinanti-nanti dimana setiap kelas dalam satu angkatan mempertunjukkan cerita rakyat, seni tari, hingga puisi. Pegelaran dikemas dengan unsur-unsur materi yang dimuat dalam mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia SD sehingga mahasiswa dapat belajar dan menyalurkan bakatnya. “Selain itu, luaran dari kegiatan ini adalah lulusan PGSD yang multilalenta, tidak sekedar memliki kemampuan akademik dan keahlian mengajar, namun  juga  memiliki keahlian lain di bidang nonakademik,” ungkap Innany, sapaan akrabnya. Naila Zulfaida, selaku ketua pelaksana mengatakan bahwa pagelaran drama bertujuan untuk menjaga budaya nusantara, menghidupkan kembali cerita rakyat, mengajak teman teman mahasiswa untuk mencintai budaya lokal, dan tentunya mempererat tali persaudaraan antar kelas. “Pagelaran drama tidak hanya sebagai ajang kompetisi dan tugas akhir saja, tetapi juga menambah tali persaudaraan teman-teman satu angkatan” tuturnya. Teknis dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah setiap kelas membawakan cerita dari pulau di Indonesia yang berbeda, antara lain cerita rakyat dari pulau Jawa, pulau Sumatra, pulau Kalimanta, dan pulau Papua. Pulau ditentukan di awal, kelas tidak bisa memilih sendiri. Dalam kelas dibagi menjadi dua kelompok yakni panitia penyelenggara dan tim drama yang mana terdiri dari sutradara, aktor, penulis naskah, dan lain sebagainya sehingga pelaksanan drama ini murni diselenggaran dan diperuntukan PGSD satu angkatan.

Selamat! Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Raih Akreditasi “A” LAMDIK

Rabu, 28 Desember 2022 23:02 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan MALANG – Setelah berjuang menyiapkan borang dan menjalani asesmen lapang, Program Studi Sarjana (S1) Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Malang akhirnya berhasil meraih akreditasi A.  Akreditasi ini, merujuk pada Surat Keputusan Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) Nomor 667/SK/LAMDIK/Ak/S/XI/2022, berlaku hingga 20 Juni 2027 mendatang. Capaian ini mengukuhkan komitmen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia menjadi Prodi yang unggul dan terdepan. Pasalnya, tahun sebelumnya Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia telah terakreditasi Unggul pada ISK BAN-PT dan kini menjadi Prodi pertama di FKIP UMM yang meraih akreditasi A dari LAMDIK. Capaian ini menunjukkan bahwa budaya yang dibangun prodi telah memenuhi 9 standar kerja yang ditetapkan SN-Dikti. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Arif Setiawan, M.Pd. mengaku di antara kesembilan standar itu, SDM serta Keluaran dan Capaian Tridarma menjadi standar yang paling menonjol. Tercatat, 60% dosen berkualifikasi doktor, 14% sedang menempuh program doktor, dan sisanya berkualifikasi magister. Prodi juga telah memiliki satu profesor dalam bidang Pendidikan Bahasa Indonesia. “Kami sadar bahwa generasi masa depan yang unggul hanya tercipta dari SDM yang unggul pula. Jadi, itu memang menjadi fokus kami,” pungkasnya saat ditemui di Kantor Prodi, Selasa (13/12). Seluruh dosen terlibat aktif dalam kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat, baik melalui skema pendanaan mandiri, internal, maupun eksternal. Tak hanya itu, hasil penelitian dan pengabdian juga diintregasikan dalam pembelajaran yang berbasis, sehingga pembelajaran memiliki novelty dan relevansi. Alhasil, dalam kurun 3 tahun terakhir, tak kurang dari 582 karya dosen dan mahasiswa telah dipublikasikan di tingkat nasional maupun internasional, dan jumlah sitasi mencapai 1.748. “HaKI yang kami peroleh juga jauh di atas standar minimal yang ditetapkan. Ada 38 HaKI yang kami peroleh dan itu didominasi oleh karya mahasiswa dan dosen sebagai luaran perkuliahan. Ini mendapatkan apresiasi dari para asesor pada saat asesmen lapang kemarin,” tambahnya. Selain strategi integrasi penelitian-pengabdian dengan pembelajaran berbasis luaran, Prodi juga memiliki strategi khusus lain, yakni ekuivalensi skripsi. Melalui …. Pada akhirnya, capaian ini menjadi dorongan untuk melangkah ke tahap yang berikutnya. “Harapannya ke depan Prodi dapat terus berbenah sesuai dengan poin yang dirasa kurang dalam akreditasi LAMDIK. Kami juga sedang mempersiapkan untuk akreditasi internasional FIBAA,” tandasnya. (*fid)

FKIP UMM Kembali Gelar Orientasi PPG Prajabatan Tahun 2022

Senin, 12 Desember 2022 00:38 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan MALANG – Sebanyak 304 mahasiswa ikuti Orientasi Akademik dalam Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan gelombang 2 tahun 2022 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (9/12). Kegiatan yang dilaksanakan secara luring di Hotel Grand Mercure ini diikuti oleh 70 mahasiswa bidang studi Biologi, 41 mahasiswa bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan, 47 mahasiswa bidang studi Bahasa Inggris, dan 146 mahasiswa bidang Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Dr. Iin Hindun, M.Kes, Ketua Prodi PPG mengatakan, hal itu didasarkan pada surat Direktur Pendidikan Profesi Guru Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudsritek. Ia pun mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung pada seluruh mahasiswa. “Selamat bergabung di Prodi PPG FKIP UMM. Di sini kita akan berproses bersama dalam upaya menghasilkan guru-guru profesional masa depan,” kata in Hindun. Lebih lanjut, Dekan FKIP UMM Dr Trisakti Handayani MM menjelaskan secara rinci pelaksanaan PPG Prajabatan ini. Dalam sambutannya, ia mengatakan, mahasiswa PPG akan melaksanakan kegiatan selama dua semester dengan 12 matakukiah dan bobot 39 SKS hingga 2023. Yang menarik, mahasiswa PPG Pra Jabatan ini akan terjun langsung ke sekolah sejak semester 1. “Dari 39 SKS ini, 16 SKS nanti berisikan tentang Praktik Pengalaman Lapang atau PPL. Sehingga mahasiswa diharapkan memiliki pengalaman nyata yang sangat bermanfaat bagi pengembangan profesinya ke depan,” pungkasnya. Dalam proses pembelajaran nanti, mahasiswa akan dibekali dengan penguasaan teknologi. Ini sebagai bentuk komitmen FKIP UMM dalam menyebut jika PPG Prajabatan diarahkan untuk menciptakan generasi di Indonesia yang siap menyongsong era global dengan penguasaan teknologi yang handal melalui peran guru. “PPG FKIP UMM akan mewujudkan guru profesional yang mengamalkan Pancasila, berkomitmen menjadi teladan, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat,” tukasnya. Baca Juga: Jawa Post Radar Malang: UMM Sambut 304 Mahasiswa PPG Prajabatan Gelombang 2 Tahun 2022

Gelar Yudisium, 171 Sarjana FKIP Siap Berkontribusi Untuk Negeri

 Minggu, 04 Desember 2022 00:34 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang—Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang gelar Yudisium Periode IV Tahun 2022 untuk 171 mahasiswa, Minggu (4/12/22). Digelar secara luring di Rayz Hotel UMM dan daring melalui Zoom Meeting, yudisium yang dihadiri oleh jajaran dekanat, kaprodi, sekprodi, dan dosen FKIP ini mengangkat tema “Menjadi Pendidik Profesional Berkarakter dan Berwawasan Global” berjalan dengan khidmat. Dalam sambutannya, Dekan FKIP, Dr. Trisakti handayani, M.M., mengatakan FKIP UMM telah menyiapkan para lulusannya untuk siap dan optimis dalam menghadapi tantangan zaman. Saat ini, tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia adalah masalah sumber daya manusia. Kehidupan abad 21 memerlukan sumber daya yang tidak hanya memiliki keterampilan berpikir kritis dan inovatif, tetapi juga keterampilan kolaborasi dan komunikasi. Sehingga, dalam menghadapi kehidupan global yang tanpa sekat dan penuh ketidakpastian dengan rasa percaya diri. “Transformasi keilmuan berbasis pada nilai-nilai ke-Islam-an dan ke-Muhmmadiyah-an yang diinternalisasikan FKIP UMM pada kalian melalui pengembangan hardskill maupun softfkill menjadi bekal yang sangat kuat untuk mengubah dunia melalui pendidikan,” ungkap Trisakti. Lebih lanjut, Trisakti menegaskan bahwa kesempatan untuk menjadi guru professional sangat terbuka lebar. Sebanyak 40.000 kuota beasiswa PPG Prajabatan telah disiapkan oleh pemerintah bagi para fresh graduate dalam rangka menyiapkan para pengganti untuk para guru yang akan dan telah purna tugas. “Ini merupakan kesempatan bagi para adik-adik yang saat ini diyudisium untuk ikut berperan serta dalam membangun pendidikan bangsa. Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, sehingga adik-adik sekalian dapat menjadi guru professional yang dibuktikan dengan memiliki sertifikat pendidik sebelum kalian mengabdikan diri di dunia Pendidikan,” tegasnya. Sejalan dengan tema, orasi ilmiah yudisium kali ini menyajikan tema “Going Abroad with Scholarship, Why Not?”. Kali ini, hadir sebagai pemateri, alumni berprestasi FKIP UMM yang saat ini sedang menempuh studi magister di University of Glasgow Inggris, Rosida Dewi Faizatul Karimah. Mengawali orasi, Rosida, sapaan akrabnya, menjelaskan berbagai manfaat melanjutkan studi di luar negeri. “Banyak sekali benefit yang bisa kita peroleh. Bukan hanya tentang kualitas pembelajarannya atau keindahan tinggal di negara empat musim, tetapi juga keterampilan berbahasa, kemandirian, dan inisiatif yang meningkat seiring dengan jejaring internasional yang juga semakin luas,” terang alumni Prodi Pendidikan Matematika yang lulus tahun 2019 ini. Peraih Erasmus+ Scholarship di Politehnica University Timisoara, Romania ini pun membagikan step by step meraih beasiswa magister di luar negeri. Setelah memantapkan niat, hal yang harus dilakukan adalah mencari informasi, menyiapkan berkas administrative—seperti paspor, ijazah dan transkrip, CV, surat rekomendasi, motivation letter, dan sertifikat TOEFL/IELTS—, mendaftarkan diri, dan yang tidak kalah penting adalah meminta doa orang tua. Tak hanya berbagi tips dan trick, ia pun memotivasi para hadirin tentang kegigihan dan bangkit dari kegagalan. Nyatanya, sebelum dinyatakan lolos sebagai peraih beasiswa LPDP, ia sempat jatuh bangun selama dua tahun. Ada 5 beasiswa yang tak berhasil digenggamnya dan dua beasiswa yang terpaksa harus dilepas karena bersifat partial funded. “Failure is not the opposite of success, it’s a part of success. Tidak ap ajika gagal, cek Kembali dokumennya, sempurnakan dan daftar lagi, lagi, dan lagi samppai berhasil. Karena tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, usaha dan do’a memperendah itu semua,” tegas alumni yang aktif dalam kegiatan volunteer ini dan disambut tepuk tangan meriah dari para peserta yudisium. Yudisium kali ini juga mengukuhkan Abidin Muchlis el Ab’ror dari Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3,99. Mewakili para lulusan, mahasiswa kelahiran Trenggalek 24 tahun silam ini mengucapkan terima kasih kepada seluruh civitas akademika FKIP UMM yang senantiasa membantu, baik dalam bidang akademik, organisasi, kegiatan kemahasiswaan, dan berbagai dukungan lainnya. Disadari, seluruh dukungan itulah yang membawanya tidak hanya berhasil menyelesaikan studi, tetapi juga menjadi pribadi berprestasi. Ia mengaku bangga menjadi lulusan FKIP UMM dan berkomitmen untuk terus berkontribusi dan berprestasi. “Alangkah bahagianya hati kami, pada hari ini kami dinyatakan lulus dari FKIP UMM. Sebagai wujud syukur, kami akan terus menjaga amanah dalam menjaga almamater tercinta, membuka berbagai peluang di luar sana untuk adik-adik di FKIP, dan terus menerapkan serta mengembangkan ilmu yang kami peroleh demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa,” terangnya. (*/fid)

Kuliah Umum PPG FKIP UMM, Dirjen Paud Dikdasmen Dorong Pendidik Mandiri dan Merdeka

Selasa, 15 November 2022 23:33 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang – Prodi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang menggelar agenda kuliah umum, (Rabu, 9/11/2022). Mengusung tema “Kebijakan Pendidikan Nasional Menuju Indonesia Emas”, hadir sebagai pembicara Dr. Iwan Syahril, Ph.D., Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Dirjen Paud Dikdasmen). Acara turut dihadiri oleh Rektor, Wakil Rektor I, Dekanat FKIP UMM, Kaprodi PPG, dan mahasiswa PPG FKIP UMM. Dalam paparannya, Dr. Iwan Syahril menegaskan Kembali filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantoro. Terlebih, kondisi Pendidikan Indonesia saat ini lemah dalam hal karsa atau kemauan. Menurutnya, dewasa ini pendidikan bangsa terlena untuk menajamkan pikiran peserta didik saja, namun lupa kemauan dan keinginan para siswa di sekolah. Dengan kata lain, aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik ini sayangnya tidak diimbangi dengan kemauan yang diinginkan peserta didik. “Pendidikan yang hanya menajamkan pikiran tetapi mengesampingkan kemauan anak didik adalah pendidikan yang hampa. Justru, pendidikan yang memperhatikan kemauan akan selalu berkembang sekalipun dalam kondisi sulit,” terangnya pada acara yang berlokasi di Dome Theater Universitas Muhammadiyah Malang. Karena itu, para peserta diajak untuk mengembalikan arah pendidikan pada filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Dalam filosofi Ki Hajar Dewantara terkandung amanah terhadap profesi guru ini. Ing Ngarso Sung Tuladha mengamanatkan seorang guru menjadi seorang pemimpin yang dapat diteladani di kelasnya. Ing Madya Mangun Karso mengamanatkan seorang pendidik untuk senantiasa menguatkan keyakinan dan membangkitakan semangat mencerdaskan bangsa. Adapun Tut Wuri Handayani mengamatkan pendidik agar dapat melejitkan potensi dan proses tumbuh kembang anak didik sehingga kemandirian bisa terbentuk dalam dirinya. Pendidikan holistik yang dicanangkan oleh Ki Hajar Dewantara terbagi menjadi empat aspek yaitu oleh cipta, olah rasa, olah karsa, dan olahraga. Cipta secara makna yakni menajamkan pikiran, rasa memiliki dan menghaluskan perasaan. Karsa untuk menguatkan kemauan dan keinginan dan olahraga bertujuan agar menyehatkan jasmani atau fisik. Adapun pada poin cipta, rasa, dan karsa menjadi poin dalam Budi, sedangkan raga masuk dalam poin Pekerti. “Jadi, filosofi Ki Hajar Dewantara ini berupaya menghasilkan lulusan pendidikan yang mandiri dan merdeka,” tandasnya. Selaras dengan itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menuturkan jika guru memiliki tanggung jawab moral untuk menyiapkan generasi bangsa ketika berhadapan dengan bonus demografi. Oleh karena itu, guru harus memiliki kualifikasi yang baik atau professional. Sehingga, guru dapat mendidik dan mengembangkan kualitas anak bangsa. Guru punya tanggung jawab moral. Salah satunya dengan membekali anak didik dengan skill dan kualitas pendidikan yang baik. “Guru harus bisa memahami potensi tiap muridnya. Dari situlah nanti akan muncul bibit-bibit potensi yang mampu memajukan bangsa dan mewujudkan Indonesia emas 2045,” tutup Rektor UMM. Karena itu, UMM juga turut berkontribusi menyiapkan SDM mumpuni yang siap menghadapi kompetisi global melalui Center of Excellence (CoE). Saat ini, ada lebih dari 40 sekolah unggulan CoE yang tersebar di berbagai fakultas. Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ada lima sekolah unggulan yang sudah dilaksanakan yakni CoE konsultan pendidikan, media dan animasi pendidikan digital, english for hospitality, entrepreneur perbukuan dan sekolah wisata sejarah digital.

FKIP UMM Kukuhkan Dua Guru Besar Baru dan Launching Lima CoE

 Rabu, 02 November 2022 22:58 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa berkomitmen dalam memberikan kontribusi keilmuan untuk bangsa. Salah satunya melalui pengukuhan dua guru besar baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada Selasa (11/10). Keduanya ialah Prof. Dr. Dwi Priyo Utomo, M.Pd. pada bidang pendidikan matematika dan Prof. Dr. Rr Eko Susetyarini, M.Si. pada bidang biologi reproduksi. Menariknya, nuansa akademik dalam acara itu semakin kental dengan adanya peluncuran lima Center of Excellence (CoE) FKIP UMM. Mulai dari CoE Konsultan Pendidikan dari Prodi PGSD, CoE Media dan Animasi Pendidikan Digital dari Prodi Pendidikan Matematika dan English for Hospitality dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Pun dengan CoE Entrepreneur Perbukuan dari Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, dan CoE Sekolah Wisata Sejarah Digital dari Prodi PPKn. (Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. bersama Prof. Dr. Dwi Priyo Utomo, M.Pd dan Prof. Dr. Rr Eko Susetyarini, M.Si. (Foto: Wildan UMM) Dalam kesempatan itu, Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. menilai bahwa keduanya guru besar itu merupakan pribadi yang memiliki etos tinggi serta kerja keras yang tak kenal lelah. Maka ia mengapresiasi atas capaian tertinggi dalam bidang akademik yang sudah diraih. “Ini membuktikan bahwa keduanya sangat berdedikasi terkait keilmuan yang digeluti,” ungkapnya. Baca juga: Lecturer Series UMM: Multikulturalisme dan Perkembangan Asia  Fauzan, sapaan akrabnya juga berharap dengan bertambahnya profesor yang dimiliki UMM, kontribusi yang diberikan juga makin tinggi. Baik di level nasional, tapi juga pada tingkat global. Pun dengan korelasinya terhadap pengembangan UMM yang tengah berakselerasi dalam program internasionlisasi. Dalam pengukuhan tersebut, masing-masing memaparkan orasi ilmiahnya. Susetyarini menyampaikan orasi mengenai “Beluntas dan Antifertilitas Serta Implementasinya dalam Pembelajaran”. Ia menilai bahwa Indonesia merupakan megadiversitas dengan keanekaragaman tumbuhan yang berbentuk pohon, perdu, dan semak. Salah satu tanaman bentuk perdu yaitu beluntas, bermanfaat sebagai sumber makanan dan obat. Dalam hal ini, obat yang ia kembangkan merupakan antifertilitas yakni suatu zat atau bahan yang menyebabkan tidak terjadinya fertilisasi antara spermatozoa dengan ovum. Di masyarakat, antifertilitas digunakan sebagai program kontrasepsi dengan harapan menjarangkan kelahiran Penelitiannya tentang beluntas sebagai antifertilitas bermula dari fakta bahwa selama ini antiferlititas pada pria belum banyak diterapkan. Adapun saat ini, antifertilitas pria yang tersedia hanya sterilisasi atau suntikan testosterone. Namun menurutnya, perlu adanya pengembangan obat tradisional antifertilitas pria secara oral atau diminum. Baca juga: Bedah Buku Titik Nadir Penantian Karya Warga Lapas di NBS UMM “Penelitian ini telah melalui uji prekinis ke hewan coba tikus putih jantan yang menunjukan bahwa pemberian bubuk daun beluntas berkhasiat sebagai antifertilitas. Hal tersebut juga ditunjukkan dari hasil screening DNA mitokondria spermatozoa,” tambahnya. Di sisi lain, Priyo menyampaikan orasi terkait “Mengembangkan Pemahaman Relasional Siswa: Mengutamakan Pengetahuan Konseptual atau Prosedural?”. Menurutnya,  pemahaman relasional membantu siswa membangun skema untuk menghubungkan ilmu yang sudah mereka ketahui dengan pengetahuan yang baru. Pengembangan ide-ide dalam memecahkan soal matematika juga berangkat dari sana. Pemahaman relasional, lanjutnya, berkaitan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan konseptual. Namun, di lapangan, terjadi perdebatan tentang mana yang harus diutamakan antara kedua pengetahuan tersebut. “Padahal, hakikatnya, hubungan antara pengetahuan konseptual dan prosedural bersifat bilateral,” tegasnya. Karena itu, pembelajaran yang menitikberatkan pada pengembangan pengetahuan konseptual dan prosedural harus disempurnakan sehingga menjadi lebih jelas. Penjelasan yang lebih rinci dapat mengubah pembelajaran tradisional yang umumnya bersifat prosedural menjadi pembelajaran yang juga mengutamakan pengetahuan konseptual. Dalam kesempatan itu, turut memberikan selamat ketua BPH UMM sekaligus Menko PMK RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Ia mendorong dosen-dosen lain untuk segera mengikuti jejak keduanya. Apalagi guru besar merupakan pangkat tertinggi bagi para dosen. “Saya juga ingin agar para profesor UMM dapat mempublikasikan ide-idenya, tidak hanya lewat publikasi ilmiah jurnal, tapi juga publikasi di ruang publik. Maka, upaya itu bisa dilakukan para guru besar dengan masif agar memberikan dampak positif,” tambahnya. Tidak jauh berbeda, Kepala LLDIKTI Wilayah VII Prof. Dr. Dyah Sawitri, SE.,MM. Menurutnya, pengembangan perguruan tinggi merupakan tanggung jawab bersama. Salah satunya bagaimana sivitas akademika terus meningkatkan jabatan fungsional dosen. “Apalagi kini ada sederet kemudahan yang bisa dilakukan oleh para dosen. Maka tak ada alasan lagi untuk terus berupaya menignkatkan jabatan fungsional ini sekaligus meningkatkan reputasi perguruan tinggi,” tuturnya mengakhiri. (wil)

SMUTU Sumenep Gandeng UMM Perkuat Literasi Ilmiah Guru

 Jum’at, 07 Oktober 2022 02:43 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan SMA Muhammadiyah 1 Sumenep (SMUTU) merupakan salah satu sekolah terkemuka di Sumenep. Kiprahnya dalam mencetak generasi terdidik telah lama terbukti. Untuk menguatkan peran tersebut maka SMA Muhammadiyah 1 Sumenep menguatkan kompetensi guru-guru dalam penulisan karya Ilmiah, dalam bentuk Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah pada tanggal 5 Oktober 2022. Ibu Damayanti S.Si selaku kepala SMA Muhammadiyah 1 Sumenep menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen sekolah untuk menjamin peningkatan kualitas guru. “Guru harus mampu menulis karya ilmiah, karena mereka harus menjadi teladan, dan menularkan ilmunya kepada para siswa”, ujar Bu Damayanti. Pelatihan ini bekerjasama dengan Tim Pengabdian Blockgrant FKIP UMM yang diketuai oleh M. Mirza Nuryady M.Sc. Dalam penjelasannya, dosen yang juga Alumni SMA Muhammadiyah 1 Sumenep itu menuturkan bahwa ini adalah tanggung jawab dan rasa memilikinya sebagai alumni. “Kita akan terus mendorong agar sekolah ini berprestasi. Berprestasi gurunya, muridnya, dan alumninya” tukas pria kelahiran Sumenep tersebut. Pelatihan ini juga menghadirkan seseorang pemateri, yaitu Husamah, S.Pd., M.Pd. Dalam penuturannya Husamah menjelaskan bahwa sekolah swasta harus menjadi sekolah unggulan. Kearifan yang ada di sekolah swasta, khususnya sekolah Muhammadiyah, menjadi bukti bagaimana Muhammadiyah berkontribusi dalam memajukan pendidikan bangsa. “Saya berharap bahwa 40 orang yang hadir hari ini, harus mampu menghasilkan karya tulis sehingga menjadi inspirasi bagi orang lain” tegas dosen Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM tersebut.

Matching Fund PBIO UMM Kembangkan Kapasitas Jamu Sumenep

 Kamis, 06 Oktober 2022 02:51 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM mendapatkan hibah Matching Fund Pengembangan Ramuan Herbal (Jamu) Terstandar di Sumenep. Hibah ini didanai oleh Kedaireka Kemdikbudristek tahun 2022. “Kegiatan ini bertujuan mengadopsi IPTEK dan kepakaran perguruan tinggi oleh Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Bentuk kegiatan adalah pelatihan, pembinaan, dan jasa/produk” ujar Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si selaku anggota Matching Fund sekaligus Kaprodi Pendidikan Biologi FKIP UMM. Kegiatan dilaksanakan selama 6 bulan di Sumenep. Acara penyuluhan dilaksanakan tanggal 4 Oktober 2022 di  ruang pertemuan hotel Muzdalifah Sumenep. Acara ini melibatkan 30an anggota Kelompok Swadaya Masyarakat Sumber Makmur yang berada dibawah koordinasi Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Acara juga diikuti kurang lebih 20 tim dosen dari Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM. Banyak hal dibahas, misalnya bagaimana adopsi teknologi jamu agar terstandar, bagaimana membangun kelembagaan produsen jamu, dan merancang rencana aksi produksi jamu. Selain itu diperlukan pola pembuatan jamu yang aman dan layak konsumsi sebagaimana standarisasi BPOM. Kyai M. Khotibul Umam selaku perwakilan dari Badan Pengabdian Masyarakat PP Annuqoyah merasa senang dan berterima kasih dengan adanya kegiatan yang diinisiasi oleh Tim Maching Fund Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM ini. “Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dapat mengangkat gengsi dan kelas jamu tradisional khas Madura khususnya Sumenep. Dengan demikian kegiatan ini juga akan berimbas pada kualitas jamu yang dihasilkan dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat khususnya penggiat jamu.” ujar kyai Umam. Ibu Dr. Elly Purwanti, MP selaku ketua tim Matching Fund Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM berharap bahwa kegiatan ini akan memberikan dampak dalam mengangkat nama Jamu khas Sumenep. “Tujuan jangka panjangnya adalah kegiatan ini mampu menggerakkan ekonomi di Wilayah Sumenep. Jamu ini kebanyakan diproduksinya rumahan, maka melalui kegiatan ini  akan ada standarisasi dan peningkatan kualitas.” ujar pakar jamu tradisional dari UMM tersebut.

FKIP-FAI UMM Gelar Konferensi Internasional, Bahas Pengembangan Profesi dan Spiritualitas Pasca Pandemi

 Jum’at, 30 September 2022 02:46 WIB    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang—Merespon isu pendidikan dan spiritualitas di masa pandemi dan pascapandemi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang gelar The International Conference on Education (ICEdu), Rabu (28/09/22). Kegiatan yang digelar secara daring inibertujuan untuk menyediakan platform bagi para peneliti, pakar, dan praktisi dari akademisi, pemerintah, LSM, lembaga penelitian, dan industri untuk bertemu dan berbagi kemajuan mutakhir di bidang pendidikan, spiritual, dan kehidupan profesional. Karenanya, tema yang diangkat yakni “Strengthening professional and Spiritual Education through 21st Century Skill Empowerment in Pandemic and Post-Pandemic Era”. Dalam sambutannya, Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya sekadar transfer pengetahuan. Mengutip pandangan filsuf Melayu-Muslim terkemuka, Syed Muhammad Naquib al-Attas, konsep tarbiyah tidak mencakupi kegiatan pendidikan yang sederhana yang disebut ta’lim, tetapi mencakup kegiatan pendidikan yang lebih mendalam yakni ta’dib yang mengedepankan pengembangan karakter. Konsep ini terkendala untuk dicapai dalam pendidikan di masa pandemi. “Sekarang, situasi sudah berubah. Siswa sudah bisa pergi ke sekolah dan menikmati pengalaman langsung di dalam kelas mereka. Jadi, kita harus berjuang untuk menghidupkan Kembali dan merevitalusasi Pendidikan yang menekankan pada pentingnya pengembangan karakter yang baik untuk anak-anak didik kita,” ujar Syamsul. Untuk mendukung tema yang diangkat, FKIP UMM menghadirkan tiga pembicara utama yaitu Prof. Te-Sheng Chang dari National Dong Hwa University Taiwan, Assoc. Prof. Dennis Alonzo, Ph.D dari University of New South Wales Australia, dan Prof. Muhammad Ali dari University of California Riverside. Tak hanya itu, ada pula pembicara undangan yaitu Prof. Dr. Tobroni, M.Si, Prof. Dr. Dwi Priyo Utomo, M.Pd., dan Prof. Dr. Ribut Wahyu Eriyanti, M.Si., M. Pd dari Universitas Muhammadiyah Malang. Mengawali paparannya, Prof. Te-Sheng Chang mengatakan bahwa pengembangan profesionalisme dosen telah lama menjadi komponen penting dalam Pendidikan tinggi. Selama 4 dekade terakhir, pada rentang tahun 50-an hingga 90-an, pengembangan profesionalisme dosen telah mengalami lima fase. Tahun 50-an dan 60-an adalah era para sarjana yang berfokus pada keterampilan penelitian dan produktivitas. Tahun 70-an adalah era pengajar yang berfokus pada pengembangan keterampilan pengajar. Tahun 80-an adalah era pengembang, yang berfokus pada pengajaran dan penelitian yang bersifat fakultas sentris. Tahun 90-an adalah era pelajar, yang berfokuas pada perubahan apradigma dari mengajar menjadi belajar. “Saat ini kita berada di era kerja sama dan jejaring yang berfokus pada kolaborasi antarfakultas untuk mendorong kajian interdisipliner,” terang Profesor National Dong Hwa University, Taiwan ini. Oleh karena itu, masih menurut  Te-Sheng Chang, pembelajaran berbasis masalah yang berorientasi pada proyek penting untuk diterapkan. Pasalnya, desain pembelajaran ini tidak hanya memacu kreativitas mahasiswa, tetapi juga meningkatkan profesionalisme pengajar di universitas. “Untuk itu, kurikulum perlu dikembangkan dengan menggabungkan tiga konsep kunci, yakni desain partisipatif, pemikiran yang visioner, dan komunikasi visual,” terangnya. Selanjutnya, Dennis Alonzo, Ph.D. mempresentasikan pemikiran yang menarik tentang arah pengembangan profesionalisme, yakni dari guru ke siswa, terutama dalam konteks pembelajaran di masa pandemi. Menurut Denis, ada ketidaksesuaian antara konten pengembangan profesionalisme guru dan kebutuhan di sekolah. Pasalnya, hasil observasi menunjukkan bahwa 50% capaian belajar siswa berasal dari diri siswa sendiri. “Artinya, siswa adalah kontributor utama dalam pembelajarannya. Siswa yang bisa terlibat dalam pembelajaran memiliki peluang sukses yang lebih tinggi,” ungkapnya. Oleh karena itu, guru harus menyiapkan pembelajaran saat ini agar siswa bisa siap untuk tetap belajar mandiri pada masa pasca pandemi ini. “Tiga hal yang perlu disiapkan untuk mengalihkan focus pengembangan profesionalisme dari guru ke siswa ini yaitu waktu; model implementasi, dalam arti perlu pelatihan khusus atau cukup tertanam dalam proses belajar-mengajar; dan desain implementasi jika dirasa perlu dilatihkan kepada siswa secara eskplisit,” tambah dosen senior dari University of New South Wales, Australia ini. Setelah paparan pemateri kunci, para peserta dibagi dalam enam ruang virtual untuk menyimak paparan para pembicara undangan dan juga para pemakalah. Prof. Dwi Priyo Utomo selaku pembicara undangan memaparkan ihwal pentingnya kompetisi dibandingkan kolaborasi dalam makalah bertajuk “Praktik Pendidikan Kita: Mengutamakan Kompetisi daripada Kolaborasi”. Profesor dari Prodi Matematika ini mengkritisi adanya pengelompokan siswa pada kelas paralel justru berdampak buruk pada siswa. Misal, adanya kelas unggulan, kelas semi-unggul, dan kelas regular; atau adanya kelas olimpiade, kelas akselerasi, dan kelas regular. “Pengelompokan ini dapat melejitkan kompetensi siswa secara akademik, namun agaknya untuk keterampilan sosial justru kebalikannya,” pungkasnya. Prof. Dr. Ribut Wahyu Eriyanti kali ini mengambil angle yang berbeda dalam mengupas tema konferensi. Ia menyoroti bagaimana peran Lembaga Pendidikan Tenaga Kemendidikan dalam menyiapkan pendidik professional abad 21. Menurutnya, ada tiga pilar penting dalam revitalisasi peran LPTK ini. Pertama, pendidikan berbasis kompetensi menjadi salah satu misi utama perguruan tinggi (LPTK). Sebagai pendidik, kompetensi yang harus dimiliki meliputi keompetensi pedagogi, professional, kepribadian, dan sosial. Kedua, membekali peserta didik penguasaan teknologi informasi dan komunikasi, misalnya pemanfaatan Internet of things (IoT) pada dunia Pendidikan, pemanfaatan virtual/augmented reality, pemanfaatan Artifical Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan. “Terakhir, LPTK berperan untuk membekali guru dalam mengintegrasikan pemanfaatan teknologi, pedagogi, dan pengetahuan substantif keilmuan dalam pembelajaran (TPACK),” tegasnya. Senada dengan Prof. Ribut, Prof. Tobroni menyoroti bagaimana model Pendidikan di Muhammadiyah, NU, dan Salafi dalam kerangka Karakter Islam dan Indonesia dalam Gerakan Islam Mainstream. Merujuk pada hasil penelitian yang dilakukannya tahun 2018, semakin kuat sebuah ormas memperjuangkan moralitas, semakin kuat pula karakter akhlak mulia para anggotanya. Secara khusus, ada tiga varian hubungan dialektis antara keindonesiaan dan keislaman. Muhammadiyah muaranya adalah membangun masyarakat Islami dengan istilah “masyarakat utama”, NU muaranya adalah Islam keindonesiaan atau pribumisasi Islam, sementara salafi muaranya adalah menjadikan Indonesia sebagai umat terbaik sebagaimana zaman nabi dan ulama salaf. Para peserta sangat antusias mengikuti gelaran ini. Terbukti, sebanyak 68 judul kajian dari para pemakalah dengan topik professional teacher development (Early Education – University), STEM Education, Collaborative Learning, Computational Thinking, Lesson Study for Learning Community(LSLC), Local Potential-Based Learning, Innovative Learning Media and Resources, Virtual Learning Innovations, School-Based Management, Remote/Virtual Internship, thematic Learning, Freedom to Learn Arabic Education, Modernization of Islamic Education and Thought, Moderate Practices of Islamic Education in Islamic Boarding Schools and Madrasah telah dipresentasikan di hadapan para peserta. Antusiasme para pemakalah ini salah satunya adalah karena paper para pemakalah ini nantinya akan dipublikasikan di prosiding yang diterbitkan oleh CRC Press yang merupakan bagian dari Routledge Taylor & Francis Group. Untuk memastikan bahwa seluruh makalah memenuhi standar CRC Press, ICEdu FKIP UMM akan menggelar workshop setara 64 JP