Targetkan Akreditasi Internasional, Block Grant FKIP Didesain Berbasis Luaran dan Kemitraan

Jum’at, 13 Mei 2022 01:45 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang—Dalam dua bulan terakhir, Prodi Pendidikan Biologi, Pendidikan Matematika, dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) berhasil menyusul 3 Prodi lain di FKIP UMM meraih predikat “Akreditasi Unggul”. Dengan capaian ini, FKIP UMM mantap targetkan akreditasi internasional. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melaksanakan Block Grant Tahun 2021 berbasis luaran dan kemitraan. Dalam sosialisasi yang digelar Rabu (11/05), Dekan FKIP mengatakan, pelaksanaan Block Grand Tahun 2022 didesain untuk merespon dan mengakomodasi kebijakan yang sangat terkait keberadaan Prodi, UPPS, maupun universitas. Misalnya, kebijakan pemerintah terkait MBKM dan akreditasi, baik itu akreditasi nasional maupun internasional. “Saat ini akreditasi di FKIP sudah harus berpindah ke LAMDIK. Kita juga sedang berproses menyiapkan akreditasi internasional. Oleh karena itu, kegiatan penelitian dan pengabdian memang harus berkolaborasi dengan perguruan tinggi di luar UMM dan diupayakan dapat berkolaborasi dengan perguruan tinggi luar negeri,” terang Trisakti Handayani. Untuk memenuhi kriteria akreditasi tersebut, pelaksanaan penelitian dan pengabdian harus berorientasi pada luaran. Seperti, artikel jurnal, HaKI, dan publikasi lainnya. “Harapan kami output-nya bukan hanya laporan, tetapi juga produk-produk yang berorientasi pada akreditasi dan kenaikan jabatan akademik dosen,” tegas Trisakti. Wakil Dekan I, Sugiarti, menambahkan, block grant FKIP tahun 2022 juga diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam pencapaian IKU. “Kebijakan universitas melalui BPMI mengatakan bahwa IKU dan IKT harus terintregasi dengan program penelitian dan pengabdian. Dengan demikian, melalui block grant ini, Prodi memiliki ruang untuk merealisasikan MoU yang telah dijalin bersama mitra,” terang Sugiarti. Sugiarti melanjutkan, komitmen FKIP untuk mengembangkan sekolah-sekolah Muhammadiyah di Jawa Timur juga direalisasikan dalam kebijakan block grant FKIP 2021 ini. Kegiatan pengabdian diprioritaskan pada pemenuhan kebutuhan peningkatan kualitas 18 sekolah SMA/MA Muhamadiyah di Jawa Timur. “Terkait kemitraan dengan sekolah Muhammadiyah, program akan diarahkan pada dua kegiatan, yaitu peningkatan kualitas guru dan peningkatan keterampilan siswa,” ungkapnya. Bentuk penelitian dan pengabdian berbasis kemitraan ini secara teknis, dijelaskan oleh ketua Block Grant FKIP, yaitu dengan melibatkan 1 anggota dosen dari luar UMM. Mitra dosen ini berasal dari perguruan tinggi dalam maupun luar negeri yang telah bermitra dengan Prodi. “Jadi Prodi dapat melakukan pemetaan kegiatan penelitian dan pengabdian berdasarkan kepakaran dosen dan juga kemitraan yang telah dibangun Prodi,” jelas Siti Khoirulli Ummah selalu ketua. Di sisi lain, sebagai realisasi dari basis luaran, setiap penelitian dan pengabdian harus menghasilkan artikel yang dipublikasikan dalam jurnal terakreditasi Sinta atau jurbal internasional terindeks. Luaran lainnya, sebagai implikasi pelibatan mahasiswa, adalah sertifikat bagi mahasiswa yang akan menjadi KUM dalam SKPI. “Selain sertifikat yang bisa dimasukkan ke SKPI, keterlibatan mahasiswa bisa dikonversi dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) atau disebut PMM Mitra Dosen jika kegiatannya pengabdian. Bisa juga berupa laporan skripsi jika mahasiswa dilibatkan dalam kegiatan penelitian. Sehingga, ada manfaat yang lebih besar untuk mahasiswa melalui kegiatan ini,” pungkasnya. (*fid)
Cerita Anna El-Bagiz, Lulusan Terbaik UMM yang Hoby Ikuti Kompetisi dan Olahraga Ekstrim

Senin, 21 Maret 2022 13:11 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan MALANG- Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Anna Ashry Savirah El-Bagiz berhasil mencatatkan namanya menjadi lulusan terbaik dengan Indeks Prestasi (IP) sempurna dalam Wisuda Periode I, Kamis (17/03/2022). Tidak hanya dalam hal akademik, anak kelima dari tujuh bersaudara tersebut juga berprestasi dalam bidang olahraga yang digelutinya. Olahraga yang digeluti Anna bahkan cenderung ekstrim mulai dari jiu jutsu, parkur, memanah, sampai menembak. “Kegiatan olahraga itu memiliki jadwalnya masing-masing. Ketika di kampus saya mengikuti karate dan ketika libur kuliah saya fokus pada melatih dan mengembangkan jiu jutsu dan parkur. Untuk lari, memanah, dan menembak adalah kegiatan setiap tiga kali dalam seminggu selama libur kuliah, ” kata Anna. Selain aktif dalam bidang olah raga, Anna juga menjelaskan ketertarikannya dengan belajar bahasa asing. “Benar, saya sangat tertarik dengan belajar bahasa. Saat ini saya menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris, namun sedang mempelajari bahasa lainnya seperti Mandarin, Rusia, Jepang, dan Korea. Skripsi saya juga masih berhubungan dengan pembelajaran multibahasa, ” jelasnya. Ketertarikannya dengan belajar bahasa didasari oleh keinginannya untuk menjadi guru multibahasa pertama di kalimantan, khususnya di daerahnya asalnya Kutai Kartanegara. Mahasiswa angkatan 2018 tersebut aktif mengikuti Student Exchange luar negeri untuk mengembangkan potensi diri dan berinteraksi dengan orang asing yang budaya dan bahasanya berbeda. Anna juga menjelaskan bahwa banyak manfaat yang ia peroleh ketika mengikuti kegiatan tersebut mulai dari relasi baru, ilmu, leadership, making-decision, team-work, problem solving, presentation, dan negotiation. Selain itu, tidak banyak yang tahu, Anna juga seorang penghafal Al-Quran dengan 30 Juz dan saat ini sedang mengambil sanad kaidah atau sertifikat bagaimana bacaan Rasulullah. Ada beberapa tips yang diampaikan Anna, bagaimana ia bisa berproses dengan aktif kegiatan non-akademik tetapi juga bisa berprestasi di akademik. “tipsnya tidak ada yang terlalu sepesial, mungkin manajemen waktu yang paling penting, kemudian menentukan sekala prioritas, dan memahami kemampuan dan potensi diri, ” tuturnya. Anna juga menjelaskan rencana ke depannya setelah lulus, ia ingin meluangkan waktu dan mempersiapkan untuk melanjutkan program Pascasarjananya. “Rencananya, meluangkan waktu dengan menambah pengalaman, mengulang pelajaran, dan mempersiapkan untuk mendaftar S2 nantinya. Tidak mau terburu-buru mengejar pendidikan, takut persiapannya kurang dan nantinya menjadi tidak menikmati prosesnya, ” tutupnya.
10 Besar Penyelenggara PPG Nasional, PPG FKIP UMM Gelar Sumpah Profesi Bagi 2.143 Guru

Minggu, 13 Maret 2022 22:01 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang−Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP UMM) mengukuhkan 2.143 peserta pendidikan profesi guru di aula GKB 4, Minggu (13/03/22). Usai diwisuda dan diambil sumpahnya, guru-guru profesional ini siap mengabdikan diri dalam mengantarkan generasi bangsa menjadi generasi unggul 2045. Pengukuhan dan pengambilan sumpah dilakukan Rektor UMM Dr Fauzan M.Pd yang diikuti seluruh peserta PPG daring maupun luring. Sebanyak 184 peserta mengikuti kegiatan secara luring dengan protokol Kesehatan ketat. Adapun sisanya mengikuti secara daring melalui platform Zoom. Sebelum laksanakan prosesi sumpah profesi, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. H. Fauzan, M.Pd., mengucapkan selamat atas keberhasilan para mahasiswa PPG dalam menempuh Pendidikan profesi guru. Ia berharap, bekal yang telah diperoleh di UMM bisa menjadi bekal dalam melakukan perubahan dalam dunia Pendidikan. “Mudah-mudahan capaian ini menjadi bukti kongkret yang akan bisa kita jadikan sebagai dasar utuk melakukan perubahan orientasi pendidikan di Indonesia ke arah yang lebih baik,” katanya. Fauzan menambahkan, saat ini Indonesia memasuki era bonus demografi karena anak-anak usia produktif jumlahnya jauh lebih besar daripada usia tidak produktif. Dunia Pendidikan harus menangkap ini sebagai sebuah peluang dalam menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Tentu ini hanya bisa terwujud melalui pembelajaran yang bermakna, dari guru-guru profesional yang kreatif, inovatif, dan visioner. “Keberadaan guru profesional memiliki posisi urgen dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Oleh karenanya, pemerintah memiliki kebijakan Pendidikan Profesi Guru ini yang pada prinsipnya menginginkan guru-guru professional yang memiliki tanggung jawab agar anak-anak bisa hidup di masanya,” tandas Fauzan. Kegiatan ini pun mendapatkan apresiasi dari Dirjen GTK Kemendikbud Ristek, Dr. Iwan Syahril, PhD. “Apresiasi tinggi kepada civitas akademika UMM yang telah memfasilitasi dan memastikan para calon pendidik Indonesia mendapat yang terbaik dalam bidang keilmuan. Semoga selanjutnya UMM akan terus menghadirkan calon-calon pendidik masa depan yang mempunyai semangat dan daya juang dalam menjalani profesi mereka. Mari kita terus bergotong-royong dalam memajukan Pendidikan di Indonesia,” ungkapnya. Harus Ikuti Pembelajaran Daring Penuh dan UKM-PPG Untuk bisa dinyatakan sebagai pendidik professional, para mahasiswa PPG harus melalui perjuangan panjang. Dekan FKIP UMM, Dr. Trisakti Handayani, M.M mengatakan sebelum dinyatakan lulus, peserta PPG daljab dan prajab telah menempuh pendidikan selama 3 bulan PPG untuk daljab dan 1 tahun (2 semester) untuk prajab. Mereka harus menempuh pembelajaran selama tiga bulan untuk PPG Dalam Jabatan (PPG Daljab) dan satu tahun untuk PPG Prajabatan (PPG Prajab) yang dilaksanakan secara daring penuh. “Di sini, mahasiswa mengikuti lima tahapan pembelajaran, yakni pendalaman materi profesional dan pedagogik, analisis materi ajar, penyusunan perangkat pembelajaran, dan praktik pengalaman lapang di sekolah asal masing-masing,” ungkap Trisakti. Setelah memenuhi kelima tahapan itu, mahasiswa harus mengikuti Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Guru (UKM-PPG). Ada dua bentuk ujian ini, yakni Uji Pengetahuan (UP) dan Uji Kinerja (UKin). Dalam UP, mahasiswa diuji secara teoretis melalui soal-soal tertulis pada konten pedagodi, professional, dan kepribadian. Sementara itu, dalam UKin, mahasiswa diuji praktik mengajarnya melalui dokumen RPP, video praktik mengajar, dan portofolio kegiatan penunjang profesi. Mahasiswa dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan sertifikat pendidik bila memenuhi passing grade 70. Pada akhirnya, Trisakti berharap para lulusan dapat mengimplementasikan ilmu yang telah diperolehnya dengan melaksanakan pembelajaran abad 21, pembelajaran HOTs (Higher Order Thinking Skills), TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge), dan IBA (Inquiry Based Activities). “Guru harus bisa mengintegrasikan kemampuan literasi, kecakapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta penguasaan teknologi,” pungkas dekan FKIP yang juga menjadi koordinator Program PPG UMM ini. 10 Besar Tingkat Nasional Seperti tahun sebelumnya, Prodi PPG FKIP UMM mendulang prestasi. PPG UMM masuk ke dalam 10 besar LPTK dengan jumlah mahasiswa terbanyak, tepatnya pada peringkat sembilan. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemenristekdikti mempercayakan 1.965 mahasiswa yang terbagi dalam emepat tahap. Adapun Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Agama mempercayakan 300 mahasiswa yang terbagi dalam dua gelombang. Dari jumlah tersebut, ditambahkan dengan retaker (mahasiswa mengikuti ujian ulang), tercatatat 2.143 mahasiswa PPG Daljab dan PPG Prajab dari dua kementerian yang berasal dari 30 provinsi dan 285 kabupaten/kota itu dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan sertifikat pendidik. Mereka berasal dari berbagai bidang studi, yakni PGSD (10 mahasiswa PPG Prajab, 1.655 mahasiswa PPG Daljab Kemdikbudristek), Pendidikan Matematika (6 Mahasiswa), Pendidikan Bahasa Indonesia (7 Mahasiswa PPG Daljab Kemendikburristek dan 44 mahasiswa PPG Daljab Kemenag), Pendidikan Bahasa Inggris (75 Mahasiswa PPG Daljab Kemendikbudristek dan 153 PPG Daljab Kemenag), PPKn (27 mahasiswa PPG Daljab Kemendikbudristek), Agribisnis Produksi Tanaman (52 Mahasiswa PPG Daljab Kemendikbudristek), Perikanan (55 Mahasiswa PPG Daljab Kemendikbudristek), dan Keperawatan (59 Mahasiswa PPG Daljab Kemendikbudristek). (*fid)
Kisah Iim Khoriah, Penulis Novel Thalassophobia dengan 1,38 Juta Pembaca di Wattpad

Jum’at, 11 Maret 2022 00:12 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan MALANG- Dituntut adptatif di era yang serba digital seperti sekrang ini tentu bukan hal yang mudah. Iim Khoiria, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM mungkin termasuk yang mampu beradaptasi dengan era sekarang. Hal tersebut ia tunjukkan melalui karya-karyanya berupa novel yang ia tulis dalam platform digital Multinasional Dreame. Selain kemampuannya beradaptasi, mahasiswa yang akrab dengan panggilan Mbak Iim tersebut juga menyampaikan bahwa beberapa mata kuliah yang ia tempuh di Prodi PBI UMM sangat membantunya untuk menghasilkan karya berupa novel tersebut. Ia juga mengatakan bahwa dirinya mulai tertarik dengan bidang menulis sejak duduk di bangku SMP. Mulai produktif menulis sejak tahun 2018, mahasiswa angkatan 2016 tersebut mulai menerbitkan novel digital pertamanya yang berjudul “Amira Azzahra”. Iim juga menyebutkan ada beberapa kendala ketika menulis salah satunya adalah kesulitan dalam menentukan letak kemenarikan cerita. “hal yang paling sering membuat saya kesulitan adalah menentukan suspense cerita agar menarik, merangkai cliefhanger diakhir part, menyeimbangkan dialog dan narasi di dalam satu chapter agar pembaca tidak mudah bosan,” jelasnya. Namun kendala tersebut tak membuatnya menyerah, hingga pada tahun 2020 ia berhasil membuat novel berjudul Thalassophobia. Novel tersebut menjadi novel paling booming, dengan dibaca oleh 1,38 Juta orang di wattpad serta mendapatkan vote 110 ribu vote. “Sebenarnya Thalassophobia pernah ditawari 20 lebih penerbit indie dan semi mayor, tapi saat itu saya belum bisa menerimanya karena ada kendala dalam menulis di tahun 2021, jadi saya tidak bisa menerima tawaran kerjasama tersebut,” lanjutnya. Thalassophobia sendiri adalah novel yang mengangkat kisah seorang perempuan pengidap Thalassophobia (Ketakutan berlebih terhadap laut lepas). Perempuan dalam novel ini mengidap Thalassophobia karena traumanya di masa kecil. Ayahnya pernah hampir membunuhnya di laut saat bertengkar dengan Ibunya. Di dalam novel ini, kehidupan sosok Ayana sangat terombang ambing dalam hal hidup, mati, dan percintaannya sekaligus bersama seorang dokter spesialis syaraf. Setelah viral dengan novelnya yang berjudul Thalassophobia tersebut, pada tahun 2021 menjadi salah satu editor akuisisi di salah satu platform digital Goodnovel yang berasal dari Singapore. “Sewaktu menjadi editor dan memegang puluhan penulis di Goodnovel, materi sewaktu kuliah benar-benar membantu saya dalam bekerja untuk mewadahi penulis lain. Mulai dari mata kuliah menulis kreatif, sintaksis, morfologi dan hampir semua mata kuliah sangat berguna untuk pegangan saya dalam menulis novel ataupun menjadi seorang editor,” tutupnya dalam proses wawancara dengan tim PBI UMM.
Penutupan Student Day FKIP UMM 2021, Penguatan Karakter dan Optimalisasi Potensi Untuk Meraih Prestasi

Selasa, 08 Maret 2022 23:54 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan MALANG—Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Membuka awal bulan dengan melaksanakan kegiatan penutupan Student Day, Sabtu, (05/03/22). Kegiatan yang mengusung tema “Penguatan Karakter dan Optimalisasi Potensi Untuk Meraih Prestasi” tersebut dilaksanakan secara daring melalui kanal Youtube FKIP UMM. Student Day merupakan bentuk komitmen UMM dalam menumbuhkan mentalistas mahasiswa yang tangguh dalam segala lini, baik inteletualitas maupun secara bakat, minat, dan kegemaran. Dalam sambutannya, Trisakti Handayani, M.M selaku dekan FKIP UMM menjelaskan bahwa dalam kondisi apapun mahasiswa harus tetap berusaha menggapai mimpinya termasuk pada kondisi pandemi seperti sekarang ini. “Kegiatan Student Day ini dalam ram rangka memfasilitasi mahasiswa untuk berkreasi dan berinovasi, maka jangan sia-siakan kesempatan ini. Galih potensi yang ada dalam diri masing-masing, karena masa depan bangsa ini ada di pundak kalian. Oleh karena itu, saya kira dunia ini akan tergantung pada kalian, ” lanjut Trisakti di hadapan para peserta Studen Day FKIP UMM. Tidak hanya itu, Student Day ini merupakan kegiatan yang memiliki tujuan untuk menumbuhkembangkan sikap akademis, kreatif, inovatif, tentu dilandasi dengan moral yang tinggi. Kemudian, yang tidak kalah penting adalah untuk mengeksplorasi potensi mahasiswa baru yang memiliki berbagai macam prestasi baik di bidang kulikulier, ko-kulikuler, maupun ekstrakulikuler, melalui kegiatan yang terencana dan terukur. Kegiatan penutupan Student Day tersebut juga menghadirkan beberpa narasumber untuk memberikan materi serta menumbuhkan motivasi bagi mahasiswa baru FKIP UMM. Dibuka dengan presentasi tim PKM lolos Pimnas dengan judul “Pelatihan Batik Celup Sebagai Upaya Pemberdayaan Anak Panti Asuhan Aisyiyah Dinoyo dalam Pembentukan Karakter Wirausaha” yang diketuai oleh Siti Mariyatul Fitriah. Kemudian juga ada penyampaian materi oleh pakar pendidikan, Arif Bawana Surya. Kegiatan tersebut juga ditutup oleh wakil dekan tiga FKIP UMM, Bayu Hendro Wicaksono, S.Pd., M.Ed., Ph.D. “Harapanya dengan adanya kegiatan Studen Day ini, nantinya akan ada regenerasi mahasiswa-mahasiswa berprestasi khususnya di FKIP UMM ini. Nantinya akan ada delegasi-delegasi yang akan dikirim dalam berbagai bidang PKM yang ada,” tutupnya.
Daffa, Lulusan Terbaik UMM yang Kuasai 10 Bahasa

Selasa, 25 Januari 2022 12:11 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan MALANG-Menjalani hal sesuai dengan passion selalu membuahkan hasil yang cemerlang. Itulah yang dialami Daffa Indra Arya Wardhana. Kecintaan terhadap bahasa asing menjadi semangat pantang menyerah dalam menempuh studi Pendidikan Bahasa Inggris hingga mengantarkannya meraih predikat lulusan terbaik jenjang sarjana pada wisuda periode IV Tahun 2021 Universitas Muhammadiyah Malang, (Selasa, 25/01/2021). Menariknya, ia tak hanya menguasai bahasa Inggris, tetapi juga lima bahasa asing lainnya, yakni bahasa Jepang, Bahasa Korea, bahasa Mandarin, bahasa Perancis, dan bahasa Jerman. “Untuk bahasa Perancis dan bahasa Jerman, saat ini sedang proses belajar,” tutur mahasiswa asal Blitar itu. Tak hanya bahasa asing, Daffa juga mempelajari bahasa daerah. Ia fasih menggunakan bahasa Jawa, bahasa Banjar, dan bahasa Sunda. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, Daffa, sapaan akrabnya, memang sudah tertarik belajar bahasa. Pasalnya, ia sangat gemar ngobrol, khususnya mendengarkan cerita orang. “Saya memang senang mendengar orang bercerita. Saya suka menyimak aksen orang yang berbeda-beda, di samping cerita-cerita yang mereka sampaikan. Dari cerita-cerita itu, saya bisa lebih memahami orang lain dan juga memaknai hidup,” ujar putra pertama pasangan almarhum Yayan Indrayana dan Marthina Yusiana itu. Karena itu, hobinya saat masih kuliah adalah naik transportasi umum. “Zaman awal kuliah, saya suka naik bis untuk pulang ke rumah. Di sana yang jadi kenal berbagai macam orang, dari yang dosen, pegawai, dan juga orang yang punya bisnis besar. Itu sangat menginspirasi saya,” tuturnya. Ketertarikannya pada aksen juga mendorong Daffa untuk meneliti tentang sikap dan persepsi guru terhadap aksen Australia dan Inggris yang membuatnya berhasil mengantongi IPK 3,99. Tentang teknik dalam menguasai bahasa, ia mengatakan kuncinya adalah membiasakan diri dengan bahasa sasaran. “Dalam belajar bahasa, saya hanya membiasakan diri. Saya menonton film dan tv-series. Saya juga suka menyanyi dalam berbagai bahasa itu. Dengan begitu, saya menjadi terbiasa dan bisa berkomunikasi menggunakan bahasa itu. Itu kuncinya,” pungkasnya. Faktanya, belajar bahasa asing bukannya tanpa tantangan. Tantangan terbesarnya, bagi Daffa, adalah penulisan bahasa yang tidak menggunakan sistem alphabet seperti bahasa Jepang, bahasa Korea, dan bahasa Mandarin. Namun, hal itu tak mematahkan semangatnya. Pasalnya, ia tahu bahwa penguasaan bahasa asing bisa menjadi batu loncatan bagi tekadnya untuk studi S2 di luar negeri. “Mempunyai penguasaan bahasa asing sebetulnya bisa membuat kita punya privilege untuk bisa mendapat beasiswa luar negeri. Itu juga yang memacu semangat saya untuk terus belajar,” pungkasnya. Meski fokus pada bidang akademik, Daffa tidak menafikkan bahwa keikutsertaan dalam organisasi adalah hal yang sangat penting. Jadi, ia pun bergabung di Lembaga Semi Otonom (LSO) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas. Tahun 2020 silam, ia juga menjadi awardee Program Kampus Mengajar Perintis dan bertugas menjadi asisten pengajar di SDN Tegalgondo 02 Kabupaten Malang. (*fid)
Webinar, Prodi PPKn UMM Bahas Pancasila di Era Digital Citizenship

Sabtu, 15 Januari 2022 10:10 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang–Dunia digital yang berkembangan begitu cepat melahirkan satu isu yang sedang hangat-hangatnya dikaji dalam berbagai diskursus, yakni digital citizenship. Salah satunya, webinar yang digelar Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang bekerja sama dengan Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KnI), Sabtu (15/01/2021). Mengangkat tema “Pancasila di Era Digital Citizenship: Tantangan, Peluang, dan Prospeknya demi Indonesia tangguh dan tumbuh”, webinar yang digelar secara daring ini diikuti tak kurang dari 320 peserta dari berbagai perguruan tinggi. Dalam sambutannya, Drs. Moh. Mansur Ibrahim, M.H., menjabarkan urgensi pembahasan topik ini. “Dunia digital berkembangan begitu cepat dan merambah ke berbagai sektor kehidupan manusia. Dalam dunia ekonomi misalnya, saat ini semakin sedikit transaksi yang menggunakan uang fisik karena sudah bergeser ke uang digital. Kita menggunakan media sosial setiap hari. Hal ini menuntut kita untuk terlibat, untuk lebih mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan digital, termasuk tata cara penggunaan digital, bagaimana etika penggunaan digital,” ungkap Ketua Prodi PPKn tersebut. Pasalnya, masih menurut Mansur selama ini ditengarai masih banyak persoalan yang terjadi dimana pengguna digital menyinggung atau memang dengan sengaja menggunaan media digital sebagai instrumen untuk menyakiti hati orang lain. “Berangkat dari situ, Prodi PPKN UMM merasa turut bertanggung jawab tentang bagaimana dunia digital menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan,” tambah Mansur. Webinar yang merupakan luaran Mata Kuliah Seminar PPKn ini menghadirkan tiga pembicara, yakni Prof. Dr. Kokom Kumalasari, M.Pd., Dr. NurulZuriah, M.Si., dan Sugeng Winarno, M.Sc. Mengawali pembahasan, Prof. Dr. Kokom Kumalasari, M.Pd., menjelaskan konsep kewarganegaraan digital. Menurutnya, kewarganegaraan digital merujuk pada kualitas perilaku individu dalam berinteraksi di dunia maya, khususnya dalam jejaring sosial dengan menunjukkan perilaku yang bertanggung jawab sesuai dengan norma dan etika yang berlaku. Dalam kewarganegaraan digital ada prinsip yang harus dibangun, yaitu menghormati diri kita dan menghormati orang lain, mendidik diri dan mendidik oraang lain, dan melindungi diri dan melindungi orang lain. “Jadi, di sini ada kesalingterhubungan antara kita dengan orang lain. Dan Untuk bisa mencapai itu, ada sembilan elemen kewarganegaraan digital, yaitu digital access, digital commerce, digital communication, digital literacy, digital law, digital right & responsibilities, digital health & wellness, digital securiy, dan digital etiquette,” pungkas dosen PPKn Universitas Pendidikan Indonesia dengan kepakaran pada Pembelajaran PPKn itu. Masih menurut Kokom, membangun generasi menjadi warga negara digital yang baik harus dimulai dari budaya sekolah. Juga, diintegrasikan dalam pembelajaran PPKn. “Guru harus menerapkan kerangka Technological Pedagogical Kontent Knowledge (TPACK) dalam pembelajaran PPKn dengan strategi pembelajaran yang berfokus pada Contextual Teaching and Learning & Scientific Learning, Self Regulated Learning, value-based education, dan blended learning,” pungkasnya. Sejalan dengan itu, Dr. Nurul Zuriah, M.Si., menggarisbawahi bahwa konsep kewarganegaraan digital tidak bisa dipisahkan dari konsep pelajar Pancasila. “Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Ketika Profil Pelajar Pancasila ini sudah tertanam, maka secara otomatis mereka akan menjadi a good digital citizenship,” terang dosen senior Prodi PPKn Universitas Muhammadiyah Malang ini. Pada praktiknya, pengguna media sosial diharapkan selalu memegang etika bermedia sosial yang baik dan benar dengan selalu memperhatikan konsep THINK. Artinya, sebelum berkomunikasi di dunia digital, pengguna harus mempertanyakan apakah itu benar? (True), apakah itu menyakitkan? (Hurtful), apakah itu ilegal? (Illegal), apakah itu penting? (Necessary), dan apakah itu santun? (Kind). Ada berbagai tantangan dalam penguatan profil pelajar Pancasila di era digital citizenship ini. Beberapa di antaranya yaitu sikap individualis, kosmopolit, sikap ahistoris, dominasi media sosial, dan tuntutan serba kongkret dan instan. “Belum lagi permasalahan keamanan data, etika berkomunikasi, kenyamanan, ancaman/bulliying, hoax-hate speech, serta jaminan dan kepastian hukum. Itu adalah hal-hal yang harus kita pecahkan bersama,” tandas Nurul. Di sisi lain, pembahasan tentang bagaimana warganet yang beradap dikupas oleh pemateri ketiga, Sugeng Winarno, M.Sc. Dalam pembahasan awalnya, Sugeng menyodorkan data digital civility index yang dirilis Microsoft Februari tahun lalu yang menyatakan bahwa netizen Indonesia paling tidak punya adap di internet. Oleh sebab itu, menurutnya, yang paling krusial adalah etika bermedia sosial. “Urgensi dari etika bermedia sosial bahkan mendorong PP Muhammadiyah mengeluarkan panduan bagaimana warga Muhammadiyah menggunakan media sosial. Prinsipnya, wargaNet Muhammadiyah diharapkan menjadikan media sosial sebagai wahana silaturahmi, bermuamalah tukar informasi,dan berdakwah amar ma’ruf nahi munkar,” terang dosen Ilmu Komunikasi yang juga menjabat sebagai kepala Humas Universitas Muhammadiyah Malang itu. Lebih lanjut, ia membagikan tips bermedsos yang beradap, yaitu menggunakan nama asli, batasi informasi pribadi yang ada, tidak sembarangan menerima undangan pertemanan, tidak mudah percaya dengan teman, cek kebenaran informasi pemilik akun, tidak berkata kasar, tidak memposting foto “pribadi”, menghindari “nyampah” di timeline. Ia juga menegaskan bahwa pemahaman akan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) tak kalah krusial dalam menciptakan warga digital yang beradap. “Interaksi di media sosial tidak lepas dari Undang-undang ITE. Orang Indonesia belum memahami hal itu sehingga banyak terjerah hukum. Jadi, melek hukum digital juga sangat penting,” tegasnya. (*fid)
Yudisium Periode IV FKIP: Guru Harus Adaptif Ber-mindset Transformatif!

Kamis, 13 Januari 2022 09:49 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan calon wisudawati menerima SKL Malang–Sebanyak 149 peserta mengikuti gelaran Yudisium Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang Yudisium Periode IV Tahun 2021, Rabu (12/01/22). Tak seperti sebelumnya yang dilaksanakan secara daring, yudisium kali ini digelar secara luring di Auditorium Dome UMM dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Acara dihadiri oleh jajaran dekanat beserta pimpinan Prodi di lingkungan FKIP UMM. Dalam kesempatan ini, tema yang diangkat yaitu “Pendidik Adaptif dan Profesional: Kesiapan Sumber Daya Unggul Menghadapi Tantangan Pendidikan New Normal”. Tak dapat dipungkiri, keterampilan beradaptasi menjadi hal krusial yang mutlak harus dimiliki seorang guru selain profesionalisme itu sendiri. Karena itu, yudisium kali ini menghadirkan Alamsyah, S.Pd., M.Pd., C.NLP., C. MNLP., C.NLC. Alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia ini membawakan orasi ilmiah “Mindset Transformation for Adaptive and Professional Teachers”. Alamsyah, S.Pd., M.Pd., C.NLP., C. MNLP., C.NLC menyajikan Orasi Ilmiah bagi para calon wisudawan/wisudawati Alamsyah menyebut setiap situasi dalam pembelajaran yang guru alami sebenarnya bersifat netral. Pikiran gurulah yang memberikan makna untuk kejadian itu. “Makna ini bisa direspon positif maupun negatif oleh guru tersebut. Apabila guru merespon positif, maka akan membentuk belief positive dan akan mengeluarkan emosi positif. Sebaliknya, ketika guru merespon negatif, maka akan membentuk belief negative dan akan mengeluarkan emosi negatif,” ungkap Alam. Pikiran guru ini terdiri dari 10% pikiran sadar dan 90% pikiran bawah sadar. Pikiran sadar mempunyai fungsi khusus dalam mengidentifikasi, membandingkan, dan menganalisa data atau informasu yang masuk, serta memutuskan apakah data atau informasi tersebut diproses lebih lanjut atau tidak. Pikiran bawah sadar ini berupa kebiasaan, emosi, memori jangka panjang, kepribadian, intuisi, serta believe dan value. Pikiran guru banyak dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar atau unconsious mind-nya. Ia pun memotivasi para calon wisudawan untuk melakukan transformasi cara berpikir untuk bisa menghasilkan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Dengan begitu, guru benar-benar dapat menjalankan perannya dalam mengantarkan generasi bangsa menguasai keterampilan hidup dan menjadi pribadi yang unggul. Terakhir, ia berpesan agar para calon wisudawan terus belajar dan mengembangkan diri. “Belajar tidak hanya di ruang-ruang kelas yang dibatasi dinding-dinding, tetapi juga di ruang-ruang masyarakat yang dibatasi norma-norma,” tambah Alam, yang saat ini juga menjabat sebagai kepala sekolah di MA Al-Irtiqo’ IIBS Kota Malang itu. Tak hanya meluluskan 149 calon wisudawan/wisudawati, yudisium periode ini juga mengukuhkan Daffa Indra Arya Wardhana sebagai wisudawan terbaik tingkat fakultas atas perolehan IPK nyaris sempurna, yakni 3,99, dengan masa studi 4 tahun 2 bulan. Atas raihan prestasi ini, Daffa mengaku sangat bersyukur. Dalam pidatonya, ia pun mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang menemani perjuangannya dalam meraih gelar sarjana. “Terima kasih kepada Ibu saya Marthina Yusiana, yang sudah membantu saya dan mensupport saya setiap saat, dan kepada almarhum ayah saya yang saya harap bangga akan prestasi saya ini,” ungkapnya berkaca-kaca. Lulusan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris ini juga mengaku sangat bangga menjadi alumni FKIP UMM. “Menjadi bagian dari jas merah kampus putih di FKIP UMM adalah tonggak besar dalam perjalanan hidup saya. Ilmu, pengalaman, dan pelajaran hidup ini akan terus saya genggam sebagai bekal menjalani kehidupan. Kami bangga dan sekaligus terus berusaha membanggakan almamater tercinta,” pungkas calon wisudawan asal Blitar tersebut. Di samping itu, yudisium kali ini juga mengukuhkan sepuluh mahasiswa berprestasi nonakademik atas prestasi dalam berbagai bidang, seperti olahraga, public speaking, PKM, debat, fotografi, duta, dan sebagainya. Sebagai bentuk tanggung jawab akademik, FKIP UMM juga berkomitmen untuk terus melakukan pembinaan berkelanjutan melalui ikatan alumni Saka Widya. Pada periode ini, Tutut Ayu Dwijayanti dari Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia terpilih sebagai ketua. Dekan FKIP UMM, Dr. Trisakti Handayani, M.M. memberikan Sambutan Dekan FKIP, Dr. Trisakti Handayani, M.M., dalam sambutannya, dengan tegas menyatakan bahwa para calon wisudawan/wisudawati ini sudah siap terjun ke masyarakat dan menghadapi tantangan global. “Tantangan ke depan adalah tantangan yang tidak mudah, tapi kami yakin Anda sekalian sudah siap. Anda sekalian sudah ditempa di kawah candradimuka, di Program Studi, yang tidak hanya memberi hardskill, tetapi juga softskill sehingga siap menghadapi tantangan global saat ini,” terang Trisakti. Trisakti juga mengucapkan selamat serta rasa bangga pada para calon wisudawan/wisudawati. “Kalian adalah generasi-generasi penerus jas merah kampus putih. Jas merah kampus putih telah membawa kalian menjadi pribadi yang percaya diri, bekerja keras, mandiri, inovatif, dan membawa perubahan dalam dunia global saat ini. Kami melepas adik-adik dengan bangga dan segudang harapan,” pungkasnya. (*/fid)
Kolaborasi Dosen, Alumni, dan Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM Bawa The Tale of Wendit pada International Collaboration dengan Dajeong Primary School Korea

Sabtu, 27 November 2021 20:47 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Wajah-wajah cerah terlihat jelas dari para guru dan siswa SD Aisyiyah Kota Malang dan Dajeong Primary School Korea setelah Virtual Drama Performance ditampilkan dalam pertemuan dalam jaringan (daring) hari ini (Senin, 22/11/2021), menandai genap satu tahun kolaborasi dua sekolah. Ada yang sedikit berbeda dari pertemuan dua sekolah sebelumnya, kali ini para dosen dan tim pengabdian masyarakat dari program studi (prodi) pendidikan Bahasa inggris Universitas Muhammadiyah malang (UMM) turut hadir. Mereka adalah tim yang telah bermitra dengan sekolah dalam mewujudkan pementasan yang apik tanpa harus abai pada protokol kesehatan saat pandemic COVID-19. Diketuai oleh Rina Wahyu Setyaningrum, pertunjukan virtual The Tale of Wendit merupakan pertunjukan yang lain dari yang lain karena dalam pertunjukan ini sebagian pemain berada di rumah masing-masing. “Pertunjukan ini hampir saja batal karena PPKM yang tidak mengizinkan siswa belajar di sekolah dan berkumpul melaksanakan latihan. Namum akhirnya dengan mengadaptasi pertunjukan secara langung di panggung, para pemain dikondisikan tetap menjalankan perannya dan mementaskannya dalam panggung pertemuan Zoom. Peran tim kami adalah mewujudkan pementasan virtual tersebut, merekamnya dan menampilkannya pasa saat pertemuan dengan siswa dan guru Dajeong primary school,” jelas Rina yang juga salah satu pegiat dan peneliti pembelajaran bahasa Inggris usia dini ini. Pementasan virtual ini terlaksana sebagai bagian dari International collaboration yang diinisiasi oleh Urifah, salah satu alumni prodi Pendidikan Bahasa inggris yang bertindak sebagai international independent collaborator bagi kedua sekolah dan memantik kemitraan antara SD Aisyiyah Kota Malang dengan dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM. Selanjutnya tim dari prodi bertindak sebagai pendamping dalam menyiapkan pementasan drama The Tale of Wendit. Sedangkan pihak sekolah menyiapkan siswa dan melatihnya. “Kami sangat bersyukur bahwa dalam masa pandemi kami masih dapat belajar dan berkarya, serta memberikan kesempatan belajar siswa secara luas. Alhamdulillah, guru pendamping dan siswa tetap bersemangat dengan pendampingan dari UMM, siswa terus belajar menghafal dialog, memahami isinya dan menguatkan karakter dari peran masing-masing sampai pementasan mereka direkam,” jelas Reni Nur Faridah, Kepala Sekolah SD Aisyiyah Kota Malang. Baginya ini adalah tantangan, tapi ia tidak tinggal diam dengan menerima tantangan tersebut dengan cara berkolaborasi dengan perguruan tinggi. Hasilnya, pertunjukan dapat berlangsung dengan baik dan siswa di Korea memperhatikan setiap detik jalan ceritanya dengan antusias. Tidak mau kalah, mereka juga menampilkan penampilan mereka yang secara langsung dilaksanakan di kelas dengan judul The Rabbit and The Turtle, salah satu cerita tradisional dari Korea. Setelah kedua sekolah mementaskan drama masing-masing, rona kebahagiaan terpancar dari wajah masing-masing. Rasa lelah setelah berhari hari berlatih demi penampilan prima di depan teman-teman antar negara itu seolah terbayarkan dengan tepuk tangan seusai penampilan masing masing dan apresiasi yang tinggi dari pejabat Department of International Relations and Cooperation dari Sejong City Office of Education South Korea yang turut hadir menyaksikan. Pada hari itu, kabar gembira juga disampaikan dari karya kolaborasi ini dengan lolosnya karya video The Tale of Wendit untuk dipamerkan oleh Rochmatika Nur Anisa, salah satu alumni prodi yang berlaku sebagai sutradara pementasan ini untuk tampil pada Temu Pendidik Nusantara (TPN) VIII yang tanggal 20 November 2021 dihelat di Jakarta dan dihadiri oleh pendidik dari 13 negara dan seluruh provinsi di Indonesia. Anisa, yang saat ini banyak berkecimpung dalam berbagai kegiatan sukarela dalam pelatihan dan inovasi pendidikan bagi guru-guru di Indonesia telah mengantarkan karya ini ke ajang tersebut sehingga SD Aisyiyah Kota Malang dinobatkan menjadi sekolah percontohan melalui hasil karya inovasi selama pandemi. Apresiasi akan hasil kolaborasi ini juga disampaikan oleh Bayu Hendro Wicaksono, Ph.D, ketua prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM, “Kami bangga akan kolaborasi dosen, alumni, dan mahasiswa ini. Ke depan kegiatan semacam ini harus dilaksanakan untuk menunjukkan bahwa prodi Pendidikan Bahasa Inggris berkomitmen untuk memberikan manfaat bagi pendidikan dan komunikasi yang erat antara antara prodi dengan alumni harus tetap kita jaga, salah satunya untuk saling memperkuat seperti ini,” tandas pria yang baru saja mendapatkan amanah baru sebagai Wakil Dekan III bidang pengabdian, kerjasama, alumni dan mahasiswa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini. (rin/ed_raf)
Gandeng IDUKA dan Sekolah, FKIP UMM Tingkatkan SDM Malang Raya

Jum’at, 19 November 2021 07:29 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang–Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperluas kerja samanya. Kali ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Kampus Putih menggandeng Industri dan Dunia Kerja (IDUKA) dan sekolah-sekolah SD-SMA Sederajat Malang Raya dalam rangka mengembangkan sumber daya manusia. Selain itu juga mengadakan sharing session terkait pembelajaran STEAM. Dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Suwarjana, SE., M.M. dan Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. gelaran ini dilaksanakan pada Kamis (18/11) lalu di Hotel Klub Bunga Butik Resort. Pada kesempatan itu, Suwarjana menyambut baik Langkah kerja sama yang dibangun oleh UMM. Apalagi pengembangannya tidak hanya dalam aspek keilmuan saja, tapi juga dari aspek praktek dengan menggandeng IDUKA. Menurutnya, para siswa bukan hanya harus memahami ilmu semata, namun perlu pemahaman tentang hal-hal kontekstual. Ia juga mengungkapkan bahwa FKIP tidak hanya menggandeng tapi juga menjembatani sekolah dan IDUKA. Apalagi mengingat ada beberapa sekolah-sekolah Adiwiyata yang perlu memiliki sinergisitas yang baik. “Jadi ini adalah praktek pengembangan jejaring yang luar biasa. Semoga bisa memberikan hasil dan dampak yang positif,” tegasnya. Terakhir, ia juga menekankan bahwa pihaknya sangat mendukung adanya upaya dalam pengembangan sumber daya manusia. “Kami membutuhkan usaha-usaha semacam ini. Malang Raya juga merasa diuntungkan karena adanya banyak perguruan tinggi ini. Kesempatan untuk mengembangkan SDM jadi sangat besar,” tuturnya. Sementara itu, Fauzan mengatakan bahwa UMM terus mendorong semua program studi untuk membangun Centre of Excellence (CoE) berbasis keunggulan masing-masing. Dari situ, munculah beragam kelas professional seperti sekolah unggas, sekolah udang, sekolah anggrek dan kelas khusus lainnya. Maka menurutnya, prodi tidak bisa bergerak sendiri. Perlu adanya kerja sama yang masif dengan para pelaku industri. “Ada dua visi yang ingin kami sematkan kepada para mahasiswa. Berhasil dalam aspek akademik sekaligus mampu menjadi pribadi yang mandiri. Kemandirian bisa diwujudkan melalui berbagai pintu. Mulai dari peningkatan skill individu agar terserap di dunia kerja hingga pengembangan wirausaha,” ungkapnya. Fauzan juga menuturkan bahwa Dinas, perguruan tinggi, sekolah dan IDUKA harus berpikir secara komprehensif. Terutama dalam upaya mengantarkan generasi muda calon pemimpin bangsa. Semakin baik persiapannya, maka akan semakin baik pula masa depan yang akan disongsong. “Kini, bapak-ibu bukan lagi menjadi stakeholder saja, tapi juga bagian dari pengembangan sumber daya manusia yang digalakkan olek FKIP UMM,” terang Fauzan. Masih dalam rangka meingkatkan kualitas pembelajaran, FKIP UMM melakukan upgrade pengetahuan bersama para kepala sekolah dengan mengangkat topik tentang Pembelajaran STEAM. Dalam kesempatan ini, hadir sebagai pemateri, pakar STEAM dari Universitas Pendidikan Indonesia, Arif Hidayat, Ph.D. Terkait dengan STEAM, Dekan FKIP UMM Dr. Trisakti Handayani, M.M. mengungkapkan bahwa pembelajaran harus diorientasikan pada teknologi dalam rangka menyiapkan generasi abad 21. Menurutnya, pembelajaran STEAM merupakan pendekatan interdisipliner yang inovatif. Hal tersebut tidak lepas dari integrasi IPA, teknologi, teknik, seni dan matematika yang berfokus pada proses pemecahan masalah. Utamanya yang dihadapi di kehidupan nyata. “Sistem ini dapat mengasah tingkat literasi para peserta didik. Selain itu, STEAM akan berguna dalam perkembangan kehidupannya serta menunjang kinerja yang kompetitif serta kolaboratif,” tuturnya mengakhiri. (*)