PMB, PGSD UMM Gelar Pelatihan Batik Shibori Berbasis Penguatan Pendidikan Karakter

Sabtu, 10 April 2021 21:52 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bertempat di SMA Negeri 2 Mejayan Kabupaten Madiun, tim dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Pelatihan Batik Shibori berbasis Penguatan Pendidikan Karakter bagi Siswa SMA dan sekaligus kegiatan sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), Senin (05/04/2021). Kegiatan ini dilakukan oleh tim dosen PGSD UMM yang beranggotakan tujuh orang dosen dan karyawan PGSD UMM. Kegiatan diawali dengan sambutan kepala sekolah, penayangan video profil PGSD, dan dilanjutkan pelatihan batik shibori berbasis Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Materi pelatihan batik shibori berbasis Penguatan Pendidikan Karakter disampaikan oleh Belinda Dewi Regina, S.Pd, M.Pd. Dalam paparannya, Belinda mengatakan bahwa batik memiliki beragam jenis, salah satunya batik shibori. “Batik shibori merupakan nama lain dari batik ikat. Batik ini menggunakan pewarna remasol dan diakhiri dengan pemberian larutan waterglass,” terangnya. Batik ini pembuatannya lebih mudah dan praktis untuk dipraktikkan oleh siswa. Adapun PPK terlihat dari pewarnaan yang digunakan oleh siswa. Madiun pada dasarnya memiliki motif batik sendiri. Sayangnya, keberadaan batik Madiun dapat dikatakan hampir tenggelam. “Dengan adanya pelatihan batik ini, kami berharap banyak sekolah yang mengadakan kegiatan ekstrakurikuler batik, khususnya batik khas Madiun sehingga bisa mengajarkan pada siswa tentang budaya Madiun melalui batik,” ungkap Arinta Rezty Wijayaniningputri, tim PGSD. Di sisi lain, Murtyas Galuh Danawati, ketua tim PMB PGSD UMM Wilayah Madiun, mengatakan kegiatan ini ditujukan untuk siswa kelas XII agar lebih mengenal UMM, khususnya program studi PGSD. “Program studi PGSD UMM sudah terkareditasi A, memiliki banyak dosen yang kompeten di bidangnya, dan sudah banyak mencetak alumni yang sukses.” ungkap Murtyas. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Kepala SMA Negeri 2 Mejayan, Drs. Sasono, M.Pd. Menurutnya, kegiatan ini memberikan manfaat bagi siswa, tidak hanya dalam membantu siswa menentukan masa depan, tetapi juga dalam memberikan softskill berbasis budaya. Ia pun menegaskan bahwa untuk saat ini kuliah di universitas negeri maupun di universitas swasta sama saja. “Yang perlu diperhatikan untuk studi lanjut adalah akreditasi program studi dan akreditasi universitas. UMM sebagai universitas swasta memiliki akreditasi yang bagus, sehingga dapat menjadi pilihan untuk siswanya melanjutkan kuliah,” jelas Tedjo. Para peserta terlihat sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Secara khusus, Syahruni Miftaqun Nasyifa mengatakan, pelatihan batik shibori sangat menarik. “Saya bisa berkreasi dalam mengembangkan seni batik, berkreasi antara mewarnai dan membuat pola. Saya juga lebih memahami tentang dunia kampus, terutama mahasiswa PGSD. Jadi, saya berterimakasih kepada dosen PGSD UMM yang sudah berkenan melaksanakan kegiatan ini sehingga mendapat wawasan baru dan ilmu pengetahuan baru,” ungkap Nasyifa. (*In/fid)
Kisah Dinik Sukma, Penelitian di Sekolah Indonesia Bangkok Hingga Lulus Cumlaude

Jum’at, 09 April 2021 21:41 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan MALANG-Di tengah mayoritas mahasiswa yang berlari mengejar capaian akademik, ada mahasiswa yang berusaha merengkuh keduanya. Adalah Dinik Sukma Berlianisyah, mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Malang, menjadi lulusan terbaik nonakademik. Dinik, sapaan akrabnya, berhasil mendapat predikat lulusan terbaik nonakademik lantaran penelitian yang dilakukannya di Sekolah Indonesia Bangkok (SIB), Thailand. “Ini adalah bagian dari Program Study Excursie Luar Negeri yang merupakan inovasi dari Prodi PGSD untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswanya melaksanakan penelitian di luar negeri. Tujuannya selain mendapat pengalaman adalah dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi tepat pada waktunya,” terang Dinik. Sebelum berangkat ke Bangkok, Dinik bersama mahasiswa lainnya harus menyusun proposal skripsi dan melaksanakan Seminar Proposal Skripsi. Pasalnya, mereka hanya memiliki waktu selama lima hari di sana, sehingga pelaksanaan penelitian harus dipastikan berjalan sesuai prosedur dan efektif. Dinik melaksanakan penelitian pengembangan media pembelajaran interaktif untuk siswa kelas 5 SD. Melalui pemanfaatan Adobe Flash, materi dalam media dikemas semenarik mungkin dengan tujuan agar siswa dapat bermain sambil belajar. “Media ini sudah diimplementasi bersama guru ketika penelitian berlangsung. Jadi, untuk selanjutnya bisa dimanfaatkan guru juga siswa di sana dalam melaksanakan pembelajaran,” tambah Dinik. Dinik memang aktif dalam berbagai kegiatan di kampus. Ia pernah menjadi salah satu anggota fungsionaris HMJ PAKSI di periode 2018/2019. Pada berbagai kesempatan kegiatan yang mempir, ia pun tak pernah melewatkannya. Salah satunya adalah di penghujung semester lalu ia menjadi salah satu mahasiswa FKIP yang lolos program Kampus Mengajar Perintis yang diselenggarakan oleh Kemendikbud. Dalam program ini, ia membantu pembelajaran sekolah di masa pandemi dasar selama 2,5 bulan. Ditanya ihwal kunci keberhasilannya, ia mengaku bahwa dia menerapkan nilai-nilai yang ditanamkan Bapak/Ibu dosen kepadanya. Pesan yang selalu ia ingat adalah melibatkan Allah SWT dalam setiap perjalanannya. “Libatkan Allah SWT. dalam segala perkaramu, lalu akarkan motivasimu hanya pada dan karena Allah SWT karena InsyaAllah segala ikhtiar dan doamu akan sebanding dengan hasil pencapaianmu. Itu kata-kata dari dosen yang selalu saya ingat dan saya pegang erat,” pungkasnya. Atas segala kerja kerasnya, gadis kelahiran Sidoarjo ini tidak hanya dinobatkan sebagai lulusan terbaik nonakademik, tetapi juga berhasil meraih IPK nyaris sempurna (3,97) dengan masa studi 3,5 tahun. Tak berhenti di sini, Dinik pun sudah memantapkan hati untuk melanjutkan pendidikan profesi guru (PPG) atau studi S2. (*fid)
Dosen UMM Gelar Pelatihan Edupreneur Berbasis Penguatan Pendidikan Karakter dan Literasi

Minggu, 28 Maret 2021 17:53 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pelatihan Edupreneur Berbasis Penguatan Pendidikan Karakter dan Literasi Bersama Guru SD/MI Muhammadiyah Kabupaten Malang di SD Muhammadiyah 08 Dau. MALANG – Kewirausahaan tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang berkiprah dalam bidang ekonomi saja. Inilah yang disampaikan oleh dosen PGSD FKIP UMM, Innany Mukhlisina, M.Pd., selaku ketua pengabdian dalam acara pengabdian yang bertajuk “Pelatihan Edupreneur Berbasis Penguatan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan Literasi bagi Guru SD/MI Muhammadiyah Kabupaten Malang”. Menurutnya, kewirausahaan dapat dilakukan oleh semua orang termasuk bagi mereka yang bekecimpung di bidang pendidikan. Murtyas Galuh Danawati, S.Pd., M.Pd, dosen PGSD FKIP UMM yang mendampingi juga turut memberikan pengenalan cara memadukan nilai PPK dan literasi dengan bisnis kewirausahaan dalam acara pelatihan. Menurut penjelasannya unsur nilai PPK yang terdiri atas 5 (lima) nilai karakter yakni religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas dapat dipadukan dengan literasi dalam suatu kewirausahaan. Pelatihan yang dilaksanakan di Aula SD Muhammadiyah 08 Dau pada Jum’at, 26 Maret 2021 ini dihadiri oleh 8 guru perwakilan dari 4 sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Malang yakni SD Muhammadiyah 3 Tumpang, SD Muhammadiyah 6 Lawang, SD Muhammadiyah 8 Dau, dan MI Muhammadiyah 6 Tajinan. Pemateri seminar pelatihan ini terdiri atas dosen PGSD FKIP UMM yakni Innany Mukhlishina, M.Pd dan Murtyas Galuh Danawati, S.Pd., M.Pd. Ketua PDM Kabupaten Malang, Dr. Mursidi, M.M juga turut memberikan sambutan dalam pengabdian tersebut. “Pelatihan ini tidak hanya memberikan keuntungan finansial pada sekolah namun juga dapat turut berkontribusi pada proses penguatan pendidikan karakter dan budaya literasi pada siswa khususnya”, kata Dr. Mursidi, M.M dalam acara sambutan. Pelatihan ini terdiri atas rangkaian acara utama. Acara pertama adalah penyampaian materi edupreneur berbasis penguatan pendidikan karakter dan literasi oleh Innany Mukhlishina, M.Pd dan Murtyas Galuh Danawati, S.Pd., M.Pd.. Adapun acara kedua adalah penyampaian materi dan praktek mendesain pola berbasis Penguatan Pendidikan Karakter dan literasi menggunakan aplikasi Corel Draw X7 oleh Imam Turmudi, S.T., M.Pd. “Corel Draw X7 dipilih sebagai aplikasi dalam pelatihan edupreneur ini karena pengoperasiannya yang lebih mudah dan praktis,” kata Imam Turmudi, S.T., M.Pd. dalam acara praktek pelatihan desain literasi tipografi. Para peserta pelatihan akan diberikan pendampingan berupa teori dan praktek selama kegiatan berlangsung. Melalui acara pelatihan edupreneur berbasis PPK dan literasi bagi guru SD/MI Muhammadiyah di Kabupaten Malang ini diharapkan dapat memberikan bekal kewirausahaan kepada setiap sekolah sehingga dapat mengembangkan implementasi PPK dan literasi lebih baik di masa depan. (*in/fid)
Student Day, Ari Ginanjar Ajak Mahasiswa UMM Tak Baper Hadapi VUCA

Selasa, 16 Maret 2021 01:51 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang-Sebanyak 610 mahasiswa baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang mengikuti Pembukaan Student Day yang digelar secara daring dan luring, Minggu (14/3/2021). Mengangkat tema “Menyiapkan Kepribadian Tangguh dalam Menghadapi Tantangan dan Ketidakpastian”, acara yang digelar selama empat jam dengan menghadirkan Dr. Ary Ginanjar sebagai pembicara kunci ini berjalan meriah. Dalam paparannya, pendiri ESQ Leadership Center itu mengajak mahasiswa untuk tidak baper dan cepat move on dalam menghadapi VUCA. VUCA sendiri adalah akronim dari volatility (volatilitas atau perubahan yang sangat cepat), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas), dan ambiguity (ambiguitas). Dalam menghadapi kondisi itu, menurut Ary, kuncinya adalah tidak baper (bawa perasaan) dan cepat move on. “Ketika situasi berubah, kita harus segera mengambil keputusan. Tidak perlu marah-marah, tidak perlu baperan. Harus bisa cepat move on,” paparnya. Respon ini, imbuhnya, hanya dapat terjadi apabila mahasiswa UMM memiliki egility yang dia sebut sebagai “Super Egility UMM”. Ada lima indikator dalam konsep “Super Egility UMM” ini, yakni change Agility atau kemampuan beradaptasi dengan perubahan apapun, mental Agility atau kemampuan bertahan dalam kondisi apapun, people Agility atau kemampuan bekerjasama dengan siapapun, learning Agility atau kemampuan mempelajari dan memahami hal baru dengan cepat, dan result Agility atau kemampuan untuk tetap berprestasi dalam kondisi apapun. Selain itu, Ary juga mengenalkan konsep ESQ matrix yang terdiri dari tujuh tahapan. Tahapan pertama dan kedua adalah kepastian dan tantangan yang berada pada ranah IQ (Physical). Tahapan ketiga, keempat, dan kelima berturut-turut adalah eksistensi diri, cinta dan relasi, serta perkembangan yang berada pada ranah EQ (emotional). Adapun tahapan keenam dan ketujuh adalah kontribusi dan meaning & purpose yang berada dalam ranah SQ (spiritual). Di sini, berkaca dari cerita hidup tokoh-tokoh dunia, Ary menggarisbawahi pentingnya menempatkan meaning & purpose (SQ) sebagai The Grand Why atau langkah pertama dalam menentukan tujuan hidup. Di sisi lain, kombinasi antara IQ, EQ, dan SQ menjadi ESQ akan menciptakan generasi yang membawa kejayaan untuk bangsa. “Ia akan memiliki IPK tinggi, lulus dalam waktu yang cepat, hingga mendapatkan gelar S1, S2, bahkan S3 dna bekerja, tetapi dalam dirinya dipenuhi dorongan untuk terus memberikan manfaat. Apabila bangsa kita memiliki ini insyaAllah bangsa kita akan jaya,” pungkasnya. Dalam kesempatan ini, hadir pula sebagai pembicara, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Budaya, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. Mengawali pidatonya, Prof. Muhadjir mengapresiasi capaian UMM sebagai universitas Islam terbaik dunia versi 4ICU beberapa waktu lalu. Mantan Rektor UMM periode 2000-2016 ini pun menyebutkan rekam jejak panjang prestasi UMM, di antaranya dua kali meraih penghargaan Energy Award tingkat ASEAN dan berbagai penghargaan mahasiswa yang sudah tak terhitung jumlahnya. Kepada para mahasiswa, Muhadjir berpesan untuk memupuk kompetensi 4C, yaitu critical thinking, communication skill, collaboration, serta confidence, sebagai modal dasar menjadi mahasiswa UMM. “Rasa bangga terhadap almamater menjadi dasar rasa percaya diri Saudara. Dan, jika Saudara bisa memiliki empat keterampilan ini, insyaAllah Tuhan akan meridhoi kalian untuk meniti karier, mencapai keberhasilan dari kampus Universitas Muhammadiyah Malang ini,” ungkap Muhadjir. Semua itu merupakan langkah dalam membangun iklim berprestasi di Universitas Muhammadiyah Malang. Karena, seperti yang dikatakan Rektor dalam sambutannya, prestasi bukan hal yang bisa ditawar di UMM. “Selama mengenyam pendidikan di UMM ini, Saudara tidak punya pilihan lain selain berprestasi,” pungkas Fauzan. (*fid)
Prodi PPKn UMM Raih Akreditasi A

Minggu, 07 Maret 2021 09:49 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kegiatan Asesmen Lapang Prodi PPKn Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih akeditasi A. Berdasarkan Surat Keputusan resmi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) NOMOR: 967/SK/BAN-PT/Akred/S/II/2021, predikat akreditasi A dicapai dengan nilai 366. Capaian ini menempatkan Prodi PPKn sebagai satu-satunya Prodi PPKn PTM Jawa Timur yang terakreditas A. Kaprodi PPKn, Moh. Mansur Ibrahim mengatakan, prestasi ini adalah buah dari perjuangan yang luar biasa. Pasalnya, di detik-detik terakhir, Prodi PPKn mendapatkan edaran untuk menambah Tahun Penuh Terakhir (TS) menjadi tahun akademik 2019/2020. “Tanggal 27 Januari kami menerima surat dari BAN-PT kalau kami harus menambah TS. Jadi, kami harus menyesuaikan data dengan melengkapi dokumen 1 tahun berikutnya,” terang Mansur, Sabtu (06/03/2021). Untuk itu, tambahnya, tim taskforce membuat jadwal pemenuhan kelengkapan dokumen dengan target awal Maret 2021. Namun, minggu pertama Februari Prodi PPKn menerima pemberitahuan bahwa asesmen lapang (AL) dilaksanakan secara daring pada tanggal 15 dan 16 Februari 2021. Praktis, waktu pemenuhan dokumen hanya tiga minggu. Meski bisa mengajukan pemunduran jadwal AL, Prodi PPKn tidak melakukannya. Mereka sudah mantap karena semua dokumen sudah disiapkan dengan baik. “Ini salah satu yang diapresiasi asesor kemarin, bahwa kami tidak mengajukan pemunduran jadwal AL. Padahal, Prodi-prodi lain minta mundur katanya,” ungkapnya. Dalam keterangannya, Mansur juga menyatakan bahwa Prodi PPKn memang memiliki kualifikasi untuk mendapatkan akreditasi A. Sebab, semua unsur dalam tujuh standar yang ada sudah terpenuhi. Apalagi, lebih dari 50% SDM Prodi PPKn sudah bergelar doktor. Selain itu, Prodi PPKn memfasilitasi mahasiswa untuk terus meningkatkan kompetensi dan meraih prestasi. Di antaranya adalah melibatkan mahasiswa dalam kegiatan penelitian dan pengabdian dosen, serta program PPL internasional yang kemudian mengantarkan Syamsurijal meraih penghargaan sebagai Teacher of The Year dari Kantor Persinggahan Kementerian Pendidikan Satun Thailand pada tahun 2018. “Dengan akreditasi A ini, Prodi PPKn telah mendapatkan rekognisi secara formal. Tentu kami akan terus berbenah untuk meningkatkan capaian yang ada. Salah satunya, saat ini kami melakukan rekonstruksi kurikulum Merdeka Belajar-Kampus Merdeka,” tutupnya. Dekan FKIP UMM, Dr. Poncojari Wahyono menyatakan apresiasi dan terima kasihnya atas raihan akreditasi A Prodi PPKn. Ungkapan ini juga ditunjukkan kepada semua pihak yang telah mendukung persiapan penyusunan berkas akreditasi. “Dengan penuh ketulusan dan keikhlasan, semua telah mencurahkan seluruh waktu dan tenaganya untuk kesuksesan pelaksanaan akreditasi dan Asesmen Lapangan Prodi PPKn. Mudah-mudahan Allah SWT mencatat semua kerja ikhlas, kerja keras, dan kerja cerdas ini sebagai amal sholeh yang diterima-Nya,” ungkapnya. (*fid)
Dulu Berhutang demi Workshop Penulisan Ilmiah, Kini Hasto Duduki Kursi Direktur PERIISAI

Jum’at, 05 Maret 2021 01:50 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dalam rangka meningkatkan reputasi penelitian Indonesia, dosen saat ini seolah dikejar-kejar target untuk menerbitkan artikelnya di jurnal internasional terindeks Scopus. Sayangnya, tidak semua dosen memiliki kapabilitas meneliti dan menulis artikel jurnal internasional. Belum lagi, sudah menjadi rahasia umum bahwa publikasi di Scopus berujung sekian nominal yang harus dikocek dari kantong. Hal itu membuat Hastowohadi gusar. Bersama ketiga koleganya, ia pun kemudian mendirikan Komunitas Meneliti Banyuwangi yang kemudian bertransformasi menjadi organisasi Perkumpulan Peneliti dan Penulis Ilmu Sosial Indonesia (PERIISAI) yang mendapuk dirinya sebagai direktur. Dari Guru ke Dosen Hastowohadi, M.Pd. merupakan alumni Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMM. Pria asli Desa Cluring, Kabupaten Banyuwangi ini besar di keluarga pendidik. Ibunya mengawali karier menjadi guru TK, sementara ayahnya mengawali karier sebagai PNS guru SD dan SMP kemudian menjadi pengawas. Keluarga besar, terutama dari ayah, pun banyak yang berprofesi di dunia pendidikan. Ibarat buah jatuh tak jauh dari pohonnya, lambat laun Hasto mulai berkeinginan menekuni profesi yang sama dengan kedua orang tuanya, yakni menjadi guru. Akhirnya, selepas SMA ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang lantaran ia sudah menyukai lagu Bahasa Inggris sejak kanak-kanak. Usai lulus S1, Hasto mengajar di dua SMK swasta di Banyuwangi. Hal itu berjalan selama tiga tahun. Sampai akhirnya, ia bertekad untuk tidak larut di zona nyaman dan memutuskan untuk mengambil studi S2 meski dengan biaya pribadi. Namun, keputusan itu justru mengantarkannya pada takdir baru. Ia mendapatkan tawaran menjadi dosen bahkan sebelum menjadapatkan ijazah S2. Sebagai konsekuensinya, ia harus bolak-balik Malang-Banyuwangi setiap akhir pekan. Berhutang Demi Mengikuti Workshop Publikasi Ilmiah Semasa menjalani profesi sebagai dosen, Hasto menyadari betul bahwa ia masih awam dalam dunia riset dan publikasi. Padahal, dua hal itu adalah nyawa dari profesinya. Hal itu dikarenakan cukup banyak perkuliahan S2 yang ditinggalkannya karena mengajar di dua kampus berbeda. Di salah satu kampus itu, ia bahkan menjabat sebagai kaprodi. Alhasil, update keilmuan terbengkalai. Apalagi, tahun 2016 kondisi perekonomiannya jatuh karena ada masalah pekerjaan dan juga menderita sakit lambung yang cukup parah. Terpaksa, keinginan untuk belajar menulis tertunda karena harus fokus ke ekonomi dan kesehatan dulu. Setelah kesehatannya agak pulih, ia menyempatkan ikut konferensi sana-sini untuk menimba ilmu. Waktu itu ia masih dalam kondisi yang pas-pasan, sehingga kadang ia terpaksa harus hutang sana sini. “Pernah, saya nekat tetap berangkat dengan sepeda motor sendirian ke Solo untuk ikut konferensi, padahal saya belum bayar. Alhamdulillah di detik akhir ada teman yang minjami,” pungkasnya.
Hesti Miranda, Alumni Prodi Bahasa Inggris Dengan Segudang Pengalaman Beasiswa Luar Negeri

Selasa, 02 Maret 2021 11:09 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Hesti Ketika Pertukaran Pelajar di Spanyol Berawal dari menonton banyak film asing saat kecil, Hesti Miranda mulai bermimpi untuk pergi ke luar negeri. Sayangnya, cita-cita itu terhalang banyak kendala. Berbagai penolakan dari program pertukaran pelajar dialami Alumni Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sejak Sekolah Menengah Atas (SMA). Meski dihadapkan pada kegagalan, mimpi Hesti untuk ke luar negeri tidak pernah padam. Bahkan keinginanya semakin kuat ketika mengetahui UMM memiliki banyak program beasiswa internasional. Ia pun aktif di berbagai organisasi yang menunjang salah satunya International Language Forum. “Di tahun 2016 ketika saya mengikuti beberapa program ILF, saya mendapat kesempatan untuk menjajal pertukaran pelajar ke China selama empat bulan. Di tahun yang sama, saya juga berkesempatan untuk mengikuti magang internasional di Thailand,” lanjut Hesti, Kamis (25/02). Keberungan tersebut membuat anak tengah dari tiga bersaudara ini semakin ketagihan. Semangatnya menjadi lebih besar untuk mencoba berbagai program inernasional laninnya. Berpengalaman dua kali mengikuti program di luar negeri, jalan mulus tak lantas hadir di depan mata Hesti. Ia masih harus berjuang setelah menerima kenyataan ditolak tujuh kali pada program beasiswa Erasmus Mundus. Tak surut langkah, hal ini justru menjadikannya semakin giat mencari peluang studi di luar negeri. “Karena saya berasal dari desa, saya mempunyai prinsip bahwa saya harus terus berkembang.Pergi ke luar negeri merupakan salah satu cara bagi saya untuk mempelajari hal baru dan mengembangkan diri.Jadi setiap ditolak, saya selalu berusaha memperbaiki curriculum vitae (CV) dan motivation letter. Bahkan sebelum sidang skripsi pun saya masih menyempatkan diri untuk mendaftar beasiswa Erasmus mundus ke Spayol,” katanya. Awalnya Hesti tidak menyangka akan lolos Erasmus Mundus. Selain karena sudah banyak menerima penolakan, di tahun 2018 tersebut dirinya juga akan segera wisuda. Beasiswa Erasmus mundus tidak akan berlaku ketika pendaftar telah dikukuhkan oleh pihak kampus sebagai wisudawan. Siapa sangka, keberuntungan kali ini memihak padanya. Waktu wisuda Hesti diundur. Orang tuanya tidak dapat datang sesuai jadwal awal yang telah ditentukan. Hal ini bertepatan dengan pengumuman penerimaan Erasmus Mundus dan ia pun dapat mengikuti program beasiswa ke Spayol mulai Agustus 2018-Februari 2019. Hesti mengaku sangat bersyukur telah memilih UMM dan mengikuti berbagai program beasiswa luar negeri yang telah disediakan oleh kampus. Meneruskan mimpinya, saat ini Hesti sedang melanjutkan studi S2 di National Dong Hwa University (NDHU) Taiwan. “Berbagai pengalaman beasiswa dan magang yang saya dapatkan ketika berkuliah di UMM sangat membantu studi S2 di Taiwan. Jika masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan studi S3, saya berharap bisa pergi belajar ke tempat yang lebih jauh lagi,” pungkasnya. (syi/sil)
Yudisium, Dekan FKIP UMM Dorong Calon Wisudawan Bersiap Menjadi Pendidik Era Society 5.0

Kamis, 25 Februari 2021 11:57 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang-Dunia pendidikan harus selalu sigap beradaptasi dan memenuhi tuntutan zaman yang terus berubah. Untuk saat ini, perubahan itu salah satunya adalah dari era industri 4.0 menuju Era Society 5.0. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang mengatakan, cepat atau lambat hal itulah yang akan dihadapi lulusan FKIP UMM, sehingga mau tidak mau mereka harus dengan segera mempersiapkan diri. “Untuk saat ini memang belum, tapi itulah yang akan Saudara hadapi. Dan sebagai Sarjana Pendidikan, Saudara memiliki tanggung jawab yang besar dalam mempersiapkan masa depan bangsa Indonesia,” ungkap Dr. Poncojari Wahyono dalam gelaran Yudisium Periode I Tahun 2021, Kamis (25/02/2021). Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa Era Society 5.0 pada dasarnya akan melengkapi era industri 4.0. Era revolusi industri 4.0 menuntut penguasaan teknologi dalam berbagai lini kehidupan. “Salah satu produknya di dunia pendidikan adalah apa yang telah kita terapkan beberapa tahun terakhir ini, yakni blended learning,” ungkapnya. Sejalan dengan itu, keterampilan 4C yang mencakup creative thinking, critical thinking and problem solving, communication, dan collaboration menjadi hal esensial yang dikembangkan dalam pendidikan di era revolusi industri 4.0. Namun, kelemahannya adalah bahwa dominasi teknologi itu membuat nilai-nilai tidak secara optimal dapat ditransfer kepada peserta didik. “Era revolusi industri 4.0 memang berdampak signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi untuk pengembangan hardskill dan softskill terutama nilai-nilai pada anak didik kita masih mengalami kelemahan. Itulah mengapa 5.0 ini melengkapi kekurangan tersebut karena mengetengahkan peran manusia di dalamnya,” pungkasnya. Oleh karena itu, ia berpesan agar para calon wisudawan/wisudawati terus mengembangkan kompetensi yang telah diperolehnya selama menempuh pendisikan sarjana, baik melalui pendidikan profesi maupun kursus lainnya. Sehingga, mereka benar-benar siap dan mampu menjadi pendidik profesional di Era Society 5.0. Yudisium kali ini meluluskan 148 calon wisudawan/wisudawati dari enam Prodi di lingkungan FKIP UMM. “Lulusan Pendidikan Matematika 12 orang, Pendidikan Biologi 27 orang, Pendidikan Bahasa Indonesia 31 orang, PPKN 13 orang, Pendidikan Bahasa Inggris 25 orang, dan PGSD 40 orang,” ungkap Dr Sudiran, M.Hum, wakil Dekan I FKIP UMM. Selain itu, yudisium yang dilangsungkan secara daring ini mengukuhkan Putri Ayu Irodah sebagai lulusan terbaik FKIP. Mahasiswa dari Prodi Pendidikan Biologi itu lulus dengan IPK nyaris sempurna, yakni 3,98, dengan masa studi 7 semester. Dalam kesempatan ini pula, hadir sebagai pemateri alumni Prodi PGSD dan sekaligus alumni Program PPG Prajabatan Bersubsidi, Reza Ika Savitri, S.Pd., Gr. Reza berbagi pengalaman semasa menempuh studi di FKIP UMM, khususnya bagaimana FKIP UMM mengantarkannya pada cita-citanya sebagai seorang guru di tengah minimnya dukungan dari keluarga dan stereotipe terhadap perempuan karier. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kompetensi sosial dan kepribadian tak kalah penting dibanding kompetensi pedagogi dan profesional. Ia pun berbagi tips bagaimana menjalani profesi sebagi guru di sekolah. “Kita harus menjadi pendengar yang baik, berpikir kritis, tanggap atau responsif terhadap permasalahan yang dihadapi sekolah, dan santun kepada siapa saja, baik kepada atasan, sesama guru, murid, maupun wali murid,” pungkasnya. (*/fid)
Implementasikan MBKM, Mahasiswa Biologi UMM Jalani Kuliah Lintas Kampus

Senin, 15 Februari 2021 12:13 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sosialisasi Program MBKM Prodi Biologi Malang – Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digulirkan beberapa waktu silam direspon dengan cepat oleh semua pihak, termasuk Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui skema pertukaran pelajar pada Program MBKM NUNI 2021, enam mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi akan menempuh perkuliahan lintas kampus. “Program MBKM NUNI 2021 terselenggara atas kerja sama antara UMM dengan beberapa Universitas terkemuka di Indonesia yang tergabung dalam Nationwide University Network in Indonesia atau NUNI. Alhamdulillah enam mahasiswa Biologi lolos seleksi dan akan mengikuti perkuliahan di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Padjajaran, dan BINUS University Jakarta semester depan,” ungkap Dr. Iin Hindun, Ketua Prodi Pendidikan Biologi. Enam mahasiswa itu adalah Alvin Dewa Yanuar pada mata kuliah Dasar-Dasar Bioteknologi Prodi Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Khilma Vita Nurmayasari dan Siti Mariyatul Qibtiyah pada mata kuliah Dasar-Dasar Bioteknologi dan Etnobotani Prodi Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Nur Hadi Hidayat pada mata kuliah Dasar-Dasar Bioteknologi Prodi Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan mata kuliah Technopreneurship Prodi Teknologi Pangan Universitas Padjajaran, Egar Aldiyaksa Akbar pada mata kuliah dasar-dasar bioteknologi Prodi Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan mata kuliah etnopsikologiprogram Prodi Antropologi Universitas Padjadjaran, serta Ken Salma Afanto pada mata kuliah Dasar-Dasar Bioteknologi Prodi Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, mata kuliah Pengemasan Dan Penyimpanan Makanan Prodi Teknologi Pangan Universitas Padjajaran, dan mata kuliah Advanced Topics in E-Bussiness Prodi Manajemen BINUS University Jakarta. Sebelum dinyatakan lolos, mereka harus melewati proses seleksi yang ketat. Pasalnya, mereka harus bersaing dengan mahasiswa dari berbagai kampus untuk memperebutkan 5 sampai 10 slot mahasiswa pada setiap mata kuliah dalam satu universitas. “Selain syarat administratif pada umumnya, kami diwajibkan membuat esai tentang motivasi dan rencana belajar ke depannya,” ungkap Egar, salah satu mahasiswa MBKM NUNI 2021. Kesuksesan pengimplementasian Program MBKM Prodi Pendidikan Biologi tak lepas dari kesigapan dalam merespon kebijakan MBKM. Secara khusus, Prodi Pendidikan Biologi membentuk Tim Satgas MBKM Prodi yang selanjutnya melakukan sosialisasi kepada seluruh civitas akademika. Sosialisasi dilakukan secara massive melalui berbagai platform online seperti live Instagram dalam program Best Talks, Google Meet, Zoom, dan Youtube. Selain itu, Tim Satgas MBKM juga melayani konsultasi secara luring maupun daring. Ketua Prodi Pendidikan Biologi berharap, Program MBKM benar-benar dapat membekali mahasiswa menghadapi persaingan global. “Dengan adanya program MBKM ini mahasiswa dapat menyerap ilmu yang tidak terbatas yang nantinya akan menjadikan mahasiswa yang siap untuk mengahadapi persaingan dunia kerja Global,” ungkapnya. (*Mirz/fid)
Implementasikan Program MBKM, Prodi Matematika UMM Luncurkan Program ASIK Plus

Kamis, 04 Februari 2021 20:51 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan foto : istimewa Malang-Prodi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) luncurkan Program ASIK Plus sebagai implementasi Merdeka Belajar–Kampus Merdeka MBKM, Kamis (4/2/2021). Acara digelar secara daring dan diikuti oleh mahasiswa, alumni, serta sekolah mitra. Adi Slamet Kusuma, Sekertaris Prodi Pendidikan Matematika mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memaparkan beberapa program yang akan diusung Prodi Matematika dalam menerapkan kebijakan merdeka belajar. “Selain itu, ini juga merupakan wadah silaturahmi dengan sekolah mitra yang bekerjasama dengan Prodi dalam mengimplementasikan program tersebut,” katanya. Program Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM) adalah program yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang bertujuan mendorong mahasiswa untu menguasai berbagai keilmuan untuk bekal memasuki dunia kerja. Dalam program yang termuat dalam Permendikbud Nomor 3 tahun 2020 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi ini, mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengambil mata kuliah di luar program studi pada perguruan tinggi yang sama; mengambil mata kuliah pada program studi yang sama di perguruan tinggi yang berbeda; mengambil mata kuliah pada program studi yang berbeda di perguruan tinggi yang berbeda; dan/atau pembelajaran di luar perguruan tinggi. Mahfud Effendi selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika menjelaskan bahwa ASIK Plus merupakan singkatan dari Asistensi Magang Skripsi dan KKN. Adapun plus yang dimaksud adalah program insidental atau program yang setara dengan kegiatan MBKM. Pada praktiknya, Prodi pendidikan Matematika mengambil empat bentuk kegiatan sebagai paket program yaitu asistensi mengajar di satuan pendidikan, magang, skripsi atau riset, dan KKN. “Keempat kegiatan tersebut dapat dipilih mahasiswa dan dilakukan terutama di satuan pendidikan yang sudah memiliki MoU dengan Prodi Pendidikan Matematika UMM,” terang Mahfud. Sementara itu, ada empat mata kuliah yang dikonversi untuk mendukung program ASIK ini. Pertama, asistensi ada mata kuliah Kapita selekta matematika SLP, Bahasa pemrograman, Kapita selekta SLA, desain grafis, desain web, dan komputasi matematika. Kedua, magang ada mata kuliah PLP 1 dan PLP 2. Ketiga, riset ada mata kuliah proposal penelitian, seminar matematika, dan skripsi. Keempat, KKN yang dapat dilakukan sesuai dengan pilihan mahasiswa. Melalui Program ini, Mahfud berharap kemerdekaan belajar mahasiswa dapat terfasilitasi. Tak hanya itu, mahasiswa pun bisa lulus lebih cepat. “Banyak program untuk mempercepat kelulusan mahasiswa, semoga program-program yang ditawarkan dapat memfasilitasi kemerdekaan belajar mahasiswa sesuai dengan konsep belajar yang diusung oleh Menteri Pendidikan yang disosialisasikan pada akhir tahun 2020 tahun lalu,” harapan Ketua Prodi Pendidikan Matematika pada akhir penyampaiannya. Tak hanya menjelaskan tentang ASIK Plus, dalam kesempatan ini, Prodi Matematika juga memaparkan beberapa program unggulannya, seperti Program setara D1 komputer, Olimpiade matematika, Beasiswa alumni dan bantuan dosen untuk mahasiswa, Jurnal milik prodi yaitu MEJ, Klinik dan bantuan belajar dan program ASIK Plus. (*nis/fid) Shared: