Seminar Daring, PGSD UMM Bahas Pendidik Profesional Era Society 5.0

Kamis, 04 Februari 2021 15:55 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan foto: istimewa Malang-Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang gelar Seminar Nasional daring, Rabu (3/2). Hadir sebagai pemateri, Pelaksana Kurikulum Pendidikan Direktorat Sekolah Daswar, Wali Kota Batu, Dekan FKIP UMM, dan Kaprodi PGSD. Kali ini, tema yang diangkat adalah tema futuristik “Menyiapkan Pendidik Profesional di Era Society 5.0”. Dalam sambutannya, Dr. Fauzan, M.Pd., Rektor UMM, mengapresiasi langkah responsif Prodi PGSD terharap isu mutakhir dunia pendidikan. Menurutnya, investasi pendidikan adalah investasi yang sangat berguna bagi bangsa dan negara. Ia pun berharap, kegiatan ini dapat dapat berkontribusi untuk dunia pendidikan pada umumnya dan para pendidik pada khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan baru dalam dunia pendidikan dewasa ini. “Saya berharap dengan adanya seminar ini dapat menjadi rujukan bagi pelaksanaan merdeka belajar dan membantu para pendidik dalam menghadapi berbagai tantangan baru di dunia pendidikan,” pungkas Fauzan. Setelah revolusi industri 4.0, era society 5.0 memang menjadi topik yang hangat diperbincangkan dalam berbagai diskursus. Society 5.0 memiliki visi mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik untuk menciptakan masyarakat yang cerdas dan dewasa dalam menggunakan teknologi. Terkait hal ini, Analis Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Direktorat Sekolah Dasar, Dwi Nurani, mengatakan profesi guru harus berorientasi pada pembelajaran abad 21 yang mengintegrasikan pembelajaran dan teknologi. “Pendidik harus memiliki keterampilan di bidang digital dan berpikir kritis. Perlu literasi data, manusia, teknoilogi, dan pembelajar sepanjang masa,” tuturnya. Namun begitu, disadari bahwa ini memang tidak mudah untuk diterapkan. Apalagi saat ini kita berada dalam situasi pandemi Covid-19. “Ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh para pendidik dalam menghadapi Society 5.0 dan pandemi Covid-19. Pertama adalah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Kedua adalah kendala sinyal yang tidak merata. Ketiga perubahan kebiasaan dari luring ke daring,” terang Dwi. Dalam hal ini, Dekan FKIP UMM mengatakan, merdeka belajar bisa menjadi terobosan dalam beradaptasi dengan kemajuan zaman. “Merdeka belajar dapat menjadi sebuah terobosan dalam Pendidikan untuk beradaptasi dengan kemajuan zaman. Pendidik diberikan keleluasaan mengeksplorasi kreativitasnya dalam pembelajaran, terlebih pada masa pandemi seperti saat ini,” terang Dr. Poncojari Wahyono. Di sisi lain, tentang pandemi Covid-19, Walikota Batu menjelaskan tentang Kebijakan Pendidikan pada masa pandemi covid-19 di Kota Batu. Dalam keterangannya, Dewanti Rumpoko mengatakan Kota Batu belum menerapkan pembelajaran tatap muka meski sempat berada di zona kuning. Berdasarkan survey yang dilakukan kepada siswa SMP di Kota Batu, 80% responden menginginkan pembelajaran tatap muka. Namun, tentu keinginan itu belum bisa dilaksanakan karena kesehatan harus diutamakan. “Tapi masalah kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan harus lebih diutamakan,” ungkapnya. Namun, Kota Batu terus menyiapkan infrastruktur di sekolah untuk memenuhi protokol kesehatan, seperti tempat cuci tangan, hand sanitizer, dan sebagainya. (*fid)
PGSD UMM Asah Kreativitas Siswa SMA Lewat Lomba Puisi Virtual

Senin, 01 Februari 2021 12:02 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan foto: istimewa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar lomba baca puisi secara virtual. Kali ini lomba baca puisinya ditujukan untuk siswa/i tingkat SMA/SMK. Tujuan dari acara ini, menurut Arina Restian, M.Pd selaku Kepala Prodi PGSD FKIP UMM “Untuk memberikan ruang kreativitas buat para pelajar dalam rangkaian peringatan hari Ibu pada 22 Desember 2020 lalu, “Makanya puisi yang dilombakan semuanya mengambil tema tentang Ibu,” ungkap Arina. Harapannya, dengan lomba virtual ini, siswa/i yang ikut ajang ini dapat mengapresiasi karya puisi di tengah pandemi Covid-19. Menurut Arina, puisi merupakan alat pengungkapan rasa dan gagasan yang harus kita jaga dan wariskan ke generasi berikutnya. “Sekarang ini anak-anak kita menghadapi tantangan situasi dan kondisi yang berbeda. Karena itu olah rasa dan jiwa harus tetap hidup, di mana pun dan kapan pun,” kata Arina. Dalam acara ini, setiap peserta mengirimkan video pembacaan puisinya ke panitia melalui sistem online. Peserta mengiriman puisi sampai 24 Januari 2021. Seluruh naskah dan video pembacaan puisi dilakukan seleksi oleh Juri. Dari hasil penilaian lomba akan dipilih 3 puisi terbaik dan diumumkan pada tanggal 30 Januari 2021. Tercatat ada 13 peserta yang berasal dari perwakilan siswa/i SMA/SMK di Indonesia mengikuti lomba ini untuk mendapatkan hadiah jutaan rupiah. Puisi yang berjudul di tepian trotoar karya Arina Makrifatul perwakilan dari SMA Nuris Jember mendapat juara I dari kompetisi ini. “Saya merasa dengan ikhtiar maksimal dan bersyukur mampu membuahkan hasil yang patut disyukuri. Mulai dari belajar, latihan, dan berdoa” tutur Arina. (*Naw/fid)
Siap Terapkan MBKM, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Hadirkan Pakar Kurikulum Nasional

Sabtu, 16 Januari 2021 08:58 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Berhasil mendapatkan hibah Program Merdeka Belajar Kampus Medeka (MBKM) dari Kemendikbud Republik Indonesia, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris menghadirkan Dr. Sri Suning Kusumawardani, M.T Tim Pakar Kurikulum Pendidikan Tinggl dan MBKM dalam acara webinar. Webinar ini diikuti oleh perwakilan Prodi Bahasa Inggris yang tergabung dalam asosiasi PBI di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia, Kaprodi di lingkunag FKIP UMM, dan dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (13/1). Dalam penerapan MBKM, dosen akan menjadi dosen penggerak. Dalam pengertiannya, salah satu fungsi dosen penggerak adalah menjadi dosen yang selalu mencari ilmu dan pengalaman baru yang mendukung tugas profesinya dan implementasi program MBKM. Selain itu, dalam penerapan MBKM, dosen juga terlibat dalam reorientasi kurikulum. MBKM merupakan terjemahan dari kurikulum yang sudah ada yaitu pengombinasian antara KKNI dan SN-DIKTI. Dalam implementasinya, mahasiswa akan diberikan ruang lebih fleksibel dalam memilih belajarnya. Secara konkret, mahasiswa akan diberi dua skema proses belajar, pertama, mahasiswa mengikuti 100 persen pembelajaran di Prodinya. Kedua, memilih 20 SKS belajar di Prodi berbeda di dalam PT yang sama (1 semester) atau melakukan perkuliahan di Prodi yang sama atau berbeda di luar PT dengan maksimal 40 SKS (2 semester). Sehingga 60 SKS adalah alokasi merdeka belajar yang dapat diikuti oleh mahasiswa. Dengan demikian, 70% SKS dapat dimaksimalkan untuk alokasi mata kuliah Prodi. “Untuk menyukseskan program ini, dalam penyelenggaraan Kurikulum MBKM tentunya diperlukan model-model kerjasama dengan mitra, program dilakukan di bawah bimbingan dosen, dan juga diperlukan model-model konversi nilai dan penyesuaian bobot SKS,” tandas Dr.Sri Suning Kusumawardani, M.T yang merupakan dosen di Universitas Gadjah Mada itu. Merespon hal ini, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM telah melakukan rekonstuksi kurikulum dengan tujuan menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Pertukaran mahasiswa, penelitian, magang, dan kewirausahaan. Dari keempat program tersebut ada beberapa model yang akan diselenggarakan. Kerjasama dalam pelaksanaan program telah dilakukan dengan mitra di luar negeri dan dalam negeri. Mitra di luar negeri di antaranya China, Thailand, dan Malaysia. “Hal ini dilakukan dalam rangka menyesuaikan diri dan melakukan inovasi pembelajaran guna menciptakan lulusan unggul dan siap pakai,” jelas Bayu Hendro Wicaksono, Ph.D Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM. (*raf/fid)
Lolos Program Kampus Mengajar Perintis, 12 Mahasiswa FKIP Tiga Bulan Dampingi Guru Laksanakan Pembelajaran di Masa Pandemi

Minggu, 20 Desember 2020 09:44 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dua belas mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang tuntas menjalani Program Kampus Mengajar Perintis (KMP). KMP merupakan bagian dari Kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) yang digulirkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayan dengan tujuan mengajak para mahasiwa untuk berpartisipasi sekaligus memberikan solusi bagi sekolah-sekolah yang terdampak pandemi Covid-19. Kedua belas mahasiswa itu adalah Dinik Sukma Berlianisyah, Annisa Dyah Febrianti, Aldina Ramadhani, dan Rohmawati Mufida dari Prodi PGSD; Pripta Fajri Ramadhanti dan Putri Diah Ayu Pitaloka dari Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia; Egar Aldiyaksa Akbar dan Alvin Dewa Yanuar dari Prodi Pendidikan Biologi; Neng Wiwin Indrawati dan Cahyo Aulia Andi Putra dari Prodi PPKn; serta Daffa Indra Arya Wardhana dan Lovie Kartika Sari dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Bersama 2.500 mahasiswa lainnya dari seluruh Indonesia, mereka mengabdi di sekolah di sekitar domisilinya selama tiga bulan. Dalam tiga bulan ini, ada berbagai program yang disusun para mahasiswa. Program-program ini berbeda satu dengan lainnya bergantung pada permasalahan yang terjadi di sekolah berdasarkan observasi pada minggu-minggu awal pelaksanaan KMP. Rohmawati Mufida, misalnya, melaksanakan program tular teknologi pada guru di SDN 52 Parupuk Tabing, Kota Padang, tempatnya mengabdi, karena sebagian besar guru masih gagap teknologi. Tak hanya pada guru, ia pun lakukan program yang sama pada siswa dan wali siswa. Pasalnya, pembelajaran dilaksanakan secara daring sehingga baik guru maupun siswa dan wali siswa harus sama-sama melek teknologi. “Program tular tekhnologi tidak hanya saya berikan kepada guru tetapi kepada siswa dan wali siswa juga, karena masih banyak yang masih gagap teknologi padahal pembelajaran dilaksanakan secara daring,” terang Rohma, sapaan akrabnya. Dalam program tular teknologi ini, Rohma mendampingi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran daring melalui Zoom Meeting, membuat quiz atau penilaian harian (PH) dari Google Form, dan pembuatan video pembelajaran. Sementara untuk siswa dan wali siswa, Rohma mendampingi pengoperasian masing-masing platform tersebut dari sudut siswa. Di lain sisi, hasil asesmen literasi dan numerasi siswa melalui aplikasi Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) yang menunjukkan hasil di bawah rata-rata mendorong Pripta Fajri Ramadhanti berfokus pada kegiatan literasi. “Kemampuan literasi anak-anak kebanyakan di bawah angka 60. Bahkan, ada anak kelas 4 SD yang ternyata belum bisa membaca. Jadi, selain mengimplementasikan Modul Literasi Numerasi dari Kemendikbud, saya membuat beberapa kegiatan literasi seperti membuat poster menarik dan mading timbul sederhana,” jelas mahasiswa tingkat akhir Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia yang jalani pengabdian di SDN Mangunreja, Kab. Serang, Provinsi Banten ini. Bahkan, sebagian besar mahasiswa membantu guru melaksanakan kegiatan guru kunjung atau home visit lantaran tidak semua siswa memiliki gawai atau memiliki jaringan yang memadai. Wakil Dekan I FKIP UMM, Dr. Sudiran, M.Hum, bersyukur bahwa kedua belas delegasi FKIP UMM lolos pada program yang didanai LPDP itu. Keterlibatan FKIP dalam KMP, menurutnya, bukan hanya untuk mendukung kebijakan pemerintah, tetapi juga karena ada banyak manfaat yang akan diperoleh mahasiswa. Salah satunya adalah semakin terasahnya softskill dan hardskill mahasiswa. “Kita mendaftarkan 12 mahasiswa dan Alhamdulillah semua lolos. Kita tentu mendukung program pemerintah. Apalagi ada banyak manfaat untuk mahasiswa kita. Seperti, dengan terjun ke sekolah, mereka akan paham apa masalah di sekolah dalam melaksanakan pembelajaran di masa pandemi. Mereka akan mendampingi guru dan menghadapi murid yang beragam. Tentu, softskill dan hardskill mereka semakin terasah,” terang Sudiran. Lebih lanjut, ia berharap lewat KMP ini, para mahasiswa bisa berperan secara optimal dalam mengembangkan karir dan profesi. “Kita berharap pengalaman-pengalaman yang mereka dapatkan selama mengikuti KMP ini bisa mereka internalisasikan untuk mengembangkan karir dan profesi ke depan,” tambahnya. (*fid) Shared:
Bentuk Karakter Wirausaha Anak Panti Asuhan Lewat Pelatihan Batik Celup

Minggu, 22 November 2020 18:25 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan foto : istimewa Mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM beri pelatihan membuat batik celup anak panti asuhan untuk membentuk karakter kewirausahaan. Dibawah bimbingan Tutut Indria Permana, M.Pd., Siti Mariyatul Qibtiyah sebagai ketua, serta Ladysyah Fitri Rohmah, Nur Hadi Hidayat, dan Yeni Setyaningsih sebagai anggota melatih 10 anak Panti Asuhan Putri Aisyiyah Dinoyo, Malang, selama hampir satu bulan, yakni 22 Agustus 2020 hingga 15 September 2020. Ide kegiatan ini bermula dari fakta bahwa masyarakat Indonesia lebih condong menjadi job seeker sehingga jumlah wirausahawan di Indonesia baru mencapai 2%. Padahal, idealnya, agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, jumlah wirausahawan suatu negara setidaknya harus mencapai 4%. Karena itu, jiwa kewirausahaan harus ditanamkan sejak dini, terutama bagi anak-anak panti asuhan. “Dengan keterampilan wirausaha, mereka akan lebih mandiri. Ini penting karena mereka tidak bisa bergantung pada orang tua. Selain itu, ini juga bisa menjadi solusi bagi permasalahan donasi panti asuhan yang tidak tetap pada setiap bulannya,” tutur Siti Mariyatul Qibtiyah saat diminta keterangan lewat WA, Sabtu (20/11/2020). Lataran dilaksanakan di masa pandemi, tim memanfaatkan platform Google Meeting untuk kegiatan pelatihan dan aplikasi WA untuk kegiatan pendampingan. Kegiatan pelatihan meliputi pemberian materi kewirausahaan, pembuatan batik celup, pemasaran, dan pengemasan produk. Menariknya, materi pembuatan batik celup disajikan dalam bentuk video tutorial yang diunggah di youtube. “Tujuannya agar lebih mudah dipahami dan bisa diakses tanpa batas. Kami membuat video tutorial itu dengan aplikasi Kinemaster karena ada banyak pilihan efek animasi yang sesuai dengan kebutuhan kami,” tambah Siti. Selain itu, tim juga membuat Buku Pedoman Pelaksanaan Program dengan menggunakan bantuan software Power Point. “Terima kasih kepada tim yang telah memberikan pelatihan membuat batik celup secara daring. Kegiatan ini akan kami lanjutkan, kami optimalkan lagi. Kami akan membuat lagi kreasi-kreasi produk batik celup dan menjualnya kepada masyarakat luas,” terang Farida.Adanya kegiatan ini terbukti menambah pemahaman dan keterampilan anak panti asuhan dalam hal membuat batik celup maupun berwirausaha. Ini terlihat dari peningkatan hasil pretest dan posttest yang melonjak hingga 90%. Alhasil, mitra memberikan apresiasi yang tinggi atas pelaksanaan kegiatan ini. Bahkan, Farida Basori, pengelola Panti Asuhan Putri Aisyiyah Dinoyo pun berniat untuk melanjutkan kegiatan. Kegiatan ini merupakan aplikasi dari Kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa pada skim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M). PKM-M ini tidak hanya memperoleh pendanaan dari Belmawa Dikti, tetapi juga mewakili UMM pada gelaran PIMNAS 33 yang akan dihelat secara daring sepekan ke depan. Lewat keberhasilan program dan luaran tambahan artikel yang telah dipublikasikan di International Journal of Community Service Learning (IJCSL) Universitas Pendidikan Ganesha, diharapkan tim bisa mengharumkan nama Kampus Putih dengan menyabet gelar sebagai Jawara PKM-M Tahun 2020. (*fid)
Tetap Belajar Mengaji Meski Pandemi dengan E-Nasyid Berbasis Articulate Storyline

Selasa, 17 November 2020 20:16 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pandemi tidak hanya menghambat pelaksanaan pendidikan formal, tetapi juga pendidikan nonformal seperti di Taman Pendidikan Quran (TPQ), Anak-anak tak bisa lagi belajar di TPQ dan memperdalam agama, seperti belajar tajwid. Padahal, mempelajari dan mengimplementasikan tajwid akan menambah kesempurnaan dalam sholat dan membaca Al-Quran. Berangkat dari kondisi ini, Safira Rahmadita Ismara menggandeng Devi Mellysafitri, Muhammad Natsir Hentihu, dan L. Yasril Ilham membuat sebuah inovasi yang menggabungkan metode mengaji dan teknologi bertajuk “Metode Nasyid Berbasis Articulate Storyline” dan menerapkannya di TPQ Shirotol Mustaqim. “TPQ Shirotol Mustaqim ini berlokasi di Desa Baamang Tengah, Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah. Peserta didik di sana rata-rata remaja usia 14 – 17 tahun. Mereka mengeluh karena tidak ada lagi kegiatan mengaji di TPQ padahal pembelajaran tajwid penting itu untuk dipelajari. Jadi, kami tergerak untuk mencoba mengatasi masalah itu dengan pendampingan implementasi metode nasyid berbasis articulate storyline ini,” ungkap Safira, sapaan akrabnya, Senin (16/11/2020). Pemilihan metode nasyid ini diasumsikan memudahkan anak-anak dalam belajar. Pasalnya, gaya belajar anak-anak lebih condong ke hal-hal yang sifatnya audio-visual dan interaktif. Sehingga, melalui musik dan lirik yang mudah dihapal peserta didik akan bisa memahami tajwid dengan baik. Program ini dimulai dengan identifikasi masalah mitra melalui pretest online untuk melihat kemampuan awal dari aspek makhorijul huruf, kelancaran, dan ketepatan membaca tajwid. Kemudian, tim merevisi media sehingga hukum tajwid yang diselesaikan terlebih dahulu sesuai dengan hukum tajwid yang dialami oleh peserta didik. “Setelah pretest dan revisi, kami melaksanakan program pendampingan secara daring menggunakan Zoom Meeting. Peserta didik melihat tayangan media e-Nasyid kemudian bersama-sama tim menirukannya. Kemudian di setiap akhir pertemuan, peserta diminta membaca beberapa ayat Al-Quran sesuai hukum tajwid yang muncul,” terang mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Malang itu. Setelah semua materi hukum tajwid disampaikan, tim dan ustadz melakukan posttest. Tujuannya, untuk melihat apakah ada peningkatan pemahaman peserta setelah program berakhir. Kepuasan mitra juga dilihat melalui penyebaran angket. “Alhamdulillah, hasilnya memperlihatkan kalau peserta di TPQ mitra mengalami peningkatan kemampuan pemahaman materi hukum tajwid setelah program ini dilaksanakan. Respon mitra terhadap keseluruhan program juga sangat baik,” tuturnya bersemangat. Tak berhenti di situ, sebagai tindak lanjut, Safira dan tim melakukan kaderisasi kepada pengelola TPQ dan mengajak masyarakat di luar TPQ Shirotol Mustaqim untuk bergabung secara online. Tim mempublikasikan program melalui Instagram yaitu @e.nasyid20 dan akun Youtube Studi Tajwid E-Nasyid kemudian merekrut peserta didik dengan rentang usia 12 – 17 tahun serta usia anak melalui pendampingan orang tua melalui pengisian Google Form. Dimintai keterangan atas keberhasilan tim ini, Siti Khoiruli Ummah, dosen pembimbing, mengaku bersyukur dan bangga. Apalagi, kegiatan ini punya luaran lain yakni HKI dan publikasi ilmiah. Ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa. “Bersyukur dan bangga ya… Alhamdulillah program berjalan dengan lancar. Kelompok ini akhirnya juga bisa mendapatkan HKI untuk buku pedoman pelaksanaan program dan publikasi artikel ilmiah di Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Madani. Ini tentu sangat bermanfaat bagi mahasiswa. Tidak hanya pengalaman, tetapi juga produk nyata yang berkontribusi untuk portofolio mereka,” papar Ulli. Kelompok ini hakikatnya adalah tim PKM UMM pada skim PKMM yang telah lolos PKP 2. Mereka akan berlaga pada PIMNAS 33 yang digelar secara online, 24-29 November 2020. (*fid)
Dinda dan Nafysah Menangi Lomba Poster Mahasiswa Nasional BAPOMI Jawa Timur

Selasa, 10 November 2020 08:52 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mengawali bulan November, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang kembali torehkan prestasi. Adalah Dinda Erlinda dan Durrotun Nafysah, mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, yang berhasil menyabet juara III lomba poster mahasiswa nasional yang digelar oleh Badan Pembina Olah raga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) Jawa Timur. Kemenangan ini disampaikan lewat Surat Keputusan Hasil Lomba KTI dan Poster Mahasiswa Nasional Tahun 2020 BAPOMI Jawa Timur, Rabu (4/11/2020). Ya, lewat poster berjudul “Pentingnya Pembinaan Bola Basket”, Dinda dan Nafysah berhasil menyingkirkan 239 poster lainnya. Setidaknya, ada tiga muatan informasi yang disampaikan Dinda dan Nafysah dalam poster tersebut, yakni hakikat pembinaan olah raga, pentingnya pembinan olah raga bola basket, dan peran pemerintah dalam pembinaan olahraga bola basket. “Pembinaan olahraga bola basket menurut kami sangat penting. Olahraga ini sebenarnya adalah olahraga yang sudah umum atau populer, tetapi nyatanya belum semua daerah memahami dan melakukan pembinaan terhadap cabang olahraga ini, terutama di daerah yang notabenenya daerah pelosok. Kegiatan ini dapat memotivasi para pelajar, meningkatkan daya tarik, mengembangkan potensi para pelajar, dan meningkatkan prestasi olahraga dalam mengikuti kompetisi Prokab, Proprov, hingga PON,” tambah Dinda saat diwawancarai via WhatsApp, Senin (9/11/2020). Ditanya ihwal kemenangannya, Dinda mengaku tidak menyangka bisa menjadi pemenang. Pasalnya, poster ini hakikatnya adalah produk mata kuliah Kajian Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Sekolah Dasar yang diampu oleh Frendy Aru Fantiro, M.Pd. “Jujur, saya tidak pernah menyangka bisa menang karena awalnya cuma memenuhi tugas dan ikut berpartisipasi saja. Tapi, saya mulai optimis untuk menang setalah pengumuman lolos seleksi 20 besar. Dari situ saya dan teman saya menyiapkan materi yang akan dipresentasikan dengan sungguh-sungguh dan akhirnya berhasil mendapat juara tiga,” tutur Dinda. Atas pencapaian ini, Arina Restian, ketua Prodi PGSD mengaku bangga dan berharap kedua mahasiswa ini dapat terus mengasah potensi agar bisa bersaing pada jenjang yang lebih tinggi. “Alhamdulillah sangat bangga memiliki mahasiswa berprestasi. Saya ucapakan Selamat dan sukses atas kemenangan lomba poster Bapomi Jatim kepada Dinda Erlinda Durrotun Nafysah. Semoga bisa terus mengasah potensi dan kemampuan untuk bersaing secara nasional maupun International,” ungkap Arina. Capaian ini membuktikan formula SAL Experience yang merupakan akronim dari Student Active Learning Experience Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP UMM berhasil menyajikan perkuliahan yang inovatif, kreatif, bermakna dan menyenangkan bagi mahasiswa. Hal inilah yang mendorong mahasiswa untuk terus mengukir prestasi. (fid)
Webinar dan Launching Bunga Rampai, Cara Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM Rayakan Bulan Bahasa

Rabu, 28 Oktober 2020 14:21 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Foto: Dr. Sugiarti, M.Si saat Launching Bunga Rampai Malang-Dalam rangka merayakan Bulan Bahasa tahun 2020, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM luncurkan bunga rampai “Kesatuan dalam Keberagaman: Paradigma Mutakhir Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya”, Selasa (28/20/2020). Buku ini berisi sepuluh 10 pemikiran dosen dalam merespon isu terkini yang sedang berkembang. “Tema yang ditulis beragam, mulai dari permasalahan pembelajaran dalam situasi pandemi, strategi kebijakan internasionalisasi bahasa Indonesia, hingga perkembangan paradigma mutakhir dalam kajian bahasa dan sastra. Semua itu adalah wujud kontribusi yang ingin kami berikan terhadap pembangunan nasional, terutama dalam hal pembangunan ‘manusia’ Indonesia,” tutur Dr. Sugiarti, M.Si., Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia. Wakil Rektor I UMM memberikan apresiasi yang tinggi atas peluncuran bunga rampai ini. Begitu juga Dekan FKIP. Menurut Dekan FKIP, bunga rampai ini adalah bukti komitmen akademik Prodi Bahasa Indonesia dalam memberikan sumbangan pemikiran terhadap kondisi terkini. “Kehadiran bunga rampai ini menunjukkan komitemen akademik tim dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dalam memberikan sumbangan pemikiran terhadap peran bahasa, sastra, dan pembelajaran sesuai dengan kondisi yang ada. Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas dedikasi dan komitmen yang diberikan demi terselesaikannya buku ini,” terang Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes. Seremonial peluncuran bunga rampai dilangsungkan dalam acara seminar tahunan Prodi, yakni Seminar Nasional Bahasa dan Sastra 4 (SENASBASA 4). Acara diikuti oleh 48 pemakalah dan 174 peserta. Mengangkat tema “Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya di Masa Pandemi”, seminar ini menghadirkan tiga pemateri utama yakni Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra (Universitas Udayana), Prof. Dr. Suwardi endraswara, M.Hum (Universitas Negeri Yogyakarta), dan Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si (Universitas Muhammadiyah Malang). Ketiga pemateri utama tersebut membedah tema utama dengan perspektif yang beragam. Pemateri pertama, Prof. Darma Putra, membahas wacana pandemi di media masa dalam perspektif analisis wacana kritis. Teks memiliki dimensi yang sangat kompleks. Menurutnya, makna tidak bersifat tunggal karena terdapat dimensi kesadaran dan ketaksadaran dalam teks. Karenanya sering ditemukan penafsiran-penafsiran yang beragam. Bahkan, seringkali kuasa dapat menentukan makna sebuah teks. Di sisi lain, pemateri Kedua, Prof. Endraswara, menyoroti kajian posthumanisme sastra di masa pandemi. Dalam paparannya, ia menggarisbawahi pentingnya perspektif posthumanisme untuk membedah karya sastra untuk menghasilkan ketepatan interpretasi. Berbeda dengan dua pembicara sebelumnya, Prof. Syamsul membahas kemanusiaan, keberagaman, dan pendidikan di masa pandemi dalam kerangka esai-esai populer yang telah ditulisnya. “Pendidikan adalah proses humanisasi. Pada situasi ini kita sudah mulai berdamai dengan situasi yang terjadi, tetapi kita kehilangan sentuhan manusia. Interaksi hilang. Meskipun ekosistem bagus, tetapi ada bagian-bagian fundamental dalam kehiduan manusia yang tidak bisa dilayani teknologi secanggih apa pun. Di sini, mutlak tatap muka fisik tetap diperlukan,” terang Prof. Syamsul yang juga menjabat sebagai wakil Rektor I UMM ini. (*/FP)
APERTELA: Solusi Pembelajaran Teks Laporan hasil Observasi untuk Siswa SMA

Selasa, 22 September 2020 16:28 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan foto : istimewa Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP UMM ciptakan aplikasi APERTELA, aplikasi pembelajaran teks laporan hasil observasi. Adalah Annisauf Fadlilah Khoiri, Mohammad Nuryasin, dan Hafida Isnaini yang menggagas aplikasi berbasis multimodal games based learning tersebut. Ide pembuatan aplikasi ini bermula dari fakta masih dirasa sulitnya mata pelajaran bahasa Indonesia, utamanya pada materi teks laporan hasil observasi. Ya, salah satu pembelajaran yang sulit bagi siswa kelas X SMA adalah teks laporan hasil observasi. Pasalnya, struktur teks dan aspek kebahasaannya cukup kompleks. Tak hanya itu, teks laporan hasil observasi menuntut siswa untuk mampu membaca dan menulis berdasarkan informasi, data, dan fakta dari kegiatan observasi atau pengamatan. Dari segi media pembelajaran, sejauh ini media pembelajaran yang ada dan digunakan guru cenderung masih media pembelajaran konvensional. “Materinya sulit. Media pembelajaran juga masih konvensional,” tutur Annisa. APERTELA merupakan aplikasi yang menyajikan materi dan contoh teks laporan hasil observasi. Untuk menambah ketertarikan siswa dalam belajar, tersedia pula permainan tentang teks laporan hasil observasi. “Tujuan dibuatnya aplikasi APERTELA ini untuk memudahkan guru dan siswa dalam pembelajaran teks laporan hasil observasi. Di dalamnya, terdapat fitur materi, kuis, dan permainan yang dapat menarik minat, motivasi, kemandirian siswa dalam belajar serta materi disajikan secara lengkap dan disertai contoh-contoh,” terang Annisa saat dimintai keterangan. Materi mencakup konsep dasar, ciri-ciri, struktur, serta aspek kebahasaan teks laporan hasil observasi. Kuis berisi soal-soal tentang aspek kebahasaan teks lapaoran hasil observasi, serta aktivitas membaca dan menulis teks laporan hasil observasi. Pertanyaan dalam kuis berubah dan bervariasi pada setiap levelnya, disusun berdasarkan tingkat kesulitannya. Semakin tinggi levelnya semakin sulit kuisnya sehingga pengguna lebih tertantang dan percaya diri dalam menyelesaikan kuisnya. Keunikan aplikasi ini juga tampak pada level-level permainannya. Ada 5 level dengan 2 setting pada setiap levelnya. Jika pemain berhasil menjawab semua kuis pada setiap level, ada bonus tambahan dalam bentuk pengayaan materi. “Setting mencakup latar tempat, mulai dari yang terdekat dengan siswa hingga setting yang mengandung nilai edukasi, budaya, sosial, dan lingkungan, seperti setting di museum, alam, dan lingkungan sosial,” imbuh Annisa. Aplikasi ini merupakan salah satu karya kreatif mahasiswa yang mendapatkan pendanaan pada Program Kreativitas Mahasiswaa (PKM) dari Dikti. Ke depan, diharapkan aplikasi APERTELA ini dapat diimplementasikan secara langsung di sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia. (*fp)
Suci Puspita Sari, Wisudawan Terbaik FKIP yang Hobi Menulis

Rabu, 16 September 2020 11:11 WIB Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dok : istimewa Lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP UMM, Suci Puspita Sari patut berbangga hati. Pasalnya, ia ditetapkan sebagai wisudawan terbaik FKIP pada wisuda periode II Tahun 2020 Universitas Muhammadiyah Malang, Selasa (15/09/2020). Suci, sapaan akrabnya, lulus dengan raihan IPK 3,95 dan masa studi 3 tahun 9 bulan. Wanita kelahiran Payolebar 30 Januari 1997 itu mengaku tidak menyangka bisa menjadi lulusan terbaik. “Sejujurnya, saya tidak menyangka bisa menjadi lulusan terbaik FKIP. Selama ini, saya hanya berusaha melakukan semaksimal yang saya bisa supaya saya bisa lulus tepat waktu,” ungkapnya. Sejak menjadi maba, Suci sudah aktif dalam dunia tulis-menulis. Ini tak lepas dari luaran perkuliahan yang berbasis produk dan motivasi serta fasilitasi dosen. Alhasil, beberapa karyanya dipublikasikan di media massa, di antaranya resensi buku “Pedoman dalam Pendidikan” (2016), Opini “Keluargaku, Cerminan Karakterku” (2017), resensi buku “Degradasi Etika Sosial dalam Potret Masyarakat Jawa” (2018), dan Opini “Membangun Sikap Kritis Melalui Keterampilan Membaca” (2019). Selain itu, artikelnya yang berjudul “Makna dan Relevansi Simbolik Mantra Siraman Gong Kyai Pradah Lodaya dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Lodaya, Blitar” di Jurnal Aditya, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Muhammadiyah Purworejo. Baginya, menulis bukan hanya sekadar hobi, melainkan kebutuhan. Dengan menulis, ia bisa mengingat kembali pengetahuan yang diperoleh sebelumnya dan sekaligus meng-upgrade pengetahuan melalui aktivitas penelusuran pustaka. “Ketika menulis, pasti kita mengingat kembali pengetahuan yang sebelumnya didapat. Kita juga pasti melakukan aktivitas membaca untuk memperkuat dan memperdalam gagasan atau argumentasi kita. Jadi, menulis bagi saya bukan hanya hobi, tapi kebutuhan. Kebutuhan untuk selalu meng-upgrade pengetahuan dalam rangka pengembangan diri,” tuturnya bersemangat. Keseriusannya dalam bidang menulis ini kemudian mengantarkannya menjadi editor lepas penerbit ternama sejak semester 3. Pada semester 3, Suci menjadi editor soal Ujian Nasional (UN) dan kunci jawaban penerbit Erlangga. Lalu, pada semester 4, ia menjadi editor lepas buku teks pelajaran SMP dan SMA Penerbit Grasindo. Di samping melakoni perkuliahan dan mendalami hobi menulis, Suci juga aktif dalam organisasi HMJ. Baginya, organisasi penting untuk mengasah jiwa sosial, kepemimpinan, dan pemecahan masalah. “Intinya saya tidak ingin melewatkan semua kesempatan yang membuat kualitas diri saya menjadi lebih baik. Kuliah jalan, hobi jalan, organisasi juga jalan. Tapi, prioritas pasti akademik karena itu amanah utama dari orang tua,” imbuhnya. Rencananya, Suci akan melanjutkan studi ke jenjang pendidikan selanjutnya (S2). Keinginan itu sempat terbentur izin kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai petani yang terdampak pandemi. Namun, melihat kegigihan dan prestasi Suci, mereka akhirnya luluh dan memberi restu. “Alhamdulillah, setelah melihat Suci dapat IPK tertinggi saat yudisium beberapa bulan lalu, orang tua mengizinkan, dengan catatan, tetap di Malang dan tetap di UMM. Saya pun inginnya juga sama, tetap di UMM karena sudah nyaman dengan kampus dan dosen-dosennya. Apalagi di UMM menyediakan beasiswa untuk alumni,” tutupnya.