Cerdas Ber-AI: Memaksimalkan AI dalam Pendidikan tanpa Kehilangan Nilai Kemanusiaan
Oleh: Ahmad Fauzi Dosen Pendidikan Biologi, FKIP UMM Sekretaris Laboratorium Pusat Sumber Belajar berbasis Digital FKIP UMM Youtuber (Ensiklopedia Ahmad Fauzi, subscriber di atas 70ribu) Pemateri, narasumber, trainer berbagai workshop, webinar, seminar, bootcamp daring maupun luring seputar pemanfaatan AI. Mengisi lebih dari 80 kali kegiatan online (diundang berbagai lembaga pelatihan maupun kampus), lebih dari 20 kali kegiatan luring di berbagai kota dalam satu tahun terakhir (dari Padang, Tarakan, Bandung, Surakarta, hingga Toraja). Di era saat ini, kehidupan kita sudah sulit dipisahkan dengan AI. Di kehidupan sehari-hari, disadari atau tidak, dua platform digital yang paling sering kita gunakan, Google dan WhatsApp, juga memiliki fitur AI. Sebelumnya, ketika kita mencari informasi di Google, kita harus membuka satu per satu hasil pencarian Google untuk menemukan jawaban terbaik dari sesuatu yang kita tanyakan. Sekarang, kehadiran AI Overview langsung mampu memberikan jawaban dari pertanyaan atau informasi yang kita cari melalui platform ini. WhatsApp, platform yang biasa kita gunakan untuk berkomunikasi dengan sesama teman atau keluarga, juga memiliki fitur MetaAI yang bisa kita poisiskan sebagai teman virtual untuk mengobrol tentang berbagai topik. Selain itu, banyak dari kita yang sudah tidak asing dengan ChatGTP. Kita bisa membicarakan dan menanyakan berbagai hal pada platform tersebut. Di kehidupan perguruan tinggi, kita pun mau tidak mau harus menyadari kehadiran dan kemajuan teknologi AI. Disadari atau tidak, banyak mahasiswa dan dosen sudah menggunakan AI untuk membantu kerja akademis hingga aktivitas ilmiah mereka. Pemanfaatan AI dapat membantu dosen dan mahasiswa di berbagai hal, dari yang sederhana seperti menanyakan konsep tertentu, hingga yang kompleks seperti membantu merancangkan artikel jurnal berkualitas. Sejalan dengan banyaknya civitas akademika memanfaatkan AI, berbagai konten dan workshop seputar pemanfaatan AI untuk membantu kerja mahasiswa dan dosen semakin sering diselenggarakan. Banyak sekali topik yang dibahas, dari bahasan terkait etika penggunaan AI, pemanfaatan AI untuk membantu menyiapkan perangkat pembelajaran, penggunaan AI dalam penelitian ilmiah, hingga pemanfataan AI untuk membantu menyiapkan draft artikel jurnal bereputasi. Peminatnya pun sangat besar. Saya beberapa kali menjadi narasumber yang yang sekali kegiatan bisa melibatkan 300 hingga 1000 peserta. Beberapa konten Youtube saya yang membahas seputar AI juga ada yang viewernya mencapai puluhan ribu (bahkan ada yang diatas 100ribu viewer). Data sederhana ini bisa menjadi indikasi tingginya minat para akademisi untuk mempelajari pemanfaatan AI untuk membantu tugas akademis mereka. Bila ditanya tentang plus minusnya, ada berbagai manfaat yang dapat kita rasakan ketika kita memanfaatkan AI. Kehadiran dan pemanfaatan AI dapat membantu mempercepat kerja kita. Kerjaan yang biasanya membutuhkan waktu sekian pekan hingga sekian bulan dapat kita selesaikan dalam sekian hari ataupun bahkan sekian jam dengan bantuan AI. Selain itu, dengan memposisikan AI sebagai teman diskusi kita, kita dapat mengeksplorasi berbagai ide penelitian maupun ide desain pembelajaran yang selama ini belum terungkap dalam pikiran kita. Berbagai desain penelitian yang awalnya tidak kita pikirkan, saat ini bisa kita temukan dan kita rancang untuk penelitian kita. AI juga dapat memperkuat ide-ide penelitian yang telah kita miliki serta mengoptimalkan karya yang sedang kita susun. Masih banyak lagi manfaat yang dapat kita rasakan dari kehadiran AI, misalnya memudahkan kita mencari berbagai referensi ilmiah berkualitas yang sejalan dengan penelitian kita hingga membantu kita mengidentifikasi research gap di bidang penelitian kita. Berbagai kelebihan tersebut sering juga saya bahas di berbagai workshop, webinar, hingga bootcamp yang saya isi. Namun, meski AI mendatangkan berbagai manfaat yang luar biasa, kita juga harus menyadari aspek negatif yang bisa muncul bila kita menggunakan AI secara tidak bijak. Penggunaan AI di berbagai aktivitas sehari-haru dapat saja menyebabkan ketergantungan pada diri kita. Kita menjadi sulit memikirkan ide, memulai menulis karya, atau menyelesaikan kerja kita tanpa bantuan AI. Pemanfaatan AI yang berlebihan juga menyebabkan pola pikir dan keterampilan berpikir kita semakin tumpul. Selain itu, dengan langsung menyalin hasil kerja AI, pengetahuan kita juga tidak semakin berkembang. Selain itu, kita juga harus memahami bahwa AI juga bisa saja memberikan informasi yang tidak akurat sehingga dapat memunculkan misinformasi hingga miskonsepsi. Misalkan saja ketika kita memanfaatkan AI secara berlebihan untuk menulis artikel penelitian. Kita bisa saja meminta AI membuatkan artikel jurnal yang 100% langsung kita salin ke dalam manuskrip ilmiah yang kita kirim ke jurnal target. Dalam kondisi ini, kita tidak membaca sama sekali referensi seputar penelitian kita sehingga pengetahuan kita sama sekali tidak bertambah. Keterampilan berpikir kita juga tidak berkembang karena kita tidak memverifikasi, memvalidasi, dan menyempurnakan draft artikel yang telah dibuat oleh AI. Keterampilan menulis kita pada akhirnya juga semakin menurun karena kita tidak memparafrase dan memfinalisasi draft artikel tersebut. Pada akhirnya, selain artikel kita berpotensi mengandung informasi yang menyesatkan, berbagai kompetensi kita akan semakin menurun. Oleh karena itu, hampir di setiap kegiatan yang saya isi, saya selalu menekankan pentingnya memeriksa respon yang diberikan oleh AI, membatasi peranannya, memanfaatkannya dengan strategi yang etis dan bijak, dan memposisikannya sebagai asisten serta pemberi saran saja. Kita, sebagai akademisi sekaligus ilmuwan, tetap harus menjaga sikap ilmiah dan integritas akademi kita. Posisiskan AI hanya sebagai pemeran pembantu, sedangkan kita tetap menjadi pemeran utama dalam karya kita. Lalu, apakah penggunaan AI diperbolehkan dalam membantu kerja akademis maupun aktivitas penelitian dan publikasi ilmiah? Untuk menjawab pertanyaan semacam ini, saya sering merujuk pada berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan oleh berbagai publisher jurnal internasional bereputasi maupun Committee on Publication Ethics (COPE). Berbagai publisher besar, seperti Elsevier dan Taylor & Francis secara jelas membolehkan kita menggunakan AI dalam proses penyusunan draft artikel jurnal. Namun, mereka juga secara tegas menyampaikan bahwa penggunaan AI harus transparan, dibatasi, dan kita para author harus memahami kekurangan dari teknologi AI. Kita tetap harus bertanggung jawab memastikan keakuratan dan kepatuhan etika dari karya yang kita susun. Hal senada juga disampaikan oleh COPE yang turut menekankan transparansi penggunaan AI dalam proses publikasi ilmiah yang kita lakukan. Lalu, bagaimana strategi meminimalisasi dampak negatif dari penggunaan AI serta pelanggaran etika akademik dalam pemanfaatan teknologi ini? Pendapat yang sering saya sampaikan di berbagai forum terkait pertanyaan ini adalah kita sebagai civitas akademika harus mengetahui, mempelajari, dan mematuhis kebijakan, etika, dan batasan penggunaan AI. Kita harus tahu dan sadar bahwa AI memiliki kelemahan. Kita sebagai dosen sulit melarang mahasiswa menggunakan AI di kehidupan sehari-hari mereka karena mereka dapat dengan mudah mengakses
Tim Pendidikan Biologi UMM Teliti Kearifan Lokal Sungai di Jawa Timur dan Thailand
FKIP News — Tim peneliti Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melaksanakan riset internasional bertajuk “Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sungai: Studi Komparasi Jawa Timur dan Thailand”. Penelitian yang berlangsung pada 22–30 Agustus 2025 ini menyoroti keterkaitan budaya masyarakat dengan konservasi sungai sekaligus pemanfaatan metode biomonitoring. Tiga dosen senior memimpin penelitian, yakni Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., serta Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Riset tersebut mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Penelitian Fundamental–BIMA tahun 2025. Belajar dari Chao Phraya dan Integrasi Biomonitoring Prof. Abdulkadir menjelaskan, Sungai Chao Phraya di Thailand dipilih sebagai salah satu lokasi penelitian karena memegang peran vital bagi kehidupan masyarakat. Tidak hanya menopang aspek ekonomi dan ekologi, sungai tersebut juga menjadi pusat budaya yang dijaga melalui tradisi turun-temurun. “Sungai Chao Phraya adalah urat nadi Thailand. Masyarakat setempat memiliki cara unik dalam menjaga kebersihan dan keberlanjutannya. Di situlah kami ingin belajar dan mengkomparasikan dengan kondisi di Jawa Timur,” ujarnya. Penelitian tidak sebatas pada kualitas air, tetapi juga pada praktik budaya masyarakat Thailand. Tim mencatat tradisi seperti Loi Khratong, ritual penghormatan air dengan menghanyutkan perahu kecil atau lampion, serta Songkran, perayaan tahun baru yang menggunakan air sebagai simbol penyucian diri. Tradisi tersebut memperlihatkan penghormatan mendalam terhadap sungai. Selain pendekatan budaya, riset ini juga menerapkan metode ilmiah melalui biomonitoring. Menurut Dr. Husamah, pendekatan tersebut penting untuk menilai kesehatan ekosistem sungai dengan memanfaatkan organisme indikator. “Kami ingin mengintegrasikan budaya lokal dengan sains. Biomonitoring memungkinkan masyarakat memahami hubungan langsung antara keberadaan organisme tertentu dengan kualitas air,” jelasnya. Ia menambahkan, biomonitoring juga memiliki fungsi edukatif. Masyarakat dapat belajar bahwa kehadiran serangga air, ikan, atau tumbuhan tertentu mencerminkan kondisi sungai yang sehat. Kombinasi antara pengetahuan tradisional dan metode ilmiah dinilai dapat memperkuat kesadaran ekologis. Relevansi untuk Jawa Timur dan Dampak Penelitian Menurut Prof. Atok Miftachul Hudha, penelitian ini tidak sekadar menjadi studi banding, melainkan upaya menemukan pola pengelolaan sungai yang relevan bagi Jawa Timur. Ia menyebutkan, masyarakat Jawa Timur pun memiliki tradisi yang berkaitan dengan sungai, seperti larung sesaji atau selamatan desa di tepi sungai. “Budaya itu menegaskan bahwa masyarakat kita memiliki rasa hormat terhadap sungai. Tantangannya adalah bagaimana menjadikannya bagian dari upaya konservasi modern,” ungkapnya. Para peneliti berharap hasil riset ini tidak berhenti pada ranah akademik, tetapi juga melahirkan rekomendasi praktis. Prof. Abdulkadir menekankan pentingnya integrasi kearifan lokal ke dalam kebijakan daerah mengenai konservasi sungai. Sementara Dr. Husamah melihat riset ini sebagai jalan memperkuat jejaring akademik dengan universitas di Thailand. Bagi dunia pendidikan, Prof. Atok menekankan, penelitian semacam ini harus hadir di ruang kelas. Mahasiswa, khususnya calon guru biologi, diharapkan tidak hanya belajar teori ekologi, tetapi juga melihat praktik nyata di masyarakat. Dengan demikian, mereka dapat menanamkan kepedulian lingkungan kepada generasi berikutnya. Pada akhirnya, tim peneliti sepakat bahwa sungai bukan sekadar aliran air, melainkan pusat kehidupan. “Jika kita menjaga sungai, maka sungai akan menjaga kita. Pesan itulah yang kami temukan di Chao Phraya dan ingin kami bawa pulang ke Jawa Timur,” tutur Prof. Abdulkadir. Dengan semangat lintas budaya, tim peneliti Pendidikan Biologi UMM berkomitmen melanjutkan riset-riset kolaboratif. Mereka percaya, perpaduan kearifan lokal dan ilmu pengetahuan modern adalah kunci bagi keberlanjutan lingkungan. (*tut/ed:fd)
Mahasiswa PGSD FKIP UMM Kembangkan ScrapSculpt, Metode Mnemonik untuk Bantu Masalah Distingsi Huruf Siswa ABK

Berita FKIP —Upaya inovatif dilakukan mahasiswa Prodi PGSD, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM). Nadia Aurellia Rahmadani selaku ketua, bersama anggota Lusyana Agustin, Tarisa Cindy Fatmawati, dan Fenni Amelia Wijaya memperkenalkan metode ScrapSculpt berbasis mnemonik dengan bahan plastik daur ulang. Di bawah bimbingan Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., program yang dijalankan di SD Muhammadiyah 9 Malang ini memilih pendekatan Culturally Responsive Teaching untuk mengatasi kesulitan dominan yang dialami anak berkebutuhan khusus (ABK), yakni distingsi huruf. Program ini lahir dari membiarkan kondisi media pembelajaran yang cenderung umum. Padahal kesulitan yang dihadapi anak ABK ini bersifat spesifik, yakni perbedaan persepsi huruf atau perbedaan huruf yang menghambat proses membaca sejak dini. Melalui ScrapSculpt , tim berupaya menghadirkan solusi berbasis kreativitas dan ketertarikan lingkungan. “Kami ingin memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus memudahkan anak-anak dalam mengenal huruf. Dengan memanfaatkan plastik sebagai bahan media pembelajaran, kami juga berusaha menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini,” ujar Nadia Aurellia Rahmadani. Tim PKM-PM turun ke lapangan pada 8 Juli 2024. Kegiatan diawali dengan koordinasi bersama mitra, SD Muhammadiyah 9 Malang, untuk merumuskan implementasi strategi. Peserta kegiatan melibatkan 18 siswa ABK, empat guru pendamping khusus, dan tim mahasiswa PGSD UMM angkatan 2022. Fokus program diarahkan pada pemanfaatan media berbahan plastik yang diolah menjadi ScrapSculpt serta strategi mnemonik yang terlibat ke dalam pembelajaran. Kegiatan ini terdiri dari beberapa tahapan. Pertama , bantuan konsep dasar huruf kepada siswa dengan media berbahan plastik. Kedua , pembelajaran kontekstual yang menekankan keterkaitan huruf dengan benda nyata di sekitar anak. Ketiga , variasi permainan edukatif berbasis mnemonik untuk memperkuat daya ingat. Tahap terakhir berupa refleksi bersama siswa dan guru untuk efektivitas kegiatan. Tak berhenti pada tahap pelaksanaan, tim PKM-PM telah merencanakan kegiatan lanjutan berupa pemantauan perkembangan ABK, refleksi bersama mitra sekolah, program evaluasi, hingga penyusunan buku pedoman yang dapat dijadikan acuan bagi guru pendamping khusus. Kehadiran mereka mendapatkan dukungan penuh dari pihak sekolah. Kepala SD Muhammadiyah 9 Malang, Arip Hidayat, M.Pd.I., menyampaikan apresiasi terhadap program ini. Menurutnya, ScrapSculpt dapat menjadi sarana pembelajaran alternatif yang mendukung kebutuhan khusus siswa, sejalan dengan komitmen sekolah dalam menyediakan pendidikan yang inklusif. “Program ini sangat bermanfaat, karena memberikan warna baru dalam proses pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Kami berharap inovasi ini terus dikembangkan agar dampaknya berkelanjutan,” ujar Arip. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., selaku dosen pembimbing, menilai program ini tidak hanya relevan dengan kebutuhan sekolah, tetapi juga mencerminkan kontribusi nyata siswa terhadap pembangunan inklusif. “Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga menanamkan pengetahuan mereka untuk menjawab permasalahan di masyarakat. Program ini sejalan dengan semangat UMM dalam menyiapkan calon guru yang peduli, inovatif, dan solutif,” tuturnya. Lebih dari sekadar pembelajaran inovasi, kegiatan ini juga mendukung program pemerintah, khususnya tema ketujuh dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025, yaitu pemberdayaan kesetaraan gender serta perlindungan hak perempuan, anak, dan penyandang disabilitas. Dengan memanfaatkan metode berbasis budaya responsif dan ramah lingkungan, tim PKM-PM UMM membuktikan bahwa pendidikan inklusif dapat berjalan secara kreatif sekaligus berkontribusi terhadap isu-isu kemiskinan. (*fd)
FKIP-UMM Perluas Jejaring Internasional, Bahas Kerja Sama dengan KBRI Thailand dan Sekolah Thailand
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semakin serius memperkuat langkahnya di kancah global. Pada Minggu (24/8), rombongan UMM yang dipimpin Wakil Rektor IV, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., bersama jajaran pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), melakukan kunjungan resmi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok, Thailand. Rombongan tersebut diterima langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Thailand, Fuad Adriansyah, di kediaman resminya. Pertemuan berlangsung hangat dan produktif, dengan membahas sejumlah agenda strategis yang menyangkut peningkatan kerja sama di bidang pendidikan, program magang internasional, hingga peluang penempatan lulusan UMM sebagai tenaga profesional di Thailand. Dalam kesempatan itu, Wakil Rektor IV UMM menegaskan bahwa universitas terus membuka diri untuk menjalin kolaborasi global. “Kami ingin UMM hadir bukan hanya sebagai kampus unggul di dalam negeri, tetapi juga sebagai mitra strategis yang mampu berkontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan dan sumber daya manusia di Asia Tenggara,” ungkap Salis Yuniardi. Salah satu pokok bahasan yang mendapat perhatian khusus adalah rencana kolaborasi antara UMM dengan Sekolah Attarkiah serta sejumlah sekolah mitra di Thailand. Para pimpinan sekolah di Negeri Gajah Putih menyatakan ketertarikan untuk menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi Indonesia, khususnya dalam bidang pengembangan mutu pendidikan, pertukaran tenaga pendidik dan mahasiswa, serta penyusunan kurikulum berbasis nilai-nilai Islam moderat. FKIP UMM siap menindaklanjuti hal tersebut dengan mengadakan program pelatihan guru, menghadirkan kuliah tamu, serta mengirim mahasiswa untuk praktik mengajar di sekolah-sekolah mitra. “Melalui program ini, mahasiswa kami bisa merasakan langsung atmosfer pendidikan internasional sekaligus memperkaya wawasan lintas budaya,” tambah Salis. Selain itu, peluang magang mahasiswa UMM di KBRI Thailand juga menjadi pembahasan penting. Program tersebut diharapkan membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar langsung mengenai diplomasi, hubungan internasional, hingga kegiatan promosi budaya Indonesia di luar negeri. Mahasiswa nantinya akan terlibat dalam berbagai aktivitas kedutaan, mulai dari pelayanan diplomatik, partisipasi dalam Edufair, hingga mendukung program bilateral Indonesia–Thailand. Pihak KBRI menyambut baik rencana itu. “KBRI siap mendukung langkah UMM dalam menyiapkan generasi muda Indonesia yang berdaya saing internasional,” ujar Duta Besar Fuad Adriansyah. Topik lain yang ikut mengemuka dalam pertemuan tersebut adalah fenomena penuaan penduduk atau ageing population yang tengah dialami Thailand. Kondisi ini memunculkan kebutuhan besar akan tenaga profesional di bidang kesehatan, terutama perawat. UMM menilai hal tersebut sebagai peluang penting bagi lulusan keperawatan maupun tenaga medis lain yang dihasilkan kampus. Apalagi, lulusan keperawatan UMM selama ini sudah banyak tersebar dan bekerja di berbagai negara, mulai dari Jepang, Kuwait, Arab Saudi, hingga Jerman. “Kondisi ageing di Thailand membuka ruang karier global yang luas. Kami menyiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kompeten dalam bahasa dan budaya kerja internasional,” jelas pimpinan UMM dalam diskusi Pertemuan UMM dengan KBRI Thailand dipandang sebagai momentum penting dalam langkah internasionalisasi universitas. Rencana tindak lanjut dari pertemuan ini mencakup penandatanganan nota kesepahaman dengan sekolah-sekolah di Thailand, program pertukaran mahasiswa dan dosen, penempatan mahasiswa magang di KBRI, serta penyaluran lulusan keperawatan UMM untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di Thailand. Pihak KBRI menilai langkah proaktif UMM selaras dengan misi diplomasi pendidikan Indonesia di tingkat global. Dengan agenda-agenda tersebut, UMM berharap kerja sama ini tidak hanya berdampak positif bagi mahasiswa dan lulusannya, tetapi juga memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat di kawasan regional maupun internasional. Universitas Muhammadiyah Malang melalui FKIP pun menegaskan komitmennya untuk terus memperluas jejaring internasional, memperkuat diplomasi pendidikan, dan mencetak generasi unggul yang siap bersaing di panggung dunia. sumber : https://jatimaktual.com/blog/2025/08/25/fkip-umm-perluas-jejaring-internasional-bahas-kerja-sama-dengan-kbri-thailand-dan-sekolah-thailand/
FKIP-UMM Jalin Kerja Sama dengan KBRI dan Sekolah di Thailand
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperluas jejaring internasional. Kali ini, rombongan yang dipimpin Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD, bersama pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok, Thailand, pada Ahad (24/8/2025). Kunjungan resmi itu diterima langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Thailand, Fuad Adriansyah. Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membahas sejumlah agenda strategis, mulai dari kerja sama di bidang pendidikan, program magang internasional, hingga peluang penempatan lulusan UMM sebagai tenaga profesional di Thailand. Salah satu pokok pembahasan adalah rencana kolaborasi dengan Sekolah Attarkiah dan beberapa sekolah lain di Thailand. Lembaga-lembaga pendidikan itu tertarik menjalin kemitraan dengan UMM, khususnya terkait pengembangan mutu pendidikan, pertukaran tenaga pendidik dan mahasiswa, serta penyusunan kurikulum berbasis nilai Islam moderat. “Melalui FKIP, UMM berencana mengadakan program pelatihan guru, penyelenggaraan kuliah tamu, hingga pengiriman mahasiswa dari program studi di FKIP untuk praktik mengajar di sekolah-sekolah mitra tersebut. Kami ingin berkontribusi nyata terhadap kemajuan pendidikan di Asia Tenggara sekaligus memberi kesempatan mahasiswa kami untuk meraih pengalaman internasional,” ujar Salis. Pembahasan Kerja sama di bidang pendidikan, program magang internasional, hingga peluang penempatan lulusan UMM sebagai tenaga profesional di Thailand. (Faqih/PWMU.CO) Selain itu, UMM dan KBRI juga membicarakan peluang mahasiswa UMM untuk magang di KBRI Thailand. Program tersebut diharapkan memberi bekal pengalaman langsung di bidang hubungan internasional, diplomasi, dan kerja sama bilateral. Mahasiswa nantinya akan terlibat dalam berbagai aktivitas kedutaan, seperti pelayanan diplomatik, promosi budaya Indonesia (Edufair), hingga mendukung program-program kerja sama antarnegara. Topik lain yang turut menjadi sorotan adalah fenomena ageing population yang tengah dihadapi Thailand. Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia menimbulkan kebutuhan tinggi akan tenaga profesional di bidang kesehatan, terutama perawat. UMM melihat kondisi ini sebagai peluang bagi lulusan keperawatan dan tenaga medis lainnya. Selama ini, alumni keperawatan UMM telah banyak bekerja di luar negeri, seperti di Jepang, Kuwait, Arab Saudi, hingga Jerman. “Bersama KBRI dan mitra terkait di Thailand, UMM berkomitmen menyiapkan lulusan yang unggul secara akademik maupun profesional, termasuk penguasaan bahasa dan pemahaman budaya kerja internasional,” tambah Salis. Pertemuan dengan KBRI Thailand ini menjadi tonggak penting dalam upaya internasionalisasi UMM. Selain memperkuat jejaring pendidikan dengan sekolah dan institusi di Thailand, langkah tersebut juga menjadi bagian dari diplomasi pendidikan Indonesia di tingkat global. Rencana tindak lanjut kerja sama akan diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU), program pertukaran mahasiswa dan dosen, penempatan mahasiswa magang di KBRI Thailand, serta peluang penyaluran lulusan keperawatan UMM untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di Thailand. (*) sumber : https://pwmu.co/fkip-umm-jalin-kerja-sama-dengan-kbri-dan-sekolah-di-thailand/
FKIP-UMM Lakukan Kunjungan ke Chulalongkorn University Thailand untuk Tingkatkan Kerjasama Internasional
Kamis, 21 Agustus 2025 – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan kunjungan resmi ke Chulalongkorn University, Thailand. Kunjungan ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD dan Dekan FKIP Prof. Dr. Trisakti Handayani, MM beserta jajaran nya. Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam menjajaki peluang dan penguatan hubungan internasional di bidang pendidikan. Tujuan utama kunjungan tersebut meliputi beberapa aspek penting, antara lain: Menjajaki potensi kerja sama bersama dalam bidang pendidikan, pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Mengembangkan program internasional, seperti pertukaran mahasiswa dengan durasi satu tahun, serta menyediakan program summer course di Chulalongkorn University yang dapat diakui dalam sistem transfer kredit. Menindaklanjuti kerja sama yang dapat dijalankan oleh FKIP UMM, khususnya dalam program profesi guru dan program bahasa untuk penutur asing, termasuk Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Membahas persyaratan kebahasaan, khususnya penggunaan sertifikat bahasa Inggris seperti IELTS dan TOEFL, sebagai standar penerimaan bagi mahasiswa internasional jenjang S2 dan S3 di UMM Dalam kunjungan tersebut yang turut serta dalam acara tersebut Wakil Rektor IV, Dekan FKIP, Wakil Dekan I, 2,3 Kaprodi, Sekprodi, Ka. Laboratorium, Dosen Pengajar dan Staf. Dengan langkah ini, FKIP UMM berkomitmen memperluas jejaring internasional serta meningkatkan kualitas pendidikan bagi dosen dan mahasiswa melalui kolaborasi yang berkelanjutan. (red/her) (foto https://jatimaktual.com;https://mediapribumi.id)
Kunjungan FKIP-UMM di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP-UMM) melaksanakan kunjungan resmi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok, Thailand pada tanggal 24 Agustus 2025. bersama dengan Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD, Dekan FKIP Prof. Dr. Trisakti Handayani M.M, serta para pimpinan Fakultas, disambut hangat oleh Wakil Duta Besar RI di Thailand, Bapak Fuad Adriansyah. Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membahas sejumlah agenda strategis yang bertujuan mempererat kerja sama di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Salah satu fokus utama adalah peningkatan kolaborasi program magang internasional dan peluang penempatan lulusan UMM sebagai tenaga profesional di Thailand. Langkah ini diharapkan dapat membuka jembatan bagi lulusan UMM untuk berkontribusi dalam dunia profesional di luar negeri. Selain itu, UMM dan KBRI juga sepakat untuk memperkuat kemitraan global sebagai mitra strategis dalam mengembangkan pendidikan di kawasan Asia Tenggara. Rencana kolaborasi dengan Sekolah Attarkiah serta sejumlah sekolah mitra di Thailand juga menjadi bagian penting, termasuk penyusunan kurikulum yang berbasis pada nilai-nilai Islam moderat yang relevan dengan konteks kedua negara. Agenda lainnya meliputi penyelenggaraan kuliah tamu dan pengiriman mahasiswa UMM untuk praktik mengajar di sekolah-sekolah mitra di Thailand. Selain itu, terdapat pula kesempatan magang mahasiswa di lingkungan KBRI Thailand, yang akan menjadi pengalaman berharga bagi para mahasiswa. Kebutuhan tenaga profesional, khususnya di bidang kesehatan seperti perawat, juga menjadi perhatian utama. UMM berkomitmen untuk menyalurkan lulusan keperawatan yang qualified agar dapat memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di Thailand. Program pertukaran mahasiswa dan dosen serta penempatan mahasiswa magang di KBRI turut menjadi bagian penting dari rencana kerja sama ini. Kunjungan resmi ini menandai langkah nyata UMM dalam memperluas jaringan internasional dan memperkuat kontribusi pendidikan serta sumber daya manusia di tingkat regional, sekaligus membuka peluang baru bagi civitas akademika UMM untuk berkiprah di kancah global. (red/af)
Mahasiswa PGSD FKIP UMM Teliti Nilai Luhur Budaya Mberot untuk Bentengi Generasi Alpha
Pertunjukan Mberot (Ringkasan Radar Malang) Berita FKIP —Fenomena kesenian mberot di Malang Raya tengah menjadi sorotan. Popularitasnya semakin meluas, tercatat ada sekitar 1.336 kelompok bantengan yang menaungi kesenian tersebut: 980 kelompok berada di Kabupaten Malang, 243 di Kota Malang, dan 85 di Kota Batu. Kesenian rakyat ini tidak hanya digemari masyarakat umum, tetapi juga diikuti oleh anak-anak usia sekolah dasar, atau yang kini dikenal sebagai generasi alpha. Namun, di balik maraknya pertunjukan, budaya mberot sering dikaitkan dengan stigma negatif. Beberapa pentas justru berujung ricuh, bahkan pernah memunculkan aksi saling serang antarkelompok dengan senjata tajam. Situasi semacam itu diperparah oleh praktik konsumsi minuman keras dan tindakan gaduh yang melingkupi pertunjukan. Kekhawatiran pun muncul, terutama karena generasi alpha yang terlibat masih berada pada tahap perkembangan psikososial yang rentan meniru perilaku di sekitarnya. Kondisi inilah yang menggerakkan sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menginisiasi penelitian dalam skema Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH). Penelitian yang diketuai oleh Meilisa Tri Adinda Putri dengan anggota Febina Serlina Efendi, Fitria Maharani, Anaa Maulida Azura, dan Wiga Septiyan Vindiani ini bertajuk “Gayenge Malang: Kajian Pambudi Luhur Budaya Mberot Menggunakan Metode Gioia untuk Mitigasi Pergeseran Karakter Generasi Alpha di Wilayah Malang.” “Selama ini berot lebih sering dilihat dari sisi negatif, padahal di dalamnya tersimpan nilai-nilai luhur yang justru bisa membentuk karakter anak-anak,” ujar Meilisa saat ditemui di kampus UMM. Menurutnya, melalui pendekatan penelitian yang tepat, kesenian ini berpotensi menjadi media pendidikan karakter yang kontekstual sekaligus melestarikan budaya lokal. Dalam penelitian tersebut, tim menggunakan metode Gioia, sebuah teknik analisis kualitatif yang memungkinkan peneliti menggali data secara mendalam. Observasi lapangan dilakukan di Kabupaten Malang, antara lain Desa Tajinan dan Kecamatan Turen, serta di Kota Malang dan Batu. Para peneliti mewawancarai pelaku mberot usia sekolah dasar, pemilik sanggar, guru, kepala sekolah, hingga penonton pertunjukan. Dokumentasi kegiatan juga dikumpulkan untuk memperkaya data. Hasil penelitian mengungkap bahwa nilai-nilai pambudi luhur yang terkandung dalam budaya mberot mencakup tiga aspek utama: nilai moral etika, kearifan lokal, serta nilai religius spiritual. Dari ketiganya, aspek etika moral dan kearifan lokal tampak lebih dominan. Temuan ini menjadi bukti bahwa berot sesungguhnya tidak semata-mata soal pemandangan fisik, melainkan ruang internalisasi nilai yang relevan bagi generasi muda. Dyah Worowirastri Ekowati, S.Pd., M.Pd., dosen pembimbing penelitian, menekankan pentingnya reposisi makna mberot . “Jika kita hanya menonjolkan perilaku-perilaku negatif saat pertunjukan, maka memberot akan terus dicap negatif. Padahal, ada filosofi pambudi luhur yang bisa kita gali. Mahasiswa perlu hadir untuk mengembalikan esensi budaya ini sebagai sarana karakter pendidikan,” ungkapnya. Melalui penelitian ini, tim berharap dapat menawarkan strategi mitigasi untuk mengurangi potensi penyimpangan nilai dalam praktik memberot . Salah satunya dengan menyusun panduan berbasis nilai pambudi luhur yang dapat diterapkan di sanggar maupun sekolah dasar. Strategi ini diharapkan mampu mengarahkan generasi alpha agar menjadikan memberot sebagai wadah pembelajaran moral, sosial, dan spiritual, alih-alih hanya tontonan hiburan yang rawan disalahgunakan. “Harapan kami, hasil penelitian ini bisa menjadi kontribusi nyata dalam dua hal. Pertama, melestarikan budaya lokal dengan cara yang lebih bijak. Kedua, memberikan alternatif pendidikan karakter yang dekat dengan keseharian anak-anak di Malang Raya,” tutur Meilisa. Dengan penelitian ini, mahasiswa UMM berusaha menunjukkan bahwa budaya lokal tidak seharusnya dipandang sebelah mata. Alih-alih dibiarkan tergerus stigma negatif, berot dapat dikembalikan ke akarnya: sebagai sarana pembentukan karakter yang membumi, penuh nilai, dan relevan bagi generasi penerus. (*fd)
Mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP UMM Belajar Sirkular Ekonomi dari TPA BLE Banyumas
FKIP News–Pengelolaan sampah kini tidak lagi dipandang sebatas persoalan lingkungan, melainkan juga sebagai sumber pembelajaran kontekstual yang bermakna. Hal itu tercermin dalam kegiatan Studi Lapang Terintegrasi (SLT) 2025 bertema “Biodiversitas: Edukasi Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan” yang digelar Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada Rabu (23/7/2025) lalu, rombongan mahasiswa mengunjungi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Berbasis Lingkungan dan Edukasi (BLE) di Banyumas, Jawa Tengah. Kepala UPT TPA BLE, Edi Nugroho, menyambut baik kehadiran mahasiswa Pendidikan Biologi UMM. Ia menegaskan bahwa keberhasilan Banyumas dalam mengelola sampah tidak terlepas dari kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan aktif masyarakat. “Baik secara individu maupun melalui Kelompok Sadar Masyarakat (KSM), masyarakat ikut berperan dalam memilah dan mengolah sampah. Hasilnya, tidak semua sampah berakhir di TPA. Sebagian besar sudah diproses secara mandiri di tingkat rumah tangga,” ujarnya. Menurut Edi, sistem yang terstruktur dari hulu hingga hilir menjadikan Kabupaten Banyumas sebagai rujukan nasional dalam pengelolaan sampah berkelanjutan. Di TPA BLE, pendekatan sirkular ekonomi diterapkan secara nyata, mulai dari pemanfaatan sampah organik menjadi pakan maggot dan pupuk kasgot, hingga pengolahan sampah anorganik menjadi bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF). Dosen pendamping Prodi Pendidikan Biologi, Fuad Jaya Miharja, M.Pd., menilai kunjungan ini memberi pengalaman belajar yang kaya. “Ini bukan sekadar observasi lapangan. Mahasiswa belajar bagaimana mengubah cara pandang terhadap sampah—dari limbah menjadi sumber daya ekonomi dan media edukasi,” katanya. Ia menambahkan, praktik di TPA BLE sejalan dengan arah pembelajaran Prodi Biologi UMM yang tidak berhenti pada teori, tetapi mendorong mahasiswa membumikan konsep dalam kehidupan sehari-hari. Fuad mencontohkan, salah satu mahasiswanya bahkan sudah mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis proyek untuk mengolah limbah plastik menjadi paving block, terinspirasi dari praktik di TPA BLE. Sementara itu, Citra Lesmana, mahasiswa peserta SLT, mengaku terkesan dengan sistem di TPA BLE. “Saya terkejut, tidak seperti TPA pada umumnya yang bau menyengat. Di sini, bau hampir tidak terasa,” ungkapnya. Ia mengaku belajar banyak tentang konsep sirkular ekonomi dan bagaimana hasil olahan sampah dapat kembali memberi manfaat, mulai dari bahan bakar, pakan unggas, hingga pupuk. (*Tut/fd)
Prodi PPKn FKIP UMM Gelar Seminar Internasional, Bahas Pendidikan Multikultural di Era AI
FKIP News–Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sukses menggelar seminar internasional bertajuk “Transformasi Pendidikan Multikultural melalui Kecerdasan Buatan: Membangun Masyarakat Inklusif di Era Digital.” Forum yang digelar pada 31 Juli lalu ini mempertemukan pakar pendidikan dari berbagai negara untuk membedah peluang dan tantangan penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan multikultural yang inklusif. Hadir sebagai pembicara utama, Prof. Dr. Chun-Yen Chang, Ketua Profesor dari National Taiwan Normal University. Dalam paparannya berjudul “Reimagining Learning for All: Inclusive Education in the Digital Era with AISI,” ia menguraikan hasil riset mendalam tentang penggunaan alat bantu AI, termasuk ChatGPT, dalam proses menulis esai. Menurutnya, meski AI mampu meningkatkan efisiensi, penggunaan berlebihan berisiko menimbulkan utang kognitif—yakni berkurangnya aktivasi berpikir kritis dan kemampuan reflektif siswa. Sebagai solusi, Prof. Chang memperkenalkan platform AISI (AI Scaffolding for Inclusive Learning). Aplikasi ini dikembangkan untuk memberikan dukungan metakognitif dalam pembelajaran sains. Ia menekankan pentingnya integrasi AI yang bijaksana agar benar-benar mendorong keterlibatan, refleksi, serta argumentasi bermakna, terutama saat membahas isu-isu sosial-saintifik seperti perubahan iklim. Dari FKIP UMM sendiri, Prof. Dr. Trisakti Handayani, MM, memaparkan makalah berjudul “Transformasi Pendidikan Multikultural di Era AI: Menuju Masyarakat Digital yang Inklusif.” Ia menilai kecerdasan buatan dapat menjadi instrumen revolusioner dalam pendidikan multikultural. Misalnya, lewat personalisasi pembelajaran lintas budaya, penerjemahan multibahasa kontekstual, hingga desain kurikulum yang responsif terhadap keragaman. Namun, Prof. Trisakti juga mengingatkan tantangan yang tidak bisa diabaikan. Di antaranya, bias algoritmik, ketimpangan akses digital, hingga resistensi budaya terhadap teknologi baru. “Kolaborasi lintas disiplin antara pendidik, pengembang teknologi, dan komunitas budaya sangat dibutuhkan agar sistem AI tidak sekadar canggih, tetapi juga adil, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan semua peserta didik,” pungkasnya. Sesi paralel juga menghadirkan Prof. Dr. Theodorus Pangalila, S.Fils., SH, M.Pd., dari Universitas Negeri Manado. Ia membawakan materi bertajuk “Pendidikan Kewarganegaraan Multikultural dalam Masyarakat yang Terfragmentasi.” Prof. Theo menegaskan pentingnya pendidikan kewarganegaraan yang mampu menumbuhkan empati, solidaritas sosial, dan keterampilan berdialog di tengah keberagaman. “Pendidikan kewarganegaraan harus menjawab fragmentasi sosial dan membangun kepercayaan publik melalui pendekatan multikultural yang reflektif,” ujarnya. Melalui forum ini, Prodi PPKn FKIP UMM menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem pendidikan yang progresif sekaligus relevan dengan perkembangan zaman. (*rfl/fd)