FKIP UMM Terima Kunjungan BBGP Jawa Tengah, Bahas Implementasi Kurikulum Deep Learning

FKIP News— Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kunjungan dari Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Provinsi Jawa Tengah pada Selasa (18/2). Rombongan yang terdiri dari 17 orang ini dipimpin oleh Dr. Setyo Hartanto, S.Pd., M.Kom. Kunjungan tersebut bertujuan untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD) serta berbagi wawasan mengenai implementasi Kurikulum Deep Learning dalam dunia pendidikan. FKIP UMM menyambut baik kedatangan rombongan BBGP sebagai bentuk sinergi dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang inovatif dan berorientasi pada kebutuhan masa depan. Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., membuka kegiatan dengan memaparkan materi berjudul Sekolah Ramah Anak sebagai Manifestasi Deep Learning. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa Deep Learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills atau HOTS) serta penerapannya dalam kehidupan nyata. “Pembelajaran Deep Learning bukan hanya tentang menghafal materi, tetapi lebih kepada bagaimana peserta didik dapat memahami, menganalisis, dan menerapkan ilmu yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kita harus menciptakan sistem pembelajaran yang tidak hanya mindful (berkesadaran), tetapi juga meaningful (bermakna) dan joyful (menyenangkan),” ungkap Prof. Trisakti. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Deep Learning dalam pembelajaran berorientasi pada kompetensi lulusan dengan mengintegrasikan materi ajar, keterampilan abad ke-21 (4C—Critical Thinking, Creativity, Communication, and Collaboration), serta HOTS. Selain itu, evaluasi pembelajaran harus menggunakan berbagai metode asesmen dan menerapkan pendekatan berbasis proyek (Project-Based Learning). Salah satu aspek penting dalam penerapan Deep Learning adalah konsep Sekolah Ramah Anak, yang mengombinasikan sentuhan manusiawi (human touch) dengan pemanfaatan teknologi secara seimbang. Pendekatan ini bertujuan untuk memperkuat kompetensi akademik, karakter, dan kompetensi spiritual peserta didik. “Pembelajaran yang terintegrasi dalam seluruh aspek pendidikan—baik intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler—akan menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki moral dan etika yang kuat,” tambahnya. Dr. Setyo Hartanto, S.Pd., M.Kom., selaku pimpinan rombongan BBGP Jawa Tengah, menyampaikan apresiasi atas penyambutan FKIP UMM dan berbagi wawasan yang diberikan. “Kami sangat mengapresiasi FKIP UMM yang telah membuka ruang diskusi ini. Konsep Deep Learning yang diterapkan di FKIP UMM memberikan banyak inspirasi bagi kami dalam pengembangan kurikulum pendidikan guru di Jawa Tengah,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa BBGP Jawa Tengah berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan guna meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah. “Kami berharap hasil dari diskusi ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan dan strategi pembelajaran yang lebih baik, sehingga guru-guru di Jawa Tengah bisa lebih siap menghadapi tantangan pendidikan di era digital,” tambahnya. Kegiatan ini menjadi momen penting bagi FKIP UMM dan BBGP Jawa Tengah dalam bertukar gagasan mengenai inovasi pembelajaran. Dengan kolaborasi yang erat, diharapkan konsep Deep Learning dapat diterapkan secara lebih luas dalam sistem pendidikan, guna membentuk generasi yang berpikir kritis, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (*fd)
PSC Prodi PGSD FKIP UMM 2025: Ajang Cerdas Cermat SD se-Malang dan Batu

FKIP News—Himpunan Mahasiswa Program Studi PGSD (HMPS PAKSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar Paksi Scholastic Competition (PSC), sebuah ajang lomba cerdas cermat bagi siswa sekolah dasar di Malang dan Batu. Kompetisi ini bertujuan untuk mengasah kemampuan akademik peserta didik sekaligus mempererat tali silaturahmi antar sekolah. Tahun ini, PSC mengusung tema “Membangun Solidaritas dan Intelektualitas untuk Mencapai Indonesia Emas” dan diselenggarakan di Aula GKB 3, Kampus 3 UMM. Acara dimulai pukul 08.00 WIB dan diawali dengan sambutan pembukaan oleh pembina HMPS PAKSI, Murtyas Galuh Danawati, S.Pd., M.Pd. Ia menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini karena tidak hanya menjadi wadah kompetisi akademik, tetapi juga mempererat hubungan antar siswa dari berbagai sekolah. “Pelaksanaan kegiatan ini tidak lepas dari komitmen PGSD FKIP UMM dalam memberikan wadah bagi potensi akademik generasi penerus bangsa, khususnya di wilayah Kota Malang dan Kota Batu, dan sekalaigus menjadi medium untuk bersilaturahmi serta berkolaborasi,” tuturnya. Babak penyisihan menghadirkan empat pertandingan seru. SD Muhammadiyah 04 Batu unggul atas SD Sumberejo 01 Batu di pertandingan pertama. Selanjutnya, SDN Sumbergondo 02 mengalahkan SD Islam Al-Falah. Pada pertandingan ketiga, SDN Ngaglik 01 Batu berhasil mengalahkan SDN Kebonsari 02 Malang. Sementara itu, SDN Temas 02 keluar sebagai pemenang dalam pertandingan terakhir melawan SDN Songgokerto 03 Batu. Persaingan semakin ketat di babak semifinal. SD Muhammadiyah 04 Batu berhasil mengalahkan SDN Sumbergondo 02, sedangkan SDN Ngaglik 01 Batu mengungguli SDN Temas 02. Babak final pun mempertemukan SD Muhammadiyah 04 Batu dengan SDN Ngaglik 01 Batu dalam pertandingan yang berlangsung sengit. Kedua tim saling mengejar skor hingga akhirnya SDN Ngaglik 01 Batu keluar sebagai juara. Setelah kompetisi berakhir, seluruh peserta mengikuti sesi ice breaking yang dipandu oleh pengawas lomba untuk mengurangi ketegangan setelah bertanding. Acara ditutup dengan pembagian penghargaan kepada para pemenang serta pemberian merchandise bagi peserta lainnya sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka. Melalui ajang PSC ini, diharapkan semangat belajar dan sportivitas siswa semakin meningkat serta memperkuat solidaritas di antara mereka. (*EAF/ed: fd)
Sambangi SMA Negeri 1 Kesamben, Prodi PPKn FKIP UMM Kenalkan Keunggulan Prodi

FKIP News—Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mengadakan kegiatan sosialisasi di SMA Negeri 1 Kesamben, Kabupaten Blitar. Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan program unggulan UMM sekaligus meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya pendidikan kewarganegaraan dalam kehidupan sehari-hari. Sosialisasi ini diikuti oleh ratusan siswa kelas XII yang antusias mendengarkan pemaparan mengenai berbagai keunggulan program PPKn UMM. Dalam kesempatan tersebut, para siswa diberikan informasi terkait kurikulum berbasis teknologi, program praktik lapangan yang mendukung pembelajaran, serta fasilitas kampus yang modern, seperti laboratorium canggih, perpustakaan digital, dan berbagai program beasiswa. “Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan kewarganegaraan bukan hanya sekadar teori, tetapi memiliki aplikasi nyata dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat,” ujar Moh. Wahyu Kurniawan, M.Pd., dosen PPKn UMM. Selain mendapatkan wawasan mengenai program studi, para siswa juga aktif dalam sesi tanya-jawab. Mereka terutama tertarik untuk mengetahui peluang karier bagi lulusan PPKn serta prospek pendidikan setelah menamatkan studi di perguruan tinggi. Kepala SMA Negeri 1 Kesamben menyambut baik kegiatan ini dan berharap dapat menginspirasi para siswa untuk lebih semangat dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia juga mengapresiasi UMM yang telah memberikan informasi yang jelas dan komprehensif mengenai dunia perkuliahan, terutama bagi siswa yang sedang mempertimbangkan pilihan perguruan tinggi. Para guru dan siswa pun memberikan respons positif terhadap kegiatan sosialisasi ini. Beberapa siswa mengaku semakin tertarik untuk melanjutkan pendidikan ke UMM setelah mengetahui berbagai fasilitas dan beasiswa yang tersedia. Mereka berharap kegiatan serupa dapat diadakan lebih sering agar mereka memiliki lebih banyak referensi dalam menentukan pilihan akademik di masa depan. Dengan adanya kegiatan sosialisasi ini, UMM berharap dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai keunggulan program studinya sekaligus mendorong para siswa untuk lebih memahami pentingnya pendidikan kewarganegaraan dalam membentuk generasi muda yang cerdas dan bertanggung jawab. (*Hs)
Workshop di UAD, Dosen Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM Kupas Pemanfaatan AI dalam Penulisan Ilmiah

FKIP News—Teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin berkembang dan telah merambah berbagai bidang, termasuk dunia akademik. AI kini menjadi alat yang membantu para dosen dalam merancang penelitian dan menulis artikel ilmiah. Menyikapi perkembangan ini, Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta mengadakan workshop bertajuk “Penulisan Artikel Ilmiah dan Strategi Publikasi di Jurnal Terindeks Scopus Berbantuan AI”. Workshop yang berlangsung pada Selasa, 18 Februari 2025, di Kampus 1B UAD ini menghadirkan Ahmad Fauzi, dosen Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (PBIO UMM), sebagai narasumber. Acara ini diikuti oleh 43 dosen dari program S1, S2, dan S3 Psikologi UAD yang antusias dalam memahami pemanfaatan AI untuk penelitian dan publikasi ilmiah. Dalam pemaparannya, Ahmad Fauzi menjelaskan dua poin utama, yaitu bagaimana AI dapat digunakan untuk merancang ide penelitian sesuai standar jurnal bereputasi serta strategi penulisan artikel ilmiah dengan bantuan teknologi AI. Ia juga memberikan demonstrasi langsung mengenai penggunaan beberapa platform AI yang dapat membantu dalam proses penelitian dan publikasi. Menurut Ahmad Fauzi, AI dapat menjadi alat yang sangat berguna dalam dunia akademik, tetapi penggunaannya harus tetap memperhatikan integritas ilmiah. Ia menegaskan bahwa AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti peran utama penulis dalam menyusun artikel ilmiah. “AI memiliki kemampuan untuk menganalisis data, menyusun kerangka tulisan, dan memberikan rekomendasi, tetapi tetap diperlukan keterlibatan manusia agar karya ilmiah tetap memiliki nilai orisinalitas dan integritas akademik,” jelasnya. Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya peran dosen dalam memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang batasan dan etika penggunaan AI. Mengingat kemudahan akses teknologi ini melalui perangkat seluler, Ahmad Fauzi menyarankan agar dosen tidak hanya membatasi penggunaan AI, tetapi juga mengajak mahasiswa untuk mendiskusikan pemanfaatannya secara etis. “Dibandingkan dengan melarang, lebih baik kita mengedukasi mahasiswa agar memahami bagaimana AI dapat digunakan secara bertanggung jawab,” ujarnya. Workshop ini memberikan wawasan baru bagi para peserta, terutama dalam memahami cara mengoptimalkan teknologi AI dalam riset akademik. Dengan perkembangan AI yang semakin pesat, pemanfaatannya secara bijak dan sesuai dengan etika akademik menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh para akademisi di masa depan. (*THs/ed:fd)
Revitalisasi Konservasi Penyu di Pacitan, Dosen Pendidikan Biologi FKIP UMM Dorong Wisata Pendidikan Berkelanjutan

FKIP News—Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menunjukkan komitmennya dalam pelestarian lingkungan melalui program revitalisasi konservasi penyu berbasis wisata pendidikan. Program ini telah berlangsung sejak Agustus 2024 hingga Februari 2025 di Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Ketua Tim Pengabdian Blockgrant FKIP UMM, Prof. Dr. Elly Purwanti, MP, menyatakan bahwa program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi penyu sekaligus menciptakan sumber pendanaan berkelanjutan melalui wisata edukasi. “Kami berharap program ini menjadi model konservasi yang terintegrasi dengan sektor pariwisata pendidikan,” ujarnya, Sabtu (18/1/2025). Upaya konservasi penyu di Desa Hadiwarno telah dirintis sejak 2012 oleh Kelompok Masyarakat Konservasi Penyu untuk Wisata (KMKPW). Dengan dukungan program Ipteks bagi Wilayah (IbW) dari UMM, populasi penyu bertelur mengalami peningkatan signifikan, dari belasan ekor pada 2013 menjadi 60 ekor pada 2024. Meskipun mengalami kemajuan, tantangan masih dihadapi, seperti minimnya partisipasi generasi muda, kurangnya fasilitas wisata, serta keterbatasan sumber pendanaan operasional. Namun, program ini telah menunjukkan hasil positif dengan peningkatan partisipasi anggota hingga 85%, keaktifan kegiatan sebesar 82,5%, serta tingkat kepuasan pengunjung yang mencapai 77,5%. Tim evaluasi mencatat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan, termasuk keterampilan pemandu dalam memberikan edukasi interaktif, penyediaan alat peraga pendidikan, serta pengembangan fasilitas wisata. “Kami optimis bahwa melalui pelatihan lanjutan dan evaluasi berkala, program ini bisa menjadi model konservasi yang berkelanjutan,” kata Prof. Elly. Ia juga menambahkan bahwa Desa Hadiwarno diharapkan tidak hanya dikenal sebagai pusat konservasi penyu, tetapi juga sebagai destinasi wisata edukatif yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Dengan menggabungkan pelestarian keanekaragaman hayati dan pengembangan wisata pendidikan, program ini berkontribusi pada upaya konservasi lingkungan di tingkat global. Untuk mengatasi berbagai kendala, program ini mengimplementasikan langkah-langkah strategis seperti pembentukan tim khusus yang bertugas mengelola wisata pendidikan berbasis konservasi penyu. “Selain itu, kami juga menyusun program kerja yang terstruktur guna memastikan keberlanjutan kegiatan, memberikan pelatihan intensif bagi anggota dan masyarakat, serta membangun wahana edukasi seperti pusat informasi dan museum mini untuk menarik lebih banyak pengunjung,” ungkap Drs. Wahyu Prihanta, M.Kes, selaku anggota tim. Ketua Tim Wisata Pendidikan Konservasi Penyu Pacitan, Susanto, turut merasakan dampak positif dari program ini. “Dengan adanya program ini, kami semakin percaya diri dalam mengelola konservasi dan wisata. Partisipasi masyarakat, terutama generasi muda, meningkat drastis,” katanya. Revitalisasi konservasi penyu ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat. Dengan dukungan berbagai pihak, Desa Hadiwarno berpotensi menjadi contoh sukses dalam mengembangkan konservasi berbasis wisata pendidikan yang berkelanjutan. (*THs/ed: fd)
Prodi Pendidikan Matematika FKIP UMM Gelar Kuliah Umum di SMAN 2 Jombang, Bahas Energi Terbarukan

FKIP News—Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan dengan menggelar kuliah umum di SMAN 2 Jombang. Kegiatan ini merupakan bagian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema “Gaya Hidup Berkelanjutan,” yang berfokus pada pemanfaatan solar cell sebagai energi ramah lingkungan. Kuliah umum ini menghadirkan Prof. Dr. Yus Mochamad Cholily, M.Si, seorang akademisi di bidang matematika yang menjelaskan bagaimana konsep matematika berperan dalam teknologi energi terbarukan, khususnya solar cell. Selain itu, kegiatan ini juga didampingi oleh Siti Khoirully Ummah, M.Pd., yang memberikan informasi seputar Prodi Pendidikan Matematika UMM, termasuk kurikulum, fasilitas, serta peluang studi dan karier bagi para siswa yang tertarik melanjutkan pendidikan di bidang matematika. Dalam pemaparannya, Prof. Yus menekankan bahwa matematika memiliki peran yang sangat besar dalam pengembangan teknologi energi terbarukan. “Konsep matematika sangat diperlukan dalam analisis efisiensi panel surya, optimasi penggunaan energi, serta perhitungan daya guna yang dihasilkan oleh solar cell. Dengan pemahaman matematika yang baik, kita dapat meningkatkan efisiensi energi terbarukan dan mengoptimalkan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa perkembangan teknologi yang pesat menuntut generasi muda untuk memiliki pemahaman yang kuat dalam ilmu sains dan matematika. “Siswa harus memiliki mindset inovatif dalam menghadapi tantangan global, termasuk dalam hal energi berkelanjutan. Salah satu kunci utama dalam keberlanjutan energi adalah penguasaan ilmu pengetahuan yang matang, khususnya dalam bidang matematika dan sains,” lanjutnya. Selain membahas aspek akademik, kuliah umum ini juga menjadi ajang bagi Prodi Pendidikan Matematika UMM untuk memperkenalkan program studinya kepada siswa-siswi SMAN 2 Jombang. Siti Khoirully Ummah, M.Pd., menjelaskan berbagai keunggulan yang dimiliki oleh prodi tersebut, mulai dari kurikulum berbasis teknologi, laboratorium modern, hingga berbagai kesempatan beasiswa dan pertukaran mahasiswa ke luar negeri. Siti Khoirully Ummah juga menambahkan bahwa Prodi Pendidikan Matematika selalu berupaya memberikan pendidikan berkualitas dengan pendekatan berbasis riset dan inovasi. “Kami tidak hanya membekali mahasiswa dengan teori, tetapi juga memberikan pengalaman praktis yang dapat diterapkan di dunia nyata. Dengan kurikulum yang berbasis teknologi dan didukung labolatorium dan berbagai program internasional, kami memastikan bahwa mahasiswa kami dapat menjadi lulusan kompeten yang siap berkontribusi untuk negeri,” tambahnya. Antusiasme siswa terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi diskusi. Beberapa siswa tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang cara kerja solar cell dan bagaimana penerapan matematika dalam bidang energi terbarukan, serta berbagai program unggulan Prodi Pendidikan Matematika. Kegiatan ini juga mencerminkan komitmen Prodi Pendidikan Matematika UMM dalam memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan di tingkat sekolah menengah. Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan siswa-siswi SMAN 2 Jombang semakin termotivasi untuk mengembangkan diri dan berkontribusi dalam menciptakan solusi inovatif bagi permasalahan global, khususnya dalam bidang energi terbarukan. Melalui kerja sama dengan berbagai sekolah, Prodi Pendidikan matematika FKIP UMM berharap dapat terus menginspirasi siswa untuk lebih mencintai ilmu pengetahuan dan melihat matematika sebagai ilmu yang aplikatif dan relevan dalam berbagai aspek kehidupan. (*Rn/ed: fd)
Perkuat Jaringan Global, FKIP UMM Jalin Kerja Sama Pendidikan Islam di Taiwan

FKIP News-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperluas jejaring internasional dalam bidang pendidikan Islam. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah dengan berpartisipasi dalam kerja sama antara Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (ALPTK PTMA) dan Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 15 Februari 2025, di Taipei, Taiwan. FKIP UMM menjadi salah satu delegasi utama dalam rombongan ALPTK PTMA yang terdiri dari 27 perwakilan perguruan tinggi Muhammadiyah, termasuk Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Muhammadiyah Kupang, Universitas Muhammadiyah Sampit, dan Universitas Muhammadiyah OKU Timur. Delegasi ini dipimpin oleh Ketua ALPTK PTMA, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., serta didampingi Wakil Rektor IV bidang kerja sama Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD., akademisi dan tenaga pendidik dari masing-masing institusi. Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, MM., menegaskan bahwa keterlibatan FKIP UMM dalam kolaborasi ini sejalan dengan visi fakultas dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam di kancah global. “Kerja sama ini menjadi momentum penting bagi FKIP UMM untuk memperluas jejaring akademik dan dakwah di tingkat internasional. Kami berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan pendidikan Islam yang inklusif dan berdaya saing,” ujarnya. Dalam pertemuan tersebut, FKIP UMM bersama delegasi ALPTK PTMA dan Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center membahas berbagai inisiatif strategis, seperti pengembangan kurikulum pendidikan Islam, pelatihan tenaga pendidik, serta program pertukaran mahasiswa dan dosen. Selain itu, kerja sama ini juga bertujuan untuk memperkuat hubungan komunitas Muslim Indonesia di Taiwan dengan institusi pendidikan Islam di tanah air. Sebagai bentuk kontribusi nyata, FKIP UMM siap mengirimkan tenaga pengajar untuk mendukung program pendidikan dan dakwah di Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center. Langkah ini diharapkan dapat memberikan akses lebih luas terhadap pendidikan Islam berkualitas bagi masyarakat Muslim di Taiwan. Selain itu, kerja sama ini juga membuka peluang bagi pengembangan penelitian bersama serta pertukaran akademik yang semakin memperkuat posisi FKIP UMM dalam jejaring global pendidikan Islam. Kolaborasi ini turut mendapat dukungan dari Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Taiwan, yang berperan dalam menjembatani kerja sama antara kedua institusi. Dengan adanya sinergi ini, FKIP UMM optimis dapat terus berkontribusi dalam pengembangan pendidikan Islam di tingkat internasional, memperluas jejaring akademik, serta meningkatkan peran Muhammadiyah dalam dakwah berbasis pendidikan di era globalisasi. (*alptk-ptma/ed:fd)
ICEDUALL 6: Kolaborasi FKIP UMM dan ALPTK Wujudkan Pendidikan Inklusif dan Inovatif di Era Kecerdasan Buatan

FKIP News—Dekanat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang hadiri Konferensi ICEDUALL Seri 6 yang digelar di Kantor KDEI Taipei, Taiwan. Mengusung tema Reimagining Education in the Age of AI: Innovations, Impacts, and Implications, konferensi ini menyoroti pentingnya inovasi, dampak, dan relevansi kecerdasan buatan dalam sistem pendidikan yang holistik. Acara ini dibuka oleh Deputy Representative Indonesian Economic and Trade Office to Taipei, Bapak Zulmartino, serta dihadiri oleh Director of Citizens’ Protection and Sociocultural Affairs, Bapak Novrizal. Sejumlah perwakilan dari berbagai institusi juga turut hadir, termasuk Rektor Universitas Muhammadiyah Sampit, Wakil Rektor Kerja Sama Universitas Muhammadiyah Malang, Dekan FKIP UMM, serta delegasi dari Unmuh OKU Timur, Unmuh Kupang, dan FKIP UMS Surakarta. Dalam sambutannya, Bapak Zulmartino menyampaikan apresiasi terhadap peran ALPTK PTMA dalam menyelenggarakan ICEDUALL sebagai upaya menjembatani hakikat pendidikan dengan kebutuhan riil di lapangan, khususnya bagi keluarga migran di berbagai negara seperti Taiwan, Hong Kong, Arab Saudi, dan Malaysia. “ Sebagai bagian dari rangkaian konferensi yang telah sukses diselenggarakan sebelumnya, ICEDUALL 6 melanjutkan tradisi dari ICEDUALL 1-5 yang telah digelar di berbagai lokasi, termasuk Kuala Lumpur, Penang, Hong Kong, dan Lombok. Selanjutnya, ICEDUALL 7 direncanakan akan berlangsung di Papua, sementara ICEDUALL 8 diproyeksikan digelar di Beijing atau Turki. Tahun ini, lebih dari 96 pemakalah dari berbagai negara berpartisipasi dalam konferensi, dengan 31 peserta hadir secara langsung di Taipei, termasuk dari NTNU Taiwan, Kupang, Borneo, OKU Timur, Malang, Surakarta, dan Padang. Sementara itu, 66 peserta lainnya mengikuti konferensi secara daring dari berbagai negara seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina. Hasil penelitian yang dipresentasikan dalam ICEDUALL 6 akan diterbitkan dalam jurnal ilmiah bereputasi, serta prosiding yang terindeks Scopus dan WoS. Konferensi ini menghadirkan sejumlah pembicara utama yang membahas berbagai topik strategis terkait peran AI dalam pendidikan. Prof. Chun-Yen Chang dari National Taiwan Normal University menyampaikan materi tentang transformasi pendidikan melalui CCR dan AISI. Prof. Wu-Yuin Hwang, Ph.D. dari National Dong Hwa University, Taiwan, membahas inovasi pengajaran berbasis AI. Dr. Adi Nurcahyono dari Universitas Negeri Semarang (UNNES), Indonesia, mengulas studi kasus penerapan AI dalam berbagai konteks pendidikan. Dr. Kongkiti Phusavat dari Kasetsart University, Thailand, menyoroti motivasi belajar dalam pengembangan AI. Sementara itu, Dr. Kaarthiyainy Supramaniam dari Universiti Teknologi MARA, Malaysia, membahas dampak AI terhadap kesetaraan akses pendidikan. Ketua ALPTK PTMA, Prof. Harun Joko Prayitno, menekankan bahwa pendidikan berkualitas dan merata harus menjadi prioritas global agar dapat memanusiakan individu, mewujudkan perdamaian, serta memperkokoh peradaban dunia. Senada dengan hal tersebut, Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, MM, menyampaikan bahwa kehadiran AI dalam dunia pendidikan harus dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. “Kecerdasan buatan bukan pengganti peran guru, melainkan alat yang dapat memperkaya pengalaman belajar, terutama dalam meningkatkan akses pendidikan bagi berbagai kalangan,” ungkapnya. (*alptk/ed: fd)