Jalin Diplomasi Pendidikan, Mahasiswa FKIP UMM Mengabdi di Thailand Lewat Program KKNDik Internasional

FKIP News—Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengirimkan mahasiswanya untuk menjalankan misi pengabdian dan praktik pendidikan di kancah internasional. Lima mahasiswa terpilih—Jesika, Camelia, Bianca, Ryan, dan Marsha—yang berasal dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris ini akan mengikuti program selama dua bulan, mulai Rabu, 22 Mei hingga 19 Juli 2025, dengan penempatan di dua institusi mitra, yaitu Attarkia Islamic Institute di Narathiwat dan Lukmanul Hakim School di Yaha, Yala. Pelepasan dilakukan secara simbolis oleh Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, MM, Senin lalu (13/05/2025). Dalam sambutannya, Prof. Trisakti menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap keterlibatan para mitra pendidikan di Thailand, serta dedikasi para mahasiswa yang bersedia mengemban amanah pendidikan lintas negara. “Kami memandang inisiatif kolaboratif ini sebagai bentuk nyata dari internasionalisasi pendidikan yang selaras dengan visi FKIP UMM untuk melahirkan pendidik unggul berwawasan global. Kesediaan lembaga mitra di Thailand dalam memfasilitasi program ini merupakan bentuk kepercayaan sekaligus kehormatan yang patut kami jaga dan lanjutkan secara berkelanjutan,” tutur Prof. Trisakti. Program KKNDik Internasional ini merupakan hasil tindak lanjut dari kunjungan pihak Attarkia dan Lukmanul Hakim ke FKIP UMM pada awal tahun 2025. Dalam kunjungan tersebut, pihak mitra menyampaikan ketertarikan untuk menjalin kerja sama yang memungkinkan mahasiswa FKIP UMM berkontribusi dalam proses pendidikan di Thailand bagian selatan. Gen Phaisan Thoryib, pemilik Attarkia Islamic Institute, menegaskan bahwa pelaksanaan KKNDik ini menjadi bukti konkret dari implementasi nota kesepahaman yang telah ditandatangani kedua belah pihak. “Kami sangat terbuka dan senang menerima mahasiswa FKIP UMM. Program ini tidak hanya memperkuat hubungan antar lembaga, tetapi juga memberi warna baru bagi proses pembelajaran di sekolah kami melalui keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran kurikuler dan ekstrakurikuler,” ujarnya. Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa FKIP UMM dalam berbagai kegiatan sekolah, mulai dari pembelajaran di kelas hingga aktivitas ekstrakurikuler seperti pramuka, seni, dan kegiatan luar ruang, akan memperkaya interaksi budaya dan pendidikan antara Indonesia dan Thailand. Sementara itu, Dr. Abdul Hafiz, M.Pd, sebagai presiden MAT menyatakan bahwa mahasiswa yang ditempatkan di Lukmanul Hakim akan turut berkontribusi dalam program penguatan komunitas belajar a’la kampung Inggris di Braha Yaha. Mereka akan mengembangkan strategi pembelajaran yang mendorong kemampuan komunikasi bahasa Inggris secara aktif di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar. Sebagai pengelola program, Dr. Nurwidodo, M.Kes menyampaikan bahwa KKNDik Internasional Thailand memberikan manfaat yang bersifat ganda, baik akademik maupun non-akademik. “Program ini bukan hanya soal mengajar. Ini tentang adaptasi budaya, pengembangan karakter, dan membangun kesadaran global di antara mahasiswa. Mereka belajar hidup di lingkungan baru sambil tetap menjalankan peran sebagai pendidik,” terangnya. Berbagai fasilitas dan manfaat akan diperoleh mahasiswa FKIP UMM dalam program ini. Fasilitas tersebut yaitu penginapan, makan dua kali sehari, dan uang saku. Mahasiswa juga akan memperoleh pengakuan akademik dalam bentuk konversi hingga 16 SKS, yang setara dengan lima mata kuliah, sesuai dengan semangat kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Lebih dari itu, pengalaman mengajar bahasa Inggris langsung kepada penutur asing di lingkungan budaya yang berbeda dan kesempatan untuk mengenal budaya dan bahasa Thailand secara langsung dari masyarakat lokal, akan memperluas perspektif global dan sensitivitas lintas budaya mereka. Selanjutnyaa, dalam rangka diplomasi budaya, para mahasiswa telah mempersiapkan sejumlah penampilan dan karya khas Indonesia yang akan diperkenalkan kepada siswa dan masyarakat Thailand. Di antaranya adalah pertunjukan wayang mini, puisi dan lagu daerah, serta batik lukis dan kain jumputan, yang akan melengkapi kegiatan utama mereka sebagai pengajar. Pemberangkatan lima mahasiswa ini menjadi langkah strategis FKIP UMM dalam memperluas jejaring pendidikan internasional dan memperkuat peran mahasiswa sebagai duta pendidikan Indonesia di kancah global. Kolaborasi ini diharapkan menjadi pintu bagi kerja sama berkelanjutan lainnya antara UMM dan institusi-institusi pendidikan di Asia Tenggara, khususnya dalam bidang pengembangan sumber daya manusia dan pertukaran pengetahuan. (*nwd/ed:fd)
Kaji Budaya dan Isu Gender dalam Pendidikan di Indonesia, Dekan FKIP UMM Trisakti Handayani Raih Guru Besar

FKIP News – Ketimpangan gender dan terpinggirkannya nilai-nilai budaya dalam sistem pendidikan Indonesia menjadi sorotan tajam Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. Dalam orasi ilmiahnya saat pengukuhan sebagai Guru Besar Ilmu Kajian Budaya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu lalu (10/5), Dekan FKIP UMM itu menyuarakan pentingnya pendidikan yang peka terhadap konteks budaya dan kesetaraan gender. Mengangkat tema Kajian Budaya dan Isu Gender dalam Pendidikan di Indonesia, Trisakti menyebut bahwa berbagai kebijakan pendidikan selama ini memang sudah diterapkan. Namun, di lapangan, praktiknya belum sepenuhnya menjawab persoalan ketimpangan. “Masih ada disparitas gender yang berdampak pada akses dan capaian pendidikan. Belum lagi tekanan globalisasi yang secara perlahan mengikis nilai-nilai budaya lokal dalam praktik pendidikan kita,” ungkapnya di hadapan civitas akademika dan undangan. Dalam paparannya, Trisakti menekankan tiga aspek utama dalam kajiannya. Pertama, kajian teoretis yang membahas hubungan antara budaya dan gender dalam sistem pendidikan. Kedua, analisis empiris yang mengevaluasi bagaimana praktik pendidikan di Indonesia mencerminkan nilai budaya dan sensitivitas gender. Ketiga, ia menawarkan rekomendasi strategis untuk mengintegrasikan kedua hal itu dalam sistem pendidikan nasional. “Tujuannya bukan sekadar mengkritik, tapi mencari celah di mana kita bisa menghadirkan sistem pendidikan yang lebih adil dan inklusif,” tegasnya. Menurut Trisakti, pendidikan seharusnya tidak berjalan di ruang hampa. Ia harus menjadi ruang dialog yang hidup antara nilai-nilai lokal, kesetaraan hak, dan tantangan global. Sayangnya, banyak kurikulum yang belum menyentuh aspek ini secara konkret. Padahal, jika dirancang secara sensitif terhadap budaya dan gender, pendidikan bisa menjadi alat transformatif bagi masyarakat. Trisakti pun menegaskan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam mengatasi kompleksitas persoalan ini. “Melalui pendekatan interdisipliner, pendekatan ini menawarkan perspektif yang holistik dalam memahami kompleksitas persoalan yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia,” tegas Dekan FKIP UMM itu. Orasi itu bukan sekadar refleksi akademik, tetapi juga menjadi panggilan moral bagi para pengambil kebijakan, guru, dosen, dan semua pemangku kepentingan. Trisakti berharap karyanya bisa menjadi rujukan komprehensif bagi mereka yang bergerak di dunia pendidikan. Ia pun menutup orasinya dengan harapan besar agar dunia pendidikan Indonesia bisa tumbuh sebagai ruang yang terbuka, adil, dan tetap berakar pada nilai-nilai budaya bangsa. “Semoga orasi ini dapat menginspirasi berbagai pihak untuk terus berkomitmen dalam mengembangkan praktik pendidikan yang sensitif budaya dan kesetaraan gender, sehingga cita-cita untuk mewujudkan pendidikan berkualitas yang dapat diakses oleh seluruh anak bangsa tanpa diskriminasi akan semakin dekat untuk diwujudkan,” pungkasnya. (*fd)
Dikukuhkan Guru Besar, Prof. Dr. Sugiarti Tegaskan Peran Sastra sebagai Pembangun Peradaban

MALANG – Sastra bukan sekadar soal keindahan kata atau hiburan pengisi waktu senggang. Di tangan Prof. Dr. Sugiarti, M.Si., sastra ditarik lebih jauh: menjadi medium kritik sosial dan pembangun peradaban. Pandangan itulah yang menjadi inti orasi ilmiah Guru Besar Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang dikukuhkan Sabtu lalu (10/5). Lewat pidato berjudul Perspektif Multidisipliner Sastra sebagai Pembangun Peradaban, Sugiarti menekankan bahwa sastra merupakan sarana refleksi sosial dan kritik terhadap realitas yang dihadapi masyarakat. Peran tersebut akan lebih optimal bila pendekatannya tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga lintas disiplin. “Sastra menyimpan kekuatan yang melampaui sekadar estetika. Ia merekam, menyuarakan, sekaligus mentransformasikan dimensi sosial, politik, psikologis, historis, hingga filosofis dari kehidupan manusia,” ujarnya. Melalui pendekatan multidisipliner, sastra dapat dianalisis bukan hanya sebagai produk bahasa dan estetika, tetapi juga sebagai cermin kompleksitas sosial dan dinamika nilai yang hidup di dalam masyarakat. Pendekatan seperti sosiologi sastra, psikologi sastra, dan antropologi sastra memungkinkan pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap konteks budaya, termasuk isu-isu kesetaraan gender, identitas, dan ketimpangan sosial. “Sastra menjadi simpul pengetahuan yang mempertemukan berbagai cabang ilmu. Ia membangun jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara warisan tradisi dan tantangan modernitas, antara nilai-nilai lokal dan arus globalisasi,” tambah Sugiarti. Ia juga mencontohkan sejumlah karya sastra Indonesia yang memiliki fungsi reflektif dan transformatif, seperti Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Salah Asuhan oleh Abdoel Muis, hingga Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Menurutnya, karya-karya tersebut tidak hanya menggambarkan realitas sosial, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kritis pembacanya. Lebih dari itu, sastra dinilai berperan penting dalam pembentukan karakter bangsa. Nilai-nilai moral, humanisme, spiritualitas, hingga religiositas dalam sastra akan lebih mudah terinternalisasi apabila pembaca juga terlibat dalam proses kreatif penciptaan. “Literasi sastra bukan sekadar membaca, melainkan juga mencipta. Dari situlah tumbuh kesadaran dan empati,” kata dia. Dalam hal ini, peran komunitas sastra di tengah masyarakat juga tak luput dari perhatian. Sugiarti menyebut komunitas seperti Gubuk Buku, Malang Menulis, dan Ruang Baca Cerdas (RBC) sebagai aktor penting dalam menumbuhkan budaya literasi yang kritis, inklusif, dan berdaya transformasi. Ia menegaskan, integrasi pendekatan lintas disiplin dalam studi sastra tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memperkuat sastra sebagai fondasi budaya yang penting dalam membentuk bangsa yang adil, beradab, dan visioner. “Sastra adalah instrumen strategis untuk membangun peradaban yang memanusiakan manusia,” pungkasnya. Pengukuhan Prof. Dr. Sugiarti menjadi momentum penting bagi UMM dalam mempertegas komitmen kampus terhadap pengembangan ilmu humaniora yang berdampak langsung bagi masyarakat luas. (*fd)
Angkat Potensi Kacang Koro, Elly Purwanti Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Biologi

FKIP News – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah deretan Guru Besarnya melalui pengukuhan Prof. Dr. Elly Purwanti, MP., dari Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dalam pidato ilmiah yang disampaikan pada Sabtu, 10 Mei 2025, Prof. Elly menyoroti pentingnya konservasi dan pemanfaatan sumber pangan fungsional berbasis kacang koro sebagai upaya strategis dalam mendayagunakan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan. Mengusung tema “Konservasi dan Pemanfaatan Sumber Pangan Fungsional Berbasis Kacang Koro dalam Upaya Mendayagunakan Keanekaragaman Hayati yang Berkelanjutan”, Prof. Elly menjelaskan bahwa kacang koro merupakan tanaman lokal yang kaya gizi, tahan terhadap kondisi ekstrem, dan berpotensi sebagai alternatif kedelai. Dalam konteks Indonesia yang masih sangat tergantung pada impor kedelai, pengembangan kacang koro dinilai mampu memperkuat kemandirian pangan nasional. “Kacang koro memiliki kandungan protein sebesar 20–30% dari berat kering dan mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, dan polifenol yang bermanfaat bagi kesehatan,” ujar Prof. Elly. Ia juga menekankan bahwa tanaman ini termasuk dalam kelompok neglected crops yang masih kurang mendapat perhatian, padahal budidayanya relatif mudah dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Tidak hanya sebagai topik akademik, Prof. Elly juga telah mengimplementasikan hasil penelitiannya melalui pengabdian masyarakat. Program “MOKORBEF” di Sumenep Madura menjadi contoh hilirisasi produk pangan fungsional berbasis kacang koro yang telah menghasilkan produk seperti tepung dan susu nabati, sekaligus mendukung pelaku UMKM dan ekonomi hijau. Dalam pidatonya, Prof. Elly juga memaparkan berbagai hasil riset yang dilakukan, termasuk potensi kacang koro dalam pengelolaan diabetes mellitus melalui simulasi komputasi, serta karakterisasi senyawa bioaktif yang berfungsi sebagai antioksidan dan penguat sistem imun. Penelitian-penelitian ini mendukung kacang koro sebagai pangan fungsional yang dapat berperan dalam penguatan sistem kekebalan, terutama di masa pandemi. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan apresiasinya atas kontribusi Prof. Elly dalam pengembangan riset yang berdampak luas. “UMM bangga memiliki Guru Besar seperti Prof. Elly yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga membawa ilmu ke tengah masyarakat,” ujarnya. Sebagai penutup, Prof. Elly menyampaikan pesan inspiratif tentang pentingnya peran ilmuwan dalam menjaga keberlanjutan alam. “Keanekaragaman hayati adalah anugerah yang harus kita kelola secara bijak. Mari kita jadikan inovasi pangan lokal sebagai kekuatan untuk ketahanan dan kesejahteraan bangsa,” pungkasnya. Pengukuhan ini menjadi momen penting, menegaskan komitmen UMM dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang berdampak nyata, serta membangun kemandirian bangsa melalui inovasi berbasis kekayaan hayati lokal. (*fd)
Cerita idul Fitri Lintas Negeri #4, Hari Kemenangan di tengah Musim Semi Di Suwon

FKIP News–Idul Fitri di negeri orang selalu menyimpan cerita tersendiri. Bagi Diani Fatmawati, S.Pd., M.Pd., dosen Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM yang kini tengah menempuh studi doktoral di Department of Genetic Engineering, Graduate School of Biotechnology, Kyung Hee University dengan beasiswa HEAT Scholarship, perayaan hari kemenangan kali ini terasa hangat meski jauh dari keluarga dan kampung halaman. Di Korea Selatan, umat Islam merupakan minoritas. Namun, hal itu tak mengurangi semarak dan makna dari Hari Raya Idul Fitri. Tahun ini, suasana lebaran terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan datangnya musim semi. Udara mulai menghangat, dan bunga-bunga sakura bermekaran di berbagai sudut kota. Pemandangan yang menyejukkan mata ini seolah menjadi pelengkap indah dalam menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa. Melaksanakan salat Idul Fitri di Kota Suwon menjadi pengalaman yang tidak akan dilupakan oleh Diani. Ia menyaksikan bagaimana momen salat Ied mempersatukan umat Islam dari berbagai negara. “Muslim Indonesia berkumpul bersama dengan saudara seiman dari Pakistan, Sudan, Mesir, dan juga warga lokal Korea. Suasananya khidmat, hangat, dan penuh rasa persaudaraan,” tuturnya. Meski tak semegah di Indonesia, semangat kebersamaan dalam ibadah tetap terasa kuat dan menyentuh. Namun, momen paling berkesan justru datang dari sebuah tradisi kecil yang hanya mungkin terjadi dalam lingkaran diaspora. Usai salat Ied, para pelajar Indonesia di Suwon, baik yang muslim maupun non-muslim, biasanya berkumpul untuk memasak dan makan bersama. Masing-masing membawa bahan makanan atau masakan khas dari daerah asalnya, lalu mereka bergotong royong menyiapkan hidangan khas lebaran. “Kita tidak sekadar memasak, tapi juga bercerita, tertawa, dan bernostalgia. Ada yang membuat opor ayam, rendang, sambal goreng kentang, dan bahkan kue-kue khas lebaran. Rasanya seperti sedang berada di rumah,” ujar Diani dengan senyum mengenang. Dalam suasana itu, sekat-sekat perbedaan agama, daerah, dan latar belakang luluh dalam satu meja makan. Yang tersisa hanya kehangatan, kebersamaan, dan rasa syukur bisa merayakan hari yang fitri meski jauh dari tanah air. Perayaan lebaran semacam ini bukan hanya menjadi pengobat rindu, tapi juga menjadi ruang refleksi. Bagi Diani, Idul Fitri di tanah rantau mengajarkannya untuk lebih menghargai arti persaudaraan, toleransi, dan pentingnya menjaga silaturahmi, terutama ketika berada dalam lingkungan multikultural. “Lebaran di sini mengajarkan saya banyak hal, terutama tentang persaudaraan, toleransi, dan betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama, meskipun kita berasal dari latar belakang budaya yang berbeda,” ucap Diani. Dalam kesederhanaan, momen lebaran itu menjadi perayaan makna yang mendalam. Di negeri yang jauh, dalam udara yang mulai hangat dan bunga sakura yang bermekaran, Diani menemukan cara baru untuk bersyukur, merayakan, dan merasa pulang meski tidak sedang berada di rumah. (*fd)
Cerita Idul Fitri Lintas Negeri #3, Lebaran di Brisbane yang Sederhana, Hangat, dan Penuh Rasa Indonesia

FKIP News–Meskipun tanpa hari libur nasional dan jauh dari kampung halaman, suasana Idul Fitri di Brisbane, Australia tetap mampu menghadirkan nuansa kebersamaan dan kehangatan. Hal ini disampaikan oleh Adi Slamet Kusumawardana, S.Si., M.Si., dosen Prodi Pendidikan Matematika FKIP UMM yang tengah menempuh studi doktoral pada School of Mathematics and Physics, The University of Queensland dengan beasiswa BPI-LN. “Tidak ada libur Idul Fitri di sini. Yang spesial hanya salat Ied di pagi hari. Tapi justru dalam kesederhanaan itu, terasa betul makna kebersamaan,” tuturnya. Di Negara Bagian Queensland, salat Idul Fitri diselenggarakan di sekitar 35 lokasi berbeda. Waktunya pun bervariasi, mulai dari pukul 06.00 hingga 07.30 AEST. Salah satu lokasi yang menjadi pusat kegiatan umat muslim Indonesia adalah masjid Indonesian Muslim Centre of Queensland (IMCQ) yang berada di Kota Logan, bagian selatan Brisbane. Meskipun didirikan oleh komunitas muslim Indonesia, IMCQ menjadi rumah spiritual bagi banyak warga muslim dari berbagai latar belakang, termasuk dari Timur Tengah, Afrika, Asia Selatan, hingga warga lokal Australia. Adi Slamet menunaikan salat Ied di masjid Indonesian Muslim Centre of Queensland (IMCQ) yang dimulai pada pukul 07.30 AEST dan dipimpin oleh ustaz asal Indonesia. Sejak tiba di area masjid, para jamaah sudah disambut hangat oleh panitia dengan pembagian snack sebelum salat dimulai. Kehangatan sambutan itu menjadi pembuka yang manis bagi suasana lebaran di perantauan. Setelah salat selesai, suasana makin meriah dengan agenda makan bersama yang sudah disiapkan oleh panitia masjid. Menu masakan khas nusantara seperti gule daging, opor ayam, dan sup dihidangkan dan dinikmati bersama-sama oleh jamaah dari berbagai latar belakang. Kehadiran makanan Indonesia itu menjadi pengobat rindu yang begitu ampuh bagi para perantau, sekaligus menghadirkan nuansa lebaran yang tak jauh berbeda dari di tanah air. “Rasanya seperti pulang sebentar ke Indonesia. Meski hanya beberapa jam, tapi cukup untuk mengobati rindu pada suasana lebaran di tanah air,” ujarnya dengan penuh syukur. Acara kemudian dilanjutkan dengan foto bersama, salam-salaman, dan ramah tamah yang berlangsung hingga pukul 10.00 pagi. Meski cuaca tidak sehangat Indonesia dan tidak ada gema takbir sepanjang malam sebelumnya, suasana kekeluargaan terasa begitu kental. “Di tengah kesibukan akademik dan jauhnya jarak dari keluarga, momen seperti ini benar-benar jadi pengingat betapa pentingnya silaturahmi dan menjaga nilai-nilai keislaman di mana pun kita berada,” tutupnya. (*fd)
Cerita Idul Fitri Lintas Negeri #2, Hangatnya Lebaran Pertama di Vienna

Lebaran di sini mengajarkan saya banyak hal, terutama tentang persaudaraan, toleransi, dan betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama, meskipun kita berasal dari latar belakang budaya yang berbeda (Mirza, 2025) FKIP News–Tahun ini adalah kali pertama Mirza menjalani Idulfitri di luar negeri, tepatnya di benua biru yang penuh sejarah dan dinginnya musim semi. Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang itu kini tengah melanjutkan studi di Institute of Parasitology, Department of Biological Sciences, Veterinary Medicine University of Vienna dengan beasiswa prestisius Ernst Mach Grant dari Pemerintah Austria. Jauh dari keluarga dan kampung halaman, tentu bukan hal mudah. Tapi siapa sangka, atmosfer lebaran justru menjelma menjadi ruang belajar baru tentang makna keberagaman dan kekuatan komunitas. Vienna pagi itu, 30 Maret 2024, masih menyisakan udara dingin khas musim semi, suhu hanya berkisar lima derajat. Namun langkah kaki tetap ringan menuju tempat pelaksanaan salat Id. Komunitas Muslim dari berbagai negara—termasuk Indonesia, Turki, Pakistan, dan negara-negara Timur Tengah—berkumpul di satu ruang yang sama, menyatukan takbir dan doa dalam nuansa damai yang tak terlupakan. Bagi Mirza, momen ini bukan sekadar ritual keagamaan. Ada hal yang menyentuh lebih dalam, yakni interaksi antarumat beragama. Sebuah kejutan hangat datang saat komunitas Katolik Austria menyerahkan kue kepada komunitas Muslim sebagai bentuk solidaritas dan ucapan selamat Idulfitri. “Rasanya adem banget,” ujar Mirza, “Kita merasa diterima, dihormati.” Kebersamaan makin terasa saat bersalaman langsung dengan Duta Besar Indonesia untuk Austria dan para staf KBRI. Acara dilanjutkan dengan ramah tamah, di mana gorengan khas Indonesia menjadi primadona. “Laris banget! Mungkin karena kita semua kangen rasa Indonesia yang otentik,” katanya. Tak berhenti di situ, Mirza yang juga menjabat sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Austria (PPIA) menginisiasi kegiatan kecil namun penuh makna, yaitu brunch halal bihalal di taman Türkenschanzpark. Mereka menyantap opor ayam, hidangan yang disiapkan dari acara KBRI, di bawah langit Vienna yang mendung namun bersahabat. Tawa dan obrolan ringan mengisi waktu, mengobati rindu pada keluarga di tanah air. “Teman-teman di sini jadi keluarga baru. Meskipun hanya sedikit, tapi cukup untuk menghadirkan kehangatan di tengah dinginnya cuaca dan jarak dari rumah,” kata Mirza. Di tengah perjalanan akademiknya yang padat, Idulfitri menjadi jeda yang bermakna, mengisi ulang semangat, mempererat solidaritas, dan memperkaya perspektifnya sebagai pendidik dan peneliti Indonesia yang sedang menimba ilmu di luar negeri. (*fd)
Cerita Idul Fitri Lintas Negeri #1, Lebaran Multikultural di Negeri Paman Sam

FKIP News–Hari raya Idul Fitri merupakan momen sakral yang dinantikan umat Muslim di seluruh dunia, termasuk mereka yang sedang berada jauh dari tanah air. Bagi Alimin Adi Waluyo, M.App.Ling., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), perayaan Idul Fitri tahun ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Saat ini, Alimin tengah menempuh studi doktoral di Language, Literacy, and Technology Program, Department of Teaching and Learning, Washington State University Pullman, Amerika Serikat, melalui skema beasiswa prestisius Fulbright Scholarship. Perayaan Idul Fitri di Pullman, sebuah kota kecil di negara bagian Washington, menjadi pengalaman spiritual dan sosial yang unik. Kota ini memiliki komunitas Muslim dari berbagai latar belakang etnis dan kebangsaan yang cukup aktif, meskipun jumlahnya tidak sebesar di kota-kota besar seperti Seattle atau Los Angeles. “Idul Fitri di kota Pullman memberikan pengalaman yang unik dan menarik. Jamaah sholat Ied berasal dari negara-negara Timur Tengah, Afrika, Asia Timur, Amerika Selatan, hingga warga lokal Amerika Serikat,” ujar Alimin. Ia melanjutkan bahwa suasana sholat Ied yang multikultural tersebut memperlihatkan kekayaan Islam sebagai agama yang merangkul keragaman. Setelah pelaksanaan sholat Ied, warga Indonesia yang berada di Pullman yang jumlahnya sangat terbatas berkumpul dalam sebuah acara silaturahmi sederhana. Masing-masing membawa masakan khas dari kampung halaman, menciptakan sebuah perayaan yang penuh cita rasa nusantara. Ada opor ayam, rendang, sambal goreng kentang, lontong, hingga kue kering seperti nastar dan kastengel yang dibawa dari Indonesia atau dibuat sendiri dengan bahan seadanya. “Hal itu sangat menyenangkan karena bisa mengobati kekangenan kita yang tidak bisa berjumpa dengan keluarga di kampung halaman. Kita juga bisa menikmati masakan lokal yang biasanya tidak mudah kita jumpai di kota ini,” kata Alimin dengan antusias. Yang membuat lebaran tahun ini semakin berkesan adalah kondisi cuaca yang cukup ekstrem. Meskipun secara kalender sudah memasuki musim semi, suhu di Pullman saat itu masih berkisar antara minus 1 hingga 4 derajat Celsius. “Cuacanya memang sedikit menantang karena meskipun sudah musim semi, tapi suhu masih cukup dingin. Namun, kebersamaan dengan rekan-rekan dari Indonesia cukup bisa menghangatkan suasana lebaran,” tambahnya. Alimin menilai bahwa meskipun berada di perantauan, esensi dari Idul Fitri tetap dapat dirasakan melalui kebersamaan, rasa syukur, dan semangat saling berbagi. Perayaan Idul Fitri di luar negeri juga memberikan ruang untuk memperkenalkan budaya dan tradisi Indonesia kepada masyarakat internasional. “Ini bukan hanya soal merayakan lebaran, tapi juga tentang membawa nilai-nilai persaudaraan dan budaya Indonesia ke tengah masyarakat global,” pungkasnya. Pengalaman ini juga memberi refleksi mendalam bagi Alimin sebagai seorang pendidik dan pembelajar. Berada di lingkungan internasional yang penuh keberagaman memperkaya perspektifnya dalam melihat isu-isu kebahasaan, pendidikan, serta nilai-nilai kemanusiaan lintas budaya. Melalui program Fulbright, Alimin berharap bisa terus menjadi jembatan antara Indonesia dan komunitas global, baik dalam bidang akademik maupun sosial budaya. “Saya ingin ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan di sini bisa kembali saya kontribusikan untuk pendidikan dan pengembangan literasi di Indonesia,” tutupnya. (*fd)
Membanggakan! Mahasiswa CoE Entrepreneur Perbukuan Prodi PBI Luncurkan Ensiklopedia Tradisi Kampung

FKIP News–Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang kembali menunjukkan eksistensinya dalam dunia literasi melalui peluncuran buku berjudul Ensiklopedia Tradisi-Tradisi Kampung. Acara peluncuran yang berlangsung di Toko Buku Togamas Malang ini dikemas dalam tajuk bedah buku yang menghadirkan dua narasumber, yaitu Prof. Dr. Joko Widodo, M.Si., yang mengupas isi buku dari sudut pandang pembaca dan penikmat sastra, serta Deftania Putri Anggraini, yang membahas buku tersebut dari perspektif penulis. Diskusi yang berlangsung pada pukul 09.30 hingga a12.00 WIB ini dipandu oleh moderator Hawin Sutirta Happy. Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Arif Setiawan, dalam sambutannya turut mengapresiasi capaian mahasiswa yang berhasil menerbitkan buku ini. Ia berharap karya ini tidak hanya berhenti sampai di sini, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi penelitian ilmiah yang lebih mendalam. “Inisiatif ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia mampu berkontribusi dalam dunia literasi dan pelestarian budaya melalui publikasi akademik yang berkualitas,” ungkapnya. Lahir dari Mahasiswa Center of Excellence (CoE) Entrepreneur Perbukuan Buku Ensiklopedia Tradisi-Tradisi Kampung merupakan hasil karya mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia yang mengikuti program Center of Excellence (CoE) Entrepreneur Perbukuan batch 4. Buku ini juga menjadi luaran dari mata kuliah Penyuntingan Substansif dan Mekanis. Dengan riset yang mendalam, buku ini menghadirkan wawasan mengenai berbagai tradisi yang masih hidup di masyarakat pedesaan, khususnya di Pulau Jawa. Tradisi-tradisi yang diungkap dalam buku ini mencakup ritual adat, upacara tradisional, serta kebiasaan sosial yang diwariskan secara turun-temurun. Buku ini tidak hanya bertujuan untuk mendokumentasikan budaya lokal yang semakin terancam oleh modernisasi, tetapi juga untuk memperkuat ikatan sosial serta menjaga identitas budaya yang unik. Prof. Dr. Joko Widodo: Ensiklopedia Tradisi-Tradisi Kampung Adalah Wujud Apresiasi Terhadap Tradisi Dalam sesi diskusi, Prof. Dr. Joko Widodo mengungkapkan apresiasinya terhadap karya mahasiswa ini. Ia menyatakan bahwa buku ini adalah wujud apresiasi terhadap tradisi. Ia pun mengatakan bahwa membaca buku ini telah membangkitkan nostalgia akan masa kecilnya, di mana berbagai tradisi yang tertulis dalam buku masih sering ia saksikan secara langsung. “Membaca buku ini seperti membuka kembali kenangan lama. Banyak tradisi yang dulu saya alami sendiri, dan kini terdokumentasikan dengan baik,” ujarnya. Lebih dari itu, ia berharap buku ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi mahasiswa dan akademisi, bahkan dapat dikembangkan menjadi bahan penelitian ilmiah sebagai pengganti skripsi. Ia juga menekankan pentingnya pelestarian budaya dalam menghadapi arus modernisasi yang semakin kuat. Menurutnya, tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas kolektif yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. “Kita tidak bisa membiarkan tradisi hilang begitu saja. Perubahan memang tidak terelakkan, tetapi memahami dan melestarikan budaya adalah tanggung jawab kita bersama,” tambahnya. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar setiap tradisi yang ada dapat dimaknai dengan baik sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman yang dapat merugikan lingkungan maupun nilai-nilai sosial yang telah terbangun dalam masyarakat. Sementara itu, Deftania Putri Anggraini, sebagai perwakilan dari 15 penulis buku, menyampaikan harapannya agar buku ini dapat memperkenalkan kembali budaya tradisional melalui dunia pendidikan, terutama bagi anak-anak usia sekolah. Selain itu, ia berharap buku ini bisa turut berkontribusi dalam peningkatan literasi di Indonesia dengan menyediakan bacaan yang ringan dan mudah dipahami. Lebih jauh, ia ingin agar buku ini dapat menginspirasi generasi muda untuk turut serta dalam melestarikan dan berpartisipasi dalam tradisi yang ada di daerah mereka. Kegiatan ini semakin menarik dengan sesi tanya jawab yang interaktif antara narasumber dan peserta. Beberapa pertanyaan yang diajukan mencakup penggunaan teknologi AI dalam penyusunan buku, proses riset yang dilakukan, serta tantangan dalam menginterpretasikan tradisi lisan ke dalam tulisan. Para penulis menjelaskan bahwa riset untuk buku ini telah dilakukan sejak semester dua hingga semester lima, dengan pendekatan yang menggabungkan tradisi lama dan baru. Mereka juga menegaskan bahwa meskipun teknologi AI digunakan dalam penyusunan buku, substansi dan isi tetap berdasarkan hasil riset yang valid. Peluncuran buku Ensiklopedia Tradisi-Tradisi Kampung ini menjadi bukti nyata komitmen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dalam mendukung pelestarian budaya melalui dunia akademik dan kewirausahaan perbukuan. Sebagai bagian dari program Center of Excellence (CoE) Entrepreneur Perbukuan, buku ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa untuk terus menggali, mendokumentasikan, serta mengembangkan warisan budaya Indonesia dalam bentuk karya yang bernilai edukatif dan komersial. (*fd)
Yudisium Periode VI 2024 dan Periode I 2025 FKIP UMM: Mewujudkan Guru Edupreneur

FKIP News–Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan Yudisium untuk Periode VI Tahun 2024 dan Periode I Tahun 2025 dengan tema “Guru Edupreneur: Menciptakan Inovasi, Menginspirasi Generasi.” Acara ini dilaksanakan pada Kamis (20/02/2025) di Rayz Hotel UMM dan menjadi momen bersejarah bagi para lulusan yang telah menyelesaikan studi mereka dan siap mengabdikan diri di dunia pendidikan. Dalam kesempatan ini, FKIP UMM mengukuhkan 122 lulusan dari 6 Program Studi. Dua mahasiswa meraih predikat lulusan terbaik dalam yudisium kali ini. Meta Nordiana dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dinobatkan sebagai lulusan terbaik Periode VI 2024 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,82 dan masa studi 3 tahun 3 bulan. Sementara itu, Uhamad Shodiq Ash Sidqi dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) menjadi lulusan terbaik Periode I 2025 dengan IPK sempurna, yaitu 4,00, serta masa studi 3 tahun 4 bulan. Selain keberhasilan akademik, FKIP UMM juga memberikan penghargaan kepada 32 mahasiswa yang meraih predikat mahasiswa terbaik non-akademik. Menariknya, 25 mahasiswa di antaranya meraih predikat tersebut berkat publikasi artikel di jurnal terindeks SINTA 2 dan SINTA 3 serta kontribusi dalam penulisan book chapter. Pencapaian ini menunjukkan komitmen FKIP UMM dalam mendorong mahasiswa untuk aktif berkontribusi dalam dunia akademik dan penelitian. Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., dalam sambutannya menegaskan pentingnya konsep guru edupreneur dalam menghadapi tantangan pendidikan masa kini. “Konsep guru edupreneur hadir sebagai jawaban atas kompleksitas tantangan pendidikan kontemporer. Seorang guru edupreneur adalah sosok yang tidak hanya menguasai kompetensi pedagogis, tetapi juga memiliki pola pikir wirausaha yang inovatif. Mereka adalah para pendidik yang mampu mengidentifikasi peluang, menciptakan solusi kreatif, dan mengembangkan model pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan zaman,” ujarnya. Lebih lanjut, Prof. Trisakti menekankan bahwa jiwa kewirausahaan dalam dunia pendidikan tidak hanya terbatas pada aspek komersial, tetapi juga sebagai kemampuan menciptakan nilai tambah dalam setiap aspek pembelajaran. FKIP UMM telah membekali lulusannya dengan kompetensi pedagogis, profesional, sosial, dan kepribadian yang menjadi modal utama dalam pengembangan diri sebagai guru edupreneur. Dengan diselenggarakannya yudisium ini, FKIP UMM berharap para lulusan dapat terus mengembangkan diri, memperluas wawasan, dan mengasah keterampilan mereka. “Proses pembelajaran tidak berhenti sampai di sini. Anda harus terus mengembangkan diri dan memberikan kontribusi terbaik bagi dunia pendidikan,” tutup Prof. Trisakti. Keberhasilan yang diraih para lulusan ini menjadi bukti nyata kualitas pendidikan yang diberikan oleh FKIP UMM. Dengan bekal ilmu dan keterampilan yang telah diperoleh, diharapkan mereka mampu menghadapi tantangan dunia pendidikan serta menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi masyarakat dan bangsa. (*fd)